
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Jangan diam saja Dion. Makin kamu diam mama makin gak tau harus bagaimana. Menangislah kalau kamu mau nak,,,tidak apa apa."
Mama Herna tersedu sedu dengan reaksi Dion yang hanya diam saja bahkan tak berkedip saat beliau menyampaikan kabar meninggalnya papa Hengki.
Reaksi yang diluar dugaan mama Herna itu nyatanya malah membuat perasaan mama Herna campur aduk. Ada sedih,,, sesal,,, bersalah,,,iba,,,dan entahlah beragam perasaan lainnya semua berkecamuk.
"Dion,,, Jangan begini dong nak. Kamu sekarang harta mama paling berharga nak. Semangatlah kembali. Dunia ini belum berakhir untukmu. Kamu masih diberi kesempatan untuk tetap hidup dan jangan kamu sia siakan. Kamu juga tidak sendirian. Ada mama,,, ada Hana yang akan selalu menemani dan mendampingimu Dion. Jadi mama mohon,,,, jangan diam saja mematung begini."
Ucapan itu kembali berakhir dengan deraian airmata mama Herna karena Dion tetap tidak bergeming. Dion hanya menatap langit langit kamar itu dengan pandangan kosong.
"Istirahatlah yang tenang di sana pa. Maafkan Dion yang belum bisa membahagiakan papa selama ini. Maafkan Dion yang tidak berdaya ini. Dion bahkan tidak ada di samping papa di saat saat terakhir papa. Dion tau papa pergi dengan membawa kesedihan yang sama seperti yang Dion rasakan saat ini. Tapi Dion janji,,,akan Dion bawa kembali semua kebahagiaan itu. Akan Dion bawa kembali bidadari tak bersayap kita pa,,,"
Tidak ada airmata untuk kepergian papa Hengki di kedua bola mata Dion,,, namun dalam tatapan hampa itu rupanya terselip rangkaian kalimat untuk papa Hengki dalam hati Dion.
"Sudahlah ma. Dion hanya sedang terkejut. Dia bersedih pastinya. Jadi mama jangan tambah kesedihannya dengan tangisan mama lagi." bisik Hana pada mama Herna.
"Iya Han,,, kamu benar. Kita sebaiknya tidak menunjukkan kelemahan kita pada Dion karena saat ini Dion butuh kita yang tegar, bukan kita yang terpuruk begini. Kamu benar sayang,,," mama Herna mengusap airmatanya lalu tersenyum dan mengusap tangan Hana.
Beliau bersyukur calon menantunya itu meski kadang dan beberapa kali menunjukkan sikap yang di luar dugaan namun ternyata tetap saja wanita kesayangannya itu sekali lagi menunjukkan sifat baiknya.
Begitu pikir mama Herna.
__ADS_1
"Baguslah nenek tua,,, kamu memang sebaiknya diam jangan menangis terus. Kamu pikir aku gak bosan dengarnya? Hhh,,,"
Tapi nyatanya itulah yang ada dalam pikiran Hana. Sungguh ironis. Berbanding terbalik.
"Dion,,, makan ya. Aku bantu suapin kamu. Kamu harus makan,,, biar kamu cepat sembuh." Hana mendekati Dion lalu mengusap usap puncak kepalanya.
Tidak ada reaksi apa pun. Bahkan satu kedipan pun tidak ada. Hana mendengus kesal namun tidak mungkin meluapkannya. Hana tau Dion bukan orang bodoh yang kalau sandiwaranya cacat dia tidak akan ketahuan.
"Aku tau kamu kehilangan,,, Aku tau kamu sedih dengan kepergian anak istrimu,, Dan aku tidak akan menyalahkanmu seperti ini,,, tapi kamu juga tidak boleh terlalu berlarut larut dalam kesedihan. Apalagi mereka yang kamu pikirkan sama sekali tak memikirkanmu Dion." ucap Hana pelan.
Tidak ada reaksi.
"Setidaknya ingatlah bahwa masih ada jiwa jiwa lain yang menyayangimu dan patut untuk kamu pertimbangkan selain mereka berdua. Ada mama,,, ada a,,,,"
"Darwin,,, mana Darwin?" belum selesai Hana bicara, Dion malah memotongnya dan menanyakan keberadaan Darwin.
