
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Kriiiingg,,,,
Obrolan santai antara kakak adik siang itu di sebuah ruangan VVIP rumah sakit yang terbilang elite di negara itu jadi terjeda karena ponsel Yusuf berdering. Wajah Yusuf berubah kala melihat siapa nama penelponnya.
"Kenapa harus telpon sih Rin? Ini ada Dion disini bagaimana mungkin aku bisa bicara denganmu." batin Yusuf.
Akhirnya Yusuf memilih untuk mereject panggilan itu.
"Loh kok gak dijawab Suf?" tanya Dion.
"Gak penting bang." sahut Yusuf tapi wajahnya kembali berubah ekspresi karena Karin kembali menelpon.
"Gak apa apa. Angkat saja. Kalau gak penting gak mungkin sampai telpon lagi kan." ujar Dion.
"Iya bang. Yusuf jawab telpon dulu ya." kata Yusuf lalu keluar ruangan.
"Assalamualaikum Rin. Ada apa?" tanyanya saat menjawab telpon Karin.
"Waalaikumsalam. Kamu sibuk ya? Aku ganggu ya?" tanya Karin balik.
"Oh nggak kok. Aku lagi temanin bang D aja di rumah sakit." jawab Yusuf.
"Oh ya,,, bagaimana keadaannya? Parahkah? Sudah membaikkah??" tanya Karin prihatin.
"Tidak usah cemas. Aku berikan yang terbaik untuknya." jawab Yusuf dengan perasaan cemburu buta karena Karin mencemaskan pria yang sebenarnya adalah suaminya sendiri.
"Ya Tuhan,,, baru begini saja hamba sudah sangat cemburu. Apalagi kalau melihat kebersamaan mereka?" batin Yusuf.
"Syukurlah kalau begitu." Karin lega meski tak tau siapa pasien itu sebenarnya.
"Kamu tadi ada apa telpon?" tanya Yusuf merubah pembahasan.
__ADS_1
"Oh ya,,, aku cuma mau tanya apa kamu sudah sempat mencarikanku orang yang bisa bantu di dapur?"
"Astaga. Maaf Rin aku lupa kabari kamu kalau ibu ibu yang maunya kutawari itu ternyata sudah dapat pekerjaan. Jadi saat ini sih aku masih belum punya bayangan kira kira siapa yang bisa. Maaf ya,,, kalau kamu mau, tunggu beberapa hari lagi siapa tau aku ketemu orang lain." ucap Yusuf merasa bersalah.
Ia merasa bersalah bukan karena tidak menemukan orang yang tepat seperti apa yang dikatakannya itu melainkan ia merasa bersalah telah membohongi Karin.
Ia yang selalu jujur pada Karin kini mulai bisa berbohong dan itu demi kebersamaan indahnya dengan Karin yang tak rela dilepaskannya begitu saja.
"Maaf Rin,,, sebenarnya aku ingin menawarkan pekerjaan itu pada mama Herna tapi tidak mungkin kan setelah aku tau hubungan kalian. Itu sama saja dengan menyerahkanmu pada Dion. Dan aku tidak siap untuk itu." batin Yusuf.
"Oh begitu ya. Baiklah. Tidak apa apa. Mungkin aku juga bisa sambil cari cari sendiri juga ya. Oh ya aku mau keluar sama Del habis ini. Ada beberapa barang kebutuhan Del yang habis. Aku harus belanja." kata Karin.
"Apa kamu perlu kuantar?" tanya Yusuf.
"Tidak usah. Lagipula kamu juga lebih dibutuhkan oleh bang D. Aku baik baik saja. Sesekali kamu harus perbolehkan aku keluar biar aku gak bosen dirumah terus. Nanti kulitku makin putih lho hehehe,,," canda Karin.
"Kan jadi makin glowing toh dan aku akan makin sayang dan cinta." ucap Yusuf.
"Kamu mulai lagi." entah kenapa kali ini pipi Karin terasa panas karena memerah dikatai begitu.
"Mama Delvara,,, Harus mulai belajar membiasakan diri dengan segala pujian papa Delvara ini lho." goda Yusuf lagi.
"Ya sudah kalau mau keluar. Hati hati ya. Kabari aku kalau butuh apa apa." Yusuf memecah lamunan Karin.
