Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 35


__ADS_3

Senyum Alea mengembang tatkala sang suami telah kembali dari luar kota, namun perasaannya masih saja gundah memikirkan kebenaran tentang skandal iparnya Arkan, ingin sekali ia mengadu pada Abrar namun ia urung karena memikirkan banyak dampak yang akan terjadi jika kebenaran terungkap dari bibirnya, ia sangat berharap Arkan segera mengakhiri kebohongan ini.


"Hei....kenapa diam? Kau tidak merindukanku?" tanya Abrar merasa heran karena kedatangannya tidak disambut heboh oleh istrinya.


Alea hanya menarik napas dalam, langsung saja perempuan ini memeluk suaminya erat menyembunyikan wajahnya di dada bidang Abrar.


"Tentu aku merindukan suamiku" jawab Alea manja.


Abrar meraih bibir istrinya yang selalu ia rindukan selama dua hari berpisah untuk pertama kalinya selama mereka bersama.


Mereka sama-sama terlarut dalam suasana kerinduan, hingga berakhir dengan adegan ranjang.


*****


Alea memilih diam untuk kebenaran tentang Arkan, ia berusaha bersikap seperti biasa sebab banyak hal yang harus dipertimbangkan mengenai hal tersebut, ia berpikir lebih baik Arkan sendirilah yang harus menjelaskan semuanya pada keluarga, hanya saja Alea berharap itu segera agar tidak berlarut dalam kegundahan.


Alea beraktivitas seperti biasa, ia sudah mulai diantar sang suami dalam setiap menjalani rutinitasnya di rumah sakit, sejak kejadian tentang Imran tempo hari Abrar mulai bersikap sedikit lebih posesif dari biasanya, sungguh pria ini tidak mau jika sang istri kembali digoda oleh lelaki lain.


"Sayang....." panggil Alea yang masuk secara tiba-tiba di ruangan suaminya.


Perempuan itu sengaja datang ke kantor siang ini tanpa memberitahu sang suami terlebih dahulu, beruntung Abrar memang tengah berada di ruangannya bersama Arkan dan sekretaris barunya Reza.


Abrar terkejut istrinya datang, namun ia tidak bisa menyembunyikan bahwa ia senang Alea sering ke kantor akhir-akhir ini hanya untuk sekedar melepas rindu.


Abrar tersenyum menyembut tangan istrinya, Alea menerima uluran tangan Abrar sambil melirik Arkan tajam, kemudian matanya beralih pada Reza yang baru mulai bekerja hari ini menggantikan sekretaris sebelumnya.


"Reza" ucap Alea heran.


"Alea" jawab pria yang seumuran Alea.


"Sayang kau mengenalnya?" tanya Abrar sedikit tidak suka.


"Hei.....ini teman sekelasku ketika SMA, dia memilih kuliah perkantoran, apa dia sekretaris baru mu sayang?" tanya Alea balik.


Abrar hanya mengangguk malas.


"Apa kabarmu Reza, sudah sangat lama kita tidak bertemu" sapa Alea.


"Kabarku baik Alea, iya aku menjadi sekretaris barunya tuan Abrar, dia suamimu?"


Alea mengangguk cepat.

__ADS_1


"Aku sangat senang kau menjadi sekretaris suamiku, itu artinya kau akan menjadi mata-mata ku untuk mengawasi pria ini agar tidak tergoda wanita lain" jawab Alea begitu saja sambil melirik sinis ke arah Arkan.


Arkan hanya diam pura-pura sibuk dengan map ditangannya.


Abrar tersenyum mendengarnya, ia mengecup puncak kepala istrinya seraya merapatkan tubuhnya mendekap Alea mesra.


Reza menelan ludah melihat mereka, ia tidak menyangka Alea gadis idola di kelasnya, banyak yang mengagumi Alea hampir seluruh siswa lelaki yang berwajah tampan ingin mendekati gadis periang itu, namun tidak satupun yang bisa mendapatkan Alea, karena memang Alea suka berteman saja terlebih ia mendapat larangan pacaran oleh orangtuanya, termasuk Reza sendiri yang pernah menjadi pemuja rahasia Alea ketika di kelas dulu, sekarang gadis yang sama sudah menjadi istri atasannya.


"Kau tidak berubah Alea" ucap Reza tertawa pelan, karena ia sudah paham sikap Alea yang memang heboh sekaligus ramah terhadap siapapun sejak sekolah dulu.


"Apa maksudmu istriku tidak berubah?" tanya Abrar tidak suka pada sekretaris barunya itu.


"Maaf tuan Abrar, maksudku istri anda masih sama seperti ketika kami sekolah dulu dia selalu ramah terhadap siapapun, aku mengira Alea sudah tidak mengenaliku sekarang"


"Kau ini bicara apa Reza, kita ini teman sampai kapanpun aku tidak akan lupa dengan semua teman sekolahku, aku senang kau bekerja disini"


"Terimakasih Alea, aku senang bertemu denganmu"


"Jangan sok akrab" Abrar menimpali.


Alea terkekeh mendengarnya.


