
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Ruangan ber AC di kamar hotel kelas VIP yang biasanya selalu dingin, terasa panas bagi Valdy malam itu. Entah memang ruangan ini yang panas atau suasana hatinya yang kurang enak beberapa hari ini.
"Sepertinya aku gak kebiasa dengan cuaca di sini." gumamnya lirih mengingat ini baru hari ke tujuhnya berada di sini.
Ia ingin sekali tidur cepat malam itu tapi matanya tak mau sama sekali terpejam. Otak dan pikirannya kemana mana.
"Haaaahhhh!!!!" Ia pun kesal lalu memilih bangun saja dari ranjang empuk itu dan membuka jendela sliding kamarnya lebar lebar.
Menurutnya percuma juga pakai Ac kalau sudah tertutup rapat juga masih terasa tak nyaman. Karenanya ia memilih membuka jendela dan membiarkan angin malam dengan liarnya memasuki kamarnya itu.
Valdy mengambil sebatang rokok kesukaannya lalu menyulutnya. Ia berusaha menikmati seni dari nikmatnya merokok seperti biasanya. Menghisapnya dalam dalam lalu mengeluarkan kepulan asap putih yang sengaja ia bentuk seperti gelang gelang kecil.
Namun detik kemudian ia mematikan rokoknya dan menekan nekannya ke asbak dengan kesalnya. Bahkan merokok yang selalu bisa memberikan inspirasi baru dan menjadi kebiasaannya pun malam ini tak berhasil menenangkannya.
Valdy mondar mandir di balkon kamar. Dibukanya kaos branded yang dikenakannya malam itu lalu dilemparnya asal. Valdy kini hanya mengenakan celana panjang warna putihnya. Tanpa alas kaki tanpa baju. Dibiarkannya angin malam membelai punggung dan dada kekarnya.
Valdy mengacak acak rambut yang biasanya selalu ia jaga kerapiannya. Ia paling tidak suka berpenampilan tidak rapi. Ia suka tampil wangi, rapi dan tidak begajulan.
"Siapa sih kamu??!!! Kenapa kamu mengusikku terus??!!!" umpatnya kesal sambil terus mengacak ngacak rambutnya berharap bayangan orang yang membuatnya kesal malam itu bisa hilang.
Tapi nyatanya semakin berusaha melupakan malah semakin jelas dan kuat pesonanya.
__ADS_1
"Sial!!"
Valdy menyulut kembali rokoknya. Kali ini ia menuang segelas minuman beralkohol kesukaannya dan berharap minuman itu bisa membuatnya merasa lebih baik seperti biasanya tiap kali ada yang mengusik pikirannya.
Sekali teguk minuman itu pun amblas. Rokok kembali dihisap kuat kuat dan disebarkan asapnya yang langsung disambut angin malam itu. Valdy kembali merenung.
"No,,no,, ini tidak benar!! Tidak benar Valdy!! Kamu punya prinsip dan kamu selalu yakin prinsipmu itu benar. Tidak ada yang seperti itu di dunia ini. Semua sama!!! Gak Morena, gak mommy, gak Celia,,, semua sama!!! Bahkan wanita itu pun sama!! Dia tidak seindah yang kamu lihat."
Valdy mengoceh sendiri.
Morena adalah nama gadis blasteran yang dikenalnya dan sempat menjadi satu satunya gadis yang dicintainya sejak pertama ia mengenal apa itu cinta. Valdy makin cinta pada Morena setiap harinya hingga ia pun yakin akan menjadikan gadis itu sebagai pendampingnya. Namun kenyataan pahit membuka matanya bahwa gadis itu tak seindah bentukannya.
Morena berselingkuh dengan teman dekat Valdy. Valdy sendiri yang mengetahuinya saat keduanya tengah asyik bercumbu mesra di apartemen Morena. Valdy yang waktu itu ingin memberi kejutan alhasil malah ia yang sendiri yang terkejut.
Sifat Morena yang materialistis masih bisa diterimanya meski setiap kali bersamanya, Valdy memang selalu habis banyak untuk menyenangkan gadis itu. Tapi sifat tidak setianya sangat tidak bisa ditoleransinya.
