Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Pemilik Sah Vs Lintah Darat


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Hahahahaha,,," Yusuf tertawa keras bahkan sangat keras mendengar Karin menyebut kata pemilik sah.


"Apa yang kamu tertawakan? Apanya lucu?" tanya Karin kesal.


"Lucu. Kamu lucu Rin. Pemilik sahmu kamu bilang? Pemilik sah ya??" tanya Yusuf mengulang agar ia yakin apa yang didengarnya tadi tidak salah.


"Iya!! Kamu belum tuli kan??!!" ketus Karin.


"Yakin banget kamu Rin?? Apa kamu tau yang kamu sebut pemilik sahmu itu bahkan sudah menyerahkanmu padaku? Ia bahkan merestui kita. Jadi apa ada yang salah kalau aku pun jadi tertawa mendengarmu menyombongkan status pemilik." Yusuf setengah terkekeh mengatakannya.


"Jangan sembarangan bicara kamu!!" emosi Karin makin memuncak.


"Gini deh,,, daripada kamu marah marah gak jelas begitu,,,, Tanyakan saja sendiri pada pemilik sahmu itu!!" mata Yusuf berkilat memandang ke arah Dion.


Karin yang mendengarnya pun jadi turut memandang Dion yang tertunduk dengan mata penuh digenangi airmata. Karin seketika bisa merasakan sesuatu yang buruk yang akan menimpanya.


"Om papa,,,Apa maksudnya ini? Bilang sama Karin apa yang dikatakannya itu tidak benar." desak Karin penasaran.


"Sayang,,, Om papa,,," Dion terdengar sangat berat mengatakannya.


"Kalau yang lumpuh ini uratnya pun lemah,,, lidahnya tidak sanggup mengatakannya,,, dan siapa tau kamu masih tidak percaya juga pada omonganku,,, kamu boleh kok tanya ke mama mertuamu yang sudah membuangmu itu. Beliau juga merestui kita. Mereka sudah janji akan membuatku bahagia. Dan aku yang murah hati ini hanya meminta mereka merestui siapa pun wanita yang akan ku nikahi. Kalian tentu tidak lupa kan dengan ucapan kalian itu? Ini saatnya aku menagih janji itu." kini tatapan kilat Yusuf tertuju pada mama Herna.


Tatapan penuh tuntutan itu membuat mama Herna juga tertunduk tak sanggup menerimanya. Baik Dion dan mama Herna merasa lemah tak berdaya saat itu.


"Om papa,,,Katakan ini semua tidak benar." Karin bersimpuh di depan Dion meminta penjelasan sembari menggenggam jari jemari Dion.


"Om papa tidak tau sayang." lirih Dion.

__ADS_1


"Maksudnya tidak tau bagaimana?" Karin mulai akan menangis.


Ia sangat butuh penjelasan dari Dion. Sedangkan Dion tidak tau bagaimana harus menjelaskannya. Satu sisi Dion membenarkan ucapan Yusuf tentang memberikan restu padanya, tak peduli siapa pun wanitanya kelak. Itu kesalahan besarnya.


Tapi sisi lain hatinya protes dan tak mau disalahkan begitu saja karena ia juga tak tau bahwa wanita itu justru Karin. Kalau ia tau mana mungkin ia merestui?


Tapi kembali segala kebaikan,,,segala hutang budi kepada Yusuf mendesaknya untuk menerima kesalahan dan kekalahannya itu. Dion tak berdaya.Janji yang sudah terlanjur terucap meski itu bisa dibilang cacat karena ia tak tau menahu siapa wanita yang dimaksud Yusuf,,, tapi baginya janji tetaplah janji.


Harus ditepati.


"Ma,,, Mama bisa jelaskan sama Karin ma? Mama tau semua ini ma??" Karin beralih pada mama Herna yang masih menggendong Delvara sambil tertunduk.


"Rina,,, Mama,,,," mama Herna pun tak memberi jawaban.


Karin kembali pada Dion.


"Karin mohon om papa,,, Jelaskan pada Karin. Katakan apa yang dikatakan Yusuf itu tidak benar." Karin memelas di depan Dion.


