Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Seribu Tanya


__ADS_3

...Selamat membaca ...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


"Kamu sudah sadar Dion? Ya tuhan terima kasih. Akhirnya Engkau dengar doa doaku dan putra hamba terbangun dari komanya. Tidak sampai lama lama begini."


Mama Herna yang dikabari perawat bahwa Dion sudah sadar langsung masuk ke ruangan inapnya yang memang sudah diperbolehkan untuk dimasuki. Melihat Dion benar benar sudah membuka matanya beliau sangat bersukacita. Beliau senang doa doanya dikabulkan tuhan.


Diciuminya kening Dion dan dibelainya lembut puncak kepalanya. Mama Herna memang sebenarnya walau kadang suka cerewet atau beda pendapat dengan Dion,,, tetap saja beliau sangat menyayangi putra semata wayangnya itu.


"Ma,,, Mana Karin? Mana Delvara?" tanya Dion lirih.


"Dion,,, kamu fokus dulu sama kesehatanmu ya nak. Biarkan dokter menjelaskan semua dulu. Kamu tenang saja,,,ada mama yang akan mendampingimu di sini." ucap mama Herna tak serta merta mengatakan hal buruk tentang anak istri Dion.


Beliau lantas memberikan kode kepada dokter untuk menyampaikan kebenaran atas kondisi Dion. Sebelumnya baik dokter dan mama Herna memang telah sepakat jika nanti Dion bangun,,, harus ada pihak keluarga pasien yang mendampingi agar ada yang menguatkan pasien menerima penjelasan dokter.


"Maaf nyonya. Anda yakin tidak menghadirkan,,,,"


"Jelaskan saja dok. Putra saya berhak tau kondisinya dan saya yang akan mendampinginya. Saya ini ibunya. Saya lebih paham dengan apa yang harus saya lakukan pada putra saya dalam kondisi seperti ini." potong mama Herna saat dokter memanggilnya untuk menjauh dari Dion sebentar.


"Baiklah kalau begitu. Saya hanya akan menjelaskan. Selebihnya itu memang adalah urusan pribadi keluarga pasien yang tidak boleh saya campuri. Mari nyonya,,," ajak dokter yang sebenarnya sudah mengingatkan mama Herna untuk menghadirkan dua nama yang disebutkan Dion saat sempat tersadar tempo hari namun tetap ditolak mentah mentah oleh beliau.


"Tuan Dion,,saya dokter yang menangani anda selama ini. Anda sudah sadar sekarang. Apakah anda bisa mendengarkan seluruh penjelasan saya tentang kondisi anda?" tanya dokter yang tak ingin memaksakan kondisi pasiennya.


Dion mengangguk.


"Tenang Dion. Ada mama." ucap mama Herna kembali mengusap kepala putranya dan kali ini juga menggenggam tangan lemah yang tak bisa merasakan apa apa itu.

__ADS_1


"Anda kecelakaan dan akibat dari benturan keras itu fatal tuan. Kami harus melakukan berbagai tindakan untuk menyelamatkan anda. Ada beberapa operasi yang kami lakukan terhadap anda. Anda akan bisa melihat beberapa bekas jahitan di tubuh anda nantinya. Anda sempat tersadar setelah kami operasi namun kemudian anda mengalami koma." jelas dokter kemudian berhenti sesaat melihat reaksi pasien terlebih dulu.


Dion mengangguk mengerti dan tampak ia tak sedang kebingungan atau berusaha keras mengingat. Dari sana juga Dokter makin yakin bahwa Dion jelas jelas tidak terganggu ingatannya. Sebelum mama Herna masuk tadi dokter juga sudah mencoba meminta Dion menyebutkan nama lengkapnya dan tanggal lahirnya. Dion bisa menjawab semua tanpa ada yang salah.


Bahkan Dion juga bisa menyebutkan nama lengkap anak istrinya yang saat ini sebenarnya sangat ingin ditemuinya. Beberapa kali Dion meminta dokter segera memanggilkan keduanya sampai akhirnya mama Herna masuk tadi.


"Apa bisa saya lanjutkan tuan Dion?" tanya dokter setelah yakin pasiennya tidak mengalami gangguan atau tekanan mental dengan penjelasannya.


