Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 45


__ADS_3

Abrar datang dari arah belakang, mungkin pria ini telah selesai bicara dengan mama dan adiknya, Abrar terkejut melihat istrinya menangis ingin keluar.


"Sayang ada apa?" panggil Abrar yang segera berlari menyusul istrinya.


Alea berhenti ketika menyadari keberadaan suaminya di sana "Aku ingin pulang sekarang" ucap Alea memeluk suaminya.


"Hei kau kenapa? Jangan membuatku cemas sayang, ada apa kau tiba-tiba menangis seperti ini?"


"Huh....Vina menyinggung perasaanku, dia benar-benar keterlaluan" adu Alea.


"Apa maksudmu? Aku belum mengerti"


"Sudahlah....aku ingin pulang sekarang, aku tidak nyaman berada disini untuk saat ini, jangan pedulikan dia, bang Arkan dan istrinya sama saja sama-sama menyebalkan" kesal Alea sambil menghapus airmatanya.


Kebetulan Arkan melewati mereka ketika ia ingin kembali ke kamarnya.


"Alea kenapa kau menangis?" tanya iparnya itu dengan heran.


"Aku menangis karena istrimu yang menyebalkan itu, kalian sama saja" tatap Alea tajam pada Arkan.


"Alea kita bisa bicara baik-baik ada apa ini?" tanya Arkan lagi.


"Kau tanyakan saja pada wanita hamil yang menyebalkan itu, sayang ayo aku mau pulang sekarang" Ajak Alea lagi pada suaminya.


Abrar menghela napas panjang, ia belum mengerti apa yang terjadi antara istrinya dan Vina.


"Ayo kita bicara pada Vina, ada apa ini kenapa sampai istriku tersinggung" ajak Abrar pada Arkan.


Arkan mengangguk setuju, namun Alea menarik tangan suaminya sambil menggeleng.


"Aku ingin pulang sekarang, aku sedang tidak mau bertemu Vina...."


"Baiklah.....jangan menangis lagi oke...." Abrar mengangguk dan mereka berniat akan pulang.


"Bicaralah dengan Vina, tidak seharusnya menyinggung istriku terlebih mereka sesama wanita, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengakiti istriku termasuk Vina sekalipun" Abrar berkata serius pada Arkan sebelum meninggalkan rumah mamanya itu.


****


Alea hanya diam saja selama di mobil, Abrar menjadi serba salah dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara Alea dan Vina.


"Sayang...." panggil Abrar sambil menggenggam tangan istrinya.


Alea menoleh sejenak kemudian ia kembali menatap ke luar jendela mobil.


"Hei...ayolah ceritakan bagaimana bisa kau menangis karena Vina, apa yang dia lakukan padamu?"


Alea masih diam.


"Apa dia menyinggungmu soal Melati dan Arkan?"


Alea menggeleng pelan.


"Apa kau menginginkan anak sekarang? Apa kau akan menghamili wanita lain jika aku tetap seperti ini dan belum hamil juga hingga nanti? Apa kau juga akan seperti bang Arkan?" tanya Alea sendu menatap suaminya.


Abrar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan pertanyaan sensitif itu, Abrar menepikan mobilnya, ia menatap istrinya serius.


"Apa Vina menyinggungmu soal kehamilan? Hei lihat aku sayang....apa aku terlihat seperti pertanyaanmu? Tidak Alea....aku mencintaimu, kau hamil atau tidak itu tidak akan merubah apapun, bukankah kita sudah bicarakan ini sebelumnya?"


Alea terdiam, ia merutuki pertanyaannya juga ia merasa bodoh kenapa ia akhir-akhir ini selalu saja mudah tersinggung jika mengenai kehamilan.


"Maafkan aku, tapi Vina menyamakan mu seperti bang Arkan, kalian bersaudara bisa saja kau juga akan mengikuti jejak adikmu"


"Lihat aku baik-baik, apa aku tampak seperti Arkan, ayolah sayang aku tidak terima kalian menyamakanku dengan pria gila itu, kau tidak percaya pada suamimu?"


"Aku percaya" jawab Ales polos.