Apalagi seperti bidadari??? Bullshitt!!!
Itu hanya dongeng belaka. Mitos saja. Valdy paling anti dengan cerita atau dongeng. Dunia dunia halu seperti novel, komik, cerpen dan sebangsanya itu menjadi musuh bebuyutannya.
Lalu malam itu ia menyesali dirinya sendiri yang telah menyalahi prinsipnya sendiri setelah pertemuannya dengan janda yang baru ditinggal meninggal suaminya. Yang notabene adalah istri dari om Dionnya.
"Aku bahkan tidak tau namanya tapi bisa bisanya aku sebodoh itu menganggap dia bidadari. Ah Valdy,,, wanita itu semua sama!!!"
Kembali Valdy menegaskan kepada dirinya sendiri prinsip yang dibuatnya sendiri. Rupanya sedari tadi ia terus kepikiran Karin. Entah kenapa pesona janda muda itu begitu mengusik dirinya. Entah karena memang parasnya yang memang cantik atau juga hatinya.
__ADS_1
"Kamu cantik hati dan rupa. Astaga Valdy!! Ngomong apa sih kamu waktu itu?? Serius kamu memujinya?? Dia bahkan tidak seberapa cantik dibanding Elizabeth yang terus mengejar ngejarmu selama ini. Morena yang mengkhianatimu juga lebih cantik." gerutu Valdy.
Valdy tertegun lagi. Ingatannya masih sangat segar saat ia sendiri yang mengatakan bahwa Karin itu cantik hati dan rupa. Saat itu ia memang sangat terkesan dengan sikap wanita itu. Meski sudah disakiti tapi masih saja berbudi.
"Dia memang mengalah urusan harta tapi bukan berarti dia wanita setia. Dia itu hanya sedang sedih karena baru sehari ditinggal om Dion. Lihat saja nanti seminggu,,, sebulan lagi. Wanita itu pasti sudah mendapat pengganti baru." ocehnya kemudian.
Tapi lagi lagi ia terdiam. Hatinya tidak membenarkan ucapannya sendiri. Pusing dengan hati dan dirinya sendiri, Valdy membanting tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Meraih bantal empuk itu untuk menutupi wajahnya dengan harapan matanya itu juga akan mau terpejam.
Ia lelah berhari hari terusik oleh bayangan Karin. Hampir tiap malamnya ia tidak bisa tidur tenang. Valdy terus memikirkannya. Dan malam ini adalah puncak kegalauannya.
"Oh God,,, Please Valdy,, Tidur dong. Ngantuk nih!!!" ia memohon pada dirinya sendiri untuk bekerjasama.
Tetap tak bisa tidur. Valdy bangun lagi. Duduk dan mengacak kembali kepalanya.
"Bisa gila aku kalau seperti ini terus. Baiklah,,, Aku akan kesana besok. Akan aku buktikan bahwa wanita itu bisa ku taklukkan dengan mudah. Hanya demi membuktikan prinsipku sendiri tidak pernah salah. Ia akan bertekuk lutut padaku." ujarnya kemudian dengan penuh keyakinan.
Siapa memangnya yang bisa menolak pesonanya?
Tubuh kekar terawat tiap helai ototnya. Wajah yang tegas dengan bentukan sempurna di setiap lekukannya. Alis yang tegas. Wajah blasterannya pun selalu mencuri perhatian. Belum lagi di usia yang mencapai angka 37 namun masih single dan punya bisnis sendiri, membuat ia mempunyai daya tarik tersendiri bagi kaum hawa.
"Kita lihat seberapa kuat imanmu menolak pesonaku. Kita lihat seberapa besar cintamu yang kamu agung agungkan untuk om Dion. Maaf ya om kalau nanti hasilnya membuat om mungkin menyesal menikahinya."
Valdy baru bisa tersenyum membayangkan dirinya akan memenangkan semua ini. Kali ini matanya mulai merasa berat dan ia tak ingin menyia nyiakan kantuk ini.
Ia harus tidur sebelum bertempur.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...