
Alea memarkirkan mobilnya di samping mobil keluarga Yura, tidak ada yang tahu kedatangan gadis ini.
Dengan napas terengah-engah Alea berlari memeluk Abrar yang masih mengobrol dengan Yura kebetulan mereka sedang berdiri, Abrar dengan posisi menghadap Yura, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
Abrar tentu saja terkejut bukan main, begitupun Yura.
"Alea? Kau kenapa?" tanya Abrar lembut pada gadis itu.
Alea masih memeluk Abrar, namun ekor matanya tertuju pada Yura.
"Sayang kenapa kau meninggalkan ku? Bukankah kita sudah berjanji akan menikah, kenapa sekarang Abang malah ingin menikahi perempuan lain" Alea bersandiwara dengan nada manja.
Yura terkejut mendengar gadis asing itu bicara seolah-olah Abrar adalah kekasihnya.
Entah apa yang ada di pikiran Alea hingga terbesit ingin menggagalkan rencana perjodohan Abrar dengan mengaku sebagai kekasih dari lelaki itu.
"Alea kau bicara apa? Ayo bicara baik-baik" jawab Abrar.
"Sayang....aku tidak ingin kita berpisah, aku tidak akan membiarkan wanita manapun merebutmu dari ku" Alea masih berbicara dengan nada meyakinkan sambil terus melirik Yura.
"Abrar? Apa-apaan ini?" Yura sudah tidak bisa menahannya lagi, ia salah paham ia merasa dibohongi oleh Abrar yang sebelumnya mengaku belum punya kekasih.
"Yura dengarkan aku dulu, ini salah paham" jawab Abrar mencoba melepaskan pelukan Alea namun sia-sia, Alea memeluknya dengan erat.
"Apa kau wanita yang di jodohkan dengan kekasihku ini? Perlu kau tahu kami sudah berhubungan jauh, apa kau mau merebut ayah dari calon anakku?" Alea benar-benar total dalam berakting.
__ADS_1
Yura menitikkan airmatanya, sedang Alea tersenyum puas.
Abrar terkejut mendengar Alea bicara seperti itu.
"Alea apa-apaan kau ini? Jangan bercanda, ayolah kita bisa bicara baik-baik, jangan seperti ini Alea" Abrar berkata kesal.
"Kenapa? Aku tidak ingin kehilanganmu sayang, apa kau lupa kau akan menjadi ayah dalam waktu dekat" Alea menjawab Abrar sambil mengerlingkan sebelah matanya menghadap pria itu.
"Kau sudah menghinaku Abrar, aku tidak menyangka kau mempermainkan keluarga ku" Yura berlari masuk ke rumah sambil menangis.
Abrar menatap Alea geram.
"Alea apa-apaan kau ini? Kenapa kau begini? Kau sudah keterlaluan"
Ucap Abrar kemudian berlari mengejar Yura diikuti Alea dari belakang.
Abrar mengusap wajahnya kasar, ia tidak tahu harus bilang apa.
Bella dan Ricko heran, terlebih Alea juga berada disana.
"Abrar ada apa ini? Kenapa putriku menangis?" tanya ayah Yura.
Alea mendekati Abrar dan kembali memeluknya manja, membuat semua orang disana membelalakkan mata.
"Paman....kenalkan aku kekasih Abrar, dia sudah berjanji akan menikahiku, aku datang ingin minta pertanggung jawabannya sebelum memutuskan menikahi putri mu" Alea kembali membuat semua orang tercengang.
__ADS_1
Abrar menggertakkan giginya geram, ia menatap tajam Alea, namun gadis ini membalasnya dengan senyum manis yang mematikan, sungguh Abrar kalah jika berhadapan dengan Alea.
"Ricko...putra mu sudah keterlaluan, maaf kita batalkan perjodohan ini, sungguh aku merasa tersinggung" ucap ayah Yura, tanpa basa basi mereka meninggalkan keluarga Bella yang masih mematung kebingungan.
Akhirnya mereka duduk bersama di ruang tamu, dimana Bella dan Ricko siap mengintrogasi Alea dan Abrar.
"Jelaskan pada bibi apa maksudmu Alea? Kenapa kalian tidak bilang jika saling mencintai, astaga....jika seperti ini aku tidak perlu repot untuk menjodohkan Abrar" ucap Bella berbinar.
Abrar hanya diam, kepalanya pusing dengan kejadian konyol ini, Alea tidak menyangka respon ibu Abrar seperti itu ia mengira Bella akan marah dan tahu bahwa ini adalah sandiwara nya saja.
"Bibi...aku bisa menjelaskannya, ini tidak seperti yang bibi bayangkan aku hanya...." ucapan Alea menggantung.
"Sayang, bibi bahagia mendengarnya, tentu bibi akan menikah kan kalian jika tahu ini lebih awal, kenapa kalian malu untuk jujur pada kami, astaga....bibi akan menghubungi orangtuamu" ucap Bella mengelus pipi mulus Alea.
Alea terkejut, ia tidak tahu harus bilang apa sekarang, ia terjebak akan permainannya sendiri.
Alea menatap Abrar meminta bantuan, namun pria itu hanya menghardikkan bahu.
"Bang ayo jelaskan, yang tadi itu hanya sandiwara, astaga apa yang telah aku lakukan" sesal Alea seraya berbisik pada Abrar.
"Kau harus bertanggung jawab sendiri Alea, kau yang memulainya" jawab Abrar datar, ia sungguh pusing karena salah paham ini berlanjut ke orang tua mereka.
Bella menempelkan ponselnya di telinga.
"Hallo El....astaga kau pasti tidak akan percaya jika aku jelaskan disini, kita harus bertemu, kau tahu aku bahagia El...kita akan menjadi besan dalam waktu dekat, anak-anak kita rupanya masih malu mengakui jika mereka saling mencintai"
__ADS_1
Alea dan Abrar membesarkan matanya menatap Bella yang masih bicara di telepon.