Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Pembagian Harta


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Bagaimana keadaan oma Herna om?" sapa Levi.


Dion yang berdiri mematung di jendela kaca ruangan mama Herna dirawat menoleh dengan wajah sedihnya. Ruangan mama Herna termasuk ruangan yang masih dibatasi jumlah pengunjungnya.


Saat ini di dalam sudah ada Karin yang bisa dilihat oleh Dion dengan sepenuh hati membantu mengelap wajah dan tubuh mama Herna yang masih belum sadarkan diri dengan handuk kecil dan air hangat.


Dion mengalihkan pandangannya ke arah Levi yang mengajaknya bicara.


"Dokter belum bisa memindahkan ke ruangan inap. Katanya masih belum melewati masa kritisnya. Kondisi mama masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Om takut Levi,,, Om belum siap." kata Dion lesu.


"Yang sabar ya om. Levi paham betul bagaimana rasanya berada di posisi om saat ini. Rasa takut kehilangan,,, ikhlas dan gak ikhlas,,, semua jadi satu saat ayah berjuang di detik detik terakhirnya." ucap Levi dengan mata mulai merah dipenuhi airmata.


Semua perasaan itu masih teringat jelas rasanya meski sudah hampir 2 tahun ayahnya meninggal. Dan hingga detik ini masih tetap menyisakan kesedihan dalam dada tiap kali mengunjungi rumah peristirahatan terakhir mendiang ayahnya.


Dion menepuk bahunya dan tersenyum.


"Ayahmu adalah orang baik. Om yakin saat ini beliau sudah bahagia bersama bundamu. Memang itu yang diinginkannya. Maafkan om yang saat itu tidak bisa hadir. Om juga sedang berjuang saat itu. Itu adalah saat terpuruk bagi om. Om kira om sudah kehilangan Karin dan Delvara, mendapati cobaan lumpuh dan masih harus menerima kepergian ayahmu." kenang Dion.


"Levi juga minta maaf ya om karena Levi sama sekali tak tau menahu tentang om selama ini. Ayah pasti sedih disana melihat om berjuang sendirian."


"Sudahlah. Yang penting sekarang badai sudah berlalu. Inshaallah matahari akan segera tersenyum pada kita. Jangan lupa doakan oma Herna ya semoga bisa melewati semua ini dan berkumpul kembali bersama kita." ucap Dion.


"Pasti om." Levi menyanggupi.


Bersamaan dengan itu Karin telah selesai dengan tugasnya mengelap mama Herna. Ia pun keluar dan menemui kedua pria itu.


"Assalamualaikum Rin." sapa Levi.


"Wa'alaikumsalam. Sudah lama di sini? Mau masuk juga?" tanya Karin sambil menunjuk ke arah mama Herna.

__ADS_1


"Tidak. Disini saja. Biarkan oma Herna istirahat dulu. Mmm,,, Rin, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." kata Levi sopan.


"Aku?" Karin menunjuk diri sendiri dengan wajah bingungnya.


"Iya. Denganmu. Boleh?" tanya Levi.


"Mmm iya,, boleh." jawab Karin setelah mendapat kode anggukan kepala dari Dion meski dirinya masih tetap tidak mengerti ada perlu apa sebenarnya Levi dengannya.


"Begini,,, Rayya titip salam ke kamu." kata Levi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Karin makin gak paham mau kemana sebenarnya arah bicara Levi.


"Dia meminta maaf karena tidak bisa ikut kesini. Ia baru saja melahirkan putri keduanya jadi belum bisa bepergian jauh. Oh ya,,,Rayya juga menitipkan ini." Levi menyerahkan sebuah map tebal.


"Apa ini?" tanya Karin bingung.


"Terima saja dulu lalu buka dan bacalah dengan seksama. Jangan terburu buru. Kalau ada yang kurang kamu mengerti, kamu bisa tanyakan padaku." Levi tersenyum.


Karin memandang ke arah Dion berharap suaminya itu tau apa sebenarnya isi map tebal itu. Tapi Dion malah hanya angkat bahu. Dion sejatinya memang tidak tau juga apa isinya.


