
Hanya keheningan yang terjadi diantara sepasang pengantin baru selama mereka menempuh perjalanan menuju jalan pulang.
Nara memejamkan matanya sesekali ke arah jendela mobil, menarik napas dalam ia lakukan berulang agar menahan perutnya yang kian mual, gadis ini berpikir atas apa yang terjadi pada gadis itu beberapa saat lalu.
Menikah secara sederhana di KUA, tidak dihadiri keluarga terdekat, lalu diturunkan di tengah jalan yang ia saja tidak tahu dimana, terhempas ke aspal meski pelan namun tetap menyebabkan luka lecet pada siku tangan kanannya.
Nara merasa beruntung dipertemukan kembali dengan pria bernama Alan yang sudah berbaik hati memberinya tumpangan, namun kini ia harus menelan ludah ketika Dannis kembali menyusulnya dan memaksa pulang bersama.
Pria itu mengemudi kencang hingga membuat Nara merasa mual karena mabuk perjalanan.
Dannis tidak menoleh sedikit pun pada gadis yang berwajah pucat di sampingnya itu sampai pada mereka telah tiba di perkarangan rumah, pria ini langsung memarkirkan mobilnya.
Dannis keluar mobil disusul oleh gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu, pria ini dibuat terkejut ketika mendapati mama El dan papa Kemal juga baru saja tiba di sana.
Dannis melirik penampilan Nara yang kotor dengan gaun robek bagian bawahnya, tentu hal tersebut membuat Dannis panik ia tidak ingin mendapat banyak pertanyaan akan hal itu dari mamanya.
Maka darinya pria ini segera menggendong Nara untuk menghindari orangtua nya, hal ini tentu membuat Nara terkejut akan perlakuan Dannis, dengan cepat tangan gadis ini melingkari leher suaminya reflek agar tidak terjatuh.
"Tuan kenapa menggendongku? aku bukan anak kecil".
"Diamlah", sergah Dannis terus berjalan berpura-pura tidak melihat orangtuanya yang berada di belakang.
Nara merasa sangat heran dengan perlakuan Dannis yang tiba-tiba itu, ingin bertanya lagi namun perut yang mual kian terasa hingga ia tidak fokus akan Dannis.
Nara menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Kau lihat putra kita? huh aku tidak percaya ini, baru saja menikah sudah bermesraan bahkan di halaman rumah seperti ini, keputusan menikahkan mereka sangat tepat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika terus menundanya, tidak apa pestanya menyusul yang terpenting mereka sudah resmi dan bebas berduaan", gumam mama El bersandar di lengan suaminya ketika mereka akan menyusul masuk rumah.
"Mereka cukup mengingatkan masa muda kita dulu", jawab papa Kemal terkekeh sambil merangkul pundak istrinya dan mereka saling melempar senyum satu sama lain.
Langkah Dannis terhenti ketika bertepatan dengan adiknya Baim, ia merasa heran ketika mendapat tatapan dingin dari Baim saat melewati tangga naik.
Baim melirik penampilan Nara dalam gendongan kakaknya itu, lalu menatap Dannis lain, lalu Baim pergi begitu saja tanpa basa basi lagi pada keduanya.
Nara merasa malu saat menyadari posisinya yang tampak mesra di depan adik iparnya itu, ia hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dannis sambil terus menahan mual.
"Kenapa dia?", gumam Dannis heran pada sikap tak biasa adik bungsunya itu.
Dannis merasa lega ketika sudah berada di kamarnya, ia terkejut ketika mendapati kamar miliknya sudah berganti menjadi kamar pengantin baru dimana dihias beribu kelopak mawar di atas ranjang.
"Ini pasti kerjaannya Sheira", gumam Dannis menggeram dalam hati.
__ADS_1
Belum juga ia ingin menurunkan Nara dengan kasar, mata pria ini terpejam ketika gadis itu memuntahkan seluruh isi perutnya di dada Dannis.
"Oh shittttt..... Kau muntah di bajuku?", ucap Dannis kesal pada Nara sesaat setelah menurunkan gadis itu.
Nara tidak menghiraukan perkataan Dannis, ia terus berlari menuju toilet.
Dannis menyusulnya ke kamar mandi yang tidak ditutup sempurna itu.
"Apa yang kau lakukan? kenapa muntah di bajuku? dasar sial", umpat Dannis kesal sambil membuka kemejanya.
"Maaf..... perutku sangat mual ketika kau mengemudi dengan kencang, sepertinya aku mabuk perjalanan", jawab Nara menunduk takut sesaat setelah membersihkan wajahnya.
"Huh.... dasar kampungan".
Nara menatap Dannis kesal akan perkataan lelaki itu namun segera ia menunduk kembali saat mata indahnya merasa ternodai dengan penampilan Dannis yang sudah bertelanjang dada berdiri gagah di hadapannya.
Nara berniat ingin segera keluar dari sana, namun baru satu langkah ia kembali ditarik kasar oleh suaminya ini.
"Mau kemana kau? enak saja, bersihkan dulu kemeja ku dari muntahan sialmu itu", perintah Dannis dengan nada marah.
Nara mengangguk, "Baik".
