
Arkan pulang menemui istrinya yang tengah bersantai di dalam kamar sambil sibuk dengan ponselnya, Vina terheran melihat Arkan pulang cepat hari ini, perempuan itu segera berdiri dari ranjang menghampiri Arkan yang berwajah dingin.
"Bang Arkan pulang cepat? Atau ada yang tertinggal?" tanya Vina.
"Iya aku tidak sengaja membawa ini, makanya aku pulang ingin mengembalikannya padamu sekaligus ingin mendengar penjelasanmu tentang itu" jawab Arkan berusaha meredam amarahnya, ia memberikan sebuah kertas pada istrinya yang bingung.
Vina menerima kertas itu dengan raut terkejut sekaligus memerah, ia gugup seketika kembali menatap wajah suaminya yang menaikkan alis seakan menunggu sebuah jawaban atas pertanyaan lelaki itu tadi.
Vina menelan ludah kasar, ia meraih tangan suaminya "Sayang aku bisa menjelaskan ini" ucap Vina seraya memohon.
"Tenanglah Vina, kita bisa bicarakan ini baik-baik, aku akan mendengar semua penjelasanmu" ajak Arkan menarik Vina duduk di tepi ranjang.
"A...a a aku minta maaf, aku mohon jangan tinggalkan aku bang Arkan, aku mohon aku melakukan ini agar kau tetap mau menikah denganku, jika aku mengaku kau pasti tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak pernah bisa hamil lagi" ucap Vina yang sudah menangis, perempuan ini sudah tidak tahu harus bicara apa dan memulainya darimana.
Menarik napas dalam Arkan menatap Vina dengan sendu, sungguh hati suami mana yang tidak kecewa akan kebenaran istri yang telah berbohong sesuatu yang besar bahkan jauh sebelum mereka menikah.
__ADS_1
"Kau sendiri yang menginginkan ini Vina, aku tidak akan memperpanjang masalah ini aku hanya ingin mengatakan padamu aku sungguh kecewa, aku mengakui aku pria bodoh serakah telah berani mencintai dua wanita sekaligus, namun perlu kau ketahui aku tulus mencintaimu maupun Melati, aku tidak percaya kau bisa melakukan ini padaku bahkan jauh sebelum kita menikah aku menerima mu Vina meski kau sudah tidak suci lagi ketika menikah denganku, pernah aku menyangkal atau meninggalkanmu karena itu tidak kan? Aku berusaha menjadi suami yang baik dan adil meski kau tetap yang prioritas selama ini, aku menuruti semua kemauanmu tanpa banyak menuntut tapi apa hari ini kau sendiri yang mengakhirinya"
"Tidak bang Arkan jangan katakan itu" ucap Vina yang sudah terisak.
"Maafkan aku Vina, kau sudah berbohong untuk hal yang paling sensitif dalam rumah tangga, kau pura-pura hamil lantas apa kebohongan apa lagi setelah ini? Apa kau akan berpura-pura keguguran ketika kehamilanmu yang tidak kunjung membesar? Atau kau akan meneruskan kebohongan dengan mengadopsi anak orang lain untuk mengakui itu sebagai anakku? Apa seperti itu rencanamu? Kau tega padaku Vina, aku menduakanmu tapi tidak meninggalkanmu bukan? Kenapa kau membalasnya dengan ini? Andai saja kau jujur tentang semua kondisi mu sebelum menikah aku akan tetap menerimamu karena aku mencintai kalian tanpa syarat Vina....sungguh aku tidak bisa hidup dengan perempuan yang telah membohongiku terlebih semua keluargaku" ucap Arkan sendu dan matanya sudah berkaca-kaca.
Vina hanya bisa menggeleng, ia bahkan turun dari ranjang untuk sujud di kaki suaminya, namun rasa kecewa Arkan melebihi segalanya, memang benar Arkan tidak pernah mempermasalahkan tentang masa lalu Vina yang sudah tidak perawan ketika menikah dan lelaki ini pun tidak memandang status sosial perempuan ini yang hanya anak dari seorang pekerja harian lepas dan Vina pun hanya pegawai biasa dikantornya yang bahkan hanya tamatan SMA saja.
"Maafkan aku bang Arkan, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku janji akan berubah aku tidak akan berbohong lagi padamu....aku mohon" ucap Vina tergugu dengan kepala menunduk memeluk kedua kaki suaminya.
