Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 44


__ADS_3

Dannis terkejut ketika Nara masuk ke kamarnya dengan wajah pucat, gadis itu memberanikan diri menemui Dannis untuk suatu hal yang membuat Dannis terheran.


"Astaga.... kenapa kau berani masuk tanpa mengetuk pintu? kita berdamai bukan berarti kau bebas masuk ke kamarku juga, ini privasiku bukankah jelas batas diantara kita?", sergah Dannis kesal saat ia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk saja ketika wajah pucat Nara yang muncul di sana.


"Maaf tuan, aku sedang sakit datang bulan hari pertama, aku hanya ingin meminta tolong padamu....", Nara berbicara pelan seraya meringis memegangi perutnya.


"Apa?".


"Aku tidak punya pembalut, perutku sangat sakit jika harus keluar sekarang, aku hanya ingin meminta tolong bisakah kau membelinya untuk ku?".


"What? pembalut? kau meminta ku membelikanmu pembalut? enak saja, itu menggelikan".


"Aku mohon, selain kau siapa lagi yang bisa ku mintai tolong".


"Enak saja, tidak mau.... kau mau menjatuhkan harga diriku?", ucap Dannis marah.


"Ayolah, perut ku sakit sekali aku bahkan tidak bisa bangun jika datang bulan hari pertama, ayolah.... hanya membelinya saja apa hubungannya dengan harga diri?".


Nara memohon, tubuhnya kian tampak lemah, Dannis menelan ludah jika ia harus mengalah.


"Baiklah... aku akan menghubungi Sheira saja", ucap Dannis lagi.


"Tuan, itu akan sangat lama bukankah jarak rumah ini tiga puluh menit dari rumah mama, bagaimana jika sebelum Sheira datang aku sudah mengotori rumah mu dengan darah yang banyak?".


Dannis terdiam, ia mengiyakan dalam hati.


"Aku akan menyuruh sekretaris ku saja", ucap Dannis lagi.


"Bukankah kau tidak memberitahu bahwa kau sudah menikah? bagaimana jika dia curiga?".


"Kau benar juga, huh.... aku tidak mau, tidak akan mau".

__ADS_1


"Ayolah aku mohon", Nara memasang wajah menyedihkan dan mulai merasa sangat lemas.


Dannis melihat itu kembali menghembuskan napas kasar.


"Sial.... kau menyebalkan, tunggulah di kamarmu, jangan mengotori kamarku".


"Oh tuan Dannis kau sungguh baik", Nara menunduk seraya berjalan keluar kamar.


Nara menatap Dannis yang pergi dengan wajah memakai masker, pria itu mengemudi kencang berlalu dari halaman rumah.


Nara tersenyum, "Kau mengerjai ku dengan kalung tuan Dannis, aku mengerjaimu dengan pembalut, sekarang baru kita benar-benar impas", gumam Nara puas.


"Setidaknya aku lega, ternyata kau masih punya hati untuk hal sekecil ini".


*****


"Berikan aku pembalut", ucap Dannis dengan wajah tertutup masker pada salah satu pegawai mini market tidak jauh dari rumahnya.


"Apa?", wanita itu terkejut namun segera ia mengulum senyum.


"Oh tuan, kau pasti sangat menyayangi istrimu sampai kau memperhatikan hal kecil bahkan pembalut sekali pun".


"Jangan sok tahu, cepat berikan", sergah Dannis tajam.


"Baiklah, tuan mau pembalut yang seperti apa?".


"Memangnya seperti apalagi, ya seperti pembalut?".


"Ada banyak macam tuan, ada yang memakai sayap ada yang biasa, ada juga yang khusus untuk malam hari dan ada yang khusus untuk ibu yang baru melahirkan, tuan mau ukuran berapa?", tanya pegawai wanita itu lagi.


"Memangnya pembalut bisa terbang? huh ini benar-benar memalukan, berikan aku semua yang kau sebutkan", perintah Dannis lagi.

__ADS_1


"Baik tuan".


Dannis membawa satu kantong plastik besar berisikan pembalut bermacam bentuk dan ukuran yang tersedia di mini market itu.


"Awas kau Nara, aku benar-benar menjatuhkan harga diriku karena pembalut sialan ini, sungguh memalukan", umpat kesal Dannis seraya membuka maskernya ketika telah berada di dalam mobil.


Pria itu segera pulang dan memberikannya pada istri yang menunggu di sana.


"Ini", hanya itu yang terucap oleh Dannis.


Nara menerima kantong belanjaan itu dengan heran.


"Kenapa banyak sekali? apa kau marah padaku hingga kau membeli semua ini? sampai pembalut untuk melahirkan pun kau beli juga", tanya Nara heran.


"Jangan banyak bertanya, seharusnya kau berterimakasih.... terserah padamu kau bisa menyimpannya sampai kau melahirkan suatu hari nanti", ucap Dannis kesal, pria itu meninggalkan Nara begitu saja kembali ke kamarnya.


"Apa?", Nara tercekat mendengar kata melahirkan dari mulut Dannis, ia memegang pipinya yang tampak bersemu merah.


Entah kenapa Nara mengartikannya berbeda, ia merasa malu sendiri ketika Dannis mengatakan untuk menyimpan pembalut itu sampai ia melahirkan suatu hari nanti.


"Melahirkan? ya ampun, kenapa perutku geli mendengarnya", gumam Nara tidak bisa menyembunyikan raut merahnya karena malu.


*****


Keesokan harinya, Nara beraktivitas seperti biasa masih dengan seragam khas pelayan itu.


Ia mengepel dan membersihkan kaca jendela, ia begitu telaten mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa mengeluh.


Pada saat menyiram tanaman, ia melirik ke luar halaman, matanya tepat menuju sebuah rumah yang ia yakini adalah tempat tinggal Ranti dan ibunya yang baru, rumah itu tampak sepi.


"Apa aku temui ibu saja? kami bertetangga rupanya, aku hanya ingin kita tetap berhubungan baik", ucap Nara sendiri dengan matanya tidak beralih pada rumah itu.

__ADS_1


Gadis ini menghela napas, ia memutuskan untuk masuk berniat menyiapkan sarapan saja sambari menunggu Dannis bangun, entah kenapa pria itu belum turun hingga waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Apa dia tidak ke kantor? kenapa belum bangun juga, humm.... bos bebas datang kapan saja bukan? tapi lihatlah istri bos ini, sungguh menyedihkan", gumam Nara terkekeh sendiri melihat penampilan nya.


__ADS_2