Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Orang Asing


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Aku tidak apa apa mbak Mel. Kembalilah ke dalam. Anak anak nanti mencarimu. Bang Darwin juga,,, Tidak apa apa. Tinggalkan saja kami. Saya bisa mengatasinya."


Karin yang sudah merasa lebih tenang, meminta Mela dan Darwin kembali ke tempat masing masing. Keduanya pun menurut pada perintahnya.


"Rin,,, Kalau kamu butuh aku, aku akan selalu ada untukmu."


Yusuf mengatakannya dengan tulus setelah Mela dan Darwin pergi. Karin menatapnya lekat lekat dengan pandangan sulit ditebak. Berbeda dengan Valdy yang merasa mual mendengarnya.


"Dasar tidak tau malu. Sudah dibilangin kalau dia sudah jadi tanggung jawabku tapi masih saja ngeyel. Maunya apa sih??" ocehnya lirih namun Yusuf bisa mendengarnya.


"Apa kamu bilang??" Yusuf melotot kepadanya.


"Apa???!!!" tantang Valdy.


"Sudah sudah jangan mulai lagi!!! Aku tidak butuh kamu di sini Yusuf. Satu hal lagi,,,aku tegaskan kepadamu bahwa apa yang pernah terjadi di antara kita, itu tidak akan pernah terulang lagi. Kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi untukmu."


Penegasan Karin itu cukup membuat hati Yusuf terluka namun ia tak menyalahkan Karin. Ia merasa ia pantas mendapatkannya setelah perbuatannya dulu.


"Dengerin tuh!! Sana pergi. Dia gak butuh kamu." sinis Valdy pada Yusuf.


Yusuf membuat gerakan menyikut dari jauh dengan kesalnya. Tapi karena tak ingin membuat Karin makin kesal, ia pun segera meninggalkan rumah itu dengan perasaan tak menentu.


Valdy tersenyum puas melihat saingannya sudah pergi. Ia tak sadar sikapnya itu diperhatikan oleh Karin. Valdy malah cekikikan sendiri melihat kekalahan Yusuf.


"Kamu juga!! Aku gak butuh kamu." ketus Karin.


Valdy tersadar dan menghentikan ulahnya itu. Ia kemudian menoleh kepada Karin dengan tatapan serius dan tajamnya.


"Kamu mengusirku??" tanyanya.


"Siapa kamu sebenarnya??? Datang datang membawa banyak masalah. Tidak kamu,,, tidak ibumu. Apa belum cukup yang kuberikan kemarin pada kalian?? Masih kurang berapa??? Mau ambil semuanya?? Rumah ini juga??? Ambil!!! Aku tidak mau semua ini kalau akhirnya hanya akan membuatku bahkan tidak bisa duduk tenang. Aku hanya mau tenang merenungi dan mendoakan almarhum suamiku. Aku cuma mau fokus pada anak anakku. Tapi kalian semua seolah tidak mau mengerti."


Cicitan Karin terdengar bertubi tubi. Bukan ia tak rela telah memberikan semua yang diminta Lisa kemarin, tapi hari ini putranya datang kembali membuatnya menangis dan kesal. Emosi dan geregetan. Karin hanya merasa lelah.

__ADS_1


"Ralat!!! Bukan kalian!! Aku bahkan tidak mengambil sepeser pun dari yang sudah kamu berikan pada mommy. Aku juga datang bukan ingin mengambil apa pun darimu. Aku datang untuk mengisi dan memberi yang kamu butuhkan. Suka tidak suka,,, Aku datang untuk membagi duka ini bersamamu."


Karin terdiam mendengarnya.


"Sial Valdy,,, sejak kapan kamu puitis begini?? Sehat kamu Valdy??? Salah minum obatkah kamu hari ini??"


Usai mengatakannya, Valdy membatin demikian. Ia benar benar merasa diluar kendalinya sendiri. Entah dari mana ia dapat barisan kata demikian.


"Tapi aku tidak butuh itu. Aku bisa sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri." tegas Karin.


"Aku sudah bilang. Suka tidak suka,,, aku akan tetap ada untukmu. Aku tidak mau hidup menanggung wasiat dari yang sudah meninggal. Aku tidak mau membuat beliau tidak tenang di sana. Memangnya kamu mau begitu?? Istri macam apa kamu yang membiarkan suamimu tidak tenang di sana??"


"Demi apa pun aku selalu mendoakannya. Aku ingin ia bahagia di sana. Menungguku di JannahNYA." tegas Karin sambil kembali berderai airmata.