"Darwin!!!" ketus Dion sekali lagi memotong bicara Hana.
Hana mulai kesal karena sudah dua kali bicaranya dipotong dengan sangat tidak sopan begitu. Mending kalau dipotong untuk urusan lain yang penting,,, lah ini cuma karena mencari Darwin.
"Apa sopir itu benar benar jauh lebih berharga daripada aku Dion?? Apa mendengarkan bicaraku juga lebih berat bagimu?? Apa bisa kamu sedikiiiittt saja menganggapku ada?? Kamu jahat Dion,,," Hana mulai merasa hatinya sakit diperlakukan begitu.
Tapi sebenarnya layakkah ia menangis?? Bukankah ia juga hanya ingin harta Dion saja?? Tidak perlu menangisi sikap Dion juga kan??Atau semua tangisan juga hanya rekayasa saja??
"Darwin dan Mela sudah kami pecat Dion." mama Herna menyela halus.
__ADS_1
"Kenapa?? Mereka itu kerja sama aku, hanya aku yang berhak memecat mereka." ucap Dion kasar.
Mama Herna mengusap wajahnya kasar. Keadaan Dion yang terpuruk seperti ini sepertinya membuat Dion sedikit sedikit marah dan bersikap kasar. Salah bicara sedikit sudah dibentak Dion.
"Karena mereka berdua tidak mau memberitahuku di mana Karin dan bayinya berada. Mereka sekongkol dengan Karin!!" ketus Hana.
Dion terdiam mendengarnya. Mencerna dan mencari celah dimana ia bisa tau bahwa ucapan itu tidaklah benar.
"Aku dan mama selalu mencari tau keberadaan Karin dan bayinya. Untukmu,,,!! Kami melakukannya untukmu Dion!! Kalau kamu pikir selama ini kami senang dengan kepergiaannya, maka kamu salah besar. Selama ini justru kamilah yang trus berusaha mencarinya. Kami sayang padamu karenanya kami berusaha membawanya kepadamu karena dokter bilang kemungkinan besar kehadiran mereka akan menyembuhkanmu. Tapi kami bisa apa?? Orang yang tau persis keberadaan mereka malah sama sekali tidak punya perasaan dan memilih untuk diam."
Sungguh rekayasa drama yang bagus. Mama Herna dalam diamnya juga memuji skenario dadakan yang tercetus dari bibir Hana itu. Beliau yang awalnya bingung harus jawab apa kini merasa sedikit tenang karena skenario baru itu.
"Benar kata Hana Dion,,, kami sudah berusaha tapi mereka berdua malah mengatai kami macam macam. Kami bisa terima itu, tapi kami tidak bisa terima saat mereka juga mengatai kamu. Mereka bilang mereka senang dengan keadaanmu sekarang. Sungguh bukan seperti Darwin dan Mela yang mama kenal. Diam diam mereka seperti itu." mama Herna ikut masuk dalam skenario.
Dion berpikir keras mendengarnya. Ia tau betul seperti apa Darwin dan Mela selama ini. Rasanya sangat mustahil jika mereka berubah drastis begitu. Ini semua susah diterima oleh Dion.
"Padahal saat ini hanya mereka yang bisa ku andalkan untuk menjadi kaki tanganku mencari anak istriku, tapi malah aku keduluan Hana dan mama. Sekarang siapa lagi bisa bantu?? Darren?? Tegakah aku menambahi beban hidupnya lagi?? Aku bahkan sudah lama tak sempat berkabar dengannya. Apa dia baik baik saja??"
Dion dalam keadaannya yang tak berdaya malah memikirkan sahabatnya. Tapi memang kali ini hanya sahabatnya itulah yang bisa diandalkannya.
"Telponkan Darren untukku ma." ucap Dion kemudian dengan intonasi nada yang sudah pelan.
"Iya nak,,, iya,,, mama telponkan dulu ya." mama Herna menyambut dengan senang sikap baik Dion itu tanpa berpikir lagi.
Lain dengan Hana yang mengutuk dirinya bagaimana bisa sebodoh ini melupakan keberadaan Darren yang sangat penting dalam kehidupan Dion. Ia lupa bahwa Darren akan melakukan apa saja demi sahabatnya ini.
__ADS_1
"Ah sial!!!" gerutunya dalam hati.
...🌸🌸🌸🌸🌸...