
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Abang dan mama boleh menempati apartemen ini. Bahkan sebenarnya,,, ini kuserahkan kepada abang dan mama. Rawatlah,,, tempati,,,dan jaga saja. Jangan pernah meninggalkan rumah ini ya bang,,,ma. Karena kalau suatu saat Yusuf rindu pada kalian maka Yusuf tau harus kemana menuju."
Terdengar sangat tulus semua yang diucapkan Yusuf pada Dion siang itu. Dion dan mama Herna yang sudah kembali dari rumah sakit tentu terkejut mendengarnya.
"Apa nak? Kamu menyerahkan apartemen sebesar dan sebagus ini pada kami? Apa tidak salah nak?" tanya mama Herna meyakinkan bahwa indra pendengarannya memang belum melemah.
"Benar ma. Ini sebagai permintaan maaf Yusuf."
"Maaf untuk apa?" tanya Dion tak mengerti.
"Anggap saja sebagai permintaan maafku karena ternyata aku tidak bisa selamanya menjaga abang dan mama. Calon istriku memintaku untuk pindah dari sini dan kebetulan memang ada bisnis baru yang harus ku rintis dari awal di tempatnya bang." ucap Yusuf sedikit mengada ada.
"Oh begitu rupanya. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu sampai menyerahkannya untuk kami. Apalagi sampai mengubah nama kepemilikan segala. Ini kan memang rumahmu,,, tidak semestinya kamu mengatasnamakannya kepadaku." ucap Dion merasa tidak enak.
Belum bisa bayar satu kebaikan sudah dijejali dengan kebaikan lainnya. Dion tidak terbiasa dengan segala macam seperti ini.
"Terimalah bang. Yusuf mohon. Yusuf juga sudah membayar terapis akupunktur untuk abang. Seharusnya sudah cukup sampai abang bisa sembuh." pinta Yusuf.
Dion menghela napas berat. Sangat berat menerima pemberian sebesar ini dari orang yang sudah menariknya dari hidup di jalanan,,, memberinya pakaian dan tempat yang layak,,, membiayai seluruh pengobatannya dan bahkan sudah menyiapkan ahli terapis akupunktur meski ia tak lagi tinggal di sini.
"Bang,,,Yusuf memaksa abang menerimanya. Yusuf akan sangat bahagia dan tenang kalau abang menerimanya." desak Yusuf lagi sembari meletakkan sertifikat kepemilikannya di pangkuan Dion.
"Baiklah. Kalau memang ini bisa membuatmu senang dan bahagia,,,maka abang terima. Terima kasih banyak untuk semuanya." ucap Dion yang sangat ingin berdiri dan merangkul malaikatnya itu.
"Terima kasih bang. Yusuf lega." ucap Yusuf.
"Terima kasih banyak ya nak,,,Mama sungguh tidak tau harus bicara apa lagi. Kamu benar benar malaikat kami." mama Herna tersedu dan memeluk Yusuf.
"Semoga apa yang kuberikan pada kalian ini sepadan dengan apa yang sudah kuambil dari kalian. Yah setidaknya ini bisa sedikit menghibur kalian. Setidaknya aku bisa memastikan bahwa kalian tidak akan kemana mana. Kalian tidak akan mengacaukan kehidupan baruku bersama Karin."
Itu yang terucap dalam hati Yusuf saat tangannya merangkul mama Herna dengan erat. Memberikan dada bidangnya untuk wanita renta itu meluapkan segala tangisnya.
"Bagaimana pun,,, terima kasih telah membuat Karin pergi dari hidup anakmu yang tak berguna itu ma. Karena ulahmu itu akhirnya takdir tersenyum padaku." batin Yusuf lagi.
__ADS_1
"Kapan kalian berangkat?" tanya Dion kemudian.
"Secepatnya." jawab Yusuf semangat.
"Kalian tidak menikah dulu sebelum pergi?"Mama Herna melepaskan diri dari pelukan Yusuf.
"Kami akan menikah di sana ma."
"Berarti kami tidak punya kesempatan untuk mengenalnya dan menyaksikan pernikahan kalian?" tanya mama Herna lagi.
"Mama,,," Dion mengatakannya dengan nada sedikit mengingatkan untuk tidak banyak menuntut kepada Yusuf.
