Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Harus Bersabar Lebih Lama


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Enam bulan kemudian,,,


Sebuah apartemen kecil yang jendelanya menghadap ke timur itu pagi ini terdengar sedikit hingar bingar. Sepertinya penghuninya tengah berbahagia.


"Alhamdulillah,,, akhirnya. Terima kasih Yusuf. Semua ini berkat bantuanmu. Kamu baik sekali pada kami. Kamu banyak membantu kami."


"Benar itu nak Yusuf. Bapak terima kasih sekali sudah dibantu sampai bisa diterima kerja di perusahaan tempat nak Yusuf bekerja. Pekerjaan ini sangat berarti untuk bapak dan Karin serta Delvara juga. Dengan pekerjaan ini inshaallah kami tidak lagi merepotkan nak Yusuf lagi."


"Sama sama. Alhamdulillah juga karena takdir Tuhan mempertemukan kita kembali di sini. Saya selalu senang bisa membantu kalian. Karin,,, sebelum aku pergi, boleh aku menggendong Delvara sebentar??" tanya pria yang bernama Yusuf itu.


"Tentu saja boleh. Del,,, ikut om Yusuf dulu ya sebentar. Jangan ngompol ya." ucap Karin pada Delvara.


"Gak apa apa juga kalau ngompol kan katanya kalau diompolin anak kecil nanti bisa cepat ketularan punya anak juga." canda Yusuf sambil nyengir kuda.


"Kamu itu masih saja percaya begituan. Lagipula kalau pun mau ketularan juga pertama tama ya harus ada pasangannya dulu. Lah kamu,,, pasangan saja gak punya gimana mau ketularan punya anak coba??" kekeh Karin.


"Kalau itu salahmu." jawab Yusuf serius.


"Lah kok aku??" Karin tidak mengerti.


"Karena kamu membatasi hubungan kita." Yusuf makin serius.


Pak Adi yang semula ikut tertawa dengan candaan keduanya kini mulai mengerti pembicaraan itu tidak lagi boleh didengarnya. Ini sudah mulai menuju ke hal serius dan pribadi. Karenanya pak Adi memilih menyingkir saja dari sana.


"Papa lupa harus antar catering ke lantai bawah Rin. Papa kesana dulu ya." pamitnya cepat.

__ADS_1


Karin yang ditinggalkan berdua dengan Yusuf, bertiga sebenarnya dengan Delvara jadi gugup dengan tatapan mata Yusuf yang terus memperhatikannya dan menuntut jawaban.


"Aku,,, Ak,,, aku,,,ah kamu itu ya Suf,,,suka sekali mojokin aku dari dulu. Sudah sini Del kasih ke aku. Ini sudah jam berapa hayo? Kamu harus ke kantor kan? Nanti telat loh. Oh ya,,, aku juga sudah siapin nasi bekal makan siangmu nanti. Sesuai dengan pesananmu. Senin menu yang kamu mau adalah Oseng kikil pedas dengan orek tempe. Aku heran sebenarnya sama kamu ini. Sudah berapa tahun hidup di Turki tapi lidahmu masih Indonesia banget sih."


Karin terus mengoceh untuk menutupi kegugupannya. Namun Yusuf masih tetap tenang dan memperhatikannya.


"Lihat dirimu,,, Kamu sudah sangat paham jam berapa aku kerja,,, apa yang ingin ku makan setiap harinya. Senin sampai minggu kamu ingat semuanya." ujar Yusuf.


"Ya itu karena aku penjual catering langgananmu tuan Yusuf. Jadi pasti aku ingat jadwalmu. Tidak ada yang spesial disini karena aku juga ingat semua pesanan pelangganku lainnya. Ok??" Karin tetap menghindar.


"Kamu memang selalu begitu. Menempatkanku di deretan orang orang biasa. Sejak dulu selalu begitu." keluh Yusuf.


"Hey,,, kok malah jadi manyun begini sih? Ntar ilang loh cakepnya om Yusuf. Sini,,," Karin mengambil Del dari tangan Yusuf.


"Boleh ajarkan Del panggil aku papa saja?" pinta Yusuf.


