Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 102


__ADS_3

"Sayang.... apa kau yakin Dannis mencintaimu?", tanya bibi Tina melepas pelukan pada Nara.


Nara mengangguk.


"Aku tidak pernah seyakin ini bi".


Bibi Tina menghapus airmata Nara dengan sayang.


"Berhenti menangis, bibi akan bujuk paman mu dalam hal ini jadi bersabarlah oke".


*****


Dannis lama termenung di bangku kemudi, ia menatap layar ponselnya menunggu Nara menghubungi namun hingga malam mulai larut pun tidak juga ia jumpai ponselnya berdering tanda panggilan dari istrinya.


Baru saja Dannis memutuskan ingin masuk rumah, karena ia telah sampai di halaman benar saja ponselnya berdering panggilan masuk dari nomor asing.


"Hallo sayang, aku yakin ini kau", jawab Dannis dengan semangat.


'Tepat sekali, apa kau menunggu telepon dari ku?', jawab Nara tertawa di seberang telepon.


"Huh, tentu saja.... kau membuatku cemas, kenapa baru menelepon sekarang?".


'Semua karena ulahmu, apa kau lupa ponsel ku masih di mobilmu Dannis, kau membuangnya, ini ku pinjam ponsel pelayan'.


Dannis menghela napas, ia melihat ke arah belakang dan tentu saja matanya menangkap sesuatu yang diyakininya adalah ponsel Nara yang ia lempar tadi pagi.


"Sayang, maaf...... kau benar aku melihatnya", jawab Dannis pelan.


'Aku merindukanmu'.


"Kau pikir aku tidak rindu? ini saja aku malas masuk rumah, ayolah sayang pulang ke sini saja oke?".


'Jika kau berani minta izin paman ku kenapa tidak?', jawab Nara.


"Huh.... ternyata aku juga punya kelemahan sekarang, paman mu seperti harimau yang ingin memakan ku hidup-hidup".


Nara tertawa mendengarnya.


'Iya, aku seperti panda yang menahan kantuk hanya untuk menghubungi mu diam-diam seperti ini, sejak tadi paman mengawasiku, mataku persis panda sekarang', jawab Nara menguap berkali-kali.


'Baiklah, aku sudah menghubungi mu sekarang aku mengantuk, aku ingin tidur', ucap Nara lagi.


"Hei.... jangan ditutup dulu, sayang hei sayang.... Nara, Nara", panggil Dannis kesal karena telepon mereka terputus.


"Ah sial", umpat Dannis memukul setir mobilnya geram.


****


Keesokan harinya Nara berniat kuliah seperti biasa, tidak ada percakapan yang berarti dengan paman Harun karena pria itu benar-benar telah melimpahkan seluruh urusan perceraian Nara pada pengacara keluarganya.


Nara keluar dari mobil bersama dua pengawalnya.


"Paman, aku ini mau kuliah apa kalian juga akan ikut belajar? tunggu di sini saja, atau kalian bisa menungguku di kantin, jangan terus mengikutiku, aku malu", ucap Nara pada kedua pria yang setia menjaganya.


"Tapi nona", sanggah salah satunya.


"Paman, aku tidak nyaman dikawal seperti ini, aku benar-benar malu mengertilah".


"Baik nona".


"Bagus, aku akan masuk sampai empat jam ke depan".


"Baik nona Nara", jawab mereka lagi.


Nara mengangguk dan mengakhiri percakapan itu segera menuju ke gedung tempat kelasnya berada.


Belum juga sampai kelas, Nara merasa badannya ditarik oleh seseorang hingga menjauh dari keramaian.


"Selamat pagi istriku", seringai Dannis.


Nara menatap Dannis tidak percaya, bahwa pria itu sudah berada di hadapannya di pagi buta seperti sekarang.


Dannis mengunci pergerakan istrinya dengan menyandarkan tubuh Nara ke dinding lalu tangannya mengurung perempuan itu.


"Sayang, kau kemari?", Nara masih belum percaya Dannis bisa berada di kampusnya hingga sekarang, segera ia memeluk Dannis dengan rindu membuncah.