"Baik. Assalamualaikum." Karin menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban salam dari Yusuf.
Jantungnya keburu berdetak tidak karuan. Ia heran kenapa harus jadi begini. Kenapa jadi sering salah tingkah karena Yusuf.
"Jadi siapa nama calon adik iparku ini?" tanya Dion begitu Yusuf kembali masuk ke ruangannya.
Yang ditanya pun tak langsung serta merta menjawab. Tentu saja karena otaknya berputar keras bagaimana cara menyembunyikan identitas Karin dari Dion.
"Aku harus merahasiakannya." batinnya.
"Suf,,, kok malah bengong?" tegur Dion.
__ADS_1
"Eh apa bang?? Bang D tanya apa tadi?" Yusuf tergagap.
"Namanya. Siapa nama kekasih hatimu itu? Masak abangmu ini gak tau nama calon adik iparnya sih." Dion mengulang pertanyaannya tadi.
"Nana,,, Namanya Nana." Yusuf menjawab.
"Nana,,, nama yang lucu. Kapan kamu akan kenalkan kami padanya nak Yusuf?" tanya mama Herna yang baru keluar dari kamar mandi dan mendengar sedikit obrolan tentang Nana.
"Emm,,, sabar dulu ya. Kan Nananya juga masih tahap menerima Yusuf. Kalau main dikenalin nanti dia malah merasa gak nyaman takutnya." Yusuf cari alasan.
"Benar itu ma. Mendekati perempuan itu harus dengan banyak perhitungan. Biar gak salah langkah." ucap Dion kemudian.
"Ah kalian ini memang sok jago jago semua kalau urusan wanita. Buktinya almarhum papa dulu juga gak segitunya kok ke mama." ucap mama Herna sembari mengingat kenangannya dengan almarhum papa Hengki.
"Gak seru ah papa. Oh ya Suf,,,kamu bilang Nana ini sebenarnya punya suami kan? Lalu bagaimana dengan suaminya sekarang? Kamu yakin dia tidak akan menjadi penghalang bagimu?" tanya Dion yang masih tertarik pada pembahasan tentang wanita idaman hati Yusuf.
"Benar itu nak. Kamu harus pertimbangkan juga keberadaan suaminya lho. Kamu kenal suaminya juga? Kamu bilang Nana ini tetanggamu dulunya kan?" imbuh mama Herna.
Yusuf benar benar merasa bingung dihadapkan dengan dua pertanyaan tentang kehidupan Karin oleh orang orang terdekatnya. Ia harus kembali merangkai cerita untuk menjawab semua itu.
"Mmm,,,, Dia baru menerima kabar bahwa Suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi Yusuf tidak perlu khawatir masalah itu karena dia tidak akan pernah menjadi penghalang lagi." Yusuf tersenyum getir mengatakannya.
Untungnya mama Herna bukan wanita peka dan pandai membaca mimik wajah. Dion yang lebih pandai membaca situasi juga lumpuh tak bebas bergerak juga tak melihat ekspresi getir itu.
"Innalillahi,,,, Kalau begitu tugasmu makin berat tapi mulia Suf. Menikahi dan menafkahi seorang janda dan anaknya juga. Bagaimana pun kamu harus bisa menerima anaknya juga. Sayangi dia seperti anakmu sendiri dan jika kelak kamu menikahi ibunya dan kalian punya anak sendiri,,, jangan pernah bedakan rasa sayangmu." pesan Dion.
"Pastinya bang. Terima kasih sudah mengingatkanku." sahut Yusuf meski dalam hatinya ia mencibir Dion yang dianggapnya tidak mampu menyelamatkan rumah tangganya sendiri itu.
"Mungkin karena kepergian suaminya itu juga Nana jadi mulai bisa membuka hatinya untukmu nak." kata mama Herna.
"Sepertinya begitu ma. Dan karena anaknya juga sih. Kata pertama yang diucapkannya adalah papa dan dia menganggapku papanya." Yusuf berbinar mengatakannya.
"Dan anaknya,,,siapa namanya? Umur berapa?" tanya Dion lagi.
Lagi lagi Yusuf disudutkan dengan pertanyaan semacam itu.
__ADS_1
"Del,,, Namanya Del,,, Dellon." jawab Yusuf dengan suara bergetar karena ia kembali harus berbohong.
...❤️❤️❤️❤️...