Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Kekanak Kanakan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


Mobil memasuki kawasan jalan sedap malam. Sopir mulai memelankan laju roda empatnya karena kawasan ini mengharuskan para pengemudi tidak ngebut. Kawasan elite ini terlihat sepi dan tenang namun pengawasannya terbilang ketat.


Tidak sembarang orang yang tidak berkepentingan diperbolehkan untuk masuk. Hanya mereka yang bisa menyebutkan dengan jelas nama pemilik rumah yang akan didatangi saja yang boleh masuk. Kalau tidak bisa menyebutkan, maka security yang bertugas di pintu keluar masuk akan menelpon pemilik rumah menanyakan apakah tamu asing itu diijinkan masuk atau tidak.


"Rumah nomer 88. Saya mau mengunjungi tante saya yang suaminya meninggal seminggu yang lalu."


Dengan lantang Valdy mengatakannya saat security menanyakan ada tujuan apa dirinya datang. Meski lantang sebenarnya ia merasa tidak tenang karena sejujurnya ia sendiri tak tau mau apa ia mengunjungi rumah nomer 88 itu.


"Oh rumah almarhum tuan Dion ya?" tanya security memastikan.


Valdy mengangguk membenarkan. Kemudian security pun membukakan pintu plang itu. Meloloskan taksi itu untuk menuju ke tujuannya.


"Nomer 80,,,82,,,84,,, astaga makin dekat saja dan aku semakin merasa bodoh." batin Valdy sembari membaca nomer nomer rumah di bagian kanan jalan yang merupakan angka angka genap.


"Stop!!!"


Melewati rumah nomer 86, Valdy meminta sopir itu menghentikan mobil. Sopir menurut saja meski dalam hati heran kenapa minta stop padahal belum sampai tujuan. Ia yakin ia tak salah dengar tadi saat penumpangnya menyebut angka 88 di pos security.


"Sudah sampaikah tuan?" tanyanya daripada penasaran.


Valdy tak menjawab melainkan hanya mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada sopir itu untuk diam dan menunggunya. Sopir itu penasaran dengan apa yang dilihat oleh penumpangnya sampai penumpang itu tak berkedip.


Sopir pun ikut melihat ke arah yang sama di mana di pagar rumah nomer 88 itu ada seorang wanita muda berhijab yang tengah berbicara dengan seorang laki laki yang kelihatannya masih seumuran dengan wanita itu. Keduanya tampak bicara serius.


Detik berikutnya lelaki itu memeluk wanita berhijab itu bersamaan dengan decakan kesal penumpang taksinya.

__ADS_1


"Kan benar. Wanita semua sama saja!!! Apa lagi yang mau kamu buktikan?? Sudah jelas kan?? Janda itu sudah berpelukan dengan pria lain tepat tujuh hari kematian suaminya. Masih mau mikir kalau wanita itu wanita baik baik??? Masih mau meluangkan waktumu untuk membuktikannya lagi???"


Valdy kesal bukan main melihat Karin dipeluk seorang lelaki. Ia bahkan sempat memukul jok mobil di depannya dengan sangat keras membuat si sopir terkejut.


"Wah tuan,,, kalau mau marah ya jangan mobil saya dong pakai pelampiasan. Ini mobil nyewa kalau rusak saya harus ganti." sungut sopir.


"Aku ganti kerusakannya!!" ketus Valdy tanpa meminta maaf dan matanya masih terpaku pada kedua orang yang membuat hatinya memanas.


Entah memanas karena mengetahui kebenaran atau sebenarnya ia cemburu karena wanita yang diam diam mencuri tempat dihatinya itu tengah disentuh pria lain.


"Jalan!!!" titahnya pada sopir.


Sopir yang sebenarnya kesal mendapat penumpang gak jelas begini menurut saja. Ia baru menginjak pedal gas saat penumpang gak jelas itu lagi lagi menyerukan kata perintah padanya.


"Stopppp!!!"


Tanpa menunggu lagi penumpang itu langsung turun dan menuju kedua orang di depan pagar tadi. Entah apa maunya.


Valdy berjalan dengan langkah cepat dan secepat kilat juga meraih bahu pria muda itu lalu menonjok wajahnya hingga pria itu jatuh terpental.


"Apa apaan ini???" teriak yang dipukul dengan nada tidak terima.


"Kamu yang apa apaan!!! Tidak sopan!! Sudah tau wanita ini berusaha menghindar tapi kamu masih saja memeluknya. Hormat sedikit bisa tidak??!!!"


Karin terkejut mendapati lelaki yang sempat ditemuinya seminggu lalu tiba tiba datang dan memukul Yusuf, yang baru bebas dari penjara dan mengunjunginya begitu mