Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 5


__ADS_3

Mata Nara memandang lekat wajah tampan yang berdiri di hadapannya, ia merasa tidak asing dengan wajah itu.


Lamunannya ditepis oleh suara maskulin nan tajam dari sosok lelaki tersebut.


"Kenapa kau bisa ada di sini?", kembali pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Dannis.


Pria ini begitu terkejut ketika masuk ke dalam kamarnya terdapat seorang perempuan berpakaian seksi dan terbuka, dan lebih membuatnya heran wanita itu tiba- tiba bersujud mengatakan jika ingin dibebaskan dari sana.


"Apa? bukankah tuan pria hidung belang yang ingin menyewaku?", tanya Nara pun tak kalah heran sebab jika itu pria yang menyewanya tentu tidak bertanya seperti itu perasaan pikirnya.


"Menyewa? apa maksudmu? katakan siapa yang memberimu akses masuk? aku tidak memesan wanita seperti mu", jawab Dannis kesal.


Lama Nara terdiam dan berpikir, mungkinkah ia telah salah masuk kamar. Itu artinya nasib baik masih berpihak padanya, tentu saja situasi ini bisa menyelamatkan dirinya dari pria yang akan menghancurkan masa depannya malam ini jika saja Nara tidak salah kamar.


"Tuan, maafkan aku.... aku rasa mereka salah memasukkan aku ke kamar ini, itu artinya aku terselamatkan, Alhamdulillah.....", ucap Nara penuh syukur, senyum tipis menghiasi wajah sembabnya.


Membuat Dannis kian kesal, bagaimana bisa ia berhadapan dengan seorang perempuan yang tersesat disaat ia baru saja kembali dari pertemuan penting yang membuatnya lelah.


"Jika begitu tunggu apalagi, keluarlah dari kamarku", ucap Dannis dingin sambil membuka pintu agar Nara segera keluar dari sana.


Dahi pria ini mengernyit heran ketika gadis yang berada di hadapannya ini menggeleng dengan cepat.


"Ayo tunggu apalagi? kamarku bukan tempat orang tersesat", kembali Dannis kesal karena perempuan itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Tidak tuan ku mohon jangan usir aku, maksudku... ah maksudku aku tidak tahu harus pergi kemana, seperti yang ku katakan diawal bahwa aku dijual oleh bibiku sendiri, aku dipaksa melayani pria di hotel ini, dan sekarang betapa beruntungnya aku bisa salah kamar seperti sekarang, tuan ku mohon....".


"Lantas kau mau aku apa? kau pikir aku peduli apa yang kau ceritakan", bentak Dannis menatap tajam wajah Nara.


Nara menelan ludah, mendapat penolakan dari pria itu.

__ADS_1


Belum juga Nara akan kembali berbicara, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar yang belum tertutup sempurna.


Dannis mengalihkan perhatiannya pada seseorang tersebut dan hendak membuka pintu berniat melihat siapa yang datang.


Nara sudah bisa mengira siapa yang datang, segera ia berlari ke balik pintu untuk bersembunyi, sambil matanya kembali menangis jika memang itu adalah pria yang sedang mencarinya.


"Ada apa?", tanya Dannis kesal pada beberapa orang yang datang mengetuk pintu kamarnya padahal malam sudah kian larut.


"Maaf, kami hanya ingin menanyakan apa ada seorang gadis yang salah masuk kamar ke sini?", tanya salah seorang wanita.


Dannis diam, ia belum menjawab melainkan melirik gadis yang mereka tanyakan itu sedang memohon dengan menggelengkan kepala tanpa bersuara, tampak pula mata gadis itu kembali berair membuat Dannis menghembus nafas kasar sebelum menjawab.


"Iya", jawab Dannis singkat, jawaban ini tentu membuat Nara kian menangis tidak menyangka bahwa bukan nasib baik bertemu pria itu yang tidak akan menyelamatkannya dari wanita yang membelinya.


Namun membuat wanita dan tiga orang lelaki lain tersenyum smirk mendengar jawaban Dannis, namun senyum mereka pudar ketika Dannis melanjutkan jawabannya.


