Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 65


__ADS_3

Abrar mulai panik saat Alea memejamkan matanya ketika mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit, Arkan mengemudi dengan kencang, Abrar terus memeluk istrinya di bangku penumpang seraya terus saja merutuki apa yang sudah terjadi, sesekali ia memarahi Arkan yang terasa sangat lambat mengemudi namun sebaliknya Arkan sudah mengemudi dengan kencang, karena mereka cukup jauh dari pusat kota hingga belum juga sampai di rumah sakit yang menjadi tujuan.


Abrar terus menutup luka di punggung Alea dengan jasnya dan memegangnya erat agar tidak terlalu berdarah dan terbuka, Alea terpejam membuat suaminya cemas.


"Sayang....hei bangun ayolah jangan membuatku takut Alea bangunlah kita akan sampai sebentar lagi" ucap pria itu panik sambil satu tangannya menepuk-nepuk lembut pipi Alea.


"Bang Abrar tenanglah.....aku belum mati, aku hanya mengantuk dan lelah saja semalam tidurku tidak nyenyak karena banyak nyamuk disana" jawab Alea pelan sambil terus memejamkan matanya membuat Arkan ingin tertawa mendengarnya.


"Huh.....kau selalu saja membuatku takut" jawab Abrar menghembus napas kasar sambil mengeratkan pelukannya, ia terus saja merasa cemas sebelum mencapai tujuan mereka yaitu rumah sakit agar istrinya segera mendapatkan pertolongan.


Setibanya di rumah sakit Alea segera ditangani di ruang IGD salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota, Abrar berjalan kesana-kemari dengan cemas, ia tidak peduli banyak pasang mata melihat pria itu yang kemeja nya banyak bekas darah yang berasal dari punggung istrinya. Arkan melihat abangnya panik pun hanya bisa ikut berdoa, pria ini memutuskan menghubungi semua keluarga bahwa Alea telah selamat dan berada di rumah sakit sedang mendapat pertolongan.


Karena pada kenyataannya merekapun telah menghubungi orang tua Alea dan Abrar tentang hilangnya perempuan itu sejak kemarin, sebab mereka tidak bisa menyembunyikan ini dari siapa pun terlebih orang tua Alea haruslah mengetahui perihal yang menimpa anak perempuan mereka.


Membuat Kemal menjadi geram setelah mendengar bahwa Alea terluka, berbeda dengan Eliana perempuan ini terus saja menangis selama perjalanan karena cemas akan keadaan putrinya Alea.


Mama Bella dan papa Ricko telah sampai terlebih dahulu, mereka menenangkan putranya agar sabar dan menunggu Alea sedang ditangani oleh dokter tentang luka di punggung perempuan itu sebelum dipindahkan di ruang rawat.


Kemal berjalan cepat disusul langkah istrinya, mereka semua bertemu di depan ruang IGD, namun tiada yang menduga bahwa ayah dari Alea tersebut langsung menghampiri sang menantu dan memukulnya, membuat semua orang terkejut dan tidak bisa mencegahnya.


"Kau......kenapa kau biarkan putriku terluka? kau suaminya Abrar, kemana saja kau hingga putriku sampai diculik, apa kau tidak bisa menjaganya?" ucap Kemal berapi-api seraya terus memukul menantunya itu.


Abrar tidak mengelak, papa Ricko melerainya ia menangkap tubuh sahabatnya itu seraya menenangkan.


"Kemal tenanglah, kita bisa bicara baik-baik....kita seharusnya bersyukur Alea telah selamat dari penculikan itu" ucap papa Ricko.


"Apa? tenang....putri ku terluka, dan pria ini tidak menjaganya dengan baik" tuding papa Kemal kembali pada Abrar yang hanya diam menunduk seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan papa mertuanya.


"Maafkan aku pa.....aku memang salah, aku suami yang buruk" jawab Abrar pelan dan menyesali apa yang menimpa istrinya.


"Kau menyadarinya sekarang? kau pikir aku menikahkan Alea dengan mu untuk di culik dan terluka? aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada putriku, jika kau tidak bisa menjaganya kembalikan dia padaku" ucap papa Kemal mendorong tubuh menantunya kasar.


Mama Eliana hanya bisa menangis terlebih melihat ada banyak bekas darah di kemeja menantunya yang membuat pikirannya kemana-mana, mama Bella hanya bisa terus menenangkan besannya itu.


