
Di dalam mobil menuju kediaman Bella dan Ricko, Alea dan Abrar menumpang di mobil Arkan.
"Huh....aku sudah seperti seorang sopir saja hari ini" kesal Arkan bergumam pelan sambil melihat dua insan yang duduk di bangku belakang, meski begitu ia merasa bahagia melihat sang kakak telah pulang kembali ke tanah air.
Alea terus saja menempel memeluk Abrar selama perjalanan, karena memang Alea sangat merindukan figur seorang kakak lelaki, iya Alea sudah menganggap Abrar seperti kakak kandung sendiri sebab mereka sangat dekat sejak kecil.
Alea seperti menemukan jiwa kecilnya dulu yang selalu dilindungi oleh Abrar dan Arkan, selama pria itu melanjutkan pendidikan di luar negeri, disaat itu pula Alea baru belajar menjadi seorang kakak dengan baik untuk adik-adiknya.
Namun tentu berbeda yang dirasakan oleh Abrar, pria ini semakin menumbuhkan benih cinta dihatinya seiring pertumbuhan gadis cantik itu, seperti sekarang Abrar merasa aneh ketika Alea terus menempel, meski sudah sering sedari kecil dekat seperti itu namun tidaklah sama ketika mereka sudah sama-sama dewasa.
Ia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir perasaan gugup serta detak jantung yang tidak beraturan akibat pelukan dari Alea tersebut.
"Bang....kenapa dengan jantungmu bang? apa kau merasa sesak? apa aku terlalu erat memelukmu?" tanya Alea polos ketika ia menyandarkan kepalanya di dada pria itu ia mendengar jelas bahwa jantung Abrar yang lebih cepat dari biasa.
Hal itu membuat Arkan tertawa keras.
"Astaga....masih ada wanita polos sepertimu Alea" Arkan berkata sambil melihat spion ke arah mereka.
"Apaan maksudnya bang Arkan? aku ini calon dokter jadi aku tahu detak jantung normal" cebik Alea kesal.
Abrar hanya menarik napas dalam.
"Sudah.....Aku hanya merasa lelah saja Alea tidak ada yang terjadi dengan jantungku, aku masih muda tidak mungkin sakit jantung" jawab Abrar canggung.
__ADS_1
"Tapi abang juga berkeringat ini, apa sebaiknya kita ke dokter saja sebentar, bagaimana jika Abang kelelahan terus sakit?"
"Kau kan calon dokter kenapa tidak kau saja yang merawat bang Abrar jika sakit" Celetuk Arkan sambil menahan senyum.
Abrar hanya diam saja sambil geleng kepala.
"Baiklah jika abang sakit aku akan menginap di rumah bibi untuk merawatmu, tenanglah adikmu ini seorang calon dokter yang handal" jawab Alea membanggakan diri.
"Terserah kau saja" jawab Abrar mengusap rambut gadis itu.
Alea kembali memeluk Abrar seperti tadi membuat pria itu kian frustasi namun tidak bisa menolak.
*****
Tidak terasa sudah dua minggu sejak kepulangan Abrar ke tanah air, pria itu sudah resmi menggantikan Ricko diperusahaan seperti yang di inginkan ayah tirinya itu, sebab Ricko ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang bersama sang istri menjelang anak-anaknya menikah.
Siapa yang tidak terpesona akan Abrar, selain tampan ia juga mempunyai kharisma sebagai lelaki dan pemimpin, Abrar juga sopan dan baik terhadap bawahannya, ia sama sekali tidak mewarisi sifat angkuh dan sombong ayah kandungnya Agung, Bella sangat bersyukur bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.
"Abang tidak boleh menikah sebelum aku menikah, jika abang menikah nanti siapa yang akan melindungiku? abang pasti lebih memperhatikan istrimu kelak, ah aku kesal...."
Alea bergumam kesal ketika mendengar bahwa Abrar sudah mau dijodohkan oleh orangtuanya dengan perempuan lain karena memang usia pria itu sudah matang untuk menikah lagipula Bella dan Ricko tidak ingin Abrar terlalu jauh tertinggal dari adiknya soal perempuan, karena memang selama ini Abrar tertutup soal perempuan.
"Hei......kenapa cemberut, wajahmu jadi jelek, mau bagaimana lagi Arkan juga akan menikah tidak lama lagi, apa kau mau abangmu ini jadi bujang tua?" jawab Abrar tersenyum.
__ADS_1
"Tidak....pokoknya tidak boleh, aku akan protes pada bibi dan paman tentang hal ini, aku duluan yang akan menikah, abang setelah aku saja"
"Memang kau sudah punya calon suami?"
Alea terdiam, bahkan sudah beberapa minggu terakhir kata calon suami lah yang menjadi pengganggu pikirannya.
Alea menggeleng pelan.
"Huh....bagaimana mau menikah kau saja tidak punya pacar" ledek Abrar.
"Papa mana boleh pacaran, tapi aku melakukannya diam-diam....ini rahasia kita, tapi sudah tidak lagi, kami putus dia berselingkuh dengan teman sekelas ku"
Jawaban Alea membuat Abrar mengepalkan tangan, ia tidak menyangka Alea berani melanggar perintah papanya tentang larangan pacaran, terlebih mendengar bahwa Alea telah disakiti oleh sang pacar.
"Siapa lelaki itu? Alea aku kecewa padamu....kau tidak pernah bilang kau punya pacar?"
"Maafkan aku....kami pacaran diam-diam, tapi tenanglah aku tidak akan melakukannya lagi bang sumpah....aku jera, dia juga bukan lelaki baik"
Abrar hanya bisa mengeraskan rahangnya kesal.
"Bagus jika kau sudah sadar" jawab Abrar datar.
*****
__ADS_1
jangan lupa mampir ke "Ku lepas kau dengan ikhlas" yaaaa
ayo tinggalkan jejak jika berkenan....makasih