"Maaf ma,,, Sepertinya kami tidak punya banyak waktu di sini. Sekarang dia juga sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya." ucap Yusuf yang tentu saja memang sudah mengatur bagaimana caranya agar mereka tak akan pernah saling mengenal.
"Begitu rupanya. Baiklah,,, apa pun alasannya mama hanya bisa doakan semoga semua urusan kalian dilancarkan ya." doa mama Herna.
"Terima kasih ma. Kalau begitu Yusuf pamit dulu ya. Yusuf harus menemui klien." pamit Yusuf lalu mengucap salam dan pergi.
Seperginya Yusuf,,,mama Herna menghampiri Dion dan membuka lembaran bukti kepemilikan atas apartemen mewah beserta isinya itu.
Matanya kembali meneteskan bulir bulir bening saat membaca deretan huruf yang tertera di sana.
"Aamiin,,," sahut Dion pasrah namun penuh harap.
Bersaman dengan itu terdengar suara bel pintu yang dipencet.
"Siapa ya itu yang datang Dion?" mama Herna Heran juga mendengarnya karena selama ini tak pernah ada tamu datang.
Kalaupun ada,,, itu juga Yusuf yang datang tapi tak perlu memencet bel karena dia tau pin password pintu rumahnya sendiri.
"Dibuka saja ma. Tapi lebih baik intip dulu dari lubang kecil itu. Kalau rasanya mama tidak kenal dan ragu, jangan dibuka." ucap Dion.
"Iya. Mama cek dulu ya."
Perlahan mama Herna mendekati pintu lalu mengintip dari celah kecil itu. Matanya yang renta itu dikedip kedipkannya berkali kali saat melihat siapa yang datang.
"Sepertinya mataku yang salah." gumamnya lalu kembali mengintip.
__ADS_1
Namun tetap saja orang yang sama itu yang dilihatnya masih berdiri di depan pintu menunggu dibukakan oleh penghuninya. Sekali lagi mama Herna mengusap matanya dan bahkan menguceknya berkali kali. Beliau tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Apa aku mimpi?" Beliau bahkan memukul mukul wajahnya sendiri.
"Siapa ma? Mama kenal??" tanya Dion membuat mama Herna malah linglung.
"Mama tidak percaya Dion." ucap mama Herna.
"Maksudnya??" Dion jadi heran.
"Itu ada,, Ada,,," mama Herna kembali mengintip dan terkejut karena sudah tidak ada lagi orang berdiri di depan pintu mereka.
Dengan cepat mama Herna memutar knop pintu itu bagai orang yang tak mau kehilangan jejak. Tubuh renta yang biasanya tak bisa diajak gerak cepat itu kali ini sangat membantunya.
"Tunggu,,,,Tunggu,,,"
Dilihatnya orang yang tadi bertamu itu sudah melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya sebentar lagi akan menutup.
"Tungguuuuu,,,Rinaaaaaaa,,,, Karinaaaaa" teriak mama Herna yang tetap berlarian mengejar lift yang akan menutup itu.
"Karin,,, Bocilku,, Delvara,,,,"
Dion yang mendengarnya mendadak tegang. Ia merasakan kehidupan dan reaksi atau respon pada otot otot tubuhnya. Tubuh itu seakan menginginkannya untuk bangkit dan berdiri lalu mengejar nama yang diteriakkan mama Herna itu.
Dion berusaha bangkit. Bahkan cenderung memaksa tubuhnya untuk bekerjasama dengannya kali ini. Dan tubuh itu pun merespon.
Dion bisa mengangkat tubuhnya. Dion berdiri dari duduknya. Kaki lemas itu mampu menopang berat tubuhnya.
Bruugggghhh,,,,
Tiiiiinggg,,,,,
Dan bersamaan dengan pintu lift yang tertutup itu,,,mama Herna terpekik.
"Dioooon,,,"
Mama Herna kembali berlarian menuju ke rumah dan melihat Dion sudah tersungkur di depan kursi rodanya dengan kepala mengeluarkan darah segar namun Dion masih sadar.
__ADS_1
"Mana Karin ma,,, Mana Delvara,,, Kejar mereka untukku ma." Dion menangis.
...❤️❤️❤️❤️...