"Berhenti bertengkar, kita berdoa saja semoga Alea baik-baik saja, sudahlah ini di rumah sakit malu jika dilihat orang" ucap mama Eliana menarik tangan suaminya agar menjauh dari Abrar.


Papa Kemal hanya bisa mengusap wajahnya kasar sambil terus melihat ke arah pintu IGD yang belum juga dokter datang menemui mereka menjelaskan bagaimana kondisi terkini putrinya.


Papa Ricko pun menarik Abrar menjauh dari papa Kemal agar tidak di pukul lagi, pria paruh baya ini mengusap punggung anak sambungnya agar lebih tenang lagi.


Tidak lama seorang dokter perempuan keluar menemui keluarga dari Alea.


"Maaf....keluarga pasien bernama Alea?" tanya sang dokter.


Abrar dan papa Kemal lebih dulu menghampiri.

__ADS_1


"Aku papa nya dokter"


"Aku suaminya dokter"


Jawab mereka bersamaan, kemudian disusul keluarga yang lain.


"Bagaimana keadaan istriku dokter?"


"Bagiamana keadaan putriku dokter?"


Tanya mereka bersamaan lagi, membuat dokter perempuan itu bingung.


"Baiklah tuan-tuan bisa tenang sebentar, beri saya waktu untuk menjelaskannya"


Mereka semua mengangguk cepat.


"Keadaan pasien bernama Alea sekarang sudah membaik, lukanya memang besar namun sudah di jahit dan diberi perawatan, tidak ada perdarahan yang serius pada lukanya karena memang tidak terdapat pembuluh darah besar pada area tersebut, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, keluarga bisa mengurus ruang rawatnya di bagian admisi, namun disini saya juga akan menyampaikan bahwa pasien sedang hamil muda, jadi saya harap tidak terjadi lagi hal yang seperti ini yang bisa saja mengancam nyawa ibu dan calon bayinya jika saja luka itu tidak mengenai punggung, andai luka itu mengenai bagian perut tentu ini lebih berbahaya"


Jawaban dokter itu mengagetkan semua yang mendengarnya terlebih Abrar sebagai sang suami yang sama sekali belum mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung, entah perasaan bahagia atau apa yang harus diperlihatkan oleh pria itu.


Mama Bella tersenyum mendengarnya, berbeda dengan mama Eliana perempuan ini bertambah cemas dengan keadaan putrinya.


Sama hal dengan papa Ricko, berbeda pula yang dirasakan oleh papa Kemal yang emosinya kembali ke permukaan setelah mendengar penjelasan dokter, tidak berbasa basi lagi ayah Alea ini kembali memukul dan mendorong menantunya dengan kasar.


"Apa ini Abrar? istrimu sedang hamil kau tidak mengetahuinya? dan membiarkan Alea terluka dalam keadaan berbadan dua? kau membuatku benar-benar marah, kau menjaganya tidak? kau sungguh pria tidak bertanggung jawab, aku tidak akan membiarkan ini terjadi kedua kalinya kau dengar itu? awas kau Abrar, aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada putriku" kembali papa Kemal kesal dan memukul menantunya itu dengan geram.


"Maaf tuan-tuan, jika ingin berkelahi jangan disini, banyak pasien dan itu sangat mengganggu....." ucap sang dokter membuat papa Kemal mendorong tubuh Abrar kasar dan ia berjalan menjauh dari menantunya.


Abrar kembali hanya bisa pasrah dengan kemarahan mertuanya itu, memang ia menyesali apa yang terjadi pada Alea terlebih setelah dokter mengatakan bahwa istrinya tengah hamil, ia benar-benar menyesal datang terlambat ketika hari Alea di culik meski ia belum tahu cerita sebenarnya dari Alea kenapa sampai perempuan itu di culik.


*****


Alea masih tertidur ketika sudah berada di ruang rawat, sang mama terus saja berada di sampingnya membelai dan menggenggam tangan putrinya dengan sayang, papa Kemal juga berada disana bersama besannya papa Ricko dan mama Bella menunggu Alea terbangun.


Abrar disuruh pulang untuk mandi dan berganti pakaiannya yang berlumur darah luka istrinya, pria ini juga memberi kabar pada mama Clara dan Naura bahwa Alea telah di rawat dengan baik, adiknya pun sudah pulang karena harus mengurus kantor yang tidak bisa ditinggalkan.


