Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 63


__ADS_3

Dua penculik menatap Alea dengan heran, mereka sama-sama menelan ludah melihat perempuan yang menjadi sandera itu makan dengan lahap bahkan tidak bersisa.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Astaga....terimakasih nasi padang ini sungguh enak, aku sangat suka" ucap Alea seraya menaikkan dua jempolnya kemudian ia minum.


"Nona, apa kau tidak makan selama seminggu? Kenapa kau terlihat seperti orang kelaparan" tanya salah satu penculik.


"Memangnya kenapa? Apa aku tampak seperti itu? Entahlah selera makanku sepertinya meningkat sekarang" jawab Alea sambil membuang sampah kotak nasi tersebut.


Dua lelaki itu hanya geleng kepala, mereka berpikir dari penampilan Alea seperti orang kaya namun melihat cara makan wanita itu sungguh seperti orang kampung yang baru melihat makanan enak.


Setelah merasa kenyang dan bisa berpikir jernih Alea kembali mengajak dua lelaki yang sudah menculiknya itu untuk berbicara, Alea begitu ahli memancing mereka untuk menceritakan awal mula niatan untuk menculik seorang perempuan hamil yang bos mereka maksud, dan Alea menutup mulut terkejut ketika mendengar cerita dua lelaki tersebut.


"Astaga.....jadi ini ulah Deni?"


Dua pria itu mengangguk polos.


"Seperti yang kami dengar dari bos kecil seperti itu nona, kami juga tidak berhak tahu lebih dalam kami hanya menjalankan tugas dan menerima upah"


"Bos kecil siapa?" tanya Alea lagi.


"Bos kecil itu suruhannya bos besar Deni nona, bos kecil itu pula yang menyewa jasa kami, seperti itulah kira-kira, kami tidak mengenal bos besar dan tidak pernah juga bertemu"


"Huh....kenapa aku selalu sial jika berhubungan dengan si Deni gila itu, seharusnya Dara yang disini kenapa jadi aku...semua gara-gara kalian" kesal Alea pada mereka berdua.


"Jadi kami harus bagaimana sekarang? Kami pasti akan dimarahi jika kami jujur salah culik namun jika kami melepas nona kami juga akan disalahkan" ucap salah satunya dengan raut bingung.


Pada kenyataannya Deni mantan pacar Alea lah yang menjadi dalang semua ini, ia berniat untuk membuat lelucon menculik istrinya sendiri untuk meminta tebusan pada orang tua Dara yang kaya raya namun pelit, mereka hidup pas-pasan dari biaya orang tua Deni, hingga pria itu bersandiwara menculik istrinya agar mertuanya mau menebus mahal anak perempuannya yang tengah hamil lima bulan itu.


"Huh....aku tidak mau tahu, pokoknya kalian harus melepasku besok pagi, tidak mungkin juga sekarang sudah malam" jawab Alea kesal, membuat dua pria itu tambah bingung.


"Lalu nasib kami bagaimana?" tanya salah satunya.


"Kalian ini benar-benar bodoh, sudah ku bilang jangan jadi penjahat jika masih takut dosa, tentu kalian juga akan pulang besok kenapa mau mengikuti si Deni gila itu, kita sama-sama pulang oke" desak Alea.


Hingga mereka berdua hanya bisa mengangguk pelan.


"Kalian tidak akan selamat jika ini tahu oleh papaku, apa kalian mau mati sia-sia? Jika kalian tetap menyekapku seperti ini sudah ku pastikan kalian tidak akan bertemu istri dan pacar yang kalian sayangi, apa kalian mau? Papa ku jago bela diri...daripada kalian mati konyol, lebih baik kita sama-sama bebas besok"


"Kenapa dari tadi nona selalu membanggakan papa nona, padahal nona sudah bersuami kenapa tidak membanggakan suami saja?" tanya pria yang masih bujang itu polos.


"Hmmmm....aku tidak tahu suamiku pandai bela diri atau tidak, dia pernah memukul seorang lelaki ketika dia cemburu tapi gaya memukulnya masih berantakan tidak seperti papaku yang memukul tepat pada titik-titik kelemahan lawan, jadi kalian tidak akan lolos jika bertemu papa ku, apa kalian mau kehilangan kejantanan yang akan membuat kalian tidak akan berguna lagi sebagai seorang lelaki?"


Dua orang itu serentak menggeleng dengan cepat.


