
...Selamat membaca π...
...πΈπΈπΈ...
"Jangan bilang begitu Han. Mama gak pernah anggap kamu parasit. Kamu itu anak mama. Maafkan Karin kalau dia membuatmu sampai berpikir kamu hanya parasit."
Mama Herna merasa tidak enak hati pada Hana.
"Rina,,, Minta maaf ya sama Hana." pinta mama Herna.
"Maafin Karin kalau ada ucapan atau perkataan Karin yang membuat mbak jadi berperasaan buruk. Tapi apa pun itu,,, Karin sama sekali tidak punya niatan untuk berbuat tidak baik pada mbak. Bagaimana pun mbak tetap bagian dari tanggung jawab suamiku yang saat ini diwakilkan pada Karin."
Tanpa banyak protes bahkan walau ia tak merasa tak ada yang salah dengan semua ucapannya tadi,,, tapi bidadari tak bersayap itu tetap merendah. Dan itu makin membuat Hana kesal padanya.
"Aku tau Rin. Aku juga minta maaf kalau kehadiranku mengganggumu."
Bagaimana pun Hana tak mau kekesalannya terlihat di depan mama Herna maupun papa Hengki jadi ia pun mengulas senyum lebar.
"Kemarilah,,, Duduklah di dekatku. Kita belum saling mengenal jauh bukan? Akan sangat menyenangkan kalau kita bisa dekat." ucap Hana lagi.
Karin membalas senyum dan mendekati Hana. Duduk di kursi yang tadinya diduduki mama Herna yang kini pergi ke toilet. Dalam senyum itu ia masih menelaah kalimat ambigu Hana tadi.
Kita bisa dekat,,,
Itu adalah kalimat yang belum lengkap dan semestinya harus diperjelas lagi. Dekat sebagai apa?
Papa Hengki sedikit lega melihat keduanya tengah berbincang bincang ringan. Papa Hengki berharap baik Hana maupun Karin tulus menjalin persahabatan meski sebenarnya itu tidak perlukan.
__ADS_1
Bagaimana pun juga tetap lebih baik menghindari sang mantan kalau ingin hidup lebih damai dan tenang ke depannya.
"Tapi setidaknya mereka sudah tidak saling lempar sindiran." papa Hengki menenangkan hatinya sendiri dengan bergumam lirih begitu.
Sebuah panggilan telpon membuat beliau beringsut keluar dari kamar itu karena takut obrolannya dengan salah satu rekan lama bisnisnya terganggu.
Papa Hengki memberi isyarat pada Karin saat hendak keluar kamar dengan mengangkat ponselnya. Karin mengangguk paham bahwa beliau akan menerima telpon.
"Kamu pikir kamu sudah menang dengan bisa membungkam mama tadi??" Hana tak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengecam wanita kecil itu.
"Memangnya mbak anggap kita sedang berlomba sampai harus ada yang merasa menang dan kalah?" Maaf mbak,,, tapi kalau mbak punya pikiran begitu, Karin sarankan lebih baik mbak buang pikiran yang percuma itu. Karena Karin sedang tidak berlomba dengan mbak. Tidak ada yang perlu dilombakan antara kita." jawab Karin.
"Lihat saja. Kamu yang akan kalah." ketus Hana.
"Mbak,, Karin heran deh sama mbak. Apa sih yang berusaha mbak perebutkan sama Karin? Suami Karin? Mertua Karin? Atau semua kebahagiaan Karin? Mbak mau menguasai semua itu? Silahkan mbak kalau memang mbak gak malu. Apa begini ajaran seorang mendiang kyai pada putrinya? Apa begini ajaran seorang ibu pada putrinya?? Apa mbak mikir di alam sana keduanya akan menangis melihat mbak yang seperti ini?"
Hana tertegun mendengarnya. Tidak menyangka bahwa Karin bisa sejauh itu bicara. Hana terdiam tanpa jawaban.
"Sedang terima telpon di luar ma." jawab Karin.
"Oh gitu,,, Ngomong ngomong kalian kayaknya serius sekali ngobrolnya. Kalian ngobrolin apa? Mama boleh ikutan? Senang rasanya melihat kalian akur begini." ucap mama Herna.
