
"Sayang kau lelah?" tanya Abrar sambil satu tangannya membelai wajah Alea.
"Tidak pernah lelah jika bersamamu...." jawab Alea dengan senyum meski wajahnya terlihat lelah dan mengantuk.
"Astaga.....kau pandai bergombal sekarang" Abrar terkekeh mendengarnya.
"Aku pandai dalam hal apapun, termasuk pandai di ranjang" jawab Alea menggoda suaminya.
Abrar hanya geleng kepala dengan candaan Alea.
"Aku mencintaimu bang Abrar...." tatap Alea sendu dengan mata kian mengantuk dan mengecup tangan Abrar yang masih setia dalam genggamannya.
"Tidurlah jika lelah...." ucap Abrar membalas dengan usapan pada kepala Alea.
"Aku ingin tidur dipangkuanmu"
"Astaga sayang berhenti bercanda, kita akan sampai sebentar lagi"
Alea kembali menatap suaminya dengan penuh arti.
"Hei kenapa menatapku seperti itu, aku grogi bagaimana jika aku kehilangan fokus?" tanya Abrar dengan nada bercanda.
"Jika kita kecelakaan kita akan mati bersama, aku tidak masalah, yang jadi masalah jika aku mati kau tidak, siap-siap saja aku akan menghantuimu sepanjang hidup"
__ADS_1
"Astaga itu menakutkan" Abrar tertawa.
Hening.
"Apa yang membuatmu mencintaiku selama ini bang Abrar? Aku bukan perempuan idaman, aku manja, suka seenaknya, juga sering ceroboh dan tidak bisa masak seperti gadis lain, bang Abrar tentu tahu segalanya tentangku sejak aku kecil"
"Tidak ada alasan untukku bisa jatuh cinta padamu sayang, aku merasakannya ketika kau mulai beranjak remaja, aku tahu itu bukanlah perasaan biasa meski kita terbiasa bersama sejak kau kecil dan aku sama sekali tidak menganggapmu sebagai saudara, aku bahkan sangat memimpikan kau juga tidak mengganggapku seperti itu sejak dulu, aku memang pengecut....aku tidak berani mengatakan apapun tentang ini, aku bahkan tidak pernah ingin pacaran karena terus ingin menjaga perasaanku untukmu"
"Kau benar, tidak ada alasan khusus untuk jatuh cinta pada seseorang" jawab Alea masih menggenggam tangan Abrar erat.
Mereka sama-sama tersenyum.
"Lantas kenapa kau bisa mencintaiku dalam waktu yang singkat, kita baru lebih dari satu bulan menikah, bukankah kau sendiri yang bilang kita seperti saudara?" tanya Abrar kembali.
"Aku menyesal telah menganggap pernikahan kita sebuah lelucon yang hanya untuk memenuhi obsesi gengsiku pada dua temanku yang berhasil menikah duluan terlebih Deni juga menikah ketika itu, aku memang konyol bukan?"
"Astaga....aku merasa sangat pengecut Alea, aku malu karena sudah membuatmu salah paham, aku juga mencintaimu sayang....kita akan memiliki anak yang banyak, jangan lupa itu" Abrar mengelus pipi Alea dengan sayang.
Saling melempar senyum, dan berakhir dengan ciuman singkat ketika mereka berhenti di lampu merah.
Namun luar dugaan ketika mereka melaju kembali melewati lampu merah tadi, mereka dikejutkan dengan seseorang yang tidak sengaja ingin menyebrang dan beruntung Abrar masih dalam kondisi fokus dan tidak sampai menabrak gadis itu.
Alea dan Abrar turun dari mobil untuk menghampiri gadis yang masih syok itu.
__ADS_1
"Hei nona, maafkan kami....apa kau terluka?" tanya Alea.
Gadis itu menegakkan wajahnya menatap Alea dan Abrar secara bergantian.
"Tidak...saya tidak apa-apa, maaf mungkin saya yang tidak fokus menyebrang"
"Syukurlah kau tidak apa-apa, maafkan aku hampir saja kau tertabrak. Lain kali berhati-hatilah" ucap Abrar pada gadis itu.
Alea mengangguk setuju.
"Baiklah kau bisa menyebrang sekarang, hei apa kau hendak bekerja?" tanya Alea kembali setelah melihat seragam gadis itu.
"Iya nona, saya bekerja di toko roti seberang sana" sambil menunjuk seberang.
"Oke baiklah....maaf sekali lagi" ucap Abrar.
Gadis itu mengangguk dan menunduk hormat sebelum menyeberang.
Alea dan Abrar kembali ke mobil.
"Sayang kau lihat mata gadis itu?" tanya Alea seraya berpikir.
"Memangnya kenapa dengan matanya?"
__ADS_1
"Aku rasa mata kalian mirip, iya tatapan kalian sangat mirip menurutku" jawab Alea geleng kepala sambil memasang sabuk pengaman.
"Benarkah? Aku rasa tidak juga" jawab Abrar santai sambil menjalankan mobilnya.