
Dannis tersenyum tipis saat menatap Nara dan adik-adiknya yang tampak kompak menggunakan gaun yang senada sebagai seragam pesta pernikahan Sheira, acara yang digelar mewah di salah satu hotel.
Meski canggung dan malu namun Nara tetap berbaur dengan saudara-saudara dari suaminya ini, menikmati pesta milik mereka bersama Nara terlihat berbeda dari wajahnya karena gadis ini tampak murung dan sedih membayangkan jika dirinya lah yang berada di posisi Sheira saat ini.
Bagaimana Nara bisa memakai gaun pengantin dan menikmati pesta layak pasangan lain nantinya jika kehidupan pernikahan nya saja sangat jauh terbalik dari indahnya suasana pesta yang pasti akan digelar tidak lama setelah ini.
Nara mulai meragukan, namun juga masih berharap perlahan Dannis bisa menerimanya, namun pertanyaan kapan itu terjadi selalu membayanginya terlebih Nara sudah mengungkapkan perasaannya namun tetap saja Dannis terlihat biasa saja.
Hanya wajah cantik Aira yang mampu mengembangkan senyumnya saat ini, gadis kecil yang menyayanginya layak bibi sendiri.
"Apa kau tidak ada rasa sedikit pun Dannis?", tanya Alan yang juga sudah hadir di sana, mereka berdiri berdampingan dengan tangan sama-sama berada di saku.
Memakai tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu di lehernya, Dannis kompak dan tampak seragam dengan adik bungsunya Baim.
Dannis menatap lama perempuan yang mereka bicarakan saat ini.
"Kau menyukainya?", bukannya menjawab Dannis malah balik bertanya.
"Aku menyukainya", jawab Alan tersenyum.
Dannis diam.
"Kenapa? apa kau berniat melepaskannya?", tanya Alan penasaran.
"Aku hanya merasa kasihan padanya".
__ADS_1
"Jika hanya rasa kasihan yang membuatmu bertahan, kau semakin membuatnya terluka Dannis", jawab Alan yang matanya masih tidak berpaling dari wajah cantik yang tengah meladeni putri Alea.
"Aku hanya bingung, semakin aku mencoba membuka diri semakin sering pula Naya menghantuiku, entah karena rasa bersalah atas kecelakaan itu atau memang aku tidak bisa berpaling ke lain hati", jawab Dannis datar.
Membuat Alan berdecak mendengarnya.
"Apa mereka mirip?", tanya Alan lagi.
"Iya, mereka banyak kemiripan dari sifat bahkan wangi tubuhnya, aku bingung Alan.... aku bingung dengan perasaan ku, siapa diantara mereka yang ku cintai, atau aku masih terobsesi pada Naya hingga terus menyamakan mereka, aku tidak ingin Nara terluka karena aku mencintainya karena alasan mereka mirip".
"Tentu itu tidak adil Dannis, mereka orang yang berbeda sadari itu, kau hanya perlu membuka hati seutuhnya mungkin kau akan temukan jawabannya".
"Entahlah aku ragu, aku menemukan Naya dalam dirinya itu yang membuatku terus menghindar".
"Aku sedang memikirkannya".
"Jangan terlalu lama menggantung gadis itu Dannis, berikan keputusanmu sebelum kalian benar-benar mengadakan resepsi, keluarga mu akan malu jika semua tahu kau menikah namun tidak lama setelah itu kalian bercerai", ucap Alan kesal.
"Kau benar-benar menyukainya?", tanya Dannis penuh arti.
"Jika iya memangnya kenapa? apa kau berniat memberikannya padaku?".
"Jika kau bisa membahagiakannya kenapa tidak, aku juga tidak ingin terus berlarut dalam pernikahan palsu ini".
"Aku tidak akan menolak Dannis, aku tidak akan bersikap pengecut sepertimu yang selalu tunduk dengan bayang masa lalu, namun ingatlah jika Nara sudah berada di tanganku jangan harap kau bisa mengambilnya lagi dengan alasan kau baru menyadari perasaan mu setelah dia menjadi milikku", ucap Alan serius, mereka bahkan berhadapan untuk itu.
__ADS_1
Dannis terdiam, kemudian ia mengangguk.
"Baiklah.... kita lihat apa yang akan kau rasakan jika kalian berpisah, aku menyukainya Dannis, sungguh menyukainya", jawab Alan mantap dengan sorot mata mengarah langsung pada gadis yang bernama Khinara itu.
Mendengar Alan berkata yakin, entah kenapa jantung Dannis merasa ngilu saat Alan menajamkan perkataan suka di ujung kalimatnya.
"Aku ingin melihatnya", jawab Dannis datar.
Semua tamu dibuat terkejut saat Aira mengajak Nara untuk bernyanyi di atas pelaminan sebagai hadiah pernikahan untuk Sheira.
Lagu pilihan dari bocah cantik milik Alea tersebut mengantarkan pesta itu berubah seakan sedang berada di negeri dongeng, menyanyikan lagu soundtrack milik film Beauty and the Beast yang sangat disukai oleh Aira.
Membuat semua mata memandang ke atas pelaminan, dimana seorang gadis cantik berambut panjang yang dihiasi beberapa hiasan kepala yang mempercantik penampilan Nara malam itu berdiri bernyanyi mengalunkan suaranya yang indah dan menggema layak festival.
Meski tidak semua tahu lagu itu, namun semuanya terlarut dalam nyanyian Nara dan Aira.
"Apa kau merasakan hal yang sama? aku merasa Nara mengantarkan kita seakan sedang berada di negeri dongeng saja", ucap Sheira terkekeh menatap puja pada suaminya.
"Dan kau pikir aku si buruk rupa dalam cerita itu?".
"Iya, tapi berubah menjadi pengeran tampan yang menjelma menjadi suamiku ini", jawab Sheira terkekeh.
"Inikah sisi lain dari istri yang akan kau serahkan padaku? cantik dan pandai bernyanyi siapa yang mampu menolaknya, kecuali pria bodoh seperti mu", ucap Alan tersenyum terpesona akan penampilan gadis yang akan ia perjuangkan tidak lama lagi.
Dannis masih diam, tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
__ADS_1