
"Baiklah aku akan cerita tapi kalian harus janji untuk tidak menertawakan ku nantinya" ucap Alea serius pada dua sahabatnya.
Namun belum juga Alea bercerita Nazli dan Keysa sudah terbahak-bahak duluan, mereka sudah bisa menebak apa yang akan Alea ceritakan tentang pernikahannya.
"Kalian menyebalkan, aku bahkan belum mengatakan apapun kalian sudah tertawa seperti ini" Alea kesal, ia mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Astaga Alea....tanpa kau ceritakan pun kami sudah bisa menebak, sudah ku katakan kau tidak akan tahan iman jika satu atap dengan suamimu itu, katakan pada kami apa kau jatuh cinta secepat ini?"
"Tidak....hmmm maksudku iya" jawab Alea menutup wajahnya.
Kembali dua sahabatnya tertawa dan merasa sakit perut akan jawaban dari Alea.
"Kalian benar....memang berbeda ketika menjalani semua ini setelah kami tinggal bersama, aku tidak tahu kenapa bisa secepat ini tapi aku menyerah.....aku mengakuinya sekarang" ucap Alea kembali sambil menengadahkan wajahnya ke atas.
"Lantas apa masalahnya sekarang, kau tinggal bilang dan ajak dia tidur bersama beres bukan" jawab Nazli.
Alea melirik Nazli tajam.
"Kau kira mudah, aku malu.....aku tidak tahu apa bang Abrar juga menginginkan ku atau tidak, aku berpikir dia masih menganggapku sebagai saudara, huh....ini sungguh tidak nyaman"
"Apa suami mu tidak tergoda sedikitpun padamu, kalian kan tinggal bersama rasanya mustahil saja jika bang Abrar bisa menahan hasratnya pada gadis cantik sepertimu meski tidak ada cinta sekalipun" Keysa menimpali.
"Bahkan sudah sebulan pernikahan kalian, aku rasa jika dia pria normal dia tidak akan bisa menahannya apalagi kalian sudah sah jika melakukannya" Keysa kembali memberi pendapatnya.
"Itu yang ku bingungkan, apa mungkin bang Abrar benar-benar menganggapku sebagai adiknya saja? Hingga tidak tertarik sedikitpun padaku, oh.....bagaimana ini, aku malu jika menidurinya duluan, kan lucu jika aku memperkosanya" cebik Alea yang membuat dua temannya kembali terpingkal-pingkal.
"Astaga Alea....aku rasa disini kau yang tidak bisa menahannya, apa kau pernah melihat suamimu tanpa busana, apa dia seksi? Oh aku tidak bisa membayangkan berada diposisi mu, aku saja tidak bisa diam jika melihat suamiku tidak memakai baju" Nazli terkikik geli dengan apa yang ia bayangkan.
__ADS_1
"Dia tampan dan seksi, aku bahkan sering melihatnya" jawab Alea polos.
"Apa kau menginginkannya?" tanya Keysa serius.
"Tentu saja....aku sudah dewasa, lagipula aku istrinya....ditambah sekarang aku mencintainya, oh kenapa dia sama sekali tidak tertarik padaku" Alea kembali menunduk sedih.
"Jangan bersedih dulu, aku rasa kau perlu sedikit usaha agar bang Abrar melirik kecantikanmu" jawab Keysa kembali sambil melirik Nazli.
******
Setelah mendapat berbagai saran dari dua sahabat yang telah menikah lebih dulu, Alea seperti punya semangat baru untuk pulang kerumah.
Meski ia sedikit malu untuk mengikuti saran Nazli dan Keysa, namun ia harus melakukan itu sebagai usaha untuk menarik perhatian Abrar.
Memang Abrar selalu bersikap manis pada gadis itu, namun Alea menganggap itu karena Abrar menyayanginya sebagai saudara sama seperti sebelum menikah, menurut Alea tidak ada tanda-tanda bahwa Abrar menyukainya sebagai wanita yang sesungguhnya, hingga ia masih berpikir bahwa Abrar tidak memiliki perasaan apapun padanya.
