
Seorang pria berwajah tampan memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, tangan besarnya menarik koper berjalan menyusuri bandara internasional, ia baru saja keluar dari pintu kedatangan.
Bergaya casual hanya memakai kaos putih dibalut blazer hitam dipadukan jeans dan sneakers berwarna senada, tampan memang bagi pemandangan kaum hawa. Matanya berpendar seperti sedang mencari seseorang sambil memegang ponselnya di tangan yang lain.
"Duarrrr.....", pekik seorang anak lelaki berumur sekitar tujuh tahun yang sudah bertengger di punggung sang pria.
Belum juga sempat bersuara, kembali seorang anak lelaki lain yang berwajah sama ikut bergelayutan di kaki.
"Ya Tuhan.....kalian membuat paman sakit jantung", jawab pria itu yang langsung membalas mereka dengan pelukan.
"Paman kenapa lama sekali? Kami sudah di sini sejak beberapa jam yang lalu", tanya salah seorang anak lelaki yang diyakini mereka adalah saudara kembar.
"Jangan dengarkan Azzam paman, kami baru saja sampai. Seperti biasa Azzam selalu bicara berlebihan", celetuk saudara kembarnya.
"Baiklah terserah kau saja, sekarang mana oleh-oleh ku paman?", tanya anak bernama Azzam.
"Oh sayang paman ini baru saja sampai, tidakkah kalian melepaskan paman dulu jangan bergelayut terus seperti ini, kalian bukan monyet kan?", jawab pria itu sambil geleng kepala dengan bibir yang tersenyum.
"Monyet tampan", celetuk salah satu kembar sambil tertawa.
"Oke baiklah.... Berhenti bercanda, dimana yang lain?", tanya sang paman.
Belum juga si kembar menjawab, ternyata sudah mendekat dua orang perempuan yang diyakini keluarganya. Senyumnya mengembang seketika.
"Mama", sapa pria itu pada seorang perempuan cantik yang sudah berumur separuh abad.
"Azzam dan Eza lepaskan paman Dannis! kasihan kalian itu berat", ujar wanita paruh baya itu.
Setelah menurunkan kedua keponakan kembarnya, pria itu langsung memeluk sang mama.
"Mama merindukanmu Dannis"
"Aku juga merindukan mama"
"Apa kau tidak merindukanku?", celetuk seorang perempuan cantik di samping sang ibunda.
"Tentu saja aku merindukanmu Alea, mana bang Abrar? Apa hanya kalian saja yang menjemputku?", tanya Dannis disela pelukannya pada saudara kembarnya Alea.
__ADS_1
"Memangnya kau masih kecil sehingga semua orang akan menjemput kedatanganmu? Kau baru saja pulang beberapa bulan lalu, jadi jangan berlagak kau tidak pulang selama bertahun-tahun" , jawab Alea dengan nada bercanda.
"Sudah jangan bertengkar, kita bisa bicara di mobil, ayo sayang kau pasti lapar bukan? Mama sudah menyiapkan makan siang kita", ucap mama Eliana pada putra sulungnya itu.
Semua mengangguk, mereka meninggalkan bandara dan langsung menuju pulang yang tentu saja diwarnai kehebohan dari dua lelaki kecil berwajah mirip itu yang terus bergelayut manja pada sang paman dan terus mengoceh tentang beberapa hal dan pertanyaan yang harus sang paman jawab selama dalam perjalanan pulang.
******
'Aku menunggumu di ruangan papaku'
Denting ponsel tanda sebuah pesan masuk pada seorang perempuan berwajah manis bermata indah dengan tampilan rambut hitam sebahu yang sedang fokus pada laptop di atas meja.
"Ops.... benarkah? atau dia hanya ingin mengerjaiku", ucap perempuan itu dengan bibir yang tersenyum manis sambil membaca pesan pada ponselnya.
Sang gadis bergegas meninggalkan pekerjaannya, kemudian langsung menuju sebuah ruangan yang diyakini adalah ruangan pimpinannya.
Tanpa basa basi sang perempuan membuka pintu ruangan tersebut dengan tergesa, kakinya berhenti ketika manik hitam miliknya menatap punggung kekar seorang lelaki yang menghadap jendela dengan kedua tangan berada di saku.
