Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Malaikat Penjaga


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🧁🧁🧁...


"Kalau begitu apa susahnya tes DNA?"


Karin merasa hatinya terluka oleh pertanyaan itu. Tidak susah memang untuk melakukannya pada Delvara. Tes itu sendiri selain mampu menunjukkan garis keturunan juga bisa mendeteksi apakah Delvara punya kelainan genetik atau tidak.


Bagi Delvara sendiri nantinya tes itu juga akan mempertegas status siapakah ayah biologisnya. Hasil tes itu juga akan menguatkan tali kasih keluarga Dion padanya.


Tapi bukan itu,,,Bukan itu saja yang perlu dibahas.


"Lihatlah aku,,, Pernahkah terbersit dalam benak kalian betapa sakit dan kecewanya aku karena kalian meragukanku? Tidakkah aku berhak untuk merasa harga diriku begitu dihina dan dicabik cabik saat ini? Mama mertuaku sendiri meragukan darah daging putranya,,,benih putranya yang tertanam dalam rahimku."


Ingin rasanya Karin mengucapkan secara gamblang kalimat itu pada semua yang ada dalam ruangan itu. Namun entah kenapa bibirnya terasa kelu. Tenggorokannya tercekat hingga ia tak mampu bicara apa apa.


"Mungkin setelah tau status asli Delvara kalian akan bisa dengan mudah menganggap semua selesai. Kebenaran terungkap dan kalian bisa meneruskan hari hari kalian tanpa rasa bersalah. Tapi aku??? Yakinkah aku bisa melupakan perlakuan kalian kepadaku? Mampukah aku menghapus luka yanh sudah terlanjur menganga ini? Ya tuhan,,, hamba hanya manusia biasa yang tak mampu sebaik Engkau menerima permohonan maaf hamba hambaMU,,,,"


Hatinya yang terlalu sakit membuatnya tak ingin mengucapkan sepatah kata pun dan membiarkan suasana kamar begitu memanas. Karin hanya membelai kepala Delvara dengan lembutnya.


Tidak ada airmata meski hatinya perih.


"Delvara,,, kekuatan mama. Mama hanya akan punya Del kalau papa mungkin juga akan memihak pada oma. Maafkan mama ya nak kalau kamu harus menatap dunia barumu ini dalam kekejaman oma. Tapi mama mohon,,, seperti apa pun sikap dan perlakuan oma kelak pada kita,,, Del jangan benci oma."


Sekali lagi kalimat itu hanya terucap dalam hati Karin.


"Jadi kapan kalian mau melakukannya? Tunggu apa lagi memangnya? Bukankah semakin cepat semakin baik?" suara mama Herna kembali terdengar dan kali ini ditujukan pada Karin.

__ADS_1


"Ma!! Jangan paksa Karin!!" ketus Dion.


"Kenapa? Kamu takut wanita yang kamu banggakan ini ketauan belang dan boroknya? Kamu takut mama akan memintamu menceraikannya setelah tau semua kebusukannya?" tantang mama Herna.


"Mama cukup!!!" bentak Dion.


Papa Hengki menarik mundur dan menjauh istrinya dari hadapan Karin.


"Lepasin. Sakit pa,,, Kasar banget sih!!" protes mama Herna.


"Makin didiamkan mama makin menjadi jadi. Bisa tidak gak buat papa malu di depan anak dan menantu kita?? Bisa tidak menunjukkan kalau papa ini sebagai suami gak pernah mengajari istri untuk berlaku seperti ini???!!!" papa Hengki pertama kalinya membentak mama Herna.


"Pa,,,, Papa bentak mama?? Beneran pa??" airmata mama Herna mulai meleleh membasahi pipinya.


Biasa diperlakukan santun dan penuh kelembutan oleh papa Hengki membuatnya rapuh begitu papa Hengki membentaknya.Dan airmata itu sukses membuat papa Hengki jadi bingung harus bagaimana.


"Tunggu!!! Sebelum mama pulang Dion hanya ingin mengatakan bahwa tidak akan ada tes DNA. Ini keputusan Dion dan jangan diprotes. Dion yakin Delvara anak Dion. Darah Dion. Keturunan Dion. Karin istri yang baik bagi Dion terlepas dari bagaimana pun masa lalunya."