Abrar meraih tangan istrinya ia letakkan di dada.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Alea, kita sudah sepakat tidak menyinggung soal anak, biarlah itu menjadi urusan yang diatas, aku bahagia bersamamu, jangan kau sangkut pautkan perangai Arkan denganku, rumah tangga kita adalah kita yang menjalankan bukan Vina ataupun Arkan" ucap Abrar serius.


Alea menunduk.


"Maafkan aku....tapi sungguh aku kesal Vina bicara begitu tadi, dia seakan mendoakan agar kau juga seperti suaminya"


Membuat Abrar terkekeh.


"Anggap saja dia iri padamu, sudahlah lupakan jangan menangis apalagi memendamnya dalam hati, apa aku harus memberi pelajaran pada Vina agar tidak bicara sembarangan lagi padamu?"


"Tidak itu tidak perlu biar aku saja yang memberinya pelajaran nanti awas saja dia jika berani padaku, baiklah lupakan.....ayo mampir ke toko es krim saja agar moodku membaik" ucap Alea menghapus airmatanya.


"Ini baru istriku....jangan mudah berubah-ubah oke....kau rangers pink bukan bunglon" canda Abrar mencium bibir istrinya gemas.


"Iya kau benar....aaaa bang Abrar" rengek Alea manja memeluk suaminya.


Abrar tersenyum, kemudian Alea menengadah menatap wajah suaminya.


"Ayo cium lagi" Alea memajukan bibirnya.


"Astaga sayang kau sangat menggemaskan" Abrar mengecupnya berulang.


"Ingin ke toko es krim atau ke hotel?" goda Abrar lagi.


"Dua-duanya...." jawab Alea mengecup bibir suaminya lagi dan lagi.


Akhirnya Abrar menjalankan lagi mobilnya mencari toko es krim terdekat.


Alea dan Abrar duduk di sebuah taman, menikmati es krim berdua sambil terus menempel satu sama lain layaknya pasangan yang sedang kasmaran, mereka menikmati malam minggu dengan pemandangan langit yang cerah bertabur bintang ditemani sang rembulan yang tampak separuh.


Bukan hanya mereka, di taman juga banyak muda mudi yang juga tengah memadu kasih karena memang malam minggu adalah malam yang tepat untuk berpacaran.


*****


Abrar dan Alea menginap di hotel malam itu, menikmati keintiman satu sama lain dalam perasaan yang sama memang menyenangkan bagi pasangan halal yang satu ini, setelah puas bercinta namun tidak ada yang memejamkan mata.


"Maaf....tapi tidak bisa, harus aku sendiri yang turun tangan, Arkan tidak bisa istrinya sedang hamil jadi dia tidak mungkin untuk melakukan perjalanan jauh"


"Huh.....menyebalkan, aku ingin ikut" rengek Alea.


"Bagaimana dengan jadwalmu sayang, jika saja pekerjaan ini bisa dilakukan pada saat weekend kau pasti ku ajak"


"Kau benar, aku tidak bisa meninggalkan tugasku....oh pasti aku akan sengat merindukanmu"


"Hanya dua hari tidak lebih, aku akan pulang dengan cepat tenanglah...."


"Apa kau akan pergi dengan Reza?" tanya Alea lagi.


"Iya....kenapa memangnya, jangan terlalu dekat dengan lelaki itu meski dia temanmu aku akan cemburu" cubit Abrar pada hidung mancung istrinya.


"Dia temanku sekaligus mata-mataku, ha ha"


"Kenapa begitu?"


"Iya....tentu saja untuk menjagamu dari godaan setan yang terkutuk, aku tidak akan menciptakan peluang sekecil apapun pada perempuan lain untuk mendekatimu" jawab Alea serius.


"Huh....aku tidak akan macam-macam sayang"


"Aku percaya....tapi aku akan tetap waspada" jawab Alea tertawa.


"Baiklah....mari kita tidur" ajak Abrar memeluk dan mencium hidung istrinya.


*****


Alea melepas kepergian suaminya pagi-pagi sekali, pria itu pergi bersama Reza dan dua pegawai lainnya.


__ADS_1


Alea harus berbesar hati berpisah selama dua hari dengan suami tercinta, hari ini ia kembali ke rutinitasnya seperti biasa di rumah sakit, karena Abrar pergi jadi Alea membawa mobilnya sendiri, wanita ini ingin segera bertemu Naura kembali, Alea merasa kasihan pada gadis itu yang harus bekerja dan ikut menjaga ayahnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Karena sudah dua hari tidak menjenguk Alea ingin menjenguk ayah Naura lagi pagi ini.


