Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 55


__ADS_3

Abrar dan Arkan sama-sama menoleh pada pria mabuk yang berjalan ke arah mereka, semula mereka pikir pria itu hanya akan lewat saja namun alangkah terkejutnya ketika pria itu semakin mendekat ke arah Naura yang memang masih menunduk sambil terus meremas tangannya.


Gadis ini sungguh canggung dan malu ketika duduk berdekatan dengan kedua kakak yang baru ia kenal beberapa hari ini, dan terbesit sedikit kecewa sebab kedua pria tampan itu belum menyapanya sama sekali, ia sungguh merutuki kenapa tidak ikut Alea dan Melati saja tadi, namun memang kedua iparnya menyuruh untuk menunggu dan diam saja disana, namun hingga hampir dua puluh menit ia menunggu kedua iparnya belum juga kembali dari membeli kacang rebus.


Sampai pada mata Naura terbelalak ketika merasakan sebuah sentuhan di pipinya, iya pria mabuk itu meraih wajah Naura yang tengah menunduk dengan satu tangan dan mengecup pipi gadis itu secepat kilat seperti instruksi dari perempuan yang membayarnya akan hal itu.


"Aaaa...." pekik Naura terkejut mendapati seorang pria bertatto dan berwajah preman berhasil mencium pipinya, Naura memegang pipinya itu seraya menghapus jejak bibir pria asing yang sudah lancang tersebut.


Arkan dan Abrar melihat jelas bagaimana kejadian tadi, darah mereka seketika mendidih tanpa basa basi Abrar maupun Arkan berdiri, Abrar lebih dulu memukul pria itu dengan kuat.


"Apa yang kau lakukan ha? beraninya kau melecehkan adikku" ucap Abrar begitu saja, ia menjadi emosi melihat bagaimana Naura langsung menangis karena ciuman itu.


Arkan memegang kedua tangan pria itu dan mengunci pergerakannya agar Abrar mudah dalam memukul bagian perut hingga wajahnya, Alea maupun Melati menelan ludah kasar melihat adegan mengerikan itu dimana suami mereka memukul pria mabuk tanpa ampun, hingga Naura yang melihatnya pun bertambah menangis ketakutan. Banyak pasang mata yang melihat namun tidak berani melerainya.


"Ampun....ampun tuan, aku bisa jelaskan ini" jawab preman itu memohon, namun tidak diberi kesempatan oleh Abrar yang terus memukulnya hingga pria itu tumbang di tanah dengan wajah penuh darah.


Masih kempang kempis dada kedua kakak lelaki Naura itu, Arkan melihat Naura menangis langsung saja memberi pelukan pada gadis itu, entah sadar atau tidak ia melakukannya.


"Sudah....jangan menangis, maafkan abang yang tidak menyadari gerak-gerik pria itu" ucap Arkan pelan sambil mengusap punggung Naura seraya menenangkan, tentu Naura tidak menyangka reaksi kedua saudara yang semula ia pikir tidak peduli padanya.


Abrar melihat ada beberapa orang seperti penjaga keamanan pasar malam datang ke tempat mereka.


"Uruslah pria gila ini, maaf kami membuat kekacauan dia sudah berani melecehkan adik perempuan ku" ucap Abrar pada orang-orang tersebut.


Akhirnya pria yang telah tidak berdaya itu di bawa ke pos keamanan disana, membuat Alea bernapas lega sebab ia sedikit gugup jika pria mabuk itu mengaku jika Alea lah yang membayarnya untuk hal ini.


"Alea.....aku rasa kau terlalu kejam" gumam Melati pada Alea, ia masih tidak percaya ide gila Alea tersebut mengorbankan preman yang tidak tahu apa-apa.


"Kau lihat bukan? suami kita menyayangi adiknya.....tidak akan ada yang menyangkalnya sekarang" jawab Alea enteng sambil berjalan santai keluar dari persembunyian mereka.

__ADS_1


Melati hanya bisa geleng kepala sambil menghembus napas kasar, ia jadi bergidik ngeri mengingat kejadian yang baru saja terjadi, perempuan hamil muda ini mengikuti langkah kaki Alea menuju suami mereka berada.


"Sayang ada apa ini?" tanya Alea pura-pura baru datang dan berlagak tidak tahu apa-apa.


"Huh....kalian darimana saja kenapa lama sekali, Naura baru saja dilecehkan seorang preman, jangan menjauh lagi bisa saja ada banyak preman disini mereka bisa saja menjadikan kalian sebagai sasarannya" Pria ini memeluk Alea, ia tidak bisa membayangkan jika istrinya yang menjadi korban preman tadi.


Alea tersenyum devil dalam pelukan suaminya "Maafkan aku Naura...." gumam Alea dalam hati.


Arkan pun melepas Naura dan menyambut tangan istrinya menanyakan hal yang sama.


