
...Selamat membaca ...
...🌸🌸🌸...
"Ma,,, Papa kok gitu banget sih sekarang sama Hana? Papa gak sayang ya sama Hana? Papa dulu padahal selalu lembut dan gak pernah ketus gini sama Hana. Hana jadi sedih,,, Sudah suami dan anak yang paling menyayangi Hana direnggut,,, sekarang Hana diginiin,,,"
Hana menangkup wajahnya yang seketika basah oleh airmatanya. Membuat mama Herna merasa tidak enak padanya. Bagaimana pun mama Herna merasa tersindir oleh perkataan Hana barusan.
Keluarganyalah yang telah merenggut kebahagiaan dan orang orang terkasih Hana,, dan kini keluarganya juga yang menambah beban kesedihan Hana dengan sikap mereka.
"Biar mama yang ngomong sama papa ya Han. Mama rasa papa baru dari rumah sakit dan ketemu si biang kerok itu jadi terpengaruh." mama Herna menenangkan Hana.
Dibawanya Hana dalam pelukannya dan dibiarkannya wajah sedih itu bersandar di bahu rentanya.
"Hana rasa juga karena si biang kerok Karin itu ma papa jadi begitu. Entah sihir apa yang dipakainya sampai semua orang bisa bersikap tidak sewajarnya ke Hana." ucap Hana di sela isakan tangisnya.
"Ya sudah. Kamu istirahat saja di kamarmu ya. Gak baik kalau ibu hamil nangis nangis gini. Ntar bayimu ikut merasakan kesedihanmu lho Han. Mama gak mau cucu mama ini terganggu tumbuh kembangnya meski masih dalam rahim."
"Makasih ya ma. Mama perhatian banget sama bayi Hana. Mama bahkan menganggapnya cucu mama." Hana menarik kepalanya dari bahu mama Herna dan tersenyum.
Tidak lupa ia juga menghapus airmatanya.
"Kalau anak kamu ini meski siapa pun ayahnya,, mama yakin dia pasti tercipta dari satu hubungan yang sah. Bukan anak haram yang tercipta dari hubungan bebas. Kamu kan wanita baik baik dan mama tau itu dari dulu. Dari pertama Dion mengenalkanmu ke mama,,,dari background keluargamu,,, kamu punya kualitas sayang. Beda sama si biang kerok satu ini. Semuanya serba gak jelas."
"Sekali lagi makasih ya ma. Kalau gitu Hana ke kamar saja dulu ya. Mama jangan lupa bicarakan hal ini sama papa juga ya ma. Hana rindu sama sikap lembut papa dulu."
"Pasti sayang."
Hana kembali ke kamarnya dengan senyum terukir di wajahnya karena ia benar benar sudah berhasil mengambil hati mama Herna.
"Tapi papa kok ngeselin ya. Biang kerok itu ngomong apa sih sama papa?" sungutnya dalam hati.
__ADS_1
Di kamarnya papa Hengki sedang sibuk mengecek banyak berkas berkas yang disiapkannya untuk pelimpahan harta dan balik nama dari namanya ke nama Delvara. Papa Hengki tersenyum puas setelah membacanya karena semuanya sudah tepat sesuai keinginannya.
"Senyum senyum sendiri. Kenapa sih papa ini?" mama Herna masuk dan heran melihat suaminya begitu.
"Lagi senang saja. Semuanya sudah siap dan tinggal kuserahkan saja." jawab papa Hengki.
"Memangnya apa yang mau papa serahkan? Dan diserahkan ke siapa?" mama Herna kepo.
"Warisan papa untuk cucu kesayangan papa,,, Delvara." sebut papa Hengki dengan bangga.
"Papa!!!!! Jangan gila ya!!! Anak itu bahkan belum tentu anak Dion. Mama gak rela harta kita diwariskan ke anak haram itu!!!." pekik mama Herna begitu mendengarnya.
"Mama yang jangan gila!! Itu jelas jelas cucu kita dan papa sudah semestinya memberikan apa yang papa miliki untuknya. Buka mata mama,,, Bila perlu mata hati mama juga!! Biar mama bisa lihat kebenarannya. Anak kita jatuh cinta pada bidadari ma,,,terlepas dari bidadari itu pernah punya masa lalu kelam atau tidak. Yang jelas saat ini dia hanya jadi wanita baik baik untuk putra kita dan keluarga kita. Bidadari itu juga sudah mengirimkan pelita untuk keluarga kita. Delvara,,, penerus keluarga kita sudah lahir ma. Sambutlah!!!"
