
...Selamat membaca...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Maafkan ketidakberdayaanku ini sayang,,,, Maafkan ketidakmampuanku menjaga kalian berdua. Semoga selalu ada maaf di sudut hati kalian untukku."
"Di mana pun kalian berada saat ini,,, aku yakin kalian tidak pergi dengan sengaja. Kalian terpaksa. Hiduplah dengan baik dengan cinta yang tetap ku jaga seutuhnya untuk kalian. Aku tau,,, cintaku saja mungkin tak cukup untuk menjamin akankah kalian hidup layak diluar sana,,, tapi cintaku ini cukup untuk membuatku bertahan hidup hingga kelak tuhan pun lelah dan luluh dengan pinta pintaku,,,"
"Jaga Delvara baik baik untukku sayang,,, Om papa janji akan tetap berusaha menemukan kalian. Tubuh ini boleh lumpuh tapi hati dan jiwa ini tak akan pernah menyerah untuk bisa menemukan kalian."
"Bersabarlah sedikit lagi sayang sayangnya papa,,,"
Buliran buliran bening mengalir membasahi sudut sudut mata Dion lalu terjun bebas membasahi pelipisnya dan akhirnya membasahi bantalnya.
"Permisi mas Dion,,, mau saya bantu hapus airmatanya?" dengan pelan dan lirih Mela mendekat dan menawarkan bantuan.
Hatinya merasa begitu teriris melihat kondisi tuan mudanya itu. Tergolek lemah dengan beban jiwa yang begitu berat. Lumpuh tak berdaya dan makin tak berdaya dengan kepergian sang istri belahan jiwa bersama buah hati tercinta.
"Biarkan saja Mbak. Tinggalkan saja sendiri. Saya hanya ingin sendiri." lirih Dion.
"Baik mas." Mela patuh.
"Pastikan tidak ada yang masuk kecuali dokter dan suster sebelum aku yang meminta." pesan Dion lagi.
Mela kembali mengangguk patuh kemudian keluar kamar dengan rasa bersalah dan kesedihan membuncah. Mela mengira Dion tentu terpukul dengan drama kepergian Karin dan Delvara.
"Gimana mas Dion?" tanya Darwin setelah Mela menutup pintu dengan pelan.
"Kasihan mas Dion begitu bersedih dengan semua ini. Gak tega rasanya aku mas Darwin. Ini belum lagi berita meninggalnya tuan. YaTuhan,,,, berat sekali cobaanMU untuk mas Dion." Mela tak tahan lagi untuk tidak menangis.
"Mel,,, kamu ngerasa gak kita juga turut menyakiti mas Dion dengan terus bungkam?" tanya Darwin.
__ADS_1
"Ya merasa mas tapi kita ini bisa apa?" Mela merasa kesal dengan lemahnya posisinya.
"Kita jujur saja sama mas Dion yuk. Aku yakin kalau kita jujur,,, mas Dion akan tetap mempertahankan kita. Tidak akan memecat kita. Mas Dion akan melindungi kita dari nyonya. Gimana menurutmu??" tanya Darwin.
Belum sempat Mela menjawab,,, keduanya dikejutkan dengan suara ketus dan sinis.
"Lalu kalian pikir siapa yang bisa menyelamatkan kalian dariku?? Dion?? Bisa apa dia?? Dia hanya tubuh gak guna yang melindungi diri sendiri saja gak mampu!!! Boro boro mikir melindungi kalian!!!" Hana sudah berdiri berkacak pinggang di sana.
"Non Hana,,, Ng,,,Ng,,," Mela pucat pasi ketakutan.
"Berani ya kalian diam diam merencanakan untuk mengkhianati mama!!" ketus Hana.
"Ampun non,,," sekali lagi Mela mengiba, berbeda dengan Darwin yang sama sekali tak gentar.
"Kamu kayaknya nantang ya sopir rendahan,,,???" tanya Hana melihat ekspresi Darwin.
"Saya tidak takut dan kalau pun saya memang harus dipecat karena saya melakukan hal yang benar kali ini,,,maka saya tidak akan menyesal." tegas Darwin.
