Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 52


__ADS_3

Di perjalanan Abrar terus menggenggam tangan istrinya sesekali ia kecup dengan lembut, Alea memperhatikan wajah suaminya manja sungguh Alea bahagia Abrar mulai melunak mengenai ayah kandungnya, meski ia tidak tahu apa yang ada di hati pria itu.


Tidak banyak yang mereka bicarakan selama di perjalanan, Abrar sibuk dengan pikirannya sendiri begitupun Alea sibuk memejamkan mata karena ia masih mengantuk karena ulah suaminya semalam.


Tidak terasa mereka sampai pada sebuah rumah besar tempat tumbuh dan berkembangnya Abrar hingga remaja, rumah dimana mama Bella dan kedua putranya merajut harapan baru untuk masa depan lebih baik bersama suami yang menerima dan mencintainya setulus hati.


Abrar terkekeh melihat istrinya masih terpejam, ia mencium seluruh wajah Alea dengan gemas hingga perempuan itu terpaksa membuka mata dan menatap kesal pada suaminya karena merasa terganggu.


"Bang Abrar, aku masih mengantuk" ucap Alea mendorong pelan dada suaminya.


"Kita sudah sampai sayang"


"Benarkah?" Alea membuka mata dengan sempurna sambil melihat sekeliling dan benar saja mereka sudah berada di halaman rumah mertuanya.


"Ayo turun" ajak Abrar seraya membuka pintu bagiannya.


"Gendong" rengek Alea pada suaminya.


Abrar hanya bisa menghela napas dan geleng kepala, segera ia melakukan perintah istrinya menggendong tubuh mungil nan cantik masuk ke rumah, Alea tersenyum puas dan mengecup pipi suaminya lalu saling melempar senyum sebelum masuk ke rumah besar itu.


Vina yang kebetulan baru turun dari kamarnya tidak sengaja melihat pasangan kakak iparnya itu masuk dengan Alea meringkuk manja dalam gendongan Abrar, membuat Vina mengernyit heran sebab ia pikir Abrar akan marah pada Alea mengenai rahasia papa kandung suami mereka, namun pikirannya terbantahkan ketika matanya dengan jelas melihat Abrar terus tersenyum pada istrinya itu tanpa beban seperti tidak ada hal yang terjadi di antara mereka.


"Huh.....aku sangat muak melihat tingkahmu Alea, kau berlagak seorang putri raja saja disini, dia tidak ada bedanya denganku sama-sama menantu kenapa dia bersikap seolah ini rumahnya sendiri, ini menyebalkan" gumam Vina menatap kesal Alea dan Abrar.


Belum juga Vina sampai pada anak tangga terakhir, ia kembali menghela napas kasar melihat mama mertuanya menyambut Alea dengan lembut.


"Sayang....apa kau sakit? Kenapa istrimu bang Abrar?" tanya mama Bella heran melihat menantunya di gendong.


Belum juga Abrar ingin menjawab namun lebih dulu Alea menyela.


"Aku mengantuk ma....semua karena ulah bang Abrar semalam" Ucap Alea seraya dengan tatapan menggoda pada suaminya, membuat pria itu membesarkan mata dan merasa malu dengan ucapan Alea yang frontal.


Mama Bella terkekeh mendengarnya, ia pikir Alea terluka.


"Astaga.....mama malu mendengarnya bang Abrar" jawab mama Bella tertawa menatap putra sulungnya yang berwajah memerah.

__ADS_1


"Sayang kau membuatku malu" ucap Abrar pada istrinya sambil berbisik.


Alea mengecup pipi suaminya lagi.


"Baiklah turunkan aku, aku sudah lebih segar sekarang" jawab Alea santai dan ia pun kembali berdiri di kakinya sendiri.


"Mama ingin bicara apa?" tanya Abrar langsung.


"Kita bisa bicara nanti, sambil menunggu bang Arkan pulang kita bisa duduk dulu di ruang keluarga" ajak mama Bella pada Abrar, dan mama Bella segera menarik tangan menantunya menuju kesana.


Vina memutar bola matanya malas melihat pemandangan tersebut.


*****


Sampai ruangan keluarga kembali Abrar bertanya pada mamanya tentang hal yang ingin dibicarakan sekarang, Alea menarik napas dalam dan memutuskan untuk meninggalkan ibu dan anak itu untuk bicara berdua saja.


"Sayang....aku ingin menemui Vina saja, kau bisa bicara dengan mama sambil menunggu bang Arkan pulang" ucap Alea pada Abrar.


Lelaki itu mengangguk dan Alea pun berlalu berniat mencari keberadaan iparnya.


Alea tersenyum melihat perempuan yang tengah hamil muda itu sedang menikmati cemilan dan sibuk dengan ponselnya di ruang televisi, Alea mendekatinya sambil melirik ternyata Vina tenga asyik berbelanja online.


"Hmmm" jawab Vina malas.


"Hei.....kenapa kau cemberut begitu? Ini bahkan belum siang Vina...." Alea terkekeh melihat wajah iparnya yang tampak kesal.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Alea" ucap Vina menatap Alea serius.


"Apa?"


"Apa yang telah kau lakukan pada bang Abrar? Maksudku kemarin aku melihat jelas raut marah dan kecewanya setelah mengetahui istrinya yang tercinta ini sudah menyembunyikan sesuatu yang besar darinya, sesuatu yang sangat enggan untuk di ingat kedua suami kita selama ini, tapi hari ini aku lihat kalian baik-baik saja?"


Alea mengernyitkan dahi.


"Apa kau berharap aku bertengkar dengan suamiku perihal itu? Ha ha ha kau terlalu jujur Vina"

__ADS_1


Vina berdecak mendengar tawa Alea sambil tangannya bersedekap di dada.