"Astaga....aku sebenarnya malu melakukan ini, tapi tidak ada salahnya berusaha bukan, oh my god....bagaimana jika benar bang Abrar tergoda nantinya? Oh...aku gugup jika itu terjadi" Alea terkikik sendiri membayangkan jika usahanya malam ini berhasil.
Alea semakin gugup ketika jam sudah menunjukkan waktu biasa Abrar pulang dari kantor.
Gadis ini bahkan sudah menunggunya sejak tadi, namun hingga malam larut Abrar pun belum kembali, Alea yang sudah menguap berkali-kali pun belum ingin mengakhiri penantian itu.
Ia masih berada di ruang tamu, karena sudah terlalu mengantuk akhirnya gadis itu tertidur sendiri dengan meringkuk memeluk bantal sofa disana.
****
Abrar pulang larut karena harus menyelesaikan urusan kantornya karena akhir bulan, ia masuk ke rumah dan terkejut mendapati Alea tengah meringkuk di sofa.
__ADS_1
"Alea....Alea....kenapa bisa tertidur disini" Abrar belum menyadari ada yang berbeda dari gadis itu.
Abrar tersenyum melihat wajah cantik Alea yang pulas, ia membelai wajah itu dengan lembut namun tidak lama keningnya berkerut menyadari penampilan Alea malam ini dimana ketika ia hendak menggendong gadis itu terlihat Alea memakai dress mini dengan belahan dada rendah tanpa lengan dan menampilkan paha mulus nan jenjang gadis itu.
Abrar berhenti sejenak, ia menelan ludah kasar melihat tubuh sempurna Alea, sungguh rasa frustasi itu kembali menghampirinya.
"Huh....Alea kenapa kau berpakaian seperti ini, apa kau ingin membunuhku" Abrar kesal sendiri bagaimana ia harus kembali memperkuat iman melihat pemandangan itu.
Abrar menggendong Alea ke kamar, segera ia menaikkan selimut menutupi tubuh seksi itu, Alea hanya menggeliat sedikit dan kembali terpejam sempurna.
Lama Abrar menatap Alea, sungguh ia ingin gila rasanya disuguhkan pemandangan sempurna wanita yang sudah resmi ia miliki, Abrar mengusap bibir Alea pelan, napasnya kian memburu ketika melihat Alea tidur dengan mulut sedikit terbuka ditambah leher mulus Alea yang terpampang nyata.
"Alea....ku mohon jangan seperti ini, bagaimana jika aku tidak bisa lagi menahannya, biar bagaimanapun aku ini lelaki normal, kau bilang ingin melakukannya dengan cinta, ku mohon Alea cintai aku...cintai aku Alea" Abrar bergumam sendiri, ia sudah merasa di ujung.
Abrar mengecup bibir Alea, hanya mengecup namun lama, napas yang kian memburu dengan pikiran yang terus memerintahkannya untuk menjamah tubuh gadis itu.
Abrar hampir gila disaat Alea membalas ciuman itu, namun gadis itu tetap terpejam, Abrar sejenak menikmatinya mereka berciuman lumayan lama, entah bagaimana Alea bisa membalasnya tak kalah memburu namun tidak ada tanda-tanda gadis itu terbangun, entah sedang bermimpi atau tidak namun Abrar merasakan nikmatnya bibir manis yang selalu menghantuinya sampai pada Abrar ingin menyingkap selimut itu kembali namun getar ponsel yang berada di saku celananya membuat pikirannya kembali terbuka.
Abrar melepaskan bibirnya, ia mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku Alea....aku hampir saja khilaf, aku tidak mau kau membenciku karena hal ini" kembali Abrar menutupi seluruh tubuh Alea dengan selimut, ia mencium kening gadis itu dengan sayang.
Setelah melihat ponselnya, Abrar memutuskan kembali ke kamarnya.
****
jgn lupa tinggalkan jejak yaaa
__ADS_1