Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 79


__ADS_3

Alea dan Abrar tengah menonton televisi, dengan perut buncit yang sudah memasuki usia kehamilan trimester ketiga, Alea lebih sering mengeluh sakit pinggang dan terasa sangat berat jika berjalan.


Menjadi suami siaga, Abrar selalu pulang dengan cepat agar mempermudah istrinya dalam melakukan apapun atas bantuannya, perempuan yang baru saja genap berumur dua puluh tiga tahun ini lebih aktif melakukan kegiatan senam hamil dan berenang, semua ia lakukan dirumah saja dengan mendatangkan instruktur khusus yang membimbingnya.


Mengandung bayi kembar tentu tidaklah mudah, terlebih kehamilan yang semakin membesar dan mendekati usia persalinan, dimana Alea mengalami gangguan tidur karena lebih sering buang air kecil pada malam hari, aktifnya sang calon buah hati yang diketahui berjenis kelamin laki-laki keduanya itu juga membuat perempuan ini menjadi lebih sering cepat lelah dan jika beraktivitas lebih ia akan merasa sangat sesak, Alea bersyukur bisa merasakan anugerah ini, ia menjadi terharu jika mengingat mamanya juga mengandung Alea dan Dannis ketika dulu merasakan hal yang sama.


Ditemani cemilan, Alea tidak berhenti mengunyah sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang setia mendampinginya, tangan Abrar yang tidak beranjak dari perut buncit Alea memberi rangsangan dan elusan yang membuat Alea menjadi nyaman.


Tidak lama bel rumah mereka berbunyi, Abrar membuka pintu sedang Alea tidak beranjak dari sofa depan tv.


"Happy birthday........"


Terdengar sebuah lagu ulang tahun yang dinyanyikan banyak orang, membuat Alea mengembangkan senyum ketika mendapati orangtua dan adik-adiknya datang membawa sebuah kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun sayang mama" ucap mama El bergantian memeluk putri sulungnya dengan papa Kemal.


"Terimakasih kalian masih ingat aku rupanya" cebik Alea mengerucutkan bibirnya kedepan sebab ia sudah kesal sejak pagi belum ada keluarganya yang ingat hari dimana ia dilahirkan.


"Tentu saja sayang....kami hanya ingin mengerjaimu saja...." ucap papa Kemal mengusap kepala putrinya.


Alea berpelukan dengan adik-adiknya secara bergantian, dan sungguh ia terkejut bukan main ketika ia melihat sosok yang sangat ia rindukan selama ini.


"Dannis? Kau pulang?" pekik Alea berhambur memeluk saudara kembarnya yang sejak tadi bersembunyi dibelakang Abrar.


"Pelan-pelan Alea....lihat perutmu" jawab Dannis terkekeh.


Alea mencubit lengan saudaranya sambil tertawa bahagia.


Ternyata kejutan yang dibuat Abrar tidak sampai disitu saja, Alea juga dibuat terharu ketika ia di ajak ke halaman rumahnya, dimana keluarga mertua dan adik-adik iparnya juga datang merayakan ulang tahun perempuan yang mudah merajuk belakangan ini, mereka membuat pesta kecil-kecilan dengan acara bakar daging dan makan-makan antar dua keluarga.


Alea memeluk suaminya "Terimakasih sayang....kau membuat perasaanku begitu berbunga malam ini" ucap Alea pada Abrar.


"Aku bahagia melakukannya, selamat ulang tahun sayang" jawab Abrar membalas pelukan istrinya dengan penuh cinta.


******


Sebelum bersiap ke kantor, sudah menjadi tugas Abrar untuk membangunkan dan memandikan dua bayi lelaki yang hadir selama empat bulan terakhir dalam keluarga kecilnya.


Bayi-bayi lucu itu hanya bisa menggeliat dan tersenyum ketika mendapati wajah pria yang menjadi daddy nya itu mengganggu tidur mereka.


"Waktunya mandi sayang-sayangnya daddy...." ucap Abrar pada kedua putranya.


Abrar begitu telaten meski memandikan dua bayi itu secara bergantian, setelah menyiapkan segala keperluan sang bayi dibantu dua perempuan yang menjadi pengasuh mereka.

__ADS_1


Setelah berpakaian rapi Abrar menggendong kedua buah hatinya menuju kamar mereka, selain ingin bersiap akan ke kantor ia juga bingung sejak tadi Alea belum juga keluar dari kamar yang biasanya perempuan itu sudah siap berada di dapur.