"Maafkan aku Vina, aku tidak bisa....aku sungguh kecewa bahkan kecewa ini melebihi rasa cinta untukmu, kau bahkan tidak berniat untuk jujur padaku padahal kita sudah lumayan lama menikah sampai aku sendiri yang mengetahui ini, itu artinya kau sama sekali tidak mencintaiku Vina....jika kau cinta kau tidak akan berbohong sejauh ini, padahal kau tahu sendiri sifat suamimu aku tidak akan membatalkan menikahimu hanya karena sebuah kekuranganmu yang tidak bisa hamil"
"Jangan menangis lagi, bukankah ini kau sendiri yang menginginkannya terjadi, aku tidak akan memarahimu karena sudah tidak ada gunanya, mungkin lebih baik kita berpisah aku tidak bisa hidup denganmu....aku sudah memaafkanmu Vina namun keputusanku akan tetap memilih perpisahan, mungkin aku bukan suami yang baik untukmu, berdirilah....aku akan menunggu diluar kemasi barang aku akan mengembalikanmu pada kedua orangtuamu, kita berpisah secara baik-baik agar semuanya tetap baik, kau tenang saja kau tidak akan pulang dengan tangan kosong kau bisa menempati rumah yang ku belikan ketika kita menikah karena itu memang kubelikan untukmu, kau bisa membawa ayah dan ibu untuk tinggal disana dan mulailah hidup baru tinggalkan kebiasaan berbohongmu dan menjadi lebih baik lagi, aku akan memberikan modal usaha agar ayah tidak perlu kerja serabutan lagi, mobil juga akan tetap menjadi milikmu" ucap Arkan panjang lebar sambil meraih tubuh Vina agar kembali duduk di ranjang.
Arkan memegang kepala istrinya sambil meneteskan airmata lalu berkata "Vina Andriyani aku menjatuhkan talak satu padamu"
__ADS_1
Kata yang mampu meruntuhkan kesombongan perempuan itu selama ini, Vina bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, ia hanya tergugu menangis melihat punggung Arkan meninggalkan kamar untuk ia segera bersiap mengemasi barang.
"Sayang kau pulang? Hei kenapa wajahmu? Kau habis menangis?" tanya mama Bella heran.
Arkan memeluk mamanya, Arkan tidak pernah secengeng ini namun kecewa akan hal ini sudah benar-benar meruntuhkan pertahanannya, mama Bella mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi hingga pria itu menjadi rapuh, maka mama Bella mengajak putranya untuk bicara berdua agar Arkan bisa mencurahkan isi hatinya.
Mama Bella tidak bisa berhenti menangis ketika Arkan menceritakan semua permasalahannya dengan Vina, mama Bella kembali hanya bisa memeluk Arkan memberi kekuatan, wanita paruh baya ini menemui Vina dikamarnya yang baru saja selesai berkemas sambil terus menangis.
"Mama?" ucap Vina sendu.
"Maafkan mama Vina, mama juga tidak tahu harus seperti apa sekarang....kau sendiri yang menginginkan ini, mama tidak akan membelamu dan tidak akan ikut campur keputusan Arkan, mama juga kecewa akan hal ini namun marah bukanlah solusinya, mama hanya berharap kau bisa menjadi lebih baik setelah kejadian ini bahwa dengan berbohong tidak akan membuatmu tenang apalagi bahagia, kebohonganmu lah yang menyebabkan ini terjadi, belajarlah dari ini....maafkan mama jika selama kau tinggal disini banyak merepotkanmu atau pernah menyakitimu, biar kalian akan berpisah kau tetap putri mama Vina, mama berharap yang terbaik untukmu, ayo jika kau sudah bersiap Arkan sudah menunggumu di depan" ajak Bella menggenggam tangan Vina.
Perempuan itu menarik kopernya dengan langkah gontai, ia tidak tahu harus berkata apa sekarang seakan lidahnya kelu akan kejadian ini, sungguh bukan ini yang ia inginkan, namun memang ia tersadar semua ini karena ulahnya sendiri.
*****
__ADS_1
vina vina, udah jahat, berbohong menyebalkan lagi tapi masih aja mujur dapat rumah sama mobil gratis plus modal lagi, hayo kurang apalagi si bang arkan....hmm terima nasib ya vin, makan tuh bubur yang udah dikasih garam sama bang arkan.
lanjut yaaaa