Dannis berlalu begitu saja, pria ini berjalan ke arah lemari pakaiannya, dan cukup terkejut ketika mendapati beberapa pakaian wanita yang sudah tersusun rapi di sana, semuanya tampak masih baru.
Dannis mengeluarkan semua pakaian yang ia yakini Sheira yang membelinya untuk Nara, ia jatuhkan ke lantai dengan kesal.
Nara keluar kamar mandi terkejut dengan pakaian yang berantakan.
"Itu pakaianmu, terserah kau mau taruh dimana yang jelas tidak di dalam lemariku, itu sungguh mengganggu.... aku tidak mau pakaian kita disatukan", ucap Dannis cuek sambil ia memainkan ponselnya, pria itu sudah memakai kaos oblong dan duduk di kursi kamarnya.
Nara hanya diam seribu bahasa, ingin sekali ia mengumpat namun terasa sia-sia saja jika itu adalah Dannis.
Airmatanya jatuh ketika memungut pakaian yang berserakan di lantai, ia tidak tahu akan menaruh dimana. Betapa ia merasa sedih baru saja menikah sudah diperlakukan kasar sejak tadi, ia menatap beberapa pakaian itu seraya mengingat Sheira yang ia yakini telah membeli dan menyiapkannya di lemari Dannis tanpa ia sadari.
Nara memutuskan untuk melipat kembali pakaian itu agar rapi, ia ambil salah satu dress rumahan yang bisa ia pakai untuk berganti pakaian, sisanya ia letakkan di tepi dinding di sela lemari, sungguh menyedihkan memang.
"Kenapa menaruhnya di sana? itu merusak pemandangan ku", ucap Dannis melarang Nara.
"Lalu aku harus menaruhnya dimana?", tanya Nara lemas.
"Kau taruh di lemari handuk saja yang berada di kamar mandi, itu tidak terlihat oleh mataku", jawab Dannis cuek.
__ADS_1
Nara menghembus napas kasar, ia tidak menyanggah lagi karena ia tahu itu akan sia-sia, terlebih tubuhnya masih lemas akibat muntah tadi.
Segera Nara masuk ke kamar mandi menuruti perintah Dannis untuk menyimpan pakaiannya di sana.
Beberapa menit kemudian Nara keluar dengan wajah yang sudah segar oleh mandi, memakai dress selutut berwarna kuning yang tampak pas dan kontras dengan kulit putih beningnya, sangat cantik bagi mata lelaki normal biasanya.
Gadis ini canggung, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia berniat keluar kamar agar tidak terlalu lama berada di dekat Dannis.
"Mau kemana kau? jangan keluar kamar, mama dan papa masih di sini, aku tidak ingin mereka bertanya apa-apa padamu".
"Baik", jawab Nara singkat.
Membuat Dannis kesal akan jawaban itu.
"Apa kau melawanku?".
"Tidak, kenapa bertanya seperti itu?".
"Lantas kenapa jawab mu hanya baik, baik baik saja sejak tadi", kesal Dannis menatap Nara tajam.
"Lalu aku harus jawab apa?", jawab Nara dengan nada datar, ia sungguh lelah menghadapi sikap suaminya hari ini.
"Sudahlah, terserah kau saja.... kau membuatku kesal, cepat ambilkan aku minum yang dingin agar otakku tidak terus panas berhadapan dengan wanita bodoh ini, awas jangan bicara yang macam-macam jika kau bertemu mama".
Nara mengangguk saja tanpa banyak bicara. Gadis ini keluar kamar berniat mengambilkan Dannis minum di dapur.
Dannis menatap kelopak mawar yang masih menghiasi ranjangnya, pria itu berdiri menuju ranjang dan menyingkirkan semua bunga itu ke lantai dengan kesal.
"Ranjang ini bukanlah ranjang pengantin", gumam Dannis menatap ribuan kelopak mawar yang telah disiapkan oleh adiknya Sheira.
Nara masuk kamar, ia menatap Dannis yang membuang kelopak mawar merah itu ke lantai.
"Ini minummu tuan".
Dannis menoleh dan mengambil gelas besar yang berisi air di nampan yang dibawa oleh istrinya.
Hanya beberapa teguk saja, lalu ia menoleh pada Nara dan terbesit di pikirannya untuk mengerjai gadis itu.
"Ini terlalu dingin bodoh, gigi ku ngilu meminumnya", ucap Dannis sambil menuangkan air itu ke atas kepala Nara, hingga gadis itu hanya bisa memejamkan mata saat air dingin mengguyur wajah cantiknya.
Dannis meletakkan kembali gelas yang masih tersisa air di dalamnya itu di atas nampan seperti semula, ia ingin tertawa namun diluar dugaan ia kembali dibuat kesal ketika merasakan dinginnya air tadi di dadanya.
__ADS_1
"Jika otakmu tidak bisa dingin, setidaknya biarkan hatimu yang dingin", ucap Nara dengan tajam menatap Dannis seraya berlalu dari sana ingin keluar kamar.
"Apa? beraninya kau!", tunjuk Dannis pada punggung Nara yang menjauh dengan nada kesal setengah mati.