Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Selamanya Akan Begitu


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🌸🌸🌸🌸...


"Semoga lo dapat tempat terindah di sisiNYA bro. Maafin gue yang gak bisa temani lo di saat terakhir lo. Sejujurnya gue sedih kehilangan lo saat gue juga butuh banget bantuan lo. Tapi gue bisa apa bro,,, Tuhan lebih sayang lo. Lo udah gak sakit sakit lagi sekarang. Lo juga bisa bertemu bidadari lo,,,Chaira pasti tersenyum menyambut lo di sana. Rest in peace my bro,,,"


Dion bersedih dengan berita meninggalnya Darren,sahabat terbaik rasa saudara itu sudah mendahuluinya menemui Sang Maha Kuasa. Kembali kepada pemilikNYA dan menemui kembali bidadari tak bersayap yang selama ini sangat dirindukannya.


Sedih sekali,,, tapi mengingat sahabatnya itu pasti tengah tersenyum didampingi bidadarinya, Dion perlahan berhenti menangisi kepergian sahabatnya itu lalu perlahan tersenyum.


"Ini hal yang sangat lo nantikan Dare,,, jadi gue akan berhenti menangis karena gue yakin lo gak suka gue begini. Gue harus turut bahagia untuk lo yang akhirnya bisa bersama Chaira lagi." batin Dion.


Seandainya bisa juga ia ingin menyeka sendiri airmatanya namun apa daya sekarang bahkan untuk itu pun ia tak mampu.


"Yang tabah ya Dion. Aku juga sangat kehilangan sosok abang terbaikku."


Suara Hana itu yang tengah menyeka airmata Dion itu terasa sangat mengganggu di telinganya. Dion hanya melirik berusaha mencari apakah benar ada kesedihan di mata Hana. Dion tau Hana memang selama ini sangat dekat dengan Darren tapi mengingat semua perubahan sifat dan sikap yang terjadi pada wanita itu membuat Dion bahkan meragukan kesedihan wanita itu.


"Anak kamu?" Dion mempertanyakan hal yang langsung ditanggapi dengan tangisan oleh Hana.


Wanita itu tersedu sedu dan terdengar sangat pilu di telinga Dion.


"Aku kehilangan calon anakku Dion. Entah kenapa Tuhan begitu tega mengambil semua orang yang ku sayangi. Aku sendirian Dion. Aku merasa hampa. Ingin rasanya aku bilang bahwa saat ini aku hanya punya kamu dan mama tapi aku tau diri,,, kamu mungkin tidak sudi kuanggap seperti itu." di sela sedu sedannya Hana bicara begitu.


"Karin,,,"


"Kita cari dia bersama sama ya. Tapi kamu harus sembuh dulu. Kamu harus semangat untuk sembuh biar bisa temukan mereka." potong Hana cepat.


"Bukannya kamu menginginkan dia jauh dariku?? Kenapa sekarang tiba tiba kamu ingin membantuku mencarinya?" tanya Dion curiga.


"Karena aku sayang kamu Dion. Aku masih mencintaimu. Aku ingin kamu bahagia walau bukan bersamaku. Apalagi jika bersamaku,,, aku akan tambah bahagia. Seperti dulu,,, hanya ada aku dan kamu. Kita berdua melewati semuanya bersama. Jujur aku rindu semua itu Dion." Hana mengatakannya sambil tertunduk lemah.


"Han,,, itu masa lalu. Benar,,, aku pernah menempatkanmu di tempat paling istimewa di hatiku tapi itu sudah lama digantikan oleh Karin. Lagipula dulu kamu yang memutuskan pergi sejauh mungkin dariku. Aku akui aku lama harus berusaha membiasakan diri tanpamu dan aku sudah berhasil melanjutkan hidup tanpamu.Aku tidak punya ruang khusus lagi untukmu dan aku minta kamu jangan banyak berharap padaku."

__ADS_1


Pembahasan itu terasa lebih tenang dan tanpa adu argumen atau kata meski hasilnya tetap tak mengubah pendirian Dion. Dion juga menegaskan bahwa saat ini diri dan hatinya adalah milik Karin dan Delvara.


"Tidak ada yang lain Han. Mengertilah." pinta Dion sekali lagi.