Mendengar suara dari kamar mandi membuat Abrar heran dan cemas, ia pikir Alea sedang sakit hingga terdengar suara muntah dari kamar mandi, pria ini membaringkan kedua bayi lelaki yang sudah pandai tertawa dan tengkurap itu di atas ranjang mereka dan segera menyusul sang istri.


Baru saja akan masuk ke kamar mandi rupanya Alea lebih dulu keluar dari sana dengan wajah pucat dan memegang sesuatu ditangannya.


"Sayang kau sakit? Wajahmu pucat aku juga mendengar kau muntah, sepertinya kau masuk angin, beristirahatlah biar aku saja yang membuat sarapan" ucap Abrar membelai wajah istrinya.


"Aku bukan hanya masuk angin, tapi juga kemasukan benih mu lagi......" jawab Alea menggigit bibir bawahnya menatap Abrar sambil menyerahkan tespack ditangannya.


Abrar menerima alat uji kehamilan itu dengan menelan ludah, melihatnya dengan jelas kemudian beralih menatap wajah Alea.


"Sayang?" ucap Abrar bingung ingin berkata apa lagi.


"Aku hamil lagi" jawab Alea.


Abrar menepuk keningnya seraya melirik dua bayi lelaki yang sedang asyik menghisap ibu jari mereka.


"Sayang.....putra kita baru genap empat bulan, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Abrar menatap tespack itu lagi.


"Ini semua salahmu, kau tidak pernah mau memakai pengaman"


"Kenapa menyalahkan ku? Kenapa tidak kau saja yang ber kb? Aku mana mau pakai pengaman itu akan sangat mengganggu dan tentu saja mengurangi sensasi rasanya" jawab Abrar tidak mau kalah.


Membuat Abrar gemas, pria ini menarik pinggang istrinya hingga menempel.


"Apa kita akan terus berdebat karena ini? Rejeki tidak boleh ditolak sayang....aku tidak keberatan dengan kehamilanmu aku hanya takut kau kecewa saja karena belum bisa melanjutkan menjemput gelar dokter mu" ucap Abrar mencium pipi istrinya.


Alea menggeleng seraya tersenyum.


"Sepertinya aku akan fokus menjadi ibu rumah tangga saja, membesarkan anak-anak seperti yang mama lakukan pada kami dulu, aku bisa menjadi dokter untuk keluarga kita saja" jawab Alea menampilkan senyum manis dan deretan gigi rapinya.


Abrar menempelkan kedua kening mereka dengan kedua tangan meraih wajah istrinya.


"Kita akan bahagia bersama anak-anak sayang, aku mencintaimu Alea....selalu mencintaimu" ucap Abrar dalam.


"Aku juga mencintaimu bang Abrar.....sepertinya aku memang menuruni mama ku yang bakal punya anak banyak" jawab Alea terkekeh.


Abrar meraih bibir istrinya, mereka berciuman dengan penuh cinta, hingga sebuah tangis menghentikan adegan mereka.


Abrar terkekeh, mereka mendekati kedua bayi lelaki yang mencebikkan bibirnya kedepan mengekspresikan kesedihan karena sejak tadi mereka diabaikan.


"Hei....kenapa menangis sayang? Kalian akan menjadi abang tidak lama lagi, seharusnya berbahagia bukan...." ucap Abrar menggendong salah satunya, disusul Alea menggendong satunya lagi.

__ADS_1


"Kau pikir mereka akan jadi abang tukang bakso?" celetuk Alea.


"Aku saja di panggil abang sama Arkan"


"Tidak.....dua bayi kita akan di panggil kakak saja" jawab Alea.


"Abang"


"Kakak"


"Tentu saja mereka akan di panggil abang"


"Tidak....kakak saja"


"Abang"


"Kakak" jawab Alea tidak mau kalah.


"Alea...." ucap Abrar memutar bola mata malas.


"Bang Abrar" bentak Alea.



Sampai si kembar kembali menangis dibuatnya, Alea dan Abrar saling memandang dan tawa mereka pecah melihat raut wajah si kecil sambil mencium gemas pipi gembul bayi yang segera tertawa geli oleh ulah kedua orangtuanya.


End



Hot daddy



Hot Mommy


####


Terimakasih banyak atas atensi para readers selama novel ini on going, ini episode terakhir jika ada salah author minta maaf ya selama nulis dari jaman El-Kemal sampe Alea-Abrar.


Tapi author masih berharap para readers disini masih mau menyambung tali silaturrahmi dengan author di novel "ku lepas kau dengan ikhlas" ya yang akan author tuntaskan dan fokus dengan kisah Bee - Zayn yang akan update insyaallah setiap hari seperti biasa.


Tetap semangat semuanya, sehat selalu love u all......

__ADS_1


__ADS_2