Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Tante Lisa


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Kami semua turut berduka cita Rin. Almarhum adalah orang baik. Inshaallah akan mendapatkan surgaNYA." Rayya berbicara mewakili keluarga dari Darren yang turut mengantarkan mendiang ke peristirahatan terakhirnya sebelum mereka memutuskan untuk pulang.


"Aamiin. Terima kasih." Karin belum mampu untuk bicara banyak.


"Yang sabar ya nak." pak Adi memeluknya dengan erat.


Jiwa ayah mana yang tidak merasa rapuh ketika putri satu satunya ditimpa musibah seperti ini. Sebagai salah satu saksi hidup perjalanan rumah tangga putrinya yang tak selalu berjalan mulus, pak Adi pun bisa merasakan semua kepedihan itu.


Baru saja berkumpul kembali,,, mendapatkan putri cantik yang juga belum genap berusia 3 tahun,,, tapi tuhan berkehendak lain.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Levi.


Karin angkat bahu. Mengusap airmatanya lalu menarik nafas dalam dalam.


"Sepertinya aku belum ada rencana apa apa. Aku hanya butuh ketenangan saat ini. Tapi kalian jangan khawatir. Aku tidak akan berbuat macam macam. Aku masih ingat kalau aku masih punya Del dan Zoya dan juga kalian." Karin tersenyum.


"Papa akan tinggal bersamamu kalau kamu tidak keberatan nak."


"Tidak papa. Papa sama Rayya saja dulu ya. Karin benar benar masih ingin sendiri. Cukup bersama belahan hati kami dulu saat ini. Karin masih ingin membiasakan anak anak tanpa papanya dulu." tolak Karin halus.


"Baiklah kalau itu maumu nak. Yang penting kapan pun kamu butuh papa, jangan sungkan sungkan ya nak."


"Terima kasih pa." Karin merasa sedikit bahagia menyadari masih ada banyak yang menyayanginya.


"Baiklah wanita tegar,,, kalau begitu kami pamit dulu. Sudah menjelang sore. Anak anak di rumah pasti juga sudah mencari kami. Jangan sungkan sungkan menghubungi kami kalau kamu perlu apa apa. Sekedar untuk cerita cerita pun kami pasti akan ada untukmu." Rayya berpamitan.


Karin mengangguk dan membalas pelukan hangat Rayya.

__ADS_1


"Tetap tegar!!! Kamu itu kuat!! Kamu tau itu." Bimo suami Rayya sekaligus teman kuliah Karin dulu memberi support.


"I know." jawab Karin sambil tersenyum tipis.


Sekali lagi pak Adi memeluk erat tubuh putrinya itu. Meski tubuh itu terasa ringkih saat ini namun pak Adi tau dan yakin dibalik keringkihan itu ada kekuatan besar tersembunyi demi anak anak manis yang sudah ditinggal papanya itu.


Tinggallah Karin, Del, Zoya, Mela dan Darwin di pemakaman setelah semuanya satu persatu meninggalkan tempat itu. Karin berjongkok di depan pusara Dion. Mengusap nisan dan membenarkan letak foto pria pujaan hatinya itu.


Tidak ada kata terucap di bibir Karin melainkan hanya sebuah senyuman untuk foto itu. Namun ada ratusan untaian kata panjang yang terucap dalam hatinya. Jangan ditanya apa saja,,, yang jelas itu adalah janji setia seorang istri yang tak berniat membagi cinta itu lagi kepada siapa pun selain kepada tuhannya.


"Kita pulang."


Ajak Karin pada semuanya. Semuanya pun tak ada satu pun yang protes karena tau saat ini lebih baik tidak menyela atau banyak bicara pada Karin. Semua tenggelam dalam kebisuan masing masing.


Langkah demi langkah pun mulai membawa semuanya menjauh dari tanah merah menggunduk bertabur bunga itu. Sekali lagi Karin menoleh ke arahnya.


Lengkungan senyum indah kembali tersungging seakan mengisyaratkan dan menegaskan pada jiwa sang suami yang mungkin saat itu tengah memperhatikan dirinya juga bahwa ia kuat,, ia akan bangkit.


Digenggamnya erat tangan mungil Delvara yang kelak akan jadi tangan kekar penguat hidupnya. Pengganti sosok sang ayah yang akan berjuang demi adik dan ibunya.