"Tidak nona, jangan lakukan itu, aku belum menikah....pacarku akan lari jika aku lumpuh"


Alea terkikik geli melihat wajah keduanya.


"Kalian benar-benar polos rupanya, kenapa memilih jadi penjahat kenapa tidak jadi penjahit saja mungkin itu lebih cocok, ha ha ha" Alea kembali tertawa geli melihat mereka, ia sama sekali tidak takut padahal jika mengingat bahwa mereka tetaplah lelaki yang tentu lebih kuat jika Alea melawan.


Setelah lama berbincang satu sama lain, Alea merasa kasihan pada mereka yang rela melakukan apa saja demi uang termasuk menculik yang upahnya pun tidak lah mampu mencukupi hidup dalam sebulan.


Karena terlalu asyik bercerita, membuat dua pria itu sama sekali melupakan niat awal menculik, malah mereka merasa beruntung di ingatkan oleh perempuan itu akan tujuan hidup mereka yang sempat berpikir pendek.


Mereka menyalakan api unggun untuk menghangatkan, berada di sebuah gubuk bekas petani kebun yang tinggal di pinggir hutan tepi kota, mereka bercerita dan berbagi pengalaman satu sama lain tidak seperti antara penculik dengan sanderanya namun lebih seperti teman yang sedang berkemah bersama.


"Besok jika pulang, kalian bisa menjual cincinku ini, uangnya bisa kalian gunakan buat kebutuhan istri dan modal menikah, sisanya bisa kalian gunakan untuk modal usaha pilihlah jalan yang benar selain jalan yang kalian tempuh ini, aku tidak membantu banyak tapi ini sungguh berharga kalian jual saja di toko perhiasan, berbenahlah dari sekarang jangan biarkan anak-anak kalian kelak mengenal ayah mereka sebagai penjahat" ucap Alea sambil melepaskan cincin kawinnya memberikan pada mereka.


"Nona apa nona serius? Itu sepertinya cincin kawin bukan? Jangan seperti ini nona, kami memang membutuhkan uang, namun kami juga merasa beruntung dipertemukan dengan nona yang kami salah culik ini, aku jadi teringat wajah istriku yang sedang menunggu dirumah dia pasti akan kecewa jika mengetahui pekerjaanku ini" jawab salah satunya sambil menunduk menyesal.


"Aku juga menyesal" jawab pria bujangan.


"Aku senang kalian menyesal, lebih baik kalian pegang ini....kalian pasti akan dimarahi dan tidak diberi upah jika bos kalian tahu besok aku akan kalian lepaskan, aku ikhlas membantu asal kalian benar-benar pulang dan jangan ulangi lagi pekerjaan ini, ini memang cincin kawin tidak lebih dari simbol saja yang terpenting manusia yang menjalankan perkawinan itu sendiri, aku merindukan suamiku....ayo kita pulang sama-sama, biarkan saja si Deni gila itu mengurus istrinya sendiri"

__ADS_1


Mereka mengangguk berbarengan disertai senyuman yang membawa harapan bagi mereka pulang membawa uang bukan dari hasil penculikan namun dari kebaikan seorang perempuan yang ingin mereka tetap menjadi lelaki yang sesungguhnya bagi keluarga mereka yang menanti kepulangan bukan sebagai penjahat.


"Kami boleh terima ini nona?" tanya pria beristeri.


Alea mengangguk dan memberikan cincin itu padanya, segera pria itu menyimpan di dompet yang berisi photo istrinya, ia menjadi sendu ketika menatap photo tersebut.


"Kau menyesal bukan setiap melihat photo itu? Makanya jangan berulah lagi setelah ini, jangan sok jadi preman jika masih berhati hello kitty" ucap Alea seraya mengejek membuat teman bujangannya ikut tertawa.


"Aku mengantuk....aku akan tidur di dalam, awas jika kalian tiba-tiba bernafsu padaku cepat-cepatlah lihat photo wanita yang kalian cintai dalam dompet itu, dan pikirkan kalian akan segera menjemput maut jika melakukannya, apa kalian mengerti? Awas saja jika berulah" ancam Alea seraya berdiri ingin kembali masuk ke gubuk karena sudah mengantuk.


Mereka berdua mengangguk cepat.


"Kami akan berjaga disini saja nona, silahkan tidur" ucap pria bujangan.