"Ciih,,,Jangan alay ya pa!! Pelita apanya?? Bayi itu justru mencoreng nama kita karena lahir dari rahim yang salah dan selama ini kita tidak sadar siapa bidadari yang papa maksud itu. Dia tak lebih hanya seorang perekkkk!!!" sahut mama Herna dengan sengitnya.
"Keterlaluan mama!!! Papa tidak tahan lagi."
"Terus papa mau apa?? Ceraikan mama?? Sudah tua bangka gak malu cerai? Trus cerainya karena belain si biang kerok itu? Yakin papa bisa kehilangan semuanya hanya demi perekk itu???" tantang mama Herna.
Mama Herna oleng dan untuk beberapa detiknya beliau pusing dan belum sadar apa yang terjadi. Hingga pipinya terasa panas barulah mama Herna sadar bahwa papa Hengki telah menamparnya.
"Pa,,, Papa nampar mama??? Papa tega!!!" mama Herna pun histeris dan papa Hengki sama sekali tak menghiraukannya.
"Itu pantas untuk mama." ucap papa Hengki singkat lalu berlalu dan membawa semua berkas penting miliknya masuk ke ruang kerjanya meninggalkan mama Herna yang masih tersedu sedu.
Bahkan malam itu papa Hengki juga memilih tidur di sofa ruang kerja ketimbang harus balik ke kamar tidurnya dan melihat istrinya yang sudah hampir tak dikenalinya itu.
Keesokan paginya papa Hengki bertemu Hana di meja makan.
"Selamat pagi papa." sapa Hana.
__ADS_1
"Selamat pagi. Tapi jangan panggil papa. Kamu kehilangan hak untuk itu sejak kamu memutuskan meninggalkan Dion." sahut papa Hengki tanpa menoleh sedikit pun.
Hana terkesiap tapi kemudian menenangkan hati dan sikapnya sendiri.
"Baik pa eh om Hengki,," ucapnya dengan mengulas senyum agar tak terlihat sama sekali kekesalannya pada papa Hengki.
"Mau Hana buatkan kopi?" tawar Hana kemudian.
"Tidak usah. Aku mau pergi." tolak papa Hengki langsung beranjak meski rotinya belum habis.
Melihat Hana membuatnya tiba tiba merasa hilang nafsu makan.
"Oh ya,,,kapan kamu mau pergi dari rumah kami? Kamu kan bukan istri Dion,,, cuma mantannya saja. Tidak baik berlama lama tinggal dengan kami." papa Hengki berbalik dan mengatakannya.
"Tapi pa,,Om,,, Hana di sini juga karena apa yang sudah dilakukan Dion pada keluarga Hana. Bukan kemauan Hana untuk tinggal di sini." sahut Hana.
"Kalau tidak terima dengan kecelakaan yang bukan disengaja oleh Dion itu,,,sudah ku katakan kan kemarin? Laporkan saja Dion ke polisi biar dapat hukuman setimpal. Kenapa tidak kamu lakukan??"
Hana terdiam mendengarnya.
"Oh,,,kamu takut akan hidup susah kalau Dion tidak menanggung hidupmu ke depannya? Berapa?? Kamu mau minta berapa? Sebutkan,,, biar aku yang membayarnya. Aku lelah melihat biang kerok sepertimu tinggal di rumahku. Membuat keluargaku terpecah belah." cerca papa Hengki.
"Ayo sebutkan!!! Berapa???!!!" bentak papa Hengki.
Hana tersentak dan wajahnya mulai berubah antara takut,kesal dan sedih.
"Ini gak adil!!! Hana yang dirugikan dan dibuat menderita dan kini Hana juga yang disiksa!!! Diberi pilihan yang bahkan Hana sendiri tidak ingin memilihnya. Apa salah Hana??" seru Hana dengan tangisan mulai menghiasi.
Papa Hengki diam karena merasa bersalah sudah begitu keterlaluan pada wanita itu. Beliau tidak pernah begini sebelumya tapi mengingat sejak kehadiran wanita itu membuat beliau bahkan akan kesulitan bertemu dengan Delvara,,, papa Hengki tak bisa menahan diri.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...Salah gak sih papa Hengki kayak gitu 🤔...
Kirim like, hadiah, vote dan komen kalian ya ❤️