Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 41


__ADS_3

Alea masuk kembali kekamarnya, tidak di duga suaminya tidak berada di ranjang, Alea mencari pria itu yang ternyata tengah berada di kamar mandi, tidak lama berselang Abrar keluar dari sana.


"Sayang kau darimana? aku kehilanganmu" ucap Abrar menatap istrinya heran.


"Aku hampir saja membunuh orang" jawab Alea enteng.


Abrar mengenyitkan dahinya.


"Tidak aku hanya bercanda, aku dari dapur habis minum" jawab Alea menarik suaminya ke ranjang.


"Itu air, kenapa repot ke dapur?" tunjuk Abrar dengan ekor matanya pada gelas air minum yang sudah tersedia di atas nakas kamarnya.


"Aku butuh air lebih banyak, aku juga lapar seperti ingin makan orang tengah malam buta ini" jawab Alea dengan nada kesal.


Abrar terkekeh sambil mendekat pada istrinya.


"Ada apa? kau terlihat kesal" ucap Abrar membelai rambut istrinya.


"Bukan hal yang penting sayang, aku hanya tidak bisa tidur sejak tadi"


"Kenapa? apa ada sesuatu yang membuat mu tidak nyaman?"


"Iya....kau begitu lelap tidur, kau mengabaikanku.... jadi kau harus bertangung jawab, aku ingin memakan mu sekarang" goda Alea yang mendorong tubuh suaminya pelan dan dengan gerakan menggoda Alea menindih tubuh Abrar sambil menyibakkan rambut panjangnya menampilkan leher jenjang nan mulus, sedikit ia buka kancing piyamanya bagian atas membuat suaminya geleng kepala.


Abrar tidak menolak tentunya, Alea meraih bibir suaminya menyalurkan kekesalan lewat hasrat yang muncul ketika menatap sang suami yang memang bertelanjang dada dari kamar mandi tadi.


Mereka menghabiskan tengah malam dengan bercinta hingga dini hari, sampai keduanya kembali terlelap dalam kelelahan saling berpelukan dibawah selimut tebal dengan suhu kamar yang dingin.


*****


Seperti biasa Alea kembali dengan kesibukan di rumah sakit di antar oleh sang suami pagi-pagi sekali, karena ia berniat ingin menjenguk ayah Naura yang sakit setelah mendapat kabar dari teman kerja gadis itu semalam, beruntung Alea telah meminta nomor ponsel Naura dari rekan kerjanya itu, hingga ia bisa tahu dimana ruangan ayah teman barunya itu di rawat.


Ayah Naura di rawat di bangsal saraf karena ia hanya mampu menggunakan jaminan kesehatan kelas tiga. Alea datang dengan sekeranjang buah dan makanan lain yang ia beli sebelum ke rumah sakit.


"Naura" panggil Alea pada gadis yang sedang berdiri di depan salah satu kamar pasien sengaja menunggu Alea.


"Nona Alea kau sudah datang" sambut Naura dengan senyum.


"Maaf aku datang pagi-pagi, bagaimana bisa terjadi Naura?"


"Papaku terjatuh dari kursi rodanya dan pingsan, kata mama sebelum itu papa seperti melihat dan ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa, kau tahu sendiri papaku belum bisa bicara dengan benar jadi mamaku tidak mengerti ada apa sebenarnya" jawab Naura panjang lebar.


"Baiklah kita berdoa saja agar paman tidak bertambah sakitnya, ayo aku ingin masuk" ajak Alea.


Naura mengangguk, mereka masuk kamar yang dihuni oleh enam pasien sekaligus, dimana ayah Naura terbaring lemah di bed pasien paling ujung dekat arah jendela.

__ADS_1


Alea mendekat, perempuan ini menyalami mama dari Naura lalu Alea bergerak mendekati ranjang pasien kemudian ia menyalami tangan ayah Naura meski lelaki paruh baya itu tidak menyadarinya.