Raut wajahnya berubah ubah. Kedua alisnya nyaris bertemu ujungnya. Dahinya pun mengkerut pertanda ia tengah konsentrasi sekali. Sesekali diangkatnya wajahnya untuk bisa melihat ke arah Levi dan Dion. Lalu kembali membaca.


Yakin dengan apa yang sudah dibacanya, ia pun menutup map tebal itu.


"Bagaimana? Ada yang perlu kujelaskan?" tanya Levi.


"Ya. Ada."


"Bagian mananya?"


"Bagian kenapa tiba tiba aku bisa mendapat limpahan harta sebanyak ini dari Rayya? Harta apa ini? Dan apa andilku selama ini sehingga aku berhak mendapatkannya?" Karin tak habis pikir kenapa tiba tiba Rayya memberinya begitu banyak harta.


"Baiklah. Tenang dulu. Akan ku jelaskan." Levi menenangkannya.

__ADS_1


Karena baik Karin maupun Dion memang terkejut mendapat kejutan dari Rayya seperti ini.


"Rayya selaku pewaris tunggal abi Ray, setelah menimbang nimbang dan memikirkan baik baik semuanya, ia merasa harta warisan dari kakeknya, yakni kakekmu juga, memang tidak sepantasnya hanya jatuh kepadanya. Kamu juga keturunan kakek kalian jadi Rayya ingin membaginya denganmu juga. Rayya tidak ingin perseteruan lama kembali terjadi. Rayya belajar dari pengalaman abi Ray dan om Adi ayahmu."


"Tapi,,, Bukannya itu warisan dari mendiang abinya Rayya? Bukan hakku kan?" Karin tak lantas menerima begitu saja.


"Benar. Kalau memang seluruh harta itu berasal dari jerih payah abi Ray sendiri,maka kamu memang tidak berhak sama sekali. Tapi yang dibagi oleh Rayya ini adalah yang merupakan peninggalan dari kakek kalian."


Karin terdiam. Berpikir.


"Rin,,, om Dion,,, Levi mewakili Rayya memohon kepada kalian untuk menerimanya. Tidak banyak tapi semoga dengan hal kecil ini, keluarga kita makin dekat dan saling ada saat satu sama lain membutuhkan." pinta Levi.


Karin dan Dion berpandangan. Dion meminta map tebal yang masih dipegang oleh Karin itu. Sebelum menjawab apa apa, Dion ingin membacanya terlebih dulu. Dan saat membacanya pun ekspresi Dion tak jauh beda dengan Karin sebelumnya.


"Kalian yakin dengan semua ini?" tanya Dion memastikan.


"Sangat yakin om."


"Ini tidak sedikit lho." Dion yang bukan dari kalangan bawah tentu tau seberapa besar nilai aset yang diberikan Rayya kepada Karin.


"Tidak lebih besar dari kekeluargaan kita om. Terimalah,,," Levi tetap meminta kesediaan mereka terutama Karin sebagai penerimanya.


Kembali pasangan suami istri itu berpandangan. Dion bukan orang yang kurang harta untuk bisa diwariskan kepada Karin,,,Tapi ini lain.


Ini memang hak Karin dari silsilah keluarganya. Dion tak punya hak melarang. Karenanya ia memberi anggukan kepala pada Karin saat lagi lagi Karin memandangnya dengan penuh tanya.


"Baiklah. Aku terima. Sampaikan ucapan terima kasihku pada Rayya atas kebaikannya dan kerelaannya berbagi denganku." pesan Karin.


"Pasti kusampaikan."


"Terima kasih sudah hadir di waktu yang tepat. Terima kasih sudah membawa angin segar untuk kami. Terima kasih telah mengungkap semua kecurangan dalam bisnis kita. Kamu benar benar mengingatkanku pada ayahmu. Selalu ada disaat saat gentingku. Bahkan saat ia sudah tidak ada di dunia ini pun ia masih menyiapkanmu untuk jadi penolong kami." Dion menepuk bahu Levi dengan sangat bangga.


"Sama sama om. Ayah pasti makin tenang di sana."

__ADS_1


Dion merangkul Levi dengan eratnya seakan ingin meluapkan kerinduannya pada Darren.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2