"Kau boleh keluar sekarang, bekerjalah dengan baik jangan kau mengira istriku adalah temanmu kau bisa bersikap seenaknya" ucap Abrar pada Reza dengan menegaskan kata istri pada kalimatnya.


"Baik tuan Abrar, aku akan bekerja secara profesional, aku permisi" jawab Reza.


Abrar mengangguk, Alea melambai tangan pada teman lamanya itu sebelum Reza benar-benar menghilang.


Arkan diam sejak tadi, membuat Alea geram dengan lelaki itu.


"Bang Arkan mau kemana?" tanya Alea ketika Arkan tampak ingin menghindari Alea.


"Aku bukan obat nyamuk, jadi aku ingin keluar sebentar ingin mencari udara segar sekaligus makan siang" ucap Arkan mencoba untuk biasa saja.


"Makan siang bersama siapa? kenapa tidak makan bersama kami saja barangkali ada sesuatu yang ingin kita bahas misalnya?" tanya Alea tersenyum sinis.


Abrar tidak curiga sama sekali, ia hanya geleng kepala meliha tingkah keduanya karena Abrar sudah sering mendengar mereka berdebat untuk hal yang tidak penting.


"Aku ingin merokok Alea, suamimu tidak menyukai asap rokok berada di ruangannya, baiklah.....aku akan pergi sekarang selamat bermesraan" jawab Arkan menatap Alea sambil geleng kepala pelan seakan menandakan sebuah kode.


Alea berdecak kesal, karena Arkan belum berniat untuk jujur tentang skandalnya yang seharusnya diselesaikan segera.

__ADS_1


"Astaga....aku gerah sayang, aku akan mencuci wajahku, kau bisa pesankan makan siang kita sekarang, aku mencintaimu bang Abrar....hanya kau seorang, tidak ada lelaki lain selain dirimu, aku harap kaupun begitu kita bangun rumah tangga tanpa ada campur orang ketiga keempat apalagi kelima, kau akan ku sunat sampai putus jika itu terjadi sayang" ucap Alea kembali dengan nada bercanda namun menyindir sambil melirik Arkan yang juga akan berlalu dari sana.


Abrar terkekeh, dan mengecup bibir istrinya gemas sebelum melepaskan Alea ke kamar mandi.


"Istriku sungguh mengerikan bukan? aku tidak akan berani melakukannya" ucap Abar tertawa pada Arkan.


Arkan ikut tertawa canggung dibuat mereka.


******


Setelah makan siang dan memuaskan hasrat saling merindukan, saatnya Alea meninggalkan suaminya karena kebetulan Keysa lewat kantor Abrar dan Alea memutuskan ikut temannya saja jadi Abrar tidak perlu mengantarkannya kembali ke rumah sakit.



"Aku mencintaimu sayang....sampai jumpa di rumah" kecup Alea berulang pada suaminya.


Alea ingin menuju pintu namun Abrar memanggilnya dari kursi ia duduk saat ini, lelaki itu tidak berkata apa-apa namun melingkarkan jarinya membentuk love pada Alea, kemudian berkata "Sayang....i love u"


"Love u too...."


Alea tertawa dibuatnya, segera ia melambai tangan dan berlalu dari ruangan suaminya itu.


Alea tidak sengaja bertemu kembali dengan Reza ketika di lobby, sepertinya Reza baru selesai makan siang.


"Reza" panggil Alea.


"Alea, ada apa? apa kau mau pulang?"


"Tidak....aku akan kembali ke rumah sakit, aku masih koas Reza belum jadi dokter, boleh aku meminta nomor ponselmu?"


"Kau sangat cocok jadi dokter Alea, dokter yang cantik dan ramah sepertimu akan membuat pasien cepat sembuh, untuk apa nomor ponselku?"


"Kau benar juga, aku akan jadi dokter yang cantik sejagat maya, ha ha...kau bisa saja, ayo berikan, tentu untuk menghubungimu Reza, seperti yang ku katakan tadi kau akan bermitra denganku untuk menjadi pengawas suamiku karena kau sekretarisnya yang akan ikut kemana dia pergi bukan? kau harus melapor padaku jika ada wanita yang terlibat dengan kalian terlebih jika wanita itu tampak mencurigakan"


"Mencurigakan bagaimana Alea?" tanya Reza heran, pria ini belum mengerti.


"Kau tahu maksudku Reza, aku tidak mau suamiku didekati wanita lain, kau tahu sendiri bagaimana pergaulan bos-bos bukan? pasti partner kerja kalian banyak melibatkan wanita cantik, hanya untuk berjaga aku tidak mau nasib iparku menimpaku juga tidak ada salahnya waspada bukan?"


"Aku tidak menyangka Alea kau bisa posesif seperti ini, kau mencintai suamimu? kenapa tidak percaya padanya"


"Sangat mencintainya, sekarang jangan mudah percaya pada siapapun karena yang berwajah bak malaikat pun bisa khilaf, meminimalkan risiko tidak ada salahnya bukan? sudah jangan banyak bertanya cepat berikan ponselmu!"

__ADS_1


"Beruntungnya tuan Abrar mendapatkanmu Alea" jawab Reza tersenyum menatap Alea sambil mengeluarkan ponselnya.


__ADS_2