"Yusuf,,,aku,,,"


"Aku cuma bercanda neng Karin. Kan siapa tau dengan sering dipanggil papa,,,aku akan makin termotivasi untuk cari istri. Nungguin kamu juga sampai ubanan belum karuan kamu kasih jawaban huuuhh,,," seloroh Yusuf.


"Makanya jangan ngarep mulu. Sana kerja. Cari duit yang banyak." kata Karin mengimbangi candaan Yusuf.


"Buat nafkahin kamu dan Del nantinya yaaaa,,,"


"Yusuffff,,, mulai deh!!!" sungut Karin.


"Hahahah,,, Aku pergi. Assalamualaikum calon bidadariku,,, hahahhaa,,,," pamit Yusuf sambil menyambar kotak nasi catering dan tas kerjanya.


"Waalaikumsalam,,, huh dasar Yusuf masih saja suka godain aku. Sama sekali gak berubah sifatnya itu. Dari jaman SD sampai udah sama sama tua masih saja begitu." sungut Karin.

__ADS_1


"Tapi apa kamu yakin nak Yusuf itu cuma menggodamu Rin? Bukannya kadang ia sangat serius mengungkapkan perasaannya padamu nak?" pak Adi muncul kembali di pintu depan setelah Yusuf pergi.


"Papa,,,Papa tau Yusuf bagaimana. Sejak dulu ya seperti itu tingkahnya. Jangan diambil hati." ujar Karin.


"Dan kalau misalnya dia sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi bagaimana?" desak pak Adi.


"Pa,, Karin ini istri orang. Papa tau itu." tegas Karin.


"Tapi apa suamimu berusaha mencarimu? Membawamu kembali ke dekapannya? Apa dia melakukan tugasnya sebagai suami selama ini? Kamu jangan lupa sayang,,, yang mencukupi hidup kita selama ini bukan suamimu melainkan Yusuf. Anak tetangga yang kebetulan dikirim oleh Tuhan sebagai malaikat penolong kita saat kita hampir menjadi gelandangan di kota ini."


"Memang bukan suami Karin pa yang melakukan semua itu selama ini tapi Karin percaya itu semua juga pasti ada alasannya. Papanya Delvara tidak akan dengan sengaja menelantarkan kami seperti ini." jawab Karin.


"Lalu kemana dia? Kenapa tak datang? Nak,,, kamu masih muda. Kamu masih berhak untuk bahagia. Ada Del juga yang masih kecil dan butuh sosok papa kelak. Jangan memikirkan dirimu saja. Lihat Del,,,bayangkan nanti saat dia sudah sekolah, ia akan melihat teman temannya punya papa dan mama. Lalu ia akan bertanya kemana papanya? Apa kamu sanggup menjawabnya?? Jawaban apa yang akan kamu berikan nantinya nak?"


"Papa hanya sedang tersesat. Papa hanya belum menemukan jalannya kepada kita. Tapi yakinlah bahwa papa pasti akan datang menjemput kita." Karin tidak mengatakannya pada pak Adi melainkan di telinga Delvara.


Bayi berusia 6 bulan itu mungkin memang belum paham benar dengan apa yang dikatakan oleh mamanya tapi ia tersenyum seolah setuju dengan perkataan mamanya.


"Papa hanya ingin kamu bahagia Rin. Papa hanya ingin Del tumbuh dengan keluarga utuh." lirih pak Adi.


"Bagaimana pun ini semua juga bukan mutlak kesalahan om papa Pa. Bagaimana pun jika ia sampai tak tau harus kemana mencari kami itu juga salah Karin. Karin yang mengubah tujuan kepergian Karin ke negara ini. Harusnya Karin tidak kesini melainkan ke Kanada. Sesuai dengan tiket yang disiapkan untuk Karin. Mungkin kalau Karin tetap ke Kanada,,, om papa akan dengan mudah menemukan kami. Ia pasti bisa melacak kepergian kami dari orang orang suruhannya."


Pak Adi hanya bisa diam tak banyak protes lagi. Beliau tau betul sifat Karin.


"Kami hanya harus bersabar lebih lama sedikit. Kami hanya perlu sedikit menunggu sampai ia menemukan jalannya." ujar Karin sambil tersenyum manis.


"Papa mengerti. Tapi bagaimana dengan Yusuf? Pernahkah kamu memikirkan perasaannya? Ia yang sudah banyak melakukan banyak hal untuk kita semua."


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2