Mendengar suara pintu terbuka, Dannis berbalik badan menghadap sang gadis yang napasnya masih terengah karena berlari dari ruangan tempatnya bekerja yang berada satu lantai berbeda dari ruangan pimpinan, namun wajah cantik itu dihiasi senyuman yang bahkan sudah terbit sejak ia menerima pesan tadi.
Naya merupakan adik kelas Dannis ketika sekolah menengah pertama, mereka dipertemukan pada acara reuni SMP pada tahun lalu, benih cinta pun dimulai sejak Naya melamar pekerjaan pada perusahaan papa Kemal sebagai staff administrasi, mereka sering bertemu kala Dannis masih harus banyak mempelajari tentang perusahaan papanya.
Dari sana mereka menjalin hubungan sudah satu tahun terakhir, sudah sama-sama mengenal satu sama lain Dannis ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Naya tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia tidak menyangka sang pujaan hati telah kembali dari luar negeri dan memberinya kejutan seperti ini.
Naya pun segera berlari ke dalam pelukan sang kekasih.
"Kenapa tidak memberitahu jika sudah pulang?", tanya Naya dengan nada merengek manja.
"Kau merindukanku?".
"Tentu saja, sangat rindu", jawab Naya yang masih menenggelamkan wajahnya pada dada sang kekasih.
Dannis melepas pelukan dan menatap wajah Naya dengan raut sulit diartikan membuat Naya mengernyit heran.
"Kau tahu alasan ku pulang secepat ini?".
__ADS_1
Naya mengangguk polos.
"Selain menggantikan papa, aku juga ingin melamarmu", ucap Dannis dengan gerakan berjongkok di hadapan Naya sambil mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.
Naya terperangah oleh sikap tanpa basa basi kekasih nya ini, perempuan inipun menutup mulutnya seakan tidak percaya bahwa Dannis melamarnya secepat itu.
"Sayang", hanya kata itu yang terucap dari bibir cantik Naya.
"Kau menolakku?", tanya Dannis dengan nada kesal.
"Tidak tidak, bukan itu maksudku... aku hanya tidak percaya kau melamarku secepat ini, kau baru saja pulang. Ini seperti mimpi", ucap Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima tidak? kaki ku sakit".
Naya menepuk keningnya sendiri.
"Huh.... baiklah ayo berdiri dulu, bicaralah baik-baik jangan buat aku sakit jantung Dannis, jangan bercanda".
"Aku tidak sedang bercanda sayang, aku benar-benar melamarmu, maaf aku tidak romantis seperti pria lain yang membawa bunga, aku tidak ingin berbasa basi Naya aku ingin menjadikanmu istriku", ucap Dannis serius sambil menggenggam kedua tangan Naya.
Belum Naya menjawab kembali Dannis menyela, "Jika kau ingin bunga, baiklah ayo kita bisa beli sekalian kebunnya jika kau mau".
Naya hanya tersenyum dan geleng kepala pelan.
******
Di tempat lain ada seorang perempuan berwajah cantik nan sendu, ia baru saja kehilangan ayahnya dua minggu lalu, kini ia terpaksa harus bertahan hidup dengan ibu dan saudara tiri yang tidak menyukainya.
Khinara, gadis desa yang berumur dua puluh tahun kini harus menjalani kisah sedih setelah kehilangan ibunya yang meninggal sejak usianya masih sekolah dasar, ayahnya menikah lagi dengan janda yang juga memiliki anak perempuan seumurnya, sekarang ia harus kehilangan ayahnya juga yang memaksa Nara tetap bertahan hidup bersama ibu tirinya.
Khinara tumbuh menjadi gadis sederhana meski hidup dalam keluarga kaya di desanya, namun ia kehilangan segalanya sejak ayahnya menikah, ibu dan saudara tiri yang menguasai ayahnya hingga ia hanya bisa sekolah sampai menengah pertama saja, berbeda dengan Ranti saudara tiri nya yang sudah sekolah hingga sarjana, Nara pandai mengerjakan segala pekerjaan rumah sebab hanya itu yang bisa ia lakukan disaat semua teman-temannya tengah belajar di sekolah.
Gadis ini sudah dilamar oleh seorang pria kaya di desanya namun entah mengapa ibu dan Ranti mengajaknya ke kota dengan alasan mengunjungi keluarga ayahnya yang berada di sana. Nara tidak bisa menolak selain patuh pada ibu tiri yang membesarkannya.
to be ce, jangan lupa like, komen dan hadiahnya ya.
author come back nih.
__ADS_1