"Bagus.....kita sudah berteman bukan? Teman akan saling menjaga satu sama lain bukan saling menjatuhkan oke...." kembali Alea memberi ultimatum dengan mengangkat jempolnya.


Mereka kembali hanya bisa mengangguk seraya tersenyum dan mengangkat jempol juga.


******


Abrar tidak pulang ke rumah semalaman, ia mengikuti jalan mencari istrinya yang menghilang tanpa jejak dibantu oleh adiknya Arkan.


Mereka juga sudah mencari kemana-mana, mereka hanya berani mengatakan hal tersebut pada mama Clara dan adiknya Naura saja termasuk Melati, Abrar belum memberanikan diri untuk menghubungi mama Bella apalagi mertuanya, sungguh dua pria ini sudah sangat frustasi mencari Alea yang hilang entah kemana.


Setelah Arkan pulang karena tidak bisa meninggalkan istrinya terlalu lama. Akhirnya Abrar memutuskan untuk kembali menunggu keajaiban di depan rumah sakit, ia berpikir bisa saja Alea masih disana, pria ini bahkan tidak makan sejak semalam.


******


Alea terbangun menatap sekeliling, ia heran dan berdiri keluar gubuk menatap dua pria yang tertidur tidak jauh dari api unggun yang mereka buat semalam, dua pria itu menepati janjinya untuk tidak berbuat apa-apa pada Alea.


"Ayo bangun ini sudah pagi....jadi pria itu harus bangun pagi, jangan pemalas ayo biasakan bangun pagi agar rejeki hari ini tidak di patok ayam" ucap Alea seraya memekik membangunkan kedua pria itu.


"Nona sudah bangun?"


Mereka segera berdiri juga kebingungan.


"Aku juga tidak tahu nona, tapi tidak jauh dari sini ada sungai mungkin bisa nona buang air di sana"


"Apa? di sungai? astaga....aku tidak bisa buang air sembarangan, bagaimana ini?" Alea panik perutnya semakin sakit.


"Kami juga tidak tahu nona"


"Ya sudah....cepat kau temani aku ke sungai, dan kau tetap disini berjaga oke..." ucap Alea pada mereka.


Akhirnya perempuan itu tidak bisa lagi berkompromi dengan perutnya yang kian mulas, terpaksa ia buang air di sungai yang ternyata ada sebuah ****** yang di gunakan orang sekitar yang Alea yakini dari seberang sungai yang tampak beberapa rumah penduduk disana.


"Huh.....lega" ucap Alea setelah dari sungai.


Pria itu hanya geleng kepala melihat tingkah Alea.


Setelah mereka kembali ke gubuk, Alea melihat pria satunya yang sedang mondar mandir seperti sedang kebingungan sambil memegang ponselnya.


"Kau kenapa?" tanya temannya heran.


"Kalian sudah kembali, ayo berpikir bagaimana ini bos kecil sudah menuju kesini sekarang....dia juga sudah tahu kita salah culik sebab bos besar marah ketika istrinya masih pulang ke rumah itu artinya perempuan itu belum berhasil kita culik, dan bos kecil tidak boleh kita melepaskan nona ini takut nona ini melapor polisi" jawab pria bujangan itu dengan napas terengah-engah.


"Tenanglah kenapa kau jadi cemas seperti ini, bukankah kita sudah sepakat semalam tentang rencana kita kabur hari ini jangan pedulikan bos kecil kalian itu, ayo bersiap sekarang aku melihat diseberang sungai ada rumah penduduk mungkin kita bisa melewati jalan sana menuju jalan raya" ajak Alea meluruskan kembali niat mereka.


"Tapi nona" bantah pria itu lagi.


"Tapi apa? apa kalian akan ingkar janji semalam? bukankah orang yang ingkar janji itu termasuk?"


"Orang munafik" jawab mereka berbarengan.

__ADS_1


"Bagus....itu artinya kalian belajar dengan cepat, ayo" ajak Alea lagi.


"Bagaimana kita menyeberang nona? memang sungainya kecil tapi aku tidak bisa berenang" jawab salah satunya polos.


"Ha ha ha astaga.....kau ini pria apa banci? tidak bisa berenang? aku saja perempuan bisa kenapa kau tidak, ayo kita akan berunding sambil pergi dari sini" ajak Alea lagi.