"Kami membeli ini, tadi mengantri pembelinya ramai maaf kalian menunggu" jawab Melati canggung sambil menunjukkan kantong kacang rebus di tangannya namun membuat suaminya heran.


"Kalian baru membelinya tapi kenapa sudah hampir habis?" tanya Arkan heran.


Melati baru menyadari kacang rebus itu sudah hampir habis, ia hanya bisa menyengir saja.


"Tentu saja Melati yang menghabiskannya bang Arkan" ucap Alea tertawa.


"Naura....kau tidak apa-apa? maaf kami lama meninggalkanmu, tapi aku lega sepertinya dua saudara mu ini menjaga mu dengan baik" sindir Alea sambil mengusap lengan gadis itu dengan sayang.


"Baiklah....ayo kita pulang saja, kasihan Naura juga harus ke rumah sakit, lain kali kau harus lebih berhati-hati Naura, jangan banyak melamun" jawab Arkan membuat Melati tersenyum mendengarnya, ia tahu Arkan sudah mulai terbiasa menyebut nama adik perempuannya itu.


"Baiklah.....kita bisa pergi ke pasar malam lain kali, oh aku bahagia sekarang...." ucap Alea tersenyum penuh arti menatap suaminya dengan manja.


"Apa? aku sudah tidak mau kesini lagi" sesal Naura.


"Sepertinya Naura trauma kesini" gumam Melati berbisik pada Alea.


"Bukankah semua itu karena kau" jawab Alea santai.

__ADS_1


"Enak saja.....semua karena ide gilamu" jawab Melati membesarkan matanya pada Alea.


"Tapi berhasil bukan?" goda Alea sambil menaikkan alisnya menatap Melati.


"Iya....tapi aku tidak akan ikut campur jika kau melakukannya lagi, kau sungguh gila Alea itu mengerikan" jawab Melati kesal.


"Apa yang kalian bicarakan? ayo pulang tunggu apa lagi" ucap Arkan meraih tangan istrinya.


Abrar hanya bisa geleng kepala, ia merangkul istrinya menuju mobil mereka, Alea pun menggenggam tangan Naura agar berjalan bersama, Naura pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya malam ini setelah kejadian tadi meski ia tetap merasa kesal bahwa ciuman pipinya berhasil didapatkan seorang preman jalanan.


Di dalam perjalanan, Naura masih diam ia masih malu untuk bicara, berbeda dengan Abrar pria itu bersikap seperti biasa, sesekali ia melirik spion melihat Naura di bangku penumpang.


"Lain kali kau harus berhati-hati Naura jika dalam keramaian seperti tadi, jangan banyak melamun banyak pria jahat dimana-mana, jangan pergi ketempat seperti itu lagi jika bukan dengan kami ataupun bang Arkan, apa kau mengerti" ucap Abrar begitu saja.


Demi apa, Naura berusaha menajamkan pendengarannya atas apa yang baru saja pria itu ucapkan, sungguh ia seperti ingin menangis sekarang bahwa kejadian tadi benar-benar membawa berkah baginya dimana semula Abrar bahkan belum menyapanya sama sekali dan sekarang pria itu bicara seolah mereka sudah dekat sejak lama, Naura menghapus sudut matanya yang berair sambil mengangguk penuh semangat terlebih ia mengingat Arkan memeluknya tadi layak saudara.


"Iya b...b...bang Abrar, aku akan berhati-hati lagi" jawab Naura terbata dan canggung.


Sayang sekali Alea sudah tertidur jadi tidak mendengar percakapan perdana kakak beradik itu, tidak lama mereka sampai di depan rumah sakit, Abrar keluar mobil mengantarkan Naura yang hendak masuk gerbang rumah sakit.


"Maaf....abang belum bisa menjenguk papa, aku harap kau mengerti ini memang tidak mudah bagi kami, masuklah dan beristirahat kasihan kakakmu sudah tertidur kami akan langsung pulang" ucap Abrar pada Naura ketika sudah berada diluar mobil.


Naura mengangguk "Terimakasih bang Abrar, berhati-hatilah mengemudi" jawab Naura.


Namun siapa sangka Abrar malah menariknya dalam pelukan, dan mengusap punggung Naura naik turun, sungguh Naura tidak bisa berkata-kata ia mendapatkan lagi sebuah pelukan dari saudara lelaki pertamanya ini, airmatanya menetes begitu saja.


Abrar melepasnya "Jangan menangis, masuklah ini sudah sangat malam orangtuamu pasti menunggu"


Naura hanya bisa mengangguk dan menghapus airmatanya seraya melambai tangan pada mobil kakak lelakinya yang mulai menjauh.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Abrar terus tersenyum seraya membelai wajah istrinya yang masih lelap, entah kenapa pria itu seperti melepas sedikit beban di hatinya sejak ia mulai pandai menyapa Naura.


__ADS_2