"Baik,,,saya juga tidak sudi mengabdi pada keluarga yang kini tinggal tersisa dua wanita tak punya hati seperti anda dan nyonya. Tuan saya yang baik hati sudah pergi dan tuan muda saya semoga memaafkan saya." Darwin benar benar tidak peduli lagi.
"Beraninya kamu mengataiku tidak punya hati!!!" Hana kesal bukan main.
"Mas Darwin,,,," Mela menarik narik lengan Darwin agar sadar dengan perkataannya tadi.
"Biar saja Mel. Toh juga wanita bengis ini sudah memecatku. Aku tak perlu lagi menahan nahan apa yang ingin kukatakan." jawab Darwin.
"Baik,,, karena kamu makin kurang ajar di depanku,,, bukan hanya kamu saja yang ku pecat tapi juga Mela!!!" Hana berang.
"Mana bisa begitu???" protes Darwin.
"Suka suka aku!!! sekarang pergi kalian orang rendahan!!! Jangan pernah muncul lagi di depanku." usir Hana bertepatan dengan mama Herna yang muncul.
__ADS_1
"Ada apa ini Han?? Kenapa mereka diusir? Mama kan masih butuh mereka juga."
"Asal mama tau ya,,, mereka ini mau mengadukan kita ke Dion. Mereka pikir Dion akan bisa melindungi mereka dan menghukum kita. Kurang ajar banget kan?? Makanya Hana usir." jelas Hana.
"Benar itu Mela?? Darwin?? Kalian kan sudah janji??" mama Herna heran juga dengan perubahan pendirian keduanya.
"Satu lagi ma,,,Mereka berani mengatai kita ini wanita tidak punya hati!! Songong banget kan?? Gak sadar diri,,, Cuma pembokat aja sok sok'an menilai atasan."cibir Hana.
"Masak sih?? Kok kurang ajar begini kalian jadinya?? Kurang apa sih selama ini kami pada kalian?? Kalian juga paham kan kenapa kami melakukan semua ini?? Ini demi kebaikan tuan muda kalian lho,,," mama Herna menegaskan alasan dibalik dilakukannya semua sandiwara ini.
"Sudahlah ma,,,, Gak ada gunanya menjelaskan pada orang orang bodoh ini. Otak mereka gak akan sampai kesana. Mending mama Hana carikan pembantu dan sopir lain saja nanti. Yang jelas yang setia dan bukan yang diam diam mau menusuk kita seperti mereka ini." sinis Hana melirik Mela dan Darwin.
Baik Mela dan Darwin sama sekali tak menjawab.Bukan mereka kehabisan kata melainkan malas menjawab wanita dengan lidah bercabang itu. Enggan mendapat masalah baru lagi jika menjawab lagi.
"Masih mau apalagi di sini?? Pergi sana!! Masih punya muka kalian di sini??" usir Hana sekali lagi.
"Kami cuma mau ketemu dan pamit sama mas Dion dulu." jawab Darwin.
"Hadeeehhh,,, gak usah sok sopan dan diingat deh sama Dion. Dion gak akan mati kalau kalian gak pamit juga. Udah sana,,, hus,,,huss,,, sana,,,," Hana mendorong dorong Mela dan Darwin agar segera pergi.
Lalu dengan wajah jijiknya ia mengelap tangannya dengan tisu basahnya seolah baru saja memegang kotoran. Dan baginya memang keduanya adalah parasit yang harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum mengganggu jalannya semua rencananya menguasai semuanya.
Hana baru tersenyum senang ketika keduanya menghilang di belokan gedung itu.
"Segera carikan mama asisten dan sopir yang baru ya Han." pinta mama Herna.
"Ya ya,,, jangan bawel dulu. Sekarang yang lebih penting adalah menyampaikan pada Dion berita tentang papa." Hana mengentengkan permintaan mama Herna karena memang sebenarnya ia tak berniat mencarikan pembantu atau sopir baru lagi.
Ia tak mau terlalu banyak orang masuk dan mengganggunya lagi.
"Enak saja minta parasit baru,,, yang dua baru saja pergi." batin Hana licik.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...