Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Menjauh Dan Lenyap


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🌸🌸🌸🌸🌸...


"Selamat pagi tuan Dion,,,Bagaimana perasaan anda pagi ini?" sapa dokter saat diberitahu bahwa Dion menunjukkan reaksi sadar walo masih sangat lemah.


Dion hanya membalas dengan respon kedipan mata. Lalu bola matanya bergerak memutari sekeliling ruangan. Memperhatikan segala macam alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Anda berada di rumah sakit tuan. Apa anda ingat apa yang sudah menimpa anda sebelumnya?" tanya dokter yang paham arti gerakan bola mata Dion itu.


"Karin,,, Del,,," nama itu adalah yang pertama disebutkan oleh Dion, bukan jawaban atas pertanyaan dokter tadi.


"Kalau boleh tau,,siapa mereka tuan?" tanya dokter.


Detik berikutnya Dion tidak merespon dan malah memejamkan matanya kembali dan diiringi alat alat medis yang berbunyi membuat panik orang yang mendengarnya. Dokter bertindak cepat dibantu para suster.


Mama Herna dan Mela yang bisa menyaksikan kepanikan itu dari balik jendela kaca juga ikut panik tanpa bisa membantu apa apa.


"Dion,,, ya tuhan Dion kenapa itu?? Selamatkan putraku tuhan. Jangan ambil dia. Jangan tuhan. Dia satu satunya harapan dan penerus keluarga kami tuhan. Jangan sekejam ini pada kami." ratap mama Herna.


Melihat dokter berulang kali menempelkan alat pacu jantung di dada Dion membuat kekuatan yang dimiliki mama Herna runtuh. Namun untungnya beberapa saat kemudian bisa dilihatnya tim dokter tidak lagi mengambil tindakan apa apa melainkan hanya merapikan alat alat medis yang tetap menancap di tubuh Dion,,,mama Herna jadi bertanya tanya lagi.


"Dok,,apa yang terjadi tadi?? Kenapa dengan putra saya??" tanyanya tidak sabaran begitu dokter keluar.


"Pasien mengalami kondisi drop tadi nyonya tapi sekarang sudah bisa kami stabilkan kembali. Hanya saja,,,mohon maaf kami harus menyampaikan bahwa pasien saat ini mengalami kondisi koma. Semoga saja ini tidak berlangsung lama. Kami akan tetap lalukan yang terbaik untuk pasien." ucap Dokter.


"Astaga koma?? Apa tidak bisa diberikan obat atau terapi apa yang bisa memicu kesadarannya dok??" tanya mama Herna.

__ADS_1


"Kalau obat memang akan tetap rutin kami berikan. nyonya. Tapi untuk menstimulus kesadaran pasien mungkin bisa dibantu menghadirkan pihak keluarga atau orang orang terdekat pasien. Kami akan segera mengatur dan memindahkan pasien ke ruangan inap yang bisa dikunjungi keluarga namun tetap terbatas jumlahnya untuk sementara."


"Begitu ya dok?"


"Sebenarnya belum ada keterangan medis atau iiah mengenai orang koma bisa mendengar atau tau ada siapa saja di sekitarnya. Tapi tidak ada salahnya mencoba nyonya." ucap dokter kemudian.


"Baik dok. Saya akan rajin mengajaknya berkomunikasi."


"Begitu sebaiknya nyonya. Tapi kalau saya boleh saran,,, Mungkin sebaiknya hadirkan orang dengan nama Karin dan Del terlebih dahulu nyonya."


"Kenapa harus mereka?? Saya ini ibunya. Saya punya ikatan batin dengan putra saya." ketus mama Herna tak terima.


"Mohon maaf nyonya. Tapi saat pasien sempat tersadar tadi,, hanya kedua nama itu yang disebutnya. Jadi menurut hemat saya,,, kedua nama itu tentu punya tempat khusus di hati dan memori pasien sehingga saat sadar,,, nama keduanyalah yang disebut. Tidak ada salahnya mencoba nyonya. Saya permisi masih ada pasien lain yang menunggu." pamit dokter.