Dalam perjalanan mama Eliana melakukan panggilan video pada putrinya.


"Hallo mama ku tersayang.....ada apa mama menghubungiku pagi-pagi?"


Jawab Alea yang bersemangat namun tetap fokus mengemudi.


'Mama akan pergi bertemu bibi Fatimah dan itu lewat rumah sakitmu sayang, kau mau di bawakan apa makan siang nanti? mama akan mampir sebentar untuk menemuimu' jawab mama El di seberang sana.


"Benarkah.....asyik makan enak siang nanti, terserah mama semua yang mama buat pasti akan ku makan" jawab Alea bahagia.


'Baiklah....nanti mama akan menghubungimu lagi jika sudah di rumah sakit, berhati-hatilah mengemudi sayang' tutup mama El.


*****


Mama Eliana tengah menunggu putrinya menghampiri untuk memberikan bekal makan siang yang ia bawa dari rumah, tidak lama berselang Alea memeluk mamanya dari belakang.


"Sayang kau membuat mama terkejut" ucap Eliana mencubit hidung putrinya.


"Aku merindukan mama" peluk Alea lagi.


"Sudah jangan manja, kau sudah bersuami Alea......ini bekalmu"


"Mama...." cebik Alea.


"Sayang apa kau belum hamil?"


Alea menggeleng sedih.


"Huh....syukurlah, mama senang mendengarnya, mama belum rela kau hamil sekarang nak....mama masih takut terjadi sesuatu padamu, kau sangat sibuk dengan koas mu, mama tidak ingin trauma mama dulu terulang lagi" ucap El serius.


"Aku rasa ini alasan kenapa aku belum hamil hingga sekarang, pasti mama yang mendoakannya yang tidak-tidak" kesal Alea.


Eliana terkekeh.


"Sudah....lebih baik kau dengarkan ucapan orangtua ini, mama mau kau hamil tapi tidak dengan kesibukanmu yang sekarang, jadi mama sarankan kau pakai kontrasepsi dalam satu tahun ini, kau boleh hamil jika sudah hampir menyelesaikan koas mu"


"Mama.....apa itu tidak terlalu lama" Alea kesal setiap bicara dengan mamanya selalu saja melarangnya hamil.


"Mama tidak ingin terjadi sesuatu padamu sayang, mama sangat takut Alea mama mengingat bagaimana mama merasa kehilangan adikmu waktu itu"


"Huh....mama itu dulu, sampai kapan kita akan terjebak masa lalu yang mengerikan itu ayolah ma bangkit bukankah mama juga bangkit waktu itu bahkan sekarang punya enam anak....doakan aku segera hamil oke aku juga ingin punya anak yang banyak" hayal Alea.


"Apa? banyak anak? Huh percuma bicara pada anak jaman sekarang" El geleng kepala.


"Baiklah terserah mama, aku tetap cinta pada mamaku ini" Peluk Alea lagi.


"Sudah.....ini bekalmu mama tidak bisa lama sayang, kasihan sopir mama menunggu"


"Baiklah....terimakasih, mama berhati- hati oke" Alea mencium dan memeluk mamanya lagi sebalum melambai tangan pada Eliana yang mulai melangkah menjauh.


Belum juga hilang dari pandangan Alea, El tidak sengaja bertabrakan dengan perempuan yang hampir sama dengan umurnya.


Perempuan itu menjatuhkan beberapa lembar kertas sepertinya dari tempat photocopy, lalu ia memungutnya karena El merasa bersalah ia pun ikut membantu, Alea melihat itu pun mendekat.


El ingin meminta maaf pada perempuan itu.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak sengaja....." ucapan Eliana menggantung ketika mata mereka bertemu.


Pun perempuan yang berpenampilan sederhana itu tak kalah terkejut menatap Eliana.


"Clara" ucap Eliana menatap lekat-lekat wajah yang berada di hadapannya ini.


"Eliana"


Alea melihat itu pun mendekat.

__ADS_1


"Mama mengenal bibi Clara?" tanya Alea heran.


__ADS_2