Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 64


__ADS_3

Alea yang makan mangga muda, dua pria penculik itu yang merasakan asamnya buah yang sama sekali belum cukup umur untuk dikonsumsi, mereka terus mengernyitkan wajahnya merasa tidak sanggup jika harus memakan mangga muda di waktu yang masih pagi.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?"tanya Alea heran.


"Apa nona tidak merasa asam sama sekali? padahal masih sangat pagi nona bisa sakit perut makan mangga itu terlalu banyak" ucap pria beristri sambil bergidik.


"Ini enak....sudah ayo aku sudah selesai, hei....lihat itu bukankah jalan? lihat jalan raya terlihat dari sini, kita lewat ini saja jadi tidak perlu menyeberang sungai" jawab Alea ketika langkahnya terhenti menyadari mereka berjalan menemukan jalan setapak menuju jalan raya yang sudah terlihat dari tempat mereka berdiri.


Dua pria itu mengangguk semangat.


"Huh....baguslah setidaknya aku tidak perlu cemas untuk menyeberang sungai" jawab pria bujangan yang tidak bisa berenang.


Mereka terus berjalan, dan tiba-tiba ponsel mereka berbunyi dan pria bujangan menelan ludah kasar ketika melihat nama pemanggil.


"Siapa?" tanya temannya.


"Bos kecil, bagaimana ini dia pasti sudah sampai gubuk, ayo kita jalan lebih cepat" jawab pria bujangan yang sudah terlihat cemas sebab mereka berjalan belum terlalu jauh dari gubuk.


Alea pun mulai gusar, sebab belum ada tanda-tanda suaminya menghubungi lagi.


Mereka sama-sama mengangguk dan mengabaikan bunyi ponsel yang terus berdering, mempercepat langkah menuju jalan raya tidaklah mudah ketika berada dalam kecemasan, ada saja yang memperlambat ketika Alea tersandung kayu membuatnya terjatuh dan kesakitan.


"Ayo nona, kau bisa tertangkap jika seperti ini" ajak pria beristri pada Alea dan menolongnya berdiri.


"Aduh....kaki ku sakit, astaga....kenapa kita bisa melambat seperti ini" gumam Alea kesal sendiri.


"Bukankah nona sendiri yang membuang waktu sia-sia dengan menyuruh kami mengambil mangga dan memakannya pun sambil duduk santai, kita bahkan sudah lengah dengan waktu" ucap pria bujangan sedikit kesal.


"Kenapa kau menyalahkan ku" cebik Alea


"Sudah kita berdebat saja memakan waktu juga, ayo lanjutkan bos kecil pasti akan mengejar kita sekarang" ujar teman satunya lagi.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan dengan mata melihat sekeliling seraya mengawasi, langkah mereka terpaksa pelan ketika kaki Alea tidak bisa di ajak cepat karena membuatnya bertambah kesakitan.


Hingga berjarak sekitar seratus meter lagi menuju jalan raya melewati kebun karet warga, Alea tersenyum ketika mendapati mobil yang ia yakini adalah suaminya tengah berjalan lambat.


"Berhenti, kalian lihat itu sepertinya mobil suamiku....kalian mengantarku sampai disini saja jangan sampai wajah kalian terlihat atau kalian akan hancur di pukul suamiku, terimakasih sudah melepasku, kita berteman bukan? teman itu saling menjaga bukan saling menjatuhkan oke, biarpun kalian telah salah menculikku namun aku juga tidak mau kalian ditangkap dan di pukuli, ingat perjanjian kita kalian juga harus pulang dan mencari pekerjaan lain selain ini"


"Iya nona, kamilah yang harus berterimakasih banyak...pergilah cepat, kami akan kembali ke gubuk untuk mengalihkan perhatian agar bos kecil tidak sampai disini" ucap salah satunya.


Alea mengangguk.


"Aku harap kalian benar-benar hidup lebih baik dari sekarang, jangan jadi penjahat lagi oke...." ucap Alea seraya memberi salam perpisahan dengan memukul lengan kedua pria itu.


Pria beristri panik ketika melihat kebelakang seperti terdengar sebuah langkah.


"Cepatlah nona....sepertinya memang bos kecil menuju kesini" ucap pria itu di angguki oleh temannya yang menunjukkan ponselnya kembali bahwa ada panggilan dari bos kecil mereka.


Alea menelan ludah kasar, kemudian ia melihat ke arah mobil di pinggir jalan bahwa suami dan iparnya tengah berjalan disekitarnya seperti mencari sesuatu sambil Abrar terus mencoba menghubungi menggunakan ponselnya.


