Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 13


__ADS_3

"Apa kau senang berlibur kesini?" tanya Abrar pada Alea yang masih sibuk dengan ponselnya.


Mereka duduk dipasir putih dibawah pohon nyiur yang melambai indah mengikuti arah angin, matahari mulai merangkak naik membuat hari ini semakin cerah secerah perasaan Alea yang begitu puas berhasil kembali memanasi pesaingnya yaitu Dara. Seakan mereka berlomba untuk posting photo bersama pasangan masing-masing dengan caption saling sindir.


"Tentu saja bahagia.....aku jarang sekali berlibur seperti ini, abang tahu itu" jawab Alea menghentikan kegiatan bersama ponselnya, ia menyandarkan kepala dibahu Abrar memandang jauh ke arah laut luas yang membiru sambil menikmati minumannya.


Entah kenapa ia merasa tenang, setidaknya ia sejenak melupakan masalah tentang drama pernikahan sandiwara ini, belum lagi ia akan bersiap menghadapi drama-drama lain berikutnya mengingat ia akan segera masuk koas tidak lama lagi, itu artinya ia akan sering bertemu Dara dan Deni yang menyebalkan baginya.


Abrar sesekali melirik wajah cantik yang masih menempel di bahunya, ingin sekali ia mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Alea namun Abrar tidak punya keberanian untuk itu.


"Abang sudah menyiapkan rumah untuk kita tinggali nanti, agar kedua orangtua kita tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya"


"Aku menurut saja, yang penting kita sama-sama nyaman menjalani ini, aku tidak tahu bagaimana kedepannya, memang benar ini semua salah ku, aku yang memulai sandiwara konyol ini, aku memang belum dewasa aku harap abang mengerti, aku benar-benar minta maaf soal nona Yura" Tiba-tiba Alea menjawabnya begitu saja tanpa mengalihkan pandangannya dari birunya laut.


Abrar tertegun mendengarnya, ia menyimpulkan sebuah senyuman netranya ikut menikmati biru laut yang kian berkilau oleh sinar mentari.


"Apa abang menyukai nona Yura?" tanya Alea kembali.


"Kami memang baru berkenalan sejak pulang ketanah air, tentu saja abang menyukainya dia gadis cantik dan baik, namun sayang sekali kami tidak berjodoh" Abrar sengaja menjawab seperti itu, ia ingin melihat reaksi Alea.


"Menyebalkan.....tidak ada yang lebih cantik dariku, abang harus ingat itu" cebik Alea kesal sambil melirik tajam pada suaminya.


Abrar tersenyum mendengarnya.


"Kau sendiri yang bertanya, kenapa kau jadi kesal?"

__ADS_1


"Tentu saja aku kesal, abang sama sekali tidak serasi dengan wanita menyebalkan itu, seharusnya abang bertanya padaku dulu mana perempuan yang pantas mendampingimu jangan main menikah saja, untung aku bisa menggagalkannya" Alea menyilangkan kedua tangannya didada.


"Alea....Alea....karena ulah mu itu sekarang kau sendiri yang terjebak bukan?"


"Iya......tapi aku tidak menyesal, biar saja kita terjebak sandiwara ini, kita sudah terbiasa dekat seperti ini sejak dulu jadi pasti kita akan mudah menjalaninya nanti" jawab Alea enteng.


Abrar kembali bungkam.


"Baiklah.....begini saja, untuk mempermudah aku membebaskan saja abang dekat dengan perempuan manapun yang abang suka tapi harus melewati penilaian ku dulu, aku tidak mau abang mendapatkan wanita yang tidak baik nantinya"


Abrar hanya diam, pria ini kecewa mendengar Alea yang rela jika ia mendekati wanita lain. Abrar memang berpikir bahwa ia tidak harus berharap banyak dari Alea, namun ia tidak ingin menyia-nyiakan hubungan sakral ini, biar bagaimanapun ini bukanlah sebuah lelucon semata.


"Lalu bagaimana denganmu? apa kau juga ingin bebas mendekati lelaki manapun?"