"Dion!!!" Mama Herna membulatkan matanya dengan keputusan Dion itu. Beliau tidak menyangka putranya akan menolak niat baiknya membuktikan dan meluruskan garis keturunan keluarganya.


Perasaan berbeda dan sebaliknya justru dirasakan oleh papa Hengki. Beliau begitu bangga pada Dion yang berusaha menyelamatkan rumah tangganya dari campur tangan orang lain meski itu mamanya sendiri.


"Kalau mama tidak bisa dan tidak mau menerima Delvara tanpa tes DNA,,,tidak apa apa. Dion dan Karin tidak akan memaksa. Kalau rumah itu tertutup bagi kami maka kami tidak akan pulang. Kami akan mulai kehidupan bahagia kami bertiga. Dion,,,Karin dan Delvara." tegas Dion sambil mendekati anak istrinya.


Diraihnya bahu Karin dan dengan erat namun lembut dirangkulnya. Dion ingin menunjukkan kepadanya mamanya bahwa dia tak akan melepas atau membiarkan mamanya berlaku seenaknya pada anak istrinya.


Jika tadi dengan perkataan saja maka kali ini dengan perbuatan juga.

__ADS_1


Perlakuan Dion itu membuat mata Karin tak mampu lagi membendung airmata yang tiba tiba menggenangi pelupuk matanya. Mendengar ucapan suaminya yang begitu tegas mempertahankan dirinya dan putra mereka membuat hatinya tersenyum namun matanya menangis saking terharunya.


"Delvara,,, lihatlah bagaimana papa begitu meyayangi kita. Kita doakan semoga papa panjang umur dan bisa terus bersama sama kita ya nak. Senatiasa menjaga kita."


Diusapnya lembut kepala Delvara sekali lagi. Bayi itu seolah mengerti apa yang dikatakan mamanya. Seolah ia juga merasakan betapa papanya berjuang keras untuk dirinya. Baby Del tersenyum.


Dion yang melihat senyuman baby Del pun ikut membelai kepala mungil itu. Kemudian dengan lembut mencium kening kedua mahkluk yang sangat dicintainya dan sudah tuhan titipkan padanya itu.


"Delvara anak papa. Jangan takut nak. Meski seluruh dunia ini meragukanmu tapi papa dan mama tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena kami tau,,,dalam tubuhmu ini mengalir darah yang sama dengan milik kami berdua. Delvara jagoan papa,,, Jangan rapuh karena ini nak. Kuatlah dan buktikan pada dunia kelak bahwa kamu memang kebanggaan papa dan mama." ucap Dion kemudian.


"Terima kasih om papa." lirih Karin sambil tetap berurai airmata.


"Jangan menangis bidadariku. Airmata ini terlalu berharga jika kamu tumpahkan. Sudah om papa katakan sebelumnya kan,,, kalau om papa akan selalu melindungimu dan Delvara. Semampu om papa. Bahkan saat semua orang meragukanmu,,,maka om papa tidak akan pernah ragu. Om papa jatuh cinta padamu bukan karena suruhan orang melainkan hati om papa sendiri yang memilihmu sayang. Jadi jika kini ada orang yang ingin menyingkirkanmu dari om papa,,,Maka terlebih dahulu orang itu harus mengambil sekaligus membunuh hati om papa dulu."


Dion mengatakannya sambil menatap mama Herna dengan sengitnya. Hal itu membuat mama Herna mulai merasa terpojok dan takut. Takut jika ulahnya akan membuatnya kehilangan putra satu satunya yang beliau miliki.


"Ini baru anak papa. Ini baru Dion putra kebanggaan papa. Teruslah begini nak,,, Jangan hanya jadi sekedar suami bagi Karin,,, Tapi Jadilah malaikat penjaga untuknya dan putramu." tak disangka papa Hengki mengatakannya tanpa peduli istrinya akan suka atau tidak mendengarnya.


"Terima kasih papa." ucap Dion sambil tersenyum.


Papa Hengki mengangguk pelan dengan bangganya. Membiarkan sang istri tercinta beringsut pergi meninggalkannya membawa semua kekecewaan dalam hatinya karena suami dan putranya benar benar mengabaikannya kali ini.


...🌸🌸🌸...


...Kasihan mama Herna,,, ...


...Dicuekin 🀭...

__ADS_1


Author jangan dicuekin ya. Tetap kirim vote, like, hadiah dan komen buat karya author ya ❀️


__ADS_2