Mereka akhirnya pergi dari gubuk, dan menuruti saja ide Alea karena memang mereka sudah berniat akan pulang dan tidak menuruti lagi perintah bos kecil itu, namun ada rasa takut dalam hati dua pria ini sebab bos kecil yang mereka takuti itu memang seorang preman asli bukan kaleng-kaleng seperti mereka.


Langkah Alea berhenti, membuat dua pria itu mengernyit heran.


"Ada apa nona?"


"Hei bukankah kau punya ponsel, kenapa aku bisa lupa...berikan aku akan menghubungi suamiku biar dia menjemputku di pinggir jalan"


"Tapi....ini tidak ada pulsanya nona"


Alea menepuk keningnya dan menghembus napas kasar.


"Makanya ketika kalian menculikku kenapa tidak sekalian bawa tas sama ponselku...huh kalian ini memang tidak cocok jadi preman cocoknya jadi tukang jualan pulsa saja" kesal Alea menepuk lengan pria itu.


"Untuk mengirim pesan bisa?" tanya Alea lagi.


"Jika untuk mengirim pesan singkat bisa nona, saya bahkan banyak gratisannya" jawab pria itu polos.


"Huh....kenapa tidak bilang dari tadi, kita berada dimana sekarang? agar aku bisa mengirim alamatnya jalan besarnya saja?" tanya Alea lagi sambil mulai mengetikkan pesan untuk suaminya.


"Kami juga tidak tahu nona, hanya saja bos kecil pernah mengatakan kita berada di kawasan hutan pinggir kota, kalau tidak salah kita di tepi sungai xx " jawab pria beristri.


Alea segera mengirim pesan pada suaminya seperti alamat yang disebutkan, dan benar saja tidak lama ponsel itu berbunyi dari nomor Abrar.


"Sayang ini aku...."


'Sayang kau dimana? astaga aku mencemaskanmu....apa kau baik-baik saja?' tanya Abrar dengan dada kempang kempis, matanya berkaca-kaca setelah mendengar suara sang istri.


"Bang Abrar cepat jemput aku ke alamat yang ku kirimkan tadi, nanti saja ku jelaskan kronologinya aku tidak bisa berlama takut penculik aslinya datang, aku baik-baik saja sekarang....astaga itu ada pohon mangga, kenapa aku baru menyadarinya, sayang aku tutup dulu cepat kemari oke" ucap Alea mematikan ponsel itu seraya matanya berbinar menyadari mereka berhenti tidak jauh dari pohon mangga di hadapannya.


'Sayang jangan tutup dulu....pohon mangga apa?' ucap Abrar terheran pada ponselnya yang sudah dimatikan.


Segera pria ini melaju ketempat yang sudah dikirimkan Alea lewat pesan singkat, meski tidak detail namun setidaknya ia bisa tahu kawasan dimana istrinya berada sekarang, Abrar juga menghubungi adiknya Arkan dan mengajak pria itu ikut serta.


"Ayo ambilkan aku mangga itu, sepertinya enak sarapan mangga" ucap Alea pada dua pria yang sejak tadi kebingungan.


"Nona? ini masih pagi....lagi pula mangga itu masih kecil dan muda" jawab pria bujang heran.


"Biarpun muda tetap saja itu enak, cepat ambilkan aku mau....apa lagi jika dicocol garam astaga itu pasti nikmat sekali" jawab Alea menelan ludah.


"Nona ini seperti mengidam saja, istriku ketika awal hamil juga ingin makan mangga muda"


Alea menatapnya tajam.


"Kau mengejekku? aku memang belum hamil, apa kau pikir hanya wanita hamil yang boleh makan mangga muda?" kesal Alea menatap geram pria itu.


"Tidak nona jangan marah bukan itu maksudku....baiklah aku akan mengambilnya tapi bagaimana pohonnya tinggi"


"Kalian ini bagaimana? apa kalian tidak pernah pramuka? cepat cari kayu atau apalah yang bisa kita gunakan untuk meraihnya" perintah Alea.


Segera dua pria itu berpendar mencari apa yang Alea perintahkan, tanpa mereka sadari waktu terus berjalan dimana sang bos kecil kian mendekat ke arah kawasan dimana mereka berada sekarang.


####


Part ini panjang ya udah digabungin dua episode sekaligus biar puassss bacanya.


Terus dukung ya, tidak lama lagi akan end kok tenang aja....

__ADS_1


__ADS_2