Alea berjalan terseok-seok mencapai jalan raya yang terasa jauh ketika pikirannya tertuju pada bos kecil yang sudah mengarah pada mereka, sesekali ia melihat kebelakang pada dua pria itu, ia memikirkan apa yang terjadi pada dua pria itu jika bos kecil mendapati mereka melepas sanderanya dengan sengaja.


Tangan dua pria itu terus melambai memberi isyarat agar Alea lebih cepat lagi dalam berjalan, karena kebun karet itu cukup semak hingga Abrar tentu saja tidak bisa melihat istrinya yang bertubuh mungil.


Alea ingin berteriak namun masih jauh, ia takut suaranya tidak terdengar oleh suaminya namun didengar oleh bos kecil yang bisa saja sudah semakin mendekat.


Abrar memutuskan untuk turun langsung ke dalam kebun karet itu, ia yakin sebab itulah alamat jalan yang disebutkan oleh Alea tadi, ia berjalan sambil memanggil nama Alea istrinya membuat Alea menepuk kening.


"Astaga.....kenapa bang Abrar berteriak namaku, aduh....bagaimana jika bos kecil gila itu mendengarnya" gumam Alea kesal, padahal ia sudah berusaha terus bungkam yang terpenting baginya ia sudah bisa melihat suaminya meski masih jauh. Alea kembali melihat kebelakang dan ternyata dua pria penculiknya sudah tidak berada ditempat mereka tadi membuat Alea kian cemas.


"Apa mereka sudah tertangkap?" gumamnya lagi.


"Ayolah kaki kenapa kau harus terkilir dalam keadaan seperti ini" kesal Alea pada kakinya sendiri yang masih tidak bisa berjalan cepat.

__ADS_1


Ia bahkan sudah merasa frustasi sendiri, namun pikirannya ditepis ketika melihat Abrar kian mendekat ke arahnya, senyumnya mengembang dan kembali bersemangat ketika jaraknya pada suami hanya sekitar 20 meter saja, namun Abrar belum melihatnya.


Karena terlalu bersemangat Alea berteriak memanggil nama suaminya dan melupakan sejenak kakinya yang sakit dan tentang ketakutannya pada si bos kecil yang ternyata sudah menodongkan pistol pada kedua anak buahnya yang berani melepas sandera begitu saja.


"Bang Abrar...." pekik Alea memanggil suaminya sekeras yang ia mampu.


Abrar mendengarnya dan cepat berlari ke arah sumber suara, karena Alea terseok-seok tidak bisa berlari cepat, namun ia berusaha terus mempercepat langkah dan senyumnya mengembang ketika matanya berhasil bertemu mata suami yang ia rindukan sejak kemarin.


Abrar tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat Alea berdiri dan tampak baik-baik saja, pria itu segera berlari dan Alea pun melakukan hal yang sama.


"Sayang....." pekik Alea mencoba berlari ke arah suaminya.


Namun siapa sangka, belum juga Abrar meraih tubuhnya dalam dekapan tiba-tiba terdengar sebuah suara.


Dorrr......


Sebuah peluru melewati punggung Alea, tidak menembus namun berhasil mengoyak punggung cantik istri Abrar tersebut, Alea tumbang dalam pelukan sang suami.


"Alea" ucap Abrar tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi ketika menyadari luka dipunggung Alea kian mengeluarkan darah.


"Sayang hei....siapa yang melakukan ini" gumam Abrar geram sambil melihat ke arah yang di duga berasal dari si pelaku, namun tidak ada siapa-siapa disana hanya ada semak-semak belukar yang tidak menampakkan seseorang yang mencurigakan, hanya hening yang tercipta.


"Bang Abrar ayo kita pulang, ini sakit....aku rasa akan membutuhkan banyak jahitan, aku merasakannya" ucap Alea meringis kesakitan karena memang pada kenyataannya punggungnya terluka lumayan besar akibat dilewati peluru yang Alea yakini itu dari bos kecil.


Abrar menggendong istrinya yang kian melemah karena menahan sakit dengan darah terus membasahi baju bagian belakangnya.


"Bertahanlah Alea....kita akan ke rumah sakit sekarang, tidak akan ku ampuni siapapun pelakunya"


"Setidaknya aku lega aku sudah benar-benar lepas dari mereka, tenanglah aku tidak akan mati hanya dengan luka robek seperti ini" jawab Alea pelan sambil mengeratkan pelukan di leher suaminya.


#####

__ADS_1


lanjut yaaaa.....


__ADS_2