"Vina....Vina....kau tidak mengenalku dengan baik, tidak ada masalah yang terlalu berat bagiku, sekalipun itu masalah besar yang terjadi dalam hidup suamiku, kau tahu kami baru saja darimana? Kami dari rumah sakit menjenguk papa Agung" jawab Alea enteng.


"Benarkah?" tanya Vina terheran-heran bagaimana bisa iparnya itu dengan mudah menerima ayah kandung yang telah lama menghilang selama ini, bahkan suaminya saja masih ingin menyangkal bahwa pria tua itu masih hidup hingga sekarang.


"Kenapa kau terkejut seperti itu Vina? Bukankah hal yang biasa terjadi salah paham antara ayah dan anak, semuanya akan membaik seiring waktu, apa kau tidak bahagia mendengar suami kita akan kembali akur dengan ayahnya?"


"Itu bukan urusanku Alea, aku sedang hamil aku tidak mau berpikir terlalu berat akan masalah mereka, aku hanya heran saja ternyata suamimu tidak setegas yang ku kira, sepertinya bang Abrar lelaki lembek dan mudah terpengaruh oleh seseorang, contohnya saja kemarahan selama berpuluh tahun bisa melunak hanya karena kau, entah apa yang kau lakukan padanya Alea" jawab Vina begitu saja.


Alea ternganga mendengar ucapan dari mulut iparnya.


"Astaga Vina, kau mengatai suamiku seperti itu, dia iparmu Vina....huh aku tidak percaya ini kau bisa bicara seenaknya saja" kesal Alea.


"Bukankah benar begitu, seharusnya suamiku yang pantas menduduki jabatan bang Abrar, apa kau sadar Alea pekerjaan bang Abrar sering di limpahkan ke suamiku hanya karena bang Abrar ingin menuruti kemauanmu, kau juga sering mengganggu pekerjaan mereka dengan sering datang ke kantor, bang Abrar terlalu lunak padamu, papa Ricko telah salah menempatkan jabatan itu pada suamimu"


Karena selama Vina bekerja dikantor sebelum ia menikah dengan Arkan, perempuan ini sudah sering melihat Alea datang seenaknya mengganggu Abrar bahkan pria itu rela meningalkan tamu hanya demi Alea, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Vina hingga ia menganggap Alea sebagai pengganggu pekerjaan itu sampai Arkan yang harus menyelesaikannya jika Alea sudah berhasil menguasai Abrar di sana.


"Seharusnya jadi pria pemimpin itu harus tegas meski pada istrinya sendiri, huh....aku heran kenapa papa Ricko tidak menyadari ini" ucap Vina lagi dan lagi membuat wajah Alea memerah mendengarnya.


"Oh apa kau iri karena itu Vina? Ha ha ha....aku akan sangat bahagia jika itu terjadi, jadi aku bisa menikmati waktu berdua dengan suamiku lebih banyak lagi, aku sama sekali tidak tertarik dengan jabatan bang Abrar di kantor Vina, aku bahkan ingin mengurungnya di rumah saja jika aku bisa, pantas saja kau di duakan karena kau sibuk memikirkan hal yang menjadi ranahnya para lelaki hingga kau melupakan kualitas waktu untuk berdua dengan suamimu, aku tidak heran kenapa bang Arkan sampai menikah lagi, aku rasa karena kau lebih sibuk berbelanja seperti sekarang dan menghabiskan uang suamimu daripada memperhatikannya" jawab Alea tidak mau kalah.


"Apa kau menyindirku Alea?" tanya Vina kesal menatap Alea.


"Itu kenyataan bukan? Aku rasa kau terkena sindrom orang kaya baru Vina, hingga kau melupakan tugasmu sebagai istri yang sesungguhnya, apa kau tahu kenapa bang Abrar selalu lunak dan tunduk padaku? Jawabannya adalah ranjang Vina, iya ranjang....karena di ranjanglah aku bisa menundukkannya dari masalah apapun termasuk masalah papa Agung sekarang, itu yang belum maksimal darimu Vina karena kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, aku rasa ranjang Melati lebih hangat dari ranjangmu" ucap Alea seraya mengejek.


Vina benar-benar marah oleh ucapan itu, ia menggertakkan giginya geram.


"Jika begitu bujuklah suamimu untuk mundur dari jabatannya, bukankah orangtuamu sudah kaya Alea kenapa bang Abrar tidak di kantor ayahmu saja, buktikan padaku kau bisa menundukkan bang Abrar dalam hal apapun, biarkan bang Arkan yang menjadi pemimpin, aku tidak peduli apa yang baru saja kau katakan Alea......bukankah posisiku sebagai istri sahnya sudah sangat membuktikan bahwa akulah nomor satu bagi suamiku"


"Mereka bersaudara Alea kau belum saja melihat jati diri bang Abrar yang sesungguhnya, semua lelaki itu sama saja, aku yakin kau pun akan di madu nantinya, siapa yang tidak tertarik pada suamimu yang tampan itu....kau tidak tahu saja selama aku bekerja disana sudah sangat banyak wanita yang mendekati bang Abrar hanya saja aku rasa mereka belum beruntung, tapi tidak tahu selanjutnya seperti apa terlebih kau belum bisa memberinya keturunan hingga sekarang padahal kau tidak ber kb, apalagi memang suami kita punya garis keturunan ayah yang juga suka menduakan istrinya" jawab Vina tanpa takut.


"Ck.....aku rasa kau telah menjual suamimu Vina" jawab Alea singkat sambil berlalu dari sana, ia merasa akan gila jika menghadapi iparnya yang menyebalkan itu.


*****

__ADS_1


Author rasa si Vina cocok dijadikan odading mang oleh ni.....ya ga sih.....awas ya Vina.


lanjutttt?


__ADS_2