
"Tuan Harun, aku mohon maafkan kesalahpahaman ini aku sungguh tidak mengira bahwa pria itu adalah putramu, bisakah kita bicarakan ini baik-baik?".
"Aku cemburu pada pria manapun yang mendekati istriku, aku tidak mengira Nara mempunyai kakak sepupu laki-laki".
Dannis bicara serius saat paman Harun keluar untuk berangkat ke kantor namun dihadang oleh Dannis di luar pagar besar yang mengelilingi rumah mewahnya.
Pria paruh baya itu menatap Dannis dengan jelas, membaca setiap raut dan memaknai kata demi kata yang diucapkan oleh suami keponakannya itu.
Paman Harun masih saja diam, ia tidak menjawab apapun dari semua perkataan Dannis yang bahkan sudah benar-benar lelah menghadapi paman istrinya itu.
"Itu artinya kau belum mengenal istrimu dengan baik, kau bahkan hanya peduli pada perasaanmu saja, seharusnya kau sadar menikah itu bukan hanya kau dan Nara melainkan juga ada dua keluarga".
"Iya aku mengaku salah, maafkan aku tuan Harun".
"Aku menyesali perbuatanku pada Nara diawal pernikahan, percayalah tuan aku sangat mencintai istriku. Aku mohon ayo kita berdamai saja", ucap Dannis sendu yang di akhiri pria itu tiba-tiba berlutut di hadapan paman Harun dengan haru.
"Kembalikan Nara padaku", ucap Dannis berkaca-kaca.
Menarik napas dalam paman Harun menjawab.
"Aku tidak akan menolak niat baik darimu, seperti diawal sudah ku katakan ini pernikahan bukan hanya ada kau dan Nara namun juga dua keluarga, aku rasa kau mengerti maksudku nak, berdiri dan pulanglah, temui keluarga mu".
Paman Harun bicara dengan ambigu, yang mana Dannis harus berpikir keras untuk mengartikannya disaat pikirannya tidak fokus melainkan hanya tertuju pada sang istri yang belum menghubunginya setelah kejadian kemarin.
Paman Harun tidak menunggu jawaban dari Dannis, pria itu kembali melanjutkan niat untuk ke kantor meninggalkan Dannis yang masih tertunduk lesu setelah mobil paman Harun benar-benar telah menjauh.
******
Dannis benar-benar kehilangan moodnya, bagaimana tidak Nara tidak bisa dihubungi, ia tidak tahu bagaimana kabar istrinya itu. Dannis pikir Nara masih marah padanya karena kejadian di bandara.
Beberapa kali ia memukur stir mobilnya dengan kesal, lama ia menunggu Nara di luar pagar rumah paman Harun jika saja Nara akan keluar rumah untuk berkuliah, namun berjam-jam pun menunggu tetap saja tidak ada rumah besar itupun tampak sepi tanpa penghuni kecuali para pelayan saja.
Namun yang lebih menyebalkan bagi Dannis adalah para pelayan itu pun enggan memberi informasi tentang istrinya meski diancam sekalipun.
"Ayolah sayang kau dimana?", gumam Dannis berkali-kali setelah dari kampus yang juga tidak dihadiri oleh istrinya hari ini.
Dannis bahkan tidak fokus mengemudi, ia hampir hilang kendali bahkan di beberapa tikungan, dan benar saja tidak lama berselang mobilnya tampak terhenti mendadak yang telah menabrak pembatas jalan.
Iya Dannis mengalami kecelakaan tunggal, setelah menyebabkan kemacetan yang cukup lama tampak ia digotong oleh petugas medis masuk ke dalam ambulance, Dannis yang masih terjaga itu hanya diam dan memasang wajah datar tanpa banyak bergerak karena kakinya baru saja mendapat tindakan pembidaian sebelum di larikan ke rumah sakit.
__ADS_1
*****
Alea mendatangi kediaman istri dari saudara kembarnya itu berniat meminta maaf sekaligun ingin memberi tahu Nara secara langsung tentang Dannis yang mengalami kecelakaan.
Karena Alea seorang perempuan tentu ia di persilahkan untuk bertamu, kebetulan sekali Nara yang telah pulang dari rumah sakit itu tengah berada di rumah.
"Maaf nona, ada seorang perempuan mengaku sebagai saudara ipar nona namanya Alea datang kemari ingin menemui mu nona Nara", ucap salah seorang pelayan yang memberitahu ke kamarnya.
"Alea? Benarkah?", Nara mendengar nama Alea disebutkan langsung berdiri dengan semangat.
"Iya nona, tamu anda menunggu di ruang tamu", jawab pelayan lagi dengan sopan.
Nara mengangguk lalu segera keluar kamar menuju Alea menunggu.
"Alea", panggil Nara pelan.
"Nara".
Mereka berpelukan.
"Kau kemari?".
"Apa?".
Nara langsung menangis saat Alea menceritakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Dannis.