Kepergian Dion yang terkesan mendadak masih sangat berat untuk diterimanya meski ia mengaku ikhlas. Ia masih belum terbiasa tanpa Dion. Ia masih lemah.


"Ya kalau begitu terima aku." Valdy memaksa.


Karin gak habis pikir dengan lelaki ngeyel ini. Kepalanya berdenyut memikirkan tingkah polah lelaki ini. Diusir tidak mau,,,diterima juga aneh rasanya. Karin mengusap airmatanya. Berusaha kembali tegar.


"Apa buktinya??" tanya Karin menyinggung soal bukti yang katanya bisa diberikan oleh Valdy tentang wasiat Dion.


"Kamu bilang kamu menanggung wasiat suamiku." Karin mulai merasa dipermainkan.


"Oohhh itu." Valdy garuk kepala belakangnya.


Karin memicingkan mata membaca gerak geriknya. Menggaruk kepala termasuk satu gelagat ketika seseorang tertangkap basah.


"Tidak ada bukti apa apa." ucap Valdy kemudian tanpa rasa bersalah.


"Maksudnya?? Kamu bohong??"


"Begitulah. Ya kali om Dion menitipkan kamu ke aku?? Ketemu denganku saja tidak. Chatingan juga tidak. Aku juga baru kali ini datang ke sini. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Makanya kemarin aku terus melihat fotonya. Aku hanya ingin tau seperti apa om ku itu." ucap Valdy santai.


"Kamu,,, "


"Aku tidak punya bukti. Aku juga tidak tau apa mauku sendiri. Yang jelas aku hanya ingin melindungimu dari laki laki itu. Aku lihat kamu berusaha menolak pelukannya tadi tapi si songong itu terus memaksamu. Terlepas dari dia sahabatmu atau bukan,,,ada urusan apa antara kalian sebelumnya,,,Aku hanya ingin melindungimu. Aku hanya ingin om Dionku tenang di sana jika melihatku melindungimu. Om Dion tidak akan tenang kalau bidadarinya ini ada yang mengganggu." Valdy memotong bicara Karin dan kali ini nada suaranya tidak meninggi melainkan penuh ketulusan.

__ADS_1


Karin dibuat diam lagi oleh Valdy.


"Begini saja. Kita belum berkenalan. Namaku Valdy." Valdy mengulurkan tangannya kepada Karin.


Karin tidak menerimanya melainkan menangkupkan sepuluh jarinya di dada.


"Oh aku paham. Aku lupa kamu wanita yang pandai jaga diri. Oh ya,,, namamu Karin kan??" Valdy salah tingkah sendiri.


Karin mengangguk.


"Jangan takut. Aku sama sekali tak punya niatan jelek kepadamu. Aku datang bukan ingin meminta atau mengambil apa pun lagi darimu. Aku minta maaf atas apa yang mommy dan adikku perbuat kemarin. Aku akan bantu kamu mendapatkan kembali hakmu itu."


"Tidak perlu. Aku sudah ikhlas. Aku tidak berharap itu dikembalikan. Aku masih berkecukupan dan inshaallah anak anakku tidak akan kelaparan walau ibumu mengambil semuanya. Rejeki sudah diatur." jawab Karin.


Kali ini Valdy yang terdiam. Makin kesini ia makin takut akan dirinya sendiri yang makin mengidolakan wanita di hadapannya itu.


"Semua tentang wanita ini membuatku tertarik. Ia begitu pandai membawa diri." batinnya.


"Mmm,,, By the way mana anak anakmu? Boleh aku mengenal mereka??" Valdy mencari bahan lain agar situasi tidak canggung.


"Mereka di kamar." jawab Karin singkat.


Valdy bangkit dari duduknya dan berjalan melewati Karin.


"Kamu mau kemana??"


"Ke kamar. Katamu anak anak di kamar kan??" jawab Valdy enteng.


"Ini rumahku. Kamu orang asing. Tolong jaga sikap."


"Makanya biarkan orang asing ini membiasakan diri agar tidak terus jadi asing. Biarkan aku mengenal anak anakmu. Mereka juga berhak mengenalku."


Karin terdiam lagi. Ucapan Valdy itu memang ada benarnya. Bagaimana pun, Valdy ini keluarga Dion bukan?


"Jangan menutup diri. Buka pintu rumahmu lebar lebar untukku."


"Dan buka hatimu juga,,,,"

__ADS_1


Ucapan itu masih hanya bisa terucap dalam hati Valdy.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2