"Nak Alea....tidak perlu repot bawa sesuatu, kau selalu saja membawa oleh-oleh jika bertemu kami" ucap ibu Naura merasa sungkan dengan banyaknya buah dan makanan yang dibawa oleh Alea.


"Tidak apa bi, ini bisa kalian makan sambil menunggu paman disini, kalian juga butuh tenaga karena tidak mudah menunggu pasien yang sedang sakit, jangan sampai kalian juga ikut sakit" jawab Alea tersenyum.


"Terimakasih banyak nak Alea, bibi jadi merasa malu"


"Astaga....aku berteman dengan putrimu bi, jadi jangan sungkan oke, sekarang kita doakan saja mudah-mudahan paman akan segera pulang dari sini"


Ibu Naura mengangguk dengan apa yang Alea ucapkan, mereka mengobrol ringan dan sarapan bersama karena Alea juga membawa sarapan untuk mereka ketika datang tadi.


"Baiklah Naura, bibi, aku tidak bisa berlama lagi karena ini sudah waktunya aku bertugas di ruangan sebelah, aku akan kemari lagi jika istirahat siang nanti" ucap Alea ingin pamit setelah ia melihat jam dari pergelangan tangannya.


"Terimakasih banyak nona Alea, aku sangat senang kau mau menjenguk papaku" ucap Naura ketika ia mengantarkan Alea ke


depan kamar pasien.


"Aku juga senang bertemu denganmu Naura, aku harap kau bersabar dengan semua ini....aku ikut mendoakan paman agar cepat pulang dari sini, ini uang untuk membeli keperluan kalian selama disini, mungkin siang nanti aku tidak bisa datang karena suamiku baru saja mengirim pesan memintaku untuk makan siang bersama di kantornya, baiklah...aku akan pergi sekarang" ucap Alea setelah memberikan beberapa lembar uang dalam genggaman Naura.


"Nona Alea" jawab Naura sungkan menerima uang itu, meski ia sangat membutuhkan uang pegangan karena ia belum menerima gaji bulan ini.


"Sudah ku katakan, aku tulus membantu, jangan sungkan kau temanku Naura..... jika kau merasa direndahkan dengan ini aku minta maaf, tapi kau bisa anggap ini hutang jika tidak mau aku bantu cuma-cuma, bayarlah jika kau sudah bersuami kelak" jawab Alea mengusap lengan gadis itu.


Alea mengangguk dan berlalu dari sana seraya melambai tangan dengan senyum manisnya, Naura membalas lambaian itu dengan airmata sambil melihat uang di tangannya, sungguh ia merasa bersyukur bertemu Alea diwaktu yang tepat dimana ia memang membutuhkan seorang teman yang mau membantunya.


*****


Alea kembali pada teman-temannya di ruangan bangsal penyakit dalam yang terletak di gedung sebelah dimana ruang rawat ayah Naura.


Menjalani tugas dan kegiatannya seperti biasa, beruntung hari ini tidak ada dokter Bayu, Alea merasa tidak nyaman jika bertemu dokter Bayu sebab dokter tampan itu tidak sungkan menunjukkan sikap dan perhatiannya pada Alea, itu terlihat jelas dan berbeda perlakuannya pada mahasiswa koas yang lain.


Jam istirahat pun dimulai, Alea dengan bersemangat untuk datang ke kantor suaminya memenuhi janji makan siang bersama, Alea ikut Keysa yang juga akan makan siang bersama suaminya kebetulan melewati kantor Abrar.


*****


"Sayang" panggil Alea seperti biasa langsung menerobos masuk ke ruangan suaminya.


Di sana ada Reza, Alea tersenyum dan menyapa Reza dengan ramah seperti sudah akrab lama, membuat Abrar tidak menyukainya.


"Hai kau sudah datang, baiklah Reza kita bisa lanjutkan nanti" ucap Abrar pada Reza yang masih bersama laptopnya.


