
Nara menatap kepergian Dannis dari jendela, gadis itu merasa senang bahwa ia bisa terbebas dari Dannis malam ini tapi entah kenapa ia merasa sedih dibalik ini semua.
Nara kembali ke kamar berniat ingin beristirahat, namun urung ketika ia baru teringat akan perintah Dannis untuk membereskan kamar lelaki itu dan menyusun pakaiannya dalam lemari.
"Huh hari ini benar-benar melelahkan, berjalan kaki sejauh 500 meter, langsung berubah jadi pelayan rumah besar ini sendirian pula.... Pria itu benar-benar menyebalkan", gerutu Nara sambil kakinya terus melangkah menaiki tangga dimana ia baru bisa menemukan kamar suami sekaligus majikannya.
"Kenapa nasibku begini-begini saja sejak kecil.... Bahkan di rumah orangtua ku sendiri pun aku tetap saja jadi upik abu", gumam Nara lagi ketika sampai di kamar Dannis.
Matanya berpendar, ia menyusuri meja laci yang terpajang beberapa figura di sana, Nara tersenyum ketika memegang dan menatap sebuah photo lelaki dan perempuan kecil yang ia yakini itu adalah suami dan kembarannya Alea.
"Kenapa mereka lucu sekali..... Andai tuan Dannis masih selucu ini hingga sekarang, tapi sayang dia berubah jadi monster ketika menikah denganku", gumam Nara terkekeh geli.
Nara bisa menebak bahwa meja laci tersebut dikhususkan untuk menaruh beberapa kenangan masa kecil Dannis dahulu. Iya faktanya kamar yang pria itu tempati sekarang adalah kamarnya dan Alea sewaktu masih kecil.
Terdapat pula sebuah album photo di sana, Nara segera melihat-melihat isinya yang mana membuat perempuan ini sangat iri akan kebersamaan Dannis dan adik-adiknya di sana.
"Andai aku memiliki banyak saudara, mungkin hidupku tidak akan seburuk ini", gumam Nara menitikkan airmata namun segera ia hapus.
"Oh Ranti..... Ibu.... Meski kalian sering memperlakukan aku dengan buruk tapi aku tetap merindukan kebersamaan kita, karena hanya kalian yang aku punya, kenapa ibu tega menjual rumah lihatlah aku tidak punya tujuan untuk pulang, aku benar-benar sendirian sekarang".
Kemudian Nara menuju lemari yang akan menjadi tujuan utamanya, yaitu membereskan pakaian pria yang menjadi suaminya itu.
Ia mulai membuka koper Dannis dan menyusun rapi pakaian suaminya di lemari, di dalam koper terdapat beberapa figura berukuran kecil yang menampilkan senyum lebar pria itu dengan seorang perempuan yang berhasil membuat Nara kembali iri.
Gadis itu menaruh dan memajangnya di atas nakas samping ranjang Dannis.
"Kau beruntung nona Naya, bahkan photo mu saja selalu menyertai suamiku....", ucap Nara mengusap gambar perempuan yang pernah menjadi bagian dari hati dan hidup Dannis bahkan hingga sekarang.
Nara menahan sesak di dadanya setelah merapikan kamar itu, matanya kembali menatap figura kecil yang baru saja ia pajang di atas nakas.
"Perasaan apa ini? Apa aku berharap akulah yang berada di figura itu? Oh Nara.... Jangan berharap hal yang mustahil bahkan dalam mimpimu sekalipun", gumam Nara kesal sendiri mengingat ucapan Dannis tadi siang.
Karena merasa lelah Nara memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak, ia pikir Dannis belum akan pulang, matanya yang kian mengantuk itupun perlahan lelap dalam posisi duduk dengan kepala ia sandarkan di tepi ranjang.
Nara memang tidak memilih tempat untuk tidur, jika sudah mengantuk ia bisa tidur di mana saja.
__ADS_1
Sampai pada sebuah tepukan di bahunya membuat ia kembali membuka mata.
"Huh.... Kenapa kau datang dalam mimpiku tuan Dannis yang jahat, pergi pergi sana, aku tidak ingin melihatmu, kau jahat padaku padahal aku tidak punya salah padamu, huh kau menyebalkan pergi pergi sana jangan ganggu tidurku", igau Nara menepis tangan pria yang terlihat nyata di sampingnya.