"Del akan jaga mama dan Zoya papa. Da da papa,,," Delvara melambaikan tangan ke arah makam Dion seolah ia bisa melihat sosok sang ayah juga tengah melambai padanya.


Karin tersenyum mendengarnya lalu dengan segala keikhlasannya ia terus melangkah meninggalkan pemakaman itu tanpa menoleh lagi. Bukan tak peduli lagi namun tak ingin lagi membebani perjalanan sang suami ke tanah abadi.


Setibanya di rumah, rupanya sudah ada yang menunggunya.


"Nyonya Karin, perkenalkan saya Hendra, pengacara mendiang tuan Dion."


"Iya bapak. Walau kita belum pernah bertemu tapi saya pernah dengar tentang bapak dari mendiang suami saya. Mari pak silahkan masuk." Karin mempersilahkan.


Sebelumnya ia meminta Mela membawa anak anak ke dalam terlebih dahulu dan tidak lupa meminta asisten rumah tangga mereka untuk membawakan minum tamunya.

__ADS_1


"Nyonya,, saya datang turut berbelasungkawa sekaligus ada yang ingin saya bahas."


"Terima kasih bapak. Dan pembahasan tentang apa itu kira kira?" tanya Karin.


"Mengenai harta dan seluruh peninggalan mendiang nyonya. Jadi begini,,,,"


"Maaf bapak kalau saya menyela,,, Kalau mengenai harta peninggalan mendiang suami saya,,, boleh saya meminta waktu dulu sebelum kita benar benar membahasnya. Saya masih berduka dan rasanya tidak pantas membicarakan urusan itu saat ini. Terlepas dari saya tau memang itu tugas bapak, tapi saya mohon pengertian bapak." Karin memotong pembicaraan.


"Oh saya mengerti sekali ibu kalau ibu belum ingin membahasnya. Tapi kedatangan saya kemari justru karena belum ada pembahasan apa apa dari tuan Dion mengenai kepemilikan semua ini. Karenanya saya segera datang karena tak ingin ada persengketaan atau hal hal buruk ke depannya. Kemarin beliau menelpon saya dan kami membuat janji temu hari ini. Tapi belum juga bertemu, tuan sudah meninggal."


"Persengketaan?? Memangnya dengan siapa saya bisa bersengketa? Ini kan memang milik suami saya sendiri. Ada dua ahli warisnya yang sah dan masih hidup misalnya saya tidak dihitung. Bukan begitu bapak?"


"Benar nyonya itu memang seharusnya begitu."


"Tapi itu hanya terjadi kalau tidak ada pihak keluarga lain yang menuntut!!!"


Sebuah suara tiba tiba masuk dan menyela pembicaraan keduanya. Spontan keduanya menoleh dan merasa heran kenapa bisa orang yang baru datang itu tiba tiba bicara demikian.


"Tante Lisa??" Karin menyebut nama tante dari Dion yang merupakan adik satu satunya papa Hengki yang dulu tinggal di luar negeri.


"Gak usah heran begitu melihatku datang. Bagus kamu ya,,, belum juga kering makam keponakanku, kamu sudah duduk manis membahas harta peninggalannya. Kamu pikir kamu itu siapa?? Kamu ingat ya,,, Kamu bukan satu satunya keluarga Dion. Kamu juga hanya anak bau kencur yang diangkat derajatnya oleh keponakanku."


Hujaman kata kata pedas mengalir dari bibir wanita itu. Membuat tetesan airmata yang tadinya sempat terhenti kini kembali membasahi wajah Karin.


"Maaf nyonya. Ini salah saya. Saya yang datang bukan nyonya Karin yang mengundang." Hendra menengahi.


"Diam!! Kamu cuma orang bayaran. Dan tolong dicatat,,, dia ini bukan nyonya di sini. Dia boleh jadi nyonya hanya saat keponakan saya masih hidup. Sekarang keponakan saya sudah meninggal. Tidak ada yang perlu menganggapnya nyonya di rumah ini." ketus Lisa.


Hendra tidak menyahut lagi.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Waaahhh ada konflik baru nih 🧐 makanya jangan pindah dulu ke cerita yang lain ya. Tunggu terus up dari author. Jalan cerita Karin masih panjang karena dalam cerita ini,,, dia tokoh utamanya 🙂🌸...


__ADS_2