"Tentu saja tidak, lagi pula aku tidak punya lelaki yang ku sukai saat ini, Deni telah meninggalkan ku, aku tidak tahu bagaimana berikutnya apa aku bisa menyukai lelaki lain lagi setelah ini atau tidak, huh....sudah aku tidak mau pusing memikirkan ini, ayo kita makan aku lapar" kembali Alea merengek ingin segera pergi dari sana untuk mencari makan, memang benar Alea tidak mau berpikir keras tentang hubungan itu kedepannya.


Mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling mengunjungi tempat wisata dan menjelajahi kuliner khas Lombok, Alea benar-benar menikmati liburan ini, seakan mendapat energi baru selama disana.


Tidak terasa mereka akan pulang esok harinya, dimana kehidupan baru menunggu mereka disana. Entah bagaimana pasangan pengantin baru ini akan menghadapi drama-drama yang sudah menanti dihari berikutnya.


Tidur dalam kelelahan, Abrar tetap tidur di sofa seperti sebelumnya, entah kenapa Alea begitu kesal melihat pria itu namun ia tidak mau memaksa Abrar untuk tidur seranjang dengannya karena cukup satu kali ia merasa malu karena penolakan dari Abrar.


Pagi menjelang, Alea terbangun karena merasa ingin buang air, ia menatap Abrar lekat-lekat sebelum beranjak ke kamar mandi, dimana pria itu masih meringkuk kedinginan yang hanya di selimuti kain tipis.


Setelah dari kamar mandi Alea tergerak mendekati Abrar yang masih pulas di atas sofa, lama ia menatap wajah pria yang sudah resmi menjadi suaminya, Alea terduduk tepat dihadapan wajah Abrar.

__ADS_1


"Astaga.....kenapa dia tetap tampan walau sedang tidur, kemana saja aku selama ini ternyata bang Abrar benar-benar tampan" gumam Alea sambil tersenyum.


Tangannya tergerak menyusuri garis wajah tegas sang suami, menyentuh hidung mancung Abrar dengan lembut dan berakhir pada rahang berjambang milik lelaki itu.


"Ups....ini sungguh geli" gumamnya pelan sambil terus mengulum senyum, tangannya masih bermain di rambut halus yang menghiasi rahang Abrar.


"Aku merasa takdir ini begitu aneh, bagaimana kita menjadi suami istri dalam sekejap mata padahal kita tidak saling mencintai"


Kembali Alea hanya bisa tersenyum dengan wajah merona tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tenang Abrar.


Sampai pada ia terkejut ketika Abrar menggeliat, karena belum siap menghindar Alea mundur tiba-tiba yang menyebabkan kepalanya terantuk meja yang berada di belakang gadis ini menimbulkan suara bagi pendengaran Abrar.


Abrar membuka mata menatap heran kenapa bisa Alea berada disana, ia mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan nyawa.


"Alea...kenapa kau disini?" tanya Abrar heran melihat gadis itu memegang kepalanya yang terantuk meja.


"Ah......itu....aku, aku, aku baru saja dari kamar mandi ku lihat ada nyamuk di wajah bang Abrar tadi, tapi sudah pergi, abang bisa tidur kembali" Alea bicara terbata sambil berdiri.


"Begitukah? kenapa wajahmu memerah Alea? apa kau sakit?" tanya Abrar heran, ia mendudukkan diri menatap Alea merasa aneh.


Alea benar-benar malu sendiri, ia berlari menuju ranjang sambil menutupi seluruh tubuh hingga wajahnya dalam selimut setelah berkata pada Abrar.


"Hentikan....abang jangan menatapku seperti itu, aku maluuuuuu" pekik Alea sebelum bersembunyi.


Abrar mengernyit heran kenapa Alea berlari begitu saja.

__ADS_1


"Ada apa dengan Alea? apa dia sedang mengigau?" Abrar menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, ia berdiri berniat ke kamar mandi setelah menatap sejenak gadis yang sudah meringkuk bersembunyi dibawah selimut.


__ADS_2