Reza segera mengangguk dan mengakhiri pekerjaannya dan pamit untuk istirahat tanpa berlama-lama disana, pria ini cukup sadar diri jika bosnya tidak menyukai keberadaannya jika Alea sudah tiba.


Alea melambai tangan seraya memberi kode pertemanan mereka secara diam-diam.

__ADS_1


"Sayang berhenti menatapnya" cegah Abrar.


"Wow sepertinya ada yang cemburu" jawab Alea mencubit pipi suaminya gemas.


Mereka makan siang seperti biasa, tidak lama ponsel Alea berbunyi menandakan sebuah pesan yang masuk yang ternyata dari Arkan, beruntung suaminya masih berada di toilet.


"Huh....selalu saja mengganggu" gumam Alea kesal setelah membaca pesan dari Arkan.


"Sayang ada apa?" tanya Abrar heran.


"Maafkan aku, aku harus segera kembali ke rumah sakit apa kau keberatan?"


"Tidak.....mau ku antar?" tawar Abrar.


"Tidak perlu sayang, aku akan ikut Keysa sebentar lagi dia sampai" ucap Alea menggigit bibir bawahnya canggung.


"Baiklah kau hati-hati, aku mencintaimu....aku akan menjemputmu tepat waktu" jawab Abrar mengecup seluruh wajah istrinya.


Alea mengangguk dan segera pergi dari sana. Di luar Alea bertemu Arkan dengan wajah kesal.


"Bang Arkan selalu saja mengganggu ku"


"Alea ku mohon, bantu aku kali ini....kasihan Melati, kau bisa memeriksanya dulu dan ku mohon kau bisa membawanya ke klinik untuk diperiksa, aku belum bisa ke sana sekarang aku masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda" ucap pria itu dengan nada memohon.


"Huh....." Alea hanya bisa menghela napas kasar dibuat iparnya ini.


"Ayolah Alea....aku mohon, ini kau pakai mobilku aku akan menyusul dengan taksi nanti, kau beritahu saja klinik mana biar ku susul kesana segera setelah pekerjaanku selesai"


Arkan memberikan kunci mobilnya.


"Baiklah....kali ini saja, ku anggap ini demi kemanusiaan aku kasihan pada Melati sebagai sesama wanita" jawab Alea tajam sambil menerima kunci mobil Arkan.


*****


Alea berjalan menuju parkiran, tanpa ia sadari karena pada saat bersamaan Abrar berada di lobby untuk mencari salah satu pegawainya untuk memerintahkan sesuatu, namun pria ini curiga ketika melihat punggung istrinya berjalan mengarah parkiran bukan depan gedung seperti biasa ia akan menunggu Keysa menjemput disana.


Abrar mengikutinya, dan pria ini terkejut ketika Alea membuka dan masuk dalam mobil adiknya Arkan, jika Alea ingin kenapa tidak memakai mobilnya saja kenapa harus mobil Arkan, membuat Abrar kembali curiga, pria itu memutuskan akan mengikuti istrinya kemana ia pergi.


Abrar mengernyit heran mobil yang dibawa istrinya itu mengarah pada sebuah area perumahan di pinggir kota, Abrar terus saja mengikuti agar semuanya terjawab, terlebih Alea telah berbohong mengatakan akan kembali ke rumah sakit.


Alea berhenti pada sebuah rumah disana, memarkirkan mobil dan mengetuk pintu, tampak seorang perempuan menyambutnya dan mereka masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu besar itu.


Abrar mengernyit heran, ia pikir istrinya akan menemui seorang lelaki, namun tidak Alea bertemu seorang perempuan sebayanya, jika perempuan itu adalah seorang teman kenapa harus berbohong ketika ingin menemuinya kenapa juga harus memakai mobil iparnya Arkan, begitu banyak spekulasi dalam kepala Abrar tentang hal itu, ia tetap berada di mobil memantau istrinya dari kejauhan jika ada hal yang mencurigakan lagi setelah Alea keluar nanti.


__ADS_1


__ADS_2