Ditinggalkannya mama Herna yang masih tak terima dengan pernyataan dan sarannya itu. Dokter mana tau apa permasalahan mama Herna dengaj dua nama tadi. Dokter hanya bertindak sebagai pihak yang mengutamakan kondisi pasiennya. Memberikan segala sesuatu yang terbaik yang bisa membuat pasiennya segera melewati masa sulitnya.


"Diam kamu Mela,,,Jangan pernah bawa bawa perempuan sial itu. Apalagi anak haram itu. Aku tidak sudi mereka mendekati Dion lagi. Lagipula aku sudah atur kepergian mereka sejauh mungkin jadi kamu juga gak akan bisa menjemput mereka." ketus mama Herna.


Mela tentu sangat terkejut mendengarnya namun dia bisa apa?


"Sebaiknya kita ke kamar Hana dan mengabarkan semua ini." kata mama Herna.


"Tapi kenapa musti non Hana nyonya?" tanya Mela polos.


"Karena Hana yang akan jadi nyonyamu lagi!! Bukan Karin. Hana yang akan merawat Dion. Hana yang akan terus menemani Dion. Paham??" bentak mama Herna.


"Iya,,,iya nyonya." Mela mengiyakan saja meski ragu apa benar Hana akan bersedia melakukannya.

__ADS_1


...🧁🧁...


"Ini tiket anda nona. Dan ini sejumlah cek kosong yang bebas anda isi dengan nominal berapa pun. Ini bentuk kepedulian nyonya Herna kepada anda dan putra anda jadi sebaiknya anda pergunakan sebaik baiknya."


Lelaki yang tempo hari datang ke rumah kembali menemui Karin di bandara. Dialah yang mengatur segala sesuatu yang diperlukan Karin. Bahkan sebelum menyerahkan tiket itu dia juga sudah menghubungi kantor polisi negara di mana pak Adi, ayah Karin dipenjara untuk memastikan beliau sudah bebas.


"Saya ambil tiketnya saja. Ceknya saya kembalikan. Saya tidak bersedia menerimanya." tolak Karin.


"Sebaiknya anda terima nona karena ini sudah jadi bagian dari perjanjian yang nona tanda tangani kemarin."


"Tidak saya tidak bisa. Sampaikan ucapan terima kasih sekaligus penolakan saya kepada nyonya Herna. Saya tidak bisa memakai uang yang diberikan kepada saya karena sebuah perjanjian. Ini komitmen hidup saya. Terima kasih."


Karin ditemani Delvara dalam gendongannya melenggang meninggalkan lelaki itu dengan langkah tegarnya. Menyongsong masa depan yang semoga saja akan jauh lebih baik daripada saat ini.


Hanya itu saja harapan Karin selain harapan tersembunyi lainnya yang berada jauh di lubuk hatinya.


"Semoga suatu hari nanti papa akan menemukan kita ya sayang. Saat ini maafkan mama karena mama memilih membawamu dan menjauhkanmu dari papa. Tapi kamu pasti kelak paham kenapa mama melakukannya sayang." Karin mengatakannya tepat di telinga Delvara.


Delvara memberikan reaksi kegelian karena hembusab nafas Karin lalu membulatkan matanya dan tersenyum ke arah wajah wanita yang akan menjadi satu satunya wanita yang menyayanginya dengan segenap jiwa raganya.


Melihat senyum Delvara itu membuat Karin makin tegar dan semangat menapaki jalan menuju masa depan. Kali ini mungkin akan terasa berat di awal tanpa kehadiran Dion,,, tapi nama dan cinta Dion akan tetap hidup dalam sanubari Karin. Dan itulah kekuatannya.


Penerbangan panjang menuju ke Paris tempat di mana pak Adi telah menunggunya akan terasa begitu panjang. Sesuai dengan arahan lelaki suruhan Nyonya Herna bahwa Karin harus menjemputnya dan membawanya ke tempat terjauh dan sejauh mungkin seakan Lenyap dari kehidupan Dion.


Pertanyaan demi pertanyaan dari pak Adi juga akan terasa membebani nantinya. Namun Karin yakin,,, ayahnya yang telah bertobat itu akan bisa mengerti dan memahami kenapa putrinya ini mengambil langkah demikian.


"Karin rindu papa." lirih Karin sebelum memejamkan matanya agar bisa beristirahat dalam pesawat yang membawanya menjauh dari Dion.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2