
Alea bangun lebih dulu, ia tersenyum melihat prianya yang masih terpejam dibawah selimut yang sama.
Alea membelai wajah Abrar, membuat pria itu menggeliat dan kembali meraih tubuh Alea untuk ia dekap kembali.
"Sayang bangun...." Alea mengecup gemas seluruh wajah Abrar agar suaminya membuka mata.
"Hmmm...." hanya itu yang terdengar dari Abrar, tampak sekali ia masih lelap karena begadang semalam.
"Ayo bangun, aku ingin ke kamar mandi....kau harus bertanggung jawab, aku tidak bisa jalan karena ulahmu, ayo gendong aku" rengek Alea sambil memainkan hidungnya pada wajah Abrar.
Lelaki itu mendengarnya, ia mengerjapkan mata kemudian ia menatap Alea dengan senyuman.
"Aku mencintaimu" kata pertama keluar dari bibir Abrar pagi ini, ia membuka mata lebar dan memberi kecupan di kening istrinya.
Kemudian ia bangkit dan segera menggendong Alea menuju kamar mandi, Alea mengecup rahang Abrar dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu"
*****
Berendam bersama dalam busa melimpah, tangan Abrar terus memainkan dada istrinya, mereka kembali bercinta secara singkat sebelum benar-benar mandi.
"Sayang....kau tidak boleh kekantor" ucap Alea yang masih dalam pangkuan suaminya setelah lelaki itu membantunya mengeringkan rambut.
Abrar mengernyit heran.
"Memangnya kenapa? Aku harus bekerja sayang"
"Abang milikku hari ini"
"Memangnya kau tidak ke rumah sakit?" tanya Abrar.
"Aku akan dapat jadwal malam mulai malam nanti, jadi aku free seharian ini" jawab Alea bermanja-manja di leher Abrar.
"Huh.....tapi bagaimana pekerjaanku masih banyak" sesal Abrar.
"Tetap saja kau akan ku kurung disini" jawab istrinya enteng.
__ADS_1
"Astaga....ayolah aku janji akan pulang dengan cepat"
"Tidak ya tidak....kita ini pengantin baru, seharusnya memang masih mengurung diri di dalam kamar bukan?" jawab Alea sambil menggigit rahang suaminya seraya menggoda.
Abrar ingin tertawa dibuatnya, Alea memang pandai membuat pria ini tidak berkutik.
"Kau benar, kehidupan pernikahan kita baru saja dimulai hari ini, baiklah....aku akan menghubungi Gina" jawab Abrar yang ingin mengambil ponselnya diatas nakas.
Dengan cepat Alea menghentikannya dan melirik tajam pada pria itu.
"Enak saja....tidak boleh, hubungi yang lain saja, aku mau kau pecat saja nona Gina, aku tidak menyukainya....aku cemburu" cebik Alea kesal.
Abrar mengecup gemas bibir itu.
"Astaga sayang kau sungguh posesif, dia hanya pegawaiku tidak lebih...tidak mungkin juga tiba-tiba aku pecat dia, Gina sudah bekerja lama sejak masih papa Ricko disana"
"Baiklah....kau pindahkan saja dia ke bagian lain, tetap saja aku cemburu jika dia masih menjadi sekretarismu, cari gantinya pria saja kau tidak boleh punya sekretaris perempuan lagi titik"
Abrar tidak bisa berkata-kata lagi, ia meraih wajah istrinya menempelkan kening mereka.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Oke baiklah....apapun untukmu istriku, nanti ku carikan gantinya sesuai keinginanmu seorang sekretaris pria"
"Bagus....." Alea menatap Abrar dengan senyum puas.
"Mau kemana kita hari ini? Berkencan?" tanya Abrar yang masih memeluk istrinya.
"Tidak....kita akan berada dikamar saja" goda Alea sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Astaga.....sekarang saja jalanmu belum sempurna, jangan memaksa sayang....aku tidak akan lari"
Alea terkekeh.
"Aku mencintaimu bang Abrar...." Alea meraih bibir suaminya, mereka kembali berciuman bahkan sampai sekarang masih sama-sama memakai handuk.
"Kau tidak boleh tidur sendiri malam nanti, pulanglah ke rumah mama Bella"
"Memangnya kenapa jika aku tidur sendiri?" tanya Abrar heran.
__ADS_1
"Ya tidak boleh saja, aku kan di rumah sakit, bagaimana jika janda itu menggodamu? Aku tidak mau, jika aku berjaga malam kau harus menginap di rumah mama Bella saja"
"Astaga sayang.....begitunya kau mencintaiku?"
"Tentu saja....kau hanya milikku" tegas Alea.
"Baiklah, lagi pula aku ingin melihat perkembangan persiapan pernikahannya Arkan, sayang ayo berpakaian....kita sarapan" ajak Abrar namum masih belum melepas pelukan.
"Nanti saja, sekarang aku ingin memakanmu terlebih dahulu" seringai Alea sambil melepaskan lilitan handuk di pinggang suaminya.
Abrar tidak bisa menolaknya, mereka kembali ke atas ranjang meneruskan niat mengurung diri di dalam kamar saja.
Di sela permainan mereka, Alea yang tengah di posisi women on top leluasa membelai dan menguasai suaminya.
"Kau ingin punya anak berapa?" tanya Alea.
"Memang kau sudah siap memiliki anak?"
"Tentu saja siap sayang, semua wanita menginginkannya......tapi untuk beberapa bulan bagaimana jika aku memakai kontrasepsi saja?"
Abrar mengernyit heran.
"Aku ingin kita pacaran dulu sebelum memiliki bayi, sebenarnya mama melarangku hamil jika belum lulus, mama trauma ketika dulu dia hamil adikku namun keguguran karena terlalu sibuk kuliah, bagaimana menurutmu?"
"Hmmm mama ada benarnya juga, kau sibuk di rumah sakit aku juga tidak ingin terjadi apa-apa padamu nantinya" jawab Abrar serius, ia menjadi takut ketika mendengar cerita buruk dari mama mertuanya.
"Tapi kita tidak boleh menolak rejeki bukan jika dikasih kesempatan sekarang, aku ingin hamil....itu menyenangkan, aku akan berhati-hati nantinya, apa kau siap menjadi seorang daddy?"
"Aku berharap yang terbaik untuk kita kedepannya, aku mencintaimu Alea....aku akan membuatmu bahagia bersama keturunan kita kelak"
Alea tersenyum, ia membelai bibir suaminya dengan sayang.
*******
Setelah puas hanya mengurung diri dikamar saja, Alea akhirnya menyerah juga, ia tidak mau terlihat lelah ketika harus berjaga di rumah sakit nanti malam.
Mereka mengisi hari ini dengan memindahkan seluruh barang dan pakaian Alea ke kamar Abrar, makan bersama, mencuci piring bersama, mencuci pakaian dan menjemur baju pun berdua, sungguh tampak harmonis dan romantis bagi yang melihatnya.
Abrar bahagia bagaimana mulai hari ini ia akan menjadi suami yang sesungguhnya, membangun rumah tangga yang bahagia seperti impian keduanya.
__ADS_1
Pria ini tidak ingin bayang masa lalu sang mama yang pernah gagal dengan papa kandungnya ikut menghantui. Pun Alea meski ia seorang perempuan manja namun jauh daripada itu ia ingin berumah tangga bersama Abrar selamanya seperti romansa orangtuanya yang tak lekang oleh waktu hingga mereka menua nanti.