"Karin setuju kalau Dion menikahi Hana selepas Hana melahirkan ma. Dan Hana juga ok gak apa apa menunggu waktu itu."
Dengan cepat Hana menjawab dan bisa dikatakan sangat lancang menjawab begitu. Karin terkejut tapi cepat menguasai dirinya.
"Beneran? Duh mama senang sekali. Rina kamu memang baik hati. Maafkan mama kalau mama sempat menganggap kamu gak punya hati. Mama tau dipoligami itu memang bukan keinginan wanita mana pun tak terkecuali mama. Tapi kan untuk kasus kalian ini berbeda. Pokoknya mama senang dengan keikhlasan kamu berbagi suami."
__ADS_1
Mama Herna terus bicara tanpa memberi kesempatan Karin menjelaskan apa pun. Belum lagi selesai bicara beliau langsung memeluk Karin erat sampai Karin agak susah bernapas.
"Ma,,, Ma,,, Karin gak bisa napas nih." ucap Karin agak terengah engah.
"Eh maaf sayang. Mama terlalu senang sampai gak bisa menahan diri. Sebentar mama cari papa dulu kalau gitu ya. Papa juga harus jadi saksi kalau kamu sudah bersedia."
"Ma,,,"
Dengan cepat mama Herna keluar kamar itu tanpa menghiraukan lagi panggilan Karin. Hana hanya tersenyum sinis melihat Karin menghela napas kasar.
"Ini baru permulaan. Kamu lihat itu,,, mama bahagia sekali dengan berita ini. Kamu tega mengecewakannya?? Kalau aku sih nggak karena mendiang ibuku mengajarkanku begitu. Lalu mendiang ayah,,,Tau apa kamu apa yang sudah diajarkan beliau padaku?? Kamu itu hanya anak kemarin sore yang gak tau apa apa tentang siapa dan bagaimana hidupku." ketus Hana.
"Oh ya satu lagi,,, Mereka memang akan menangis di sana melihatku seperti ini. Tapi bukan menangisi apa yang kulakukan padamu melainkan menangisi apa yang Dion lakukan padaku. Kamu tidak tau kan Dion pernah berjanji pada mereka untuk selalu menjaga dan membahagiakanku? Bukan selalu menyeretku dalam kedukaan seperti ini. Makanya kali ini aku akan tagih janji itu." lanjutnya lagi.
Karin menanggapinya dengan tersenyum. Tapi Hana jadi sebal dibuatnya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Hana ketus.
"Mbak,,, Segalau itukah mbak sampai mbak gak bisa bedakan Karin ini sedang tertawa atau hanya tersenyum. Minum dulu mbak,,, Biar lebih tenang dan jernih pikiran mbak." Karin malah mengambil segelas air putih dari nakas dan diulurkannya pada Hana.
Gelas itu pun ditampik oleh Hana dan jatuh pecah di lantai. Pecahan kacanya menyebar kemana mana. Karin kembali tersenyum.
"Mbak,,, baiklah kalau memang mbak mau bersaing sama Karin. Mari kita bersaing tapi secara jujur jangan manis di depan mama papa tapi sikap mbak kasar begini saat mereka tidak ada. Mbak mau suami Karin menikahi mbak? Baiklah,,, rebutlah kembali hatinya kalau memang mbak bisa dan mbak gak punya harga diri."
"Karin beri mbak waktu sembilan bulan untuk menunjukkan pesona mbak di depan suamiku. Tapi sebelum mbak yakin untuk tetap maju,,, Mbak siap untuk selalu jadi yang kedua? Jadi yang kedua itu sakit lho. Mbak kan sudah tau gimana rasanya dulu? Kenapa? Karena baik Dion atau pun mama papa akan mendahulukan ibu dari anak dan cucu mereka ini." Karin menunjuk dirinya sendiri.
"Satu lagi,,, Status Karin ini sah di mata hukum dan agama. Akan ada sanksi bagi mbak kalau mbak nekad merebut apa yang jadi milik Karin. Bisa sanksi pidana atau juga sanksi moral. Pikirkan itu mbak. Karin permisi. Assalamualaikum."
__ADS_1
...πΈπΈπΈ...
...Sudah senin nih,,, Mana hadiah, vote buat author? ...