Setelah mandi dan rapi kembali Abrar ke rumah sakit untuk menjaga istrinya, tidak tahu betapa bahagianya perasaan pria ini ketika mengingat ucapan dokter bahwa istrinya tengah mengandung, biarpun rahangnya membekas memar oleh pukulan sang mertua tidak membuatnya patah arang dan terus mengembangkan senyum sambil terus mengemudi menuju rumah sakit.


*****


Abrar melangkah pelan dan ragu memasuki ruang rawat istrinya sebab ia masih sungkan bertatap muka dengan papa mertua yang masih marah padanya.


"Bang Abrar kau sudah datang...." ucap mama Eliana.


"Iya ma....kalian bisa pulang dan istirahat" jawab pria itu.

__ADS_1


"Baiklah jaga Alea dengan baik, sepertinya dia tertidur pulas hingga belum juga bangun sampai sekarang, kami akan pulang....nanti malam mama akan kesini lagi membawa makanan kesukaan istrimu" ucap mama El pamit pada Abrar.


Abrar mengangguk dan mencium tangan mama mertuanya itu dengan sopan, ia beralih pada papa Kemal yang memasang wajah datar, pria itu meraih tangan papa mertuanya untuk ia cium sebelum semua keluarganya pulang.


"Jangan kira aku sudah memaafkanmu Abrar, karena Alea sedang mengandung tidak mungkin juga aku memisahkannya darimu, namun perlu kau ingat sebelum kau bawa pelaku penculikan dan penembak putriku jangan harap aku memaafkanmu untuk ini" jawab papa Kemal serius seraya keluar dari sana.


Abrar tidak menjawab, namun ia berjanji di dalam hati untuk mengusut kasus penculikan istrinya.


Kini hanya mereka berdua yang tinggal disana, Abrar terus mencium kening istrinya dengan lembut, membelai wajah dan menggenggam tangan perempuan yang masih terpejam itu.


Abrar mengembangkan senyum tatkala Alea membuka mata, menatap sekeliling kemudian kembali pada wajah pria yang berada dihadapannya.


"Sayang....kau bangun?" ucap Abrar berbinar.


Alea mengernyit heran dan menarik tangannya dari genggaman pria itu, membuat senyum Abrar pudar dan heran.


"Siapa kau?" tanya perempuan itu heran seraya beringsut.


"Sayang....apa yang kau bicarakan?" tanya Abrar bingung.


"Siapa kau? aku dimana dan kau kenapa bisa disini, aku tidak mengenalmu" jawab perempuan itu.


"Sayang kau tidak mengenalku? aku suamimu....hei lihat aku, jangan membuatku takut Alea" ujar Abrar mulai panik.


"Alea? apa itu namaku?"


"Sayang kau sama sekali tidak mengingat ku?"


Alea menggeleng, membuat pria itu frustasi dan mengusap wajahnya kasar, ia berdiri dan hendak memanggil dokter, Alea menahannya.


"Kau mau kemana?"


"Aku akan memanggil dokter, dia bilang keadaanmu baik-baik saja kenapa bisa hilang ingatan sekarang, kau membuatku takut sejak tadi Alea" jawab Abrar cemas.


Abrar menatap Alea penuh tanya ketika perempuan itu terkikik geli.


"Astaga.....kenapa kau lucu sekali bang Abrar, apa kau lupa yang terluka punggungku bukan kepalaku jadi tidak mungkin aku hilang ingatan, ha ha ha"


Abrar menghembus napas panjang mendengar tawa istri yang ternyata hanya mengerjainya saja, Alea menarik tubuh suaminya naik keranjang.


"Aku merindukanmu sayang, tenanglah aku baik-baik saja sekarang" peluk Alea pada tubuh besar Abrar disampingnya.


Pria ini tidak bisa berkata-kata lagi, senyumnya mengembang ketika Alea hanya bercanda saja tadi.


"Kau selalu saja membuat ku gila Alea....berhenti bercanda, aku mencemaskanmu aku senang kau kembali dan baik-baik saja sekarang, aku mencintaimu jangan hilang lagi" ucap Abrar penuh perasaan menatap istrinya penuh cinta dan berakhir dengan sebuah ciuman yang absen sejak kemarin.

__ADS_1


#####


Alea udah hamil ya sesuai request para readers, indah pada waktunya alea meski drama culik menculik palsu, aduh si bos kecil nyari mati nih.


__ADS_2