Hana meneteskan airmata kemudian menyekanya kembali. Hana tersenyum.


"Terima kasih atas kejujuran dan penolakanmu Dion. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap meyakinkanmu bahwa saat ini dan seterusnya,,, Aku mencintaimu. Aku akan mendampingimu." tegas Hana.


"Han,,,"


"Sudah waktunya kamu minum obat terus istirahat lagi ya. Dokter bilang kalau kondisi kamu terus stabil begini kamu bisa lebih cepat diperbolehkan pulang. Kamu boleh melakukan rawat jalan. Oh ya,,,aku juga sudah menyiapkan dokter ahli saraf terbaik untukmu di sini." Hana mengubah topik pembicaraan.


"Aku gak mau tinggal di sini. Tempat ini banyak membawa luka." ujar Dion.


"Tidak apa apa. Katakan saja kamu mau tinggal di mana? Biar aku atur ulang semuanya." Hana mencoba sangat bersabar menghadapi Dion.


"Kamu tidak perlu repot begini." tolak Dion.


Dion tak bereaksi. Berkedip pun tidak.


"Baiklah. Katakan kamu mau kemana?" Hana berusaha tak mempedulikan sikap Dion itu.


"Bawa saja aku ke Turki." jawab Dion setelah cukup lama terdiam.


"Turki?? Kenapa harus Turki?" tanya Hana.


"Entahlah. Aku tiba tiba ingin kesana. Mungkin karena tempat itu adalah tempat yang belum pernah aku kunjungi. Aku ingin cari suasana baru saja." jawab Dion.


Hana belum mengiyakan karena ia masih berpikir keras kemana perginya Karin.


"Bagus juga ke Turki. Mama setuju." mama Herna yang baru masuk dan sempat mendengar permintaan Dion itu langsung mengiyakan.


"Tapi ma,,," sela Hana.

__ADS_1


"Turki tempat yang terkenal sekarang. Siapa tau dengan begitu kamu juga akan lebih cepat bisa pulih Dion. Mama juga ingin tau seperti apa sih keindahan Cappadocia yang sempat viral karena film itu." ujar mama Herna semangat


"Ma,,," Hana beri kode mama Herna.


"Mama paham Han. Kamu takut ada Karin di sana kan? Jangan kuatir. Mereka tidak kesana kok. Mereka mama kirim ke tempat lain." bisik mama Herna meyakinkan Hana karena memang tiket yang dibelikan mama Herna untuk Karin waktu ini adalah bukan ke Turki.


Hana mengangguk senang.


"Baiklah kalau kamu dan mama memang yakin akan ke sana, aku akan urus semuanya. Kamu tenang saja ya Dion. Cukup semangatlah untuk cepat pulih. Aku tinggal dulu untuk urus semuanya ya." Pamit Hana.


"Terima kasih." lirih Dion membuat Hana berbalik mendekatinya lalu mencium keningnya lembut.


"Aku mencintaimu dalam kondisi apa pun. Ingatlah itu." bisiknya di telinga Dion membuat bulu Dion meremang karena risih bukan karena tergoda.


"Hana pamit ma." ucap Hana kemudian.


"Hati hati sayang." sahut mama Herna.


Hana menghilang di balik pintu. Mama Herna mendekati Dion, mengusap puncak kepala putra kesayangannya.


"Kamu harusnya bersyukur karena dalam keadaanmu ini masih ada yang begitu tulus mencintaimu Dion." lirih mama Herna.


"Ma,,, Seharusnya mama malu mengatakan hal seperti itu pada seorang pria dewasa yang beristri. Mama harus ingat bahwa Dion sudah terikat pernikahan dengan Karin. Tidak pantas kalau Dion menerima cinta wanita lain lagi." pungkas Dion.


"Tapi Karin kan,,,"


"Cukup ma. Istri Dion hanya Karin dan selamanya akan begitu. Dion lelah. Dion mau istirahat dulu."


Mama Herna tak menyela lagi saat Dion langsung menutup matanya mengakhiri obrolan mereka. Mama Herna hanya membantu merapikan selimut Dion lalu menghela napas.


"Suatu saat kamu akan luluh juga Dion."


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2