
Paman Harun menarik napas dalam berkali-kali, pria ini sungguh mengelola emosinya dengan baik disaat anak kemenakannya itu bercerita semua yang telah dilalui sejak mereka tidak bertemu yang hampir lima tahun lamanya.
Karena jaraklah yang menciptakan keadaan Nara yang jauh dari jangkauannya, pria itu tidak menampakkan bahwa hatinya sungguh terluka mendengar itu semua karena ia tahu menangisi apa yang telah terjadi itu sungguh tidak ada gunanya.
Ia merasa tertantang untuk mengubah nasib buruk keponakan kesayangannya, bagaimana tidak Nara lah satu-satunya yang menjadi kenangan yang ditinggalkan adik semata wayangnya yang tidak lain adalah ibu kandung dari Khinara.
"Berhentilah menangis sayang, kau aman sekarang tidak ada yang bisa menyakiti mu..... kita akan perbaiki semuanya mulai sekarang, masa lalu biarlah berlalu akan menyia-nyiakan waktu jika kita menangisinya", ucap paman Harun dengan bijak.
Istrinya bibi Tina mengelap matanya yang menangis haru melihat suami dan keponakannya itu melepas rindu dan berbagi kisah yang bahkan tidak semua orang bisa melewatinya.
"Kita pulang sekarang?", tanya bibi Tina menyudahi percakapan itu.
Nara dan paman Harun mengangguk dan tersenyum, mereka berjalan bersama menuju mobil meninggalkan rumah kontrakan tempat Nara bernaung selama tiga minggu terakhir.
Perempuan ini sudah bicara dan mengundurkan diri dari toko tempatnya bekerja secara baik-baik dihari yang sama, ia tidak ingin terpisah lagi dengan keluarga satu-satunya yang ia punya itu.
Meski Nara belum memberitahu pada Reno jika ia telah berhenti bekerja, wanita ini berniat memberi tahu Reno lain waktu saja sekaligus pamit dan ingin berterimakasih pada mantan tunangan yang masih baik dan peduli padanya hingga saat ini.
******
Dannis masih sama, masih menunggu di persimpangan jalan antara dua desa, berharap salah satu dari orang-orang yang berlalu lalang di sana adalah perempuan yang ia nanti-nanti hampir tiga minggu ini.
Terkadang pria ini merasa jenuh, tidak sabar dalam penantian, kesal ingin segera bertemu, merasa ingin marah namun tentu ia bisa apa sekarang, marah dan mengamuk pun tidak ada gunanya yang ada hanya membuang waktunya percuma.
Setiap kejenuhan datang Dannis dengan cepat menyiapkan hatinya kembali, mengingat niat baiknya untuk memperbaiki hubungan mereka sampai bisa bertemu lagi.
Mengisi waktu penantian panjang yang tidak tahu kapan akan berakhir itu Dannis lakukan dengan berolahraga di sana, berlari mengelilingi kebun teh yang terhampar luas, Dannis lakukan secara berulang setiap hari setiap sore sebelum ia kembali pulang ke kota yang tentu akan sampai pada malam harinya.
Meninggalkan Dannis dalam penantian, Nara yang telah memutuskan untuk tinggal bersama paman dan bibinya yang telah menetap di kota yang sama, paman Harun dan istrinya baru saja pindah tidak kurang dari sebulan, mereka berniat menikahkan putra kedua mereka yang mendapat calon istri di sana di sana.
Mengembangkan bisnis di sini, paman Harun hanya ingin berdekatan dengan desa tempat ia dilahirkan setelah puluhan tahun merantau dan sukses di negeri orang, mengunjungi makam adiknya kapan saja ia mau terlebih sekarang ada Nara bersamanya.
Tinggal di sebuah rumah besar dan mewah berlantai tiga dengan fasilitas lift di sana, diperlakukan bak seorang putri tidaklah membuat Nara merasa tinggi hati ia tetap menjadi dirinya sendiri suka dengan hal yang sederhana, membantu para pelayan di dapur adalah hobinya.
Rumah yang terletak di pinggir pantai, dimana sejauh mata memandang hanya ada hamparan laut yang membentang, angin yang terus bertiup menyapu indah helaian rambut panjang wajah cantik alami milik Nara.
Mereka bertiga duduk di balkon lantai dua, dimana terdapat kolam renang dengan pemandangan indah laut dibawahnya.
"Aku malu sekolah lagi paman, umurku hampir dua puluh tahun mana bisa sekolah formal terlebih jika tahu aku sudah berstatus janda sekarang, mana ada siswa sebesar ku", ucap Nara menunduk menyembunyikan wajahnya di pelukan bibi Tina.
Membuat sepasang suami istri itu terkekeh dibuatnya.
__ADS_1
"Siapa bilang kau harus menempuh pendidikan formal sayang, kau hanya perlu mengikuti ujian paket C yang setara dengan SMA sederajat, itu artinya kau sudah bisa berkuliah dengan modal ijazah paket C, sekarang pemerintah telah mempermudah bagi siapa pun yang ingin pintar termasuk dirimu tidak peduli kau janda atau bukan", jawab bibi Tina mengusap kepala Nara dengan sayang.
Nara menggigit bibir bawahnya malu.
"Aku lupa ada paket C, aku kira paman dan bibi menyuruhku melanjutkan SMA seperti pada umumnya, itu menggelikan aku harus memakai seragam putih abu-abu diumur yang setua ini", jawab Nara terkekeh sendiri.
Paman Harun geleng kepala, ia pun ingin tertawa oleh pikiran Nara.