"Nara, kau ada tamu rupanya. Hei sayang kenapa kau malah menangis?", tanya bibi Tina sengaja menghampiri Nara saat mendengar ada tamu yang datang.
Nara menoleh, tangisnya bahkan tersedu saat ia mengatakan pada bibinya tentang Dannis.
Belum juga bibi Tina menanggapi perkataan Nara, ternyata paman Harun sudah menghampiri mereka saat tahu ada tamu di rumahnya ketika ia pulang dari luar.
Paman Harun menatap mereka dengan penuh tanya, kenapa bisa Nara menangis sedih seperti itu.
Alea yang melihat paman Harun baru tiba, ia mendekat sebelum pamit untuk kembali ke rumah sakit.
"Tuan Harun.... aku Alea saudara kembarnya Dannis, aku mohon bisakah tuan mengizinkan Nara menemui suaminya sekarang? Dannis kecelakaan, dia menginginkan istrinya tuan, aku mohon".
Paman Harun lama terdiam, ia menatap Alea penuh tanya, seakan belum mengerti apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Aku harap tuan berlaku bijak sebagai pengganti orangtua Nara, mereka saling mencintai aku harap tuan mengerti maksudku".
"Maaf jika aku lancang datang kemari, aku akan permisi", ucap Alea lagi setelah tidak mendapat jawaban apapun dari lawan bicaranya.
Nara ingin mengejar Alea yang telah pergi, namun langkahnya terhenti tepat di hadapan pamannya.
"Paman, dia suamiku.....", lirih Nara dengam suara menangis.
Paman Harun lama menatap wajah cantik keponakan kesayangannya dan beralih menatap wajah teduh istrinya yang tidak jauh dari mereka.
Pria itu menarik napas dalam lalu meraih tangan Nara dengan matanya yang berkaca-kaca seraya menganggukkan kepalanya pelan namun pasti.
"Pergilah, kau tahu yang terbaik untukmu. Paman menyayangi mu Nara", ucap paman Harun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tangis Nara kembali pecah, perempuan yang tengah mengandung sebelas minggu itu berhambur memeluk paman Harun.
"Aku bahkan lebih menyayangimu paman, terimakasih", ucap Nara sebelum ia menoleh pada bibi Tina.
Nara segera pergi keluar rumah tanpa menunggu lama, ia bahkan tidak membawa apa-apa namun beruntung bibi Tina segera menyusul langkahnya setelah tersenyum pada sang suami yang telah merubuhkan egonya selama ini.
"Sayang, berhati-hatilah ingat kau sedang hamil muda Nara, bibi akan menemanimu tenanglah oke bibi yakin suamimu baik-baik saja", ucap bibi Tina segera membuka kan pintu mobil untuk Nara yang tampak terburu.
Nara mengangguk saja dengan dada yang semakin cemas sebab Alea tidak bicara tentang kondisi Dannis yang sesungguhnya, iparnya itu hanya mengatakan Dannis kecelakaan dan sedang di rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakitpun membutuhkan waktu yang lebih lama sebab Nara kembali mengalami muntah-muntah yang mengharuskan mereka berhenti beberapa kali.
Benar-benar menyebalkan bagi Nara yang ingin segera bertemu suaminya, pikirannya sudah kemana-mana tentang arti luas sebuah kata kecelakaan, sepanjang jalan ia mengusap perutnya menenangkan sang calon buah hati yang terus saja membuatnya muntah jika naik mobil.
"Bibi, apa aku harus naik ojek motor saja bagaimana ini aku terus muntah, kapan kita bisa sampai jika seperti ini terus", ucap Nara dengan suara lesu kehabisan tenaga, wajahnya kembali pucat yang membuat bibi Tina menjadi khawatir.
"Tidak sayang, bibi ada di sini untukmu tenanglah kita akan sampai sebentar lagi, kau tampak pucat lagi Nara, ayolah jangan terlalu keras berpikir kau akan semakin mual, ayo berbaring lah", ucap bibi Tina menenangkan seraya menarik Nara untuk berbaring di pangkuannya.
Benar saja mereka sampai setelah melewati beberapa kali berhenti karena keinginan Nara untuk mengeluarkan isi perutnya.
Nara keluar mobil dengan terburu, disusul bibi Tina.
Langkahnya terhenti saat matanya menangkap beberapa petugas medis yang mendorong sebuah brangkar dengan pasien yang tubuh dan wajahnya ditutupi kain putih, terdengar banyak tangis di sana. Matanya menangkap sosok Alea berdiri tidak jauh dari sana.
Dan Nara kembali tidak fokus pada pikirannya, hingga ia tidak berpikir lama langsung melangkah mendekat jenazah yang akan di bawa oleh petugas itu, tangisnya pecah seketika, memeluk sang jenazah tanpa basa basi dengan tangis yang tersedu dan suara yang serak memanggil nama suaminya.
__ADS_1
Hingga beberapa orang menatapnya aneh, termasuk bibi Tina dan Alea yang tercengang ditempat mereka masing-masing.