Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Kamu Jahat!


__ADS_3

...Selamat membaca ๐ŸŒธ...


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


"Dioooon,,, lihat nih siapa yang datang ke rumah kita." mama Herna meneriaki nama putranya sambil terus menggamit lengan Hana.


"Siapa ma??" Dion bergegas turun.


Langkah terakhirnya hampir membuatnya terpeleset di ujung tangga kalau ia tak dengan sigapnya berpegangan di kayu penyangga tangga itu.


"Hana,,," cetusnya lirih.


"Halo Dion,,, Apa kabar??" sapa Hana dengan kikuk.


"Ba,,, Baik,,, Aku baik. Ka,,, Kamu bagaimana??" Dion menggigit bibir dan merasa bodoh sekali menanyakan hal demikian.


Ia jelas tau Hana sedang tidak baik baik saja. Hana tentu masih berduka dengan kepergian suami dan putranya.


"Dasar bodoh." runtuk Dion dalam hati.


"Aku bingung." jawab Hana dengan wajah benar benar kebingungan.


Ia heran kenapa pihak rumah sakit malah memberinya alamat rumah Dion. Kebetulankah? Tapi kebetulan apanya? Ia menanyakan alamat penabraknya dan kenapa juga pihak rumah sakit malah memberikan alamat mantan suaminya itu.


"Mmm,,, Aku bisa jelaskan semuanya nanti. Tapi sebelumnya apa kamu sudah kenal istriku?" Dion merasa tak enak hati pada Karin yang berdiri di ruangan itu namun seolah diacuhkan kehadirannya.


Segera Dion menghampiri Karin dan membimbingnya untuk mendekati Hana.


"Mama udah kenalin tadi di luar. Gak usah dikenalin lagi. Mendingan kita duduk di sana yuk. Ngobrol ngobrol,,, Kapan lagi bisa ngobrol sama kamu sayang. Mama kangen sekali sama kamu. Kapan hari mama minta nomer kamu ke Darren tapi nomer yang diberikan Darren gak bisa dihubungi. Kata Darren mungkin kamu sedang keluar negeri ikut suami kamu." ucap mama Herna.


Hana yang masih kebingungan itu mengangguk angguk saja tanpa menyaring suara atau kalimat apa pun yang masuk ke telinganya. Otaknya sibuk sendiri mencari jawaban kenapa pihak rumah sakit memberi alamat Dion.

__ADS_1


Hana menurut saja saat mama Herna mengajaknya duduk. Karin bisa melihat betapa mertuanya itu menyayangi mantan menantunya itu. Sebisa mungkin Karin menata hatinya agar tidak malah merasa iri atau tersaingi.


Bagaimana pun juga,, saat ini wanita yang tengah dielus elus tangannya oleh mama Herna itu hanyalah bagian dari masa lalu suaminya. Ia sebagai istri sah Dion saat ini tidak perlu merasa terancam meski tampak mantan mertua dan menantu itu sangat akrab. Lagipula Dion juga menegaskan berkali kali padanya bahwa ia tak ingin tenggelam dalam masa lalunya.


Dion mengajaknya untuk menatap masa depan,,, bukan masa lalu.


"Kamu baik baik saja sayang?" Suara Dion menyadarkan Karin dari segala macam kesibukan otaknya.


"I am fine om papa." jawab Karin dengan seulas senyum yang sebenarnya entah kenapa sukar ia ukir hari itu.


"Yakin?" Dion tampak merasakan kegundahan hati Karin.


"Ya,,," Karin tetap berusaha tersenyum.


"Hana,,, Papa turut berduka cita atas kejadian tempo hari ya." papa Hengki seolah ingin membuat mama Herna tidak terlalu fokus pada Hana saja.


"Papa tau kejadian itu?" Hana heran.


"Tunggu Tunggu,,, Hana sebenarnya bingung ini." Hana menarik tangannya.


"Bingung kenapa sayang??" Mama Herna ikut bingung.


