Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 75


__ADS_3

Sudah dua hari Alea dirawat, meski belum kembali seperti sedia kala namun Alea sudah jauh lebih baik, ia sedih suaminya belum diperbolehkan papanya untuk bertemu, namun setidaknya Alea masih bisa berkomunikasi lewat ponselnya yang sudah kembali dari mobil dokter Bayu ketika Abrar dan papa Ricko mengurus pria gila yang menculiknya di kantor polisi, beruntung mama Bella dan papa Ricko masih memiliki akses untuk menemui menantunya.


"Mama.....aku merindukan suamiku, papa menyebalkan mana bisa seperti ini aku membutuhkan bang Abrar ma" kembali Alea membujuk mamanya, kemudian ia melirik papa Kemal yang duduk santai di sofa dan sibuk dengan ponselnya.


"Sayang....papa mu hanya ingin memberi pelajaran saja pada suamimu tenanglah semuanya akan baik-baik saja, tenangkan dirimu kita sudah boleh pulang nanti sore, kau harus cepat sembuh jika ingin bertemu Abrar, kami menyayangimu Alea jangan hilang lagi, jangan sembarang mengenal lelaki" jawab mama El.


"Astaga....pelajaran apa? kejadian ini terjadi di rumah sakit ma pa, tidak ada hubungannya dengan bang Abrar ini kesalahanku ma, aku yang ceroboh aku juga tidak mengira dokter itu gila bisa bertindak sejauh ini memang benar dia menyukaiku selama bimbingan tapi sudahlah ini juga sudah terjadi yang terpenting aku baik-baik saja bukan? aku sama sekali tidak trauma, jadi sampai kapan papa akan melarangku bertemu suamiku....huh memang papa mau dipisahkan dengan mama?"


Bukan Alea namanya, merasa sudah sembuh Alea kembali pada sifatnya yang menganggap semua hal menjadi ringan, perempuan ini bahkan tidak trauma sama sekali padahal sudah dua kali menjadi korban penculikan, meski dokter Bayu begitu mengerikan dan membuatnya takut setengah mati namun sekarang dengan mudahnya ia melupakan hal itu.


Mendengar jawaban Alea membuat mamanya mengulum senyum, ia melirik sang suami yang juga menatap Alea.


"Kau dengar Kemal apa kau bisa berpisah denganku seperti kau memisahkan Alea dan Abrar sekarang? tidak sayang.....papamu mana bisa, dia bisa gila hanya dengan mama merajuk saja" sindir mama El tersenyum.


Papa Kemal berdiri menghampiri istri dan anaknya, ia mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


"Jangan samakan papa dengan suamimu sayang" jawab papa Kemal enteng pada Alea kemudian ia keluar dari sana untuk menghubungi seseorang tentang urusan kantornya.


"Huh....menyebalkan" kesal Alea, sebab sejak ia sadar ia sudah berusaha membujuk papanya namun tidak juga mendapat celah, memang benar papa Kemal masih marah pada menantunya, ia merasa Abrar mengabaikan Alea hingga bisa lengah seperti ini, beruntung Alea selamat jika tidak entah apa yang akan dilakukan papa Kemal, ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan putrinya.

__ADS_1


Mama El tengah bersiap-siap dengan barang-barang Alea yang akan pulang ke rumah sore ini, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dan masuk membawa buket bunga mawar, pria itu tidak lain adalah Imran.


"Selamat siang Alea, bibi Eliana..." sapa pria itu.


"Nak Imran....masuklah, silahkan duduk kau mencari suamiku? papa Alea sedang di kamar mandi" jawab mama El tanpa curiga, karena Imran sering bertamu ke kantor suaminya untuk urusan pekerjaan.


Kemarin malam juga pria ini datang dengan membawa sekeranjang buah untuk menjenguk Alea, karena merasa berterimakasih mama El mengambutnya dengan hangat karena ia pikir Imran hanya datang sebagai rekan bisnis suaminya yang kebetulan telah menyelamatkan putrinya, namun sekarang perempuan 46 tahun ini mulai merasa lain ketika melihat buket bunga mawar di tangan Imran.


Alea diam saja, ia malas meladeni Imran yang jelas sekali tampak mengaguminya, Alea merasa kesal terlebih pria itu teman suaminya sendiri.


"Tidak bibi aku kesini khusus untuk Alea, ini untukmu Alea semoga kau cepat sembuh" ucap Imran mendekati Alea memberikan buket bunga.


Alea tidak langsung menerimanya, kemudian papa Kemal keluar dari kamar mandi melihat Imran dengan sebuah buket mawar.


"Iya paman Kemal.....aku datang ingin bertemu Alea"


Kemal melirik buket bunga itu, ia teringat akan masa mudanya dulu yang begitu cemburu jika istrinya menerima buket bunga dari pria lain.


"Bunga? kenapa kau memberikan bunga mawar pada Alea? bukankah bunga mawar sepatutnya diberikan pada perempuan yang spesial?" tanya papa Kemal penuh arti.

__ADS_1


"Tentu saja karena Alea perempuan yang spesial untuk ku" jawab Imran tersenyum.


"Apa maksudmu Imran?" tanya papa Kemal mulai curiga.


Alea hanya mengulum senyum, ia tahu betul sikap ayahnya yang sangat tidak menyukai pria lain yang mengagumi perempuan bersuami karena papa Kemal orang yang pencemburu pada siapa saja yang menggoda istrinya sejak muda dulu.


"Maafkan aku paman jika aku lancang, namun ketahuilah aku sebenarnya menyukai Alea, tapi sayang sekali Abrar telah mendahuluiku, tapi aku rasa sekarang berbeda, karena ku lihat pria itu sudah tidak bertanggung jawab terhadap Alea, bukankah pria seperti itu tidak pantas mendampingi Alea yang istimewa ini" jawab Imran percaya diri.


"Ck.....Imran, aku memang sangat berterimakasih padamu karena menyelamatkan putriku, tapi kau jangan salah paham dulu tentang Alea....putriku bukan perempuan murahan yang bisa kau dekati sembarangan, biar bagaimana pun Alea sudah menikah tidaklah pantas kau seperti ini terlepas apapun alasanku melarangnya bertemu Abrar, itu sama sekali bukan urusanmu....kau salah jika kau berpikir aku akan mengizinkanmu menyukai putriku, maaf Imran ini salah.....bawa buket bunga itu keluar dari sini, aku tidak menyukai pria murahan yang menyukai istri orang" jawab papa Kemal dengan wajah memerah.


Imran terkejut akan respon dari rekan bisnisnya itu, ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat jawaban menohok dari papa Alea, padahal ia sudah percaya diri mengingat ia mengambil kesempatan ketika pria paruh baya itu sedang marah besar pada Abrar yang ia anggap sebagai saingannya dalam bisnis dan juga telah beruntung lebih dulu mendapatkan Alea.


Wajah Imran pias, malu luar biasa terlebih menatap Alea yang tersenyum mengejek padanya.


"Maafkan saya paman Kemal, maaf jika aku lancang" hanya itu yang mampu Imran ucapkan.


"Jika kau mau bicara soal pekerjaan akan ku ladeni tapi tidak jika kau khusus menemui putriku" ucap papa Kemal kembali.


Mama El dan Alea saling melempar senyum.

__ADS_1


******


malu ga sih bang imran? makanya jangan terlalu pede dulu deh, salah kaprah ni orang sama papa Kemal, kena tolak mentah-mentah kan jadi malu banget.....aduh di depan Alea lagi.


__ADS_2