Lagi lagi Dion hanya mengangguk. Dokter mungkin hanya mengira bahwa Dion masih lemah padahal Dion mengangguk terus karena ia ingin dokter segera menyelesaikan tugasnya lalu ia bisa segera dipertemukan dengan anak istrinya.


Itu saja tujuan Dion mengangguk terus.


"Sayangnya meski kami berhasil mengoperasi anda,,, namun kami tidak bisa menyelamatkan anda dari kelumpuhan permanen akibat beberapa kerusakan pada sistem saraf anda tuan. Dan untuk itu kami memohon maaf yang sebesar besarnya."


"Lumpuh? Permanen dok?" akhirnya Dion bersuara meski lirih.


"Benar tuan. Kami mohon maaf." dokter mengucapkan penyesalannya.


"Cobaan apa ini tuhan?" Dion meneteskan airmata.


Bukan tak menerima keadaannya melainkan siapa saja pasti mendengar hal serupa tak peduli laki laki atau perempuan tentu akan memberikan reaksi. Dan menangis adalah reaksi yang Dion berikan.


"Sabar ya Dion. Dokter bilang kita masih bisa berusaha dengan berbagai terapi saraf dan dibantu obat obatan juga tentunya. Mama akan berikan perawatan dan terapi terbaik untukmu. Mama tidak peduli berapa pun biayanya asal bisa membuatmu kembali sehat seperti sedia kala, maka mama akan lakukan semuanya. Kamu tau itu."


Mama Herna sedih melihat tangisan putra semata wayang yang seingatnya terakhir kali menangis adalah saat menyadari ia telah kehilangan Hana selamanya. Menangis saat ia tau Hana menikah dengan Bryan. Kini kedua mata itu kembali menangis karena kondisinya.


"Benar tuan. Kami akan tetap memberikan yang terbaik untuk anda." tambah dokter.

__ADS_1


"Bisa tinggalkan kami berdua dok kalau dokter sudah selesai?" tanya mama Herna yang merasa ini saat yang tepat untuk menghadirkan Hana.


"Baik nyonya. Saya permisi." pamit dokter.


"Terima kasih dok."


Mama Herna kembali mengusap airmata Dion yang masih terus meleleh membasahi wajahnya.


"Menangislah Dion. Tidak apa apa." ucapnya.


"Mana Karin ma? Mana Delvara?" lagi lagi pertanyaan yang sama tercetus dari bibir Dion.


Namun sebelum mama Herna menjawab,,, Hana yang sudah dikode sebelumnya oleh mama Herna sudah masuk.


"Kamu sudah sadar Dion. Aku senang sekali. Cepat pulih ya. Jangan pikirkan apa apa. Aku akan mendampingimu di sini. Meski aku juga sudah kehilangan janinku,, tapi aku tidak akan membiarkanmu menanggung duka sekaligus sakit ini sendirian. Aku akan selalu ada untukmu." Hana meraih tangan Dion dan membawanya ke depan tubuhnya.


Dion sebenarnya menolaknya namun kelumpuhan ini membuatnya tak berdaya. Dan itu membuatnya merasa marah namun tak bisa apa selain berteriak.


"Panggilkan Karin dan Delvara!!! Itu saja mauku sekarang ma!! Please just get me them now!!!" bentak Dion.


"Jangan begitu Dion. Kasihan mama. Beliau sudah sangat bersedih atas kondisimu, kondisiku dan kondisi papa yang juga tengah dalam perawatan intensif saat ini. Jantung papa kambuh Dion. Papa tidak bisa menerima semua ini." Hana mengingatkan.


Sesuai dengan arahan mama Herna juga tentunya. Saat ini mama Herna tengah memainkan perannya menangis sesengukan meski tangisannya itu murni karena beliau bisa merasakan pedihnya hati Dion. Bukan murni karena dibentak Dion. Beliau paham Dion akan emosi kalau mereka tak segera memanggilkan anak istrinya.


"Dion,,, Aku disini hanya ingin berbagi kesedihanmu. Aku ingin kamu kembali belajar melepaskan yang tak ingin kamu genggam. Seperti saat aku yang pergi darimu. Aku ingin kamu merelakan Karin dan Delvara yang sudah tak sudi merawatmu."


Hana dan mama Herna bisa melihat seribu tanda tanya terlihat di kedua bola mata Dion yang kini membulat sempurna mendengarnya.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2