"Biar paman yang urus semuanya, kau hanya perlu menyiapkan syarat yang diperlukan saja, ijazah SMP mu masih ada?".
Nara mengangguk, "Aku membawanya paman, apa itu membutuhkan waktu lama?".
"Tidak akan lama, biar paman urus semuanya kau ingin masuk universitas mana? hanya di dalam negeri saja tidak bisa luar negeri", jawab paman Harun.
"Siapa yang ingin keluar negeri, aku di sini saja bersama paman dan bibi universitas mana saja yang menurut paman baik untukku, aku akan menurut saja", jawab Nara senang.
"Atau kau ingin sekolah musik?", tawar bibi Tina.
"Tidak, aku jadi penyanyi kamar mandi saja....", jawab Nara tertawa.
*****
Reno menunggu Nara, pria ini sungguh bahagia ketika Nara menghubungi nya minta untuk bertemu.
Menyiapkan pertemuan berniat ngopi bersama di sebuah cafe yang ada pertunjukan musik secara langsung, Reno benar-benar romantis dalam hal seperti ini.
Reno mengernyit heran saat Nara datang dengan dua orang lelaki bertubuh kekar di belakangnya.
"Hai.... maaf apa kau lama menunggu?", sapa Nara tersenyum.
Bukannya menjawab Reno malah balik bertanya.
"Nara? siapa mereka? kenapa kau dikawal?".
Nara terkekeh pelan, ia menjawab dengan senyum seraya bercanda.
"Apa kau terkejut? asal kau tahu saja aku sekarang sudah kaya", jawab Nara tertawa.
Reno menatap penuh tanya.
"Jangan menatapku seperti itu, untuk ini juga aku ingin bertemu malam ini, boleh aku minum? aku haus".
__ADS_1
Nara meminum minuman yang sudah disediakan di sana, Reno hanya mengangguk saja, Nara menyampaikan maksud pertemuan itu dimana ia meminta maaf sekaligus berterimakasih atas kebaikan Reno membantunya dalam tiga minggu terakhir.
Tidak ada yang berbeda dari perempuan itu, bicara santai diselingi tawa cantiknya meski sekarang ia tidak lagi sendiri akan selalu ada bodyguard di belakangnya, Nara tidak menganggap itu sebuah hambatan baginya untuk leluasa, karena paman Harun hanya tidak ingin Nara disakiti lagi terlebih mengingat Nara pernah dijual untuk melayani lelaki di masa lalu.
Lama Reno terdiam.
"Apa itu artinya kau menutup kesempatan untukku kembali padamu?", tanya Reno serius.
"Maafkan aku Reno, aku tidak memiliki perasaan lagi untukmu, kita berteman saja oke.... aku menyayangi mu sebagai teman sekarang, kau baik padaku aku tidak akan lupa itu Reno, kau pria baik harusnya kau mendapatkan seorang gadis yang pantas untukmu", jawab Nara mengenggam tangan Reno.
"Janda juga tidak apa", jawab Reno cepat.
"Berhenti bercanda, kita lebih cocok sebagai teman sekarang, aku nyaman bersama mu sebagai seorang teman tidak lebih Reno maafkan aku".
"Aku tidak akan memaksa mu, aku juga menyayangi mu Nara mungkin akan sulit bagiku menyayangi mu sebagai teman".
"Kita akan terbiasa setelah ini Reno, aku butuh dukunganmu, bantuan mu, ilmu yang kau punya untukku memulai kehidupan baru yang akan jadi seorang mahasiswa".
"Kau tahu aku sangat senang bisa sekolah, setidaknya memantaskan diri, nanti orang akan menertawaiku karena memakai jasa pengawal namun aku terlihat rendahan karena tidak sekolah tinggi mereka tidak akan percaya jika aku orang kaya", jawab Nara tertawa.
Reno pun ikut tertawa, sungguh ia merasa ikut bahagia jika Nara bahagia meski tidak mudah menerima kenyataan bahwa kesempatannya benar-benar ditutup oleh perempuan itu.
"Lantas bagaimana dengan perceraian mu?".
Nara memudarkan senyumnya.
"Aku menyerahkan semua urusan pada tuan Dannis, dia akan menghubungiku jika telah selesai semua urusan, aku tidak akan datang saat sidang agar cepat mendapat putusan", jawab Nara dengan nada rendah.
Ia teringat sesuatu bahwa ia telah mengganti nomor ponselnya bagaimana bisa Dannis memberitahu tentang urusan mereka, namun tentu ia masih menyimpan nomor ponsel Dannis bahkan telah menghafalnya, Nara akan menghubungi pria itu jika ia sudah siap nanti.
"Aku mendoakan yang terbaik untukmu Nara, jangan pikirkan pria itu lagi", ucap Reno memberi dukungan.
"Iya, aku akan belajar melupakannya setelah ini, aku tidak menyangka dia bisa menikah secepat ini bahkan urusan kami belum selesai", ucap Nara menunduk sedih.
"Apa? Dannis menikah lagi?", tanya Reno heran.
"Kalian bersaudara apa tidak? kenapa kau tidak tahu dia menikah lagi? huh menyebalkan mengingat wajah nona jahat itu", Nara kesal mengingat wajah Nesya sambil minum lagi bahkan menghabiskan satu gelas penuh minuman milik Reno.
Reno menggaruk lehernya yang tidak gatal, pria itu bingung ingin jawab apa bahkan ia baru tahu malam ini bahwa Dannis telah menikah lagi.
####
__ADS_1
Dua part aku gabung yaaaa.... biar puasssss deh, lanjut yaaaa.