Karin terduduk lemas. Ia tak menyangka semua akan jadi begini. Yusuf terlalu licik bermain sehingga membuat pria pemilik sahnya ini pun tak mampu berkutik termakan janji.


"Karin mohon,,, selaku pemilik sah Karin,,, langgarlah janji itu om papa. Karin tau om papa adalah pria sejati yang pantang ingkar janji. Tapi kali ini keadaanya berbeda. Om papa sudah ditipu olehnya. Dia bukan tidak tau siapa om papa,,,dia bukan tidak tau apa hubungan kita. Selama ini ia sengaja menutupinya dari kita om papa. Jadi Karin mohon,,, buanglah rasa berhutang budi pada orang licik itu."


Karin meminta Dion mengubah mindsetnya.


"Tidak segampang itu kan? Kamu makan dariku,,, kesehatanmu perlahan membaik juga karena dokterku,,, Rumah ini pun bisa kamu tempati bahkan menjadi milikmu saat ini juga karena aku memberikannya. Lalu dengan semua yang sudah kamu dapatkan itu,,, Apa kamu sanggup menyingkirkan semua fakta kebaikanku itu? Ayolah bang D,,, kita sama sama laki laki sejati." Yusuf begitu sinis menyindir Dion.


"Om papa,,,jangan dengarkan dia. Kalau memang dia mau meminta kita kembalikan semua uangnya maka kita kembalikan saja." ucap Karin memberi semangat pada Dion.


Karin yakin itu tidaklah sulit bagi seorang Dion.


"Dengan apa sayang? Om papa sudah tidak punya apa apa. Kamu tidak lupa kan cerita om papa tentang Hana?." Dion mengingatkan Karin.

__ADS_1


"Kamu juga Rin,,, kamu lupa juga dengan segala kebaikanku padamu. Pada papamu. Delvara,,, Kalau kamu membatalkan pernikahan kita aku akan menuntutmu mengembalikan semua itu padaku. Dengan apa kamu akan menggantinya?" tantang Yusuf yang sudah gelap mata.


Ia sungguh tak ingin kehilangan Karin lagi. Ia rela berubah laksana lintah darat yang tidak malu menagih kebaikannya dengan jumlah berlipat ganda.


Kini ganti Karin yang lemas. Ia lupa sejenak dengan keadaan perekonomian Dion saat ini. Dan ia sendiri juga tak punya cukup uang untuk mengembalikannya kalau benar Yusuf menuntutnya mengembalikan semua itu. Usaha cateringnya memang sudah jalan tapi baru dapat sedikit keuntungan.


"Kenapa kamu diam? Tidak mampu juga kan?" ejek Yusuf.


"Nak Yusuf,,,mama mohon jangan pisahkan mereka nak. Biarkan mama yang menghabiskan dan mengabdikan sisa umur mama membayar semua kebaikan nak Yusuf kepada mereka."


Mama Herna datang dan bersimpuh di depan lutut Yusuf.


"Mama,,," Dion menangis menyaksikannya.


Hatinya hancur melihat sang mama merendahkan dirinya sendiri di depan lintah darat ini. Seandainya saja ia tak semiskin ini,,, seandainya saja Hana tak mengambil alih semuanya,,,bukan urusan sulit baginya menendang cecunguk macam Yusuf.


"Aku tidak butuh babu tua sepertimu!" Yusuf mendorong mama Herna hingga jatuh terduduk ke belakang dengan Delvara yang masih digendongnya.


Mama Herna sebisa mungkin melindungi cucunya itu dan mengorbankan kepalanya hingga terbentur keras ke lantai. Delvara seketika menangis kencang meski dirinya terlindungi. Tapi namanya saja anak kecil yang belum paham apa yang terjadi. Menangis adalah yang dia bisa.


"Mama,,,Del,,," teriak Karin langsung bangkit berlari menuju ke mama Herna yang tampak sudah tak sadarkan diri.


Dion yang melihat mamanya seperti itu ingin melawan tapi tubuhnya benar benar tak berdaya.


"Mama,,,Ma,,, Ma bangun ma." Karin menepuk nepuk pipi mama Herna yang tetap tak bereaksi.


"Papapapappa,,,," Delvara yang ketakutan semakin histeris menangis.


"Del,,," Dion marah namun tetaplah lemah.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2