"Gadis yang kalian cari sudah pergi sejak tadi, aku tidak tahu kemana karena bukan urusanku, pergilah jangan mengganggu waktu istirahatku atau kalian akan tahu akibatnya", jawab Dannis tajam.


Pria berpakaian seragam pegawai hotel itupun hanya menunduk takut.


"Ayo cari, aku sudah bayar mahal, enak saja ingin kabur begitu saja", oceh wanita yang dipanggil mami tersebut.


"Itu bukan urusanku. Pergilah sebelum aku habis kesabaran", sela Dannis diantar percakapan mereka.


Segera Dannis menutup pintu tanpa berbasa basi lagi. Nara bernapas panjang setelah memastikan pintu benar-benar tertutup.


"Terimakasih tuan, terimakasih.....", ucap Nara dengan semangat.


"Mereka sudah pergi, tunggu apalagi kau juga harus pergi bukan? kamarku bukan tempat menampung orang seperti mu", jawab Dannis dingin, pria itu berlalu ingin menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Tuan, ku mohon..... jangan usir aku sekarang...", ucapan Nara menggantung tatkala mendapat tatapan tajam mata elang sang pria.


"Maksudku, setidaknya beri aku waktu untuk bernapas, ini sudah larut aku tidak tahu harus kemana, aku belum terbiasa di kota, aku mohon tuan biarkan aku bermalam di sini, setidaknya sampai esok hari bukan malam seperti ini, aku mohon tolonglah aku seorang yatim piatu tuan, ibu tiri yang membawaku ke kota dan bibi ku tega menjualku hingga ke sini, kasihanilah aku tuan....aku tidak mengenal siapapun di sini... aku....", ucapan Nara kembali menggantung saat mendapat bentakan dari pria tersebut.


"Berhenti mengoceh, aku pusing, aku lelah jika harus memikirkan nasib orang asing sepertimu, terserah kau saja, lagipula apa peduliku", sergah Dannis sebelum masuk ke kamar mandi.


Nara hanya bisa menunduk takut, setidaknya ia merasa lega bahwa pria itu membolehkannya untuk bermalam sebelum pergi esok hari.


"Terimakasih tuan...", ucap Nara pada punggung Dannis yang telah masuk ke kamar mandi.


"Huh.... setidaknya malam ini aku bisa lepas dari wanita jahat itu, entah esok akan bagaimana lagi nasibku, aku tidak punya uang jika ingin kembali ke desa", gumam Nara sambil berjalan ke sudut kamar mengarah ke pintu, di sanalah gadis ini meringkuk merenungi nasibnya jauh dari orang-orang yang ia kenal.


Sesekali Nara merasa menggigil karena kedinginan sebab pakaian terbuka yang ia pakai.


"Kenapa kau duduk di situ?", tanya Dannis mendekati Nara yang baru saja ingin terpejam.


"Ah tuan...maaf, jika bukan di sini lantas aku akan tidur dimana? aku cukup tahu diri untuk tidak meminta lebih", jawab Nara menunduk.


"Aku tidak peduli pada nasibmu, bukan berarti aku pria yang kejam membiarkan wanita tidur di lantai, berdirilah kau boleh tidur di sofa, pakai selimut itu dan ingat jangan mengganggu ku!".


Mata Nara mengarah pada selimut yang ditunjuk oleh Dannis, segera ia berdiri dan menuruti perintah tanpa banyak bertanya lagi.


Karena sangat lapar, Nara memberanikan diri bersuara lagi.


"Tuan maaf, apa tuan punya makanan? aku sangat lapar, bibiku mengurungku sejak kemarin malam tanpa memberiku makan", tanya Nara polos.


Membuat Dannis kembali bernapas kasar, ia baru saja membuka laptopnya di atas ranjang tanpa menghiraukan seorang gadis cantik berada di kamarnya.


"Kau membuatku kesal saja, di atas meja itu ada makanan, makanlah sepuasmu dan ku ulangi jangan mengganggu ku!".

__ADS_1


Nara segera mengambil bungkusan makanan di atas meja seperti perintah Dannis, Nara makan begitu lahap karena terlalu lapar kemudian langsung tertidur oleh rasa lelah.


__ADS_2