"Hei.... Bangun, kau pikir ini mimpi? Jangan harap aku datang dalam mimpimu bodoh, ayo keluar dari kamarku sekarang", sergah Dannis pada Nara yang mengerjapkan matanya berulang.
Nara berdiri, ia bukan segera pergi malah memegang wajah Dannis dengan heran.
"Tuan... Ini benar-benar kau? Apa kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali, iya iya baiklah aku akan keluar sekarang".
Dannis terdiam saat tangan cantik itu memegang rahangnya, ia menatap jelas wajah lelah Nara dan mata indah yang sayu menatapnya dalam keadaan setengah sadar.
"Tapi ini terasa seperti mimpi, jika ini mimpi apa aku boleh mencium mu tuan Dannis? Bukankah kau suamiku tentu saja boleh".
"Apa?", Dannis terkejut dan kembali terdiam saat bibir Nara mengecup bibirnya dengan lembut, entah kenapa ia sama sekali tidak menghindar.
"Kau sangat tampan suamiku, jika ini nyata pasti kau sudah berubah menjadi monster lagi....", ucap Nara lagi sambil mengusap rahang Dannis.
Pria itu ingin menjawab karena kesal oleh kata monster itu namun Nara kembali berkata "Andai kau sejinak ini tuan mungkin saja aku akan jatuh cinta padamu", ucap Nara lalu mencium bibir Dannis lagi dan lagi.
Hanya sebuah kecupan namun efeknya mampu membuat irama jantung pria itu menjadi tidak beraturan.
Nara mengusap rahang Dannis sebelum berpaling dan meninggalkan kamar yang pria itu mematung di sana.
Dannis ingin tertawa saat Nara menabrak pintu ketika ingin keluar kamar, gadis itu mengaduh memegang keningnya.
Kemudian Dannis menoleh pada figura yang terpajang di atas nakas dengan perasaan bersalah.
******
"Mereka sudah menikah?", tanya Karin terkejut.
"Iya, maaf kami memang tidak mengundang siapapun, pernikahan sederhana di KUA saja, undangan akan diberikan nanti untuk rencana resepsi yang akan di adakan beberapa bulan lagi, ini kemauan Dannis dia ingin adiknya Sheira yang mengadakan pesta terlebih dahulu", jawab El panjang lebar.
Karin kembali terdiam.
__ADS_1
"Kau kenapa? Apa kau sudah mengatakan sesuatu pada Reno? Kemarin putramu mampir ke sini tapi dia sama sekali tidak membahas tentang Nara".
Karin menggeleng.
"Aku belum memberitahunya tentang gadis yang sudah resmi menjadi menantumu El".
"Ayolah Karin, kenapa kau seperti ini.... Lambat laun juga mereka akan bertemu seberapa pun kita menyembunyikannya, lebih baik kau bicara dari sekarang".
Karin kembali menggeleng.
"Entahlah El aku belum bisa untuk melihat raut kecewa putraku akan hal ini nantinya, aku bersyukur Dannis telah pindah jika tidak mungkin saja mereka bertemu di sini kemarin".
"Mereka bersaudara Karin, pasti akan bertemu nantinya.... Aku yakin putramu akan mengerti jika kau yang menjelaskan dan menenangkannya".
"Aku belum bisa El, bagaimana jika Reno tidak terima? Aku tidak ingin dia bermusuhan dengan saudaranya sendiri hanya karena seorang wanita".
Eliana menghela napas, ia tidak bisa memaksa dalam hal ini, hanya saja ia pun ikut khawatir jika suatu saat Reno mengetahui bahwa wanita yang ia cintai itu telah menjadi istri saudaranya sendiri.
Memikirkannya saja membuat Eliana sesak.
*****
"Kenapa tuan menatap ku seperti itu?", tanya Nara ketika ia menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Jangan GR, aku tidak menatapmu... Pergilah jangan membuat seleraku menjadi hilang", elak Dannis ketika pertanyaan itu muncul dari bibir manis yang berani mengecupnya semalam.
Pria itu terheran ketika pagi ini Nara bersikap seperti biasa.
Nara malas berdebat pun segera meninggalkan pria itu sendiri di meja makan.
"Apa dia benar-benar tidak ingat tentang semalam?", gumam Dannis pelan menatap punggung Nara yang menjauh dari meja makan sesuai perintah.
Yang kangen papa Kemal, anda satu frekuensi sama saya, ayo bernostalgia ini visual waktu si papa masih bermain-main sama mama El ya, aduh.....
__ADS_1