"Hana ingin menemui pihak penabrak mobil kami karena selama ini Hana terus saja menghindarinya. Hana hanya belum siap saja. Tapi sekarang Hana sudah merasa lebih baik jadi kemarin pergi ke rumah sakit dan minta alat orang yang menabrak mobil kami. Dan pihak rumah sakit memberi alamat rumah ini. Kenapa mereka beri alamat rumah ini??"


Baik mama Herna maupun semua yang ada dalam ruangan itu saling berpandangan. Sepertinya mereka semua sudah mulai paham situasi. Hana belum tau siapa yang menabrak mobilnya.


Ddrrrttt,,,


Dion terkejut saat ponselnya bergetar. Dilihatnya nama Darren di layar ponselnya. Sahabatnya itu mengiriminya pesan.


"Hana berusaha nyari tau siapa yang nabrak suaminya bro. Should i talk to her? Gue serba salah mau ngasi tau. Lo sahabat gue dan dia udah kayak adik gue sendiri." ~ Darren.

__ADS_1


"She is here. Di rumah gue saat ini. Di depan gue dan lagi kebingungan. Its ok bro. Biar gue sendiri yang jelasin semuanya. Ini salah gue dan udah tanggung jawab gue buat mengakui semuanya dan minta maaf sama dia." ~ Dion.


"Ok,,, Selesaikan baik baik bro. Good luck." ~ Darren.


"Apa ada yang bisa jelasin ke Hana sebenarnya ada apa ini?" Hana terlihat mulai kesal karena semua orang malah pada diam.


"Pihak rumah sakit sudah benar memberikan alamat ini karena memang yang menabrak mobilmu kemarin tinggal di rumah ini. Akulah yang menabrak mobilmu Han. Aku minta maaf yang sebesar besarnya padamu. Aku berusaha menemuimu selama ini tapi kamu masih belum bisa ditemui. Aku ingin tau aku sungguh menyesal sudah lalai di jalan dan mencelakai kalian."


Dion merasa tercekat saat mata bening Hana mulai dipenuhi cairan beningnya. Perlahan cairan itu pun menetes membasahi pipinya. Hati Dion hancur karena sekali lagi ia membuat wanita itu menangis.


Sungguh ini semua diluar kuasanya. Ia tak pernah ingin mencelakai keluarga Hana. Tapi ia juga tak kuasa menolak jalan takdir yang mempertemukan mereka lagi seperti ini padahal sebisa mungkin Dion merelakan wanitanya itu bahagia bersama keluarga barunya.


Bagian terburuknya sekarang justru Dion lagi yang merampas kebahagiaan keluarga baru Hana.


"Sayang,,, Mama mohon kamu mau maafin Dion ya. Mama yakin dia gak sengaja. Namanya juga di jalan ya sayang,,, Meski kita sudah hati hati kadang orang lain yang gak hati hati. Kita udah benar jalurnya,, eh orang lain yang ngeloyor aja. Mama harap kamu bisa mengerti ya Han." pinta mama Herna.


Hana tak bergeming. Ia masih terus menangis. Fakta tentang siapa yang menabraknya sungguh di luar dugaannya. Ia ingin berdamai dengan penabraknya tapi ketika tau siapa orangnya justru ia merasa kesal dan tak terima.


Seolah Dion belum puas menyakitinya. Dulu dengan perselingkuhannya dan kini Dion merampas kebahagiannya. Karena kecerobohannya mengemudi membuat suaminya dan putranya meninggal.


Kenapa pria itu seakan tak mau membiarkannya bahagia? Kenapa juga pria itu harus datang ke Singapura?? Dari sekian banyak mobil yang lewat kenapa juga harus mobil suaminya yang harus ditabrak olehnya?


"Kamu Jahat Dion!!" Meski Hana paham bahwa yang namanya maut itu rahasia tuhan tapi tetap saja ia menyalahkan Dion atas kepergian dua orang terkasihnya.


Kepala Hana terasa berdenyut makin keras. Hana merasa mual. Pandangannya kabur. Tubuhnya juga terasa ringan dan lemas.


"Hana,,, Sayang,,, Dion bawa ke rumah sakit." suara mama Herna saja yang didengar Hana sesaat sebelum ia jatuh pingsan.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Dukung author dengan vote, like dan komen ๐ŸŒธ๐ŸŒนโค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2