"Aku merindukanmu, makanya aku kemari pagi-pagi.... selain seperti ini mau bagaimana lagi", gumam Dannis kesal.


Nara menengadah menatap Dannis penuh cinta.


"Aku mencintaimu, berhenti mengeluh", ucap Nara setelah mengecup bibir suaminya sekilas.


Dannis tersenyum membalas tatapan istrinya.

__ADS_1


"Nara.... jangan tinggalkan aku", ucap Dannis serius menatap dan membelai wajah Nara.


Nara ingin tertawa.


"Semua usahamu akan menentukan hasilnya nanti, masalah kita bukan masalah perasaan namun masalah keluarga, paman Harun adalah satu-satunya keluarga ku, aku juga tidak bisa melawannya, jika soal hati jangan ragukan itu aku mencintaimu segenap hidupku Dannis, aku juga ingin yang terbaik untuk kita".


"Kau yang terbaik untukku, aku mencintaimu Nara".


Mereka berciuman lama, hingga Nara tersadar sesuatu dan melepas bibir Dannis dengan paksa.


"Sayang berhenti, ini kampus.... aku akan masuk kelas beberapa menit lagi".


Dannis menggeleng.


"Aku rasa masuk kamar hotel lebih baik", jawab Dannis dengan tatapan penuh arti.


"Apa? Sayang jangan gila, aku sudah bolos kemarin, jangan hari ini juga aku akan banyak tertinggal pelajaran".


"Aku tidak peduli", Dannis kembali mengunci pergerakan istrinya dengan melingkarkan kedua tangan pada pinggang Nara.


"Dannis ayolah, apa kau tidak senang aku menjadi pintar dan berpendidikan? Setidaknya aku memantaskan diri menjadi istri pengusaha sukses seperti mu", rengek Nara lagi.


"Aku tidak peduli kau tidak sekolah sekalipun, aku mencintaimu biar aku cari uang kau cukup di rumah saja, melahirkan banyak anak untuk ku".


"Ya ampun.... kenapa jadi seperti ini pikiran mu, ayo berhenti bercanda, lepaskan aku".


"Tidak akan ku lepaskan".


"Dannis, apa yang merasuki mu pagi buta seperti ini? ayolah sayang, aku hanya ingin kuliah, belajar bukan main-main, kita bisa bertemu lagi nanti siang bukan?".


"Tidak itu terlalu lama".


"Dannis", bentak Nara yang sudah di ajak jalan oleh Dannis menuju keluar gedung.


"Kau bisa kuliah lain waktu, aku menginginkan mu hari ini.... kita bisa menghabiskan waktu di kamar menjelang sore nanti bukan? aku rasa pengawalmu tidak keberatan menunggu hingga sore di sini", ucap Dannis enteng.


Belum juga Nara menjawab perkataan pria itu, mereka tidak sengaja bertemu dengan Baim dan teman sekelasnya Dewi dan Tari.


"Nara?", panggil Dewi dan Tari berbarengan saling menatap heran terlebih tangan Nara yang digenggam pria tampan yang dewasa di hadapan mereka.


Dannis berdecak ketika bertatapan dengan adik bungsunya itu.


"Kenapa menatap ku seperti itu? kau tidak suka?", ucap Dannis pada Baim.


Baim tidak menjawab, ia hanya memasang wajah sulit dimengerti menatap Dannis dan Nara bergantian.


"Nara siapa ini?", tanya Dewi penasaran.


"Oh maafkan aku, apa kalian teman Nara? aku suaminya", jawab Dannis lebih dulu.


Nara hanya mengangguk saat mendapat tatapan tanya dari dua temannya itu.


Tari menutup mulutnya terkejut, bukan terkejut oleh status Nara, mereka telah mengetahui bahwa Nara telah menikah namun sejak berteman Nara mengaku sudah bercerai ketika awal kuliah.


"Nara? Kalian rujuk?", sela Tari polos.


Nara menghela napas dibuat pertanyaan itu.


"Jangan bergosip tentang berita yang belum tentu benar, kami tidak berpisah dan tidak akan pernah berpisah, kalian bisa tanyakan pada adik bungsu ku ini.... dia tahu banyak tentang aku dan istriku", jawab Dannis menyindir Baim yang diam saja.


Dewi dan Tari beralih menatap Baim.


"Nara? apa kak Baim ini iparmu? Benarkah itu?", tanya Dewi serius.


Nara mengangguk lagi.


"Oh, pantas saja kak Baim selalu membantumu aku kira dia menyukaimu, ternyata kalian saudara ipar", gumam Tari polos.


"Maaf, kalian membuang waktuku", ajak Dannis menarik pelan tangan istrinya lagi.


Namun Baim menahan lengan kakak sulungnya itu.


"Kau mau membawanya kemana? ini jadwalnya Nara kuliah, kau sudah merusak masa mudanya, jangan merusak pendidikannya juga", ucap Baim pelan namun menusuk.


Dannis menepis tangan adiknya pelan.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga ku, jangan sesekali kau mendekati istriku lagi apapun alasannya jika tidak di hadapan ku, kuliah dengan benar urusan Nara biar menjadi urusanku karena aku suaminya", jawab Dannis dingin.


Nara mendengar itu hanya bisa memutar bola mata malas, sungguh Dannis menunjukkan kecemburuannya sekalipun itu adalah adik kandungnya sendiri.


"Sayang ayolah", cegah Nara agar tidak terjadi pertengkaran antar kakak beradik itu ketika ia menyadari mata Baim mulai terpancing emosi.


Baim menoleh Nara sekilas saat mendengar kata sayang dari bibir perempuan cantik yang hampir menjadi janda itu, lalu pria ini berlalu meninggalkan mereka tanpa basa basi.

__ADS_1


Dewi dan Tari hanya bisa tercengang dalam kebingungan akan apa yang terjadi di hadapan mereka.


Dannis menarik napas dalam lalu melanjutkan niatnya untuk melarikan Nara dari sana.


"Nara kau mau kemana?", tanya Dewi polos.


"Maafkan aku, bisakah kalian menirukan tanda tangan absen ku? Sepertinya hari ini aku akan kembali bolos", jawab Nara menyengir.


Dua gadis yang menjadi teman sekelasnya itu hanya bisa saling menoleh.


Dannis tidak menunggu jawaban kedua teman Nara itu, ia kembali menarik tangan istrinya meninggalkan gedung melalui pintu bagian samping agar terhindar dari dua pengawal Nara yang mengira majikannya itu benar-benar masuk kuliah.


Dan Nara kembali goyah, ia sungguh tidak mampu menolak pesona pria yang menjadi suaminya itu.


Dannis memasang sabuk pengaman untuk istrinya, Nara tersenyum dan mengecup pipi Dannis.


"Memangnya kita mau kemana pagi-pagi seperti ini?".


"Mengurung diri di kamar hotel, apa kau ingat di mana kita pertama bertemu?".


"Apa kita akan ke sana?", tanya Nara.


"Tidak ada salahnya kita mengingat masa lalu bukan? asal itu manis untuk dikenang, gadis cantik yang tidak sengaja salah masuk ke kamarku, hampir dirusak oleh lelaki lain jika tidak ku tolong malam itu, tidur dengan mulut terbuka, cantik sungguh cantik, kau bahkan menarik perhatianku sejak awal bertemu", ucap Dannis mengenang pertama mereka bertemu, ia terus mengecup punggung tangan istrinya seraya terus mengemudi meninggalkan area kampus.


Nara tersenyum ikut membayangkan kala itu terjadi.


"Takdir itu pula yang menjadikan aku istrimu sekarang, semuanya tidak disengaja, dan kau mengakuinya sekarang".


"Percayalah, aku mencintaimu sayang.... aku bersyukur akan malam itu, dimana titik perubahan hidupku dimulai, kau perlahan mengusaiku bahkan hingga saat ini, aku mengaku telah jatuh padamu, bertekuk lutut pada gadis yang semula ku jadikan pelayan di rumahku, menjadikan istriku pelayan adalah hal yang akan ku sesali seumur hidup".


"Sayang......", rengek Nara setelah mencium tangan suaminya.


"Sungguh manis dikenang", ucap Nara tersenyum sendiri mengingat dirinya diawali jadi pelayan lah gadis itu telah berani jatuh cinta pada Dannis.


Dannis menatap Nara dengan senyum terbaiknya.


"Aku mencintaimu Nara, kita bisa mengukir kenangan yang banyak untuk diingat pada masa tua kita nanti, perjalanan cinta yang panjang, anak yang banyak, itu sungguh membahagiakan".


Nara melirik Dannis penuh cinta.


"Bicara kenangan, bagaimana tentang kenangan kau dan mendiang kekasihmu?", goda Nara.


"Itu sudah ku buang jauh", jawab Dannis enteng.


"Ck..... jangan membual, bukankah kau juga sangat mencintainya? itu yang selalu kau sebut-sebut dahulu", Nara yang bertanya kemudian perempuan ini pula yang merasa kesal sendiri jika mengingat photo Naya selalu di samping ranjang suaminya dulu.


Dannis terkekeh.


"Kepergian Naya pulalah yang menjadi takdir untuk kita seperti sekarang, aku merasakan bahwa tidak ada takdir buruk dalam hidupku melainkan takdir terbaiklah yang terjadi, aku menemukan pengganti yang bahkan jauh lebih baik dari apapun, cinta untuk kekasih dan istri itu berbeda, aku merasakan perbedaannya, dan kaulah pemenangnya, istriku Khinara Aldaniah".


Jawab Dannis serius, ia membelai pipi Nara yang terharu mendengar pria itu bicara.


"Bicara mantan, lalu bagaimana dengan mantan sialan mu itu?".


"Siapa? Reno?", goda Nara terkekeh.


"Hmmm kami tentu saja banyak kenangan yang tercipta, dulu kami juga saling mencintai, dia pria baik kami hampir menikah", goda Nara lagi.


Dannis menghentikan mobilnya mendadak.


"Awas jika kau berani menyebutnya lagi", jawab Dannis tajam.


Nara tertawa.


"Mau lanjut marah di mobil atau di kamar hotel saja?".


######


Slow Up karena anakku pada rewel, bikin ambyarrrr pikiranku, maaf yakkk.


Nara dan Dannis tidak lama lagi akan end.


Aku bikin novel baru nih, semoga suka ya.


*Namanya Nadine Calista Rinaldi, kaya raya pewaris beberapa resort hotel dan beberapa yayasan milik ayahnya sejak ayahnya meninggal ia terpaksa menjadi ceo dari semua aset perusahaan, manja dan suka seenaknya, tumbuh dalam keluarga kaya yang minim pelajaran etika, membuat Nadine menjadi dewasa yang angkuh, sombong, semena-mena. Jadi tidak heran banyak yang tidak menyukai nya, ingin menjatuhkan dan dipenuhi dendam dari siapa saja yang pernah ia sakiti.


Hingga pada suatu saat ia membutuhkan jasa bodyguard yang bisa melindunginya dari berbagai teror dan bahaya yang mulai mengintai sejak menjabat ceo.


Bodyguard tampan, dingin dan penuh misteri, siapa sangka pria tidak banyak bicara ini mampu mengalihkan dunia Nadine bahkan 180 derajat, gadis itu jatuh cinta pada pengawalnya sendiri.


Tidak ada yang salah dengan itu, namun terasa salah ketika cinta hampir berlabuh ternyata baru diketahui bahwa sang bodyguard telah memiliki istri dan seorang anak perempuan berumur lima tahun.


Lantas bagaimana dengan perasaan Nadine yang mulai berbunga? jawabannya ada dua melepas atau memaksa?*

__ADS_1


Di komen yah judul apa yang bagus untuk kutipan novel baru yang akan author rilis minggu depan ini? jika cocok akan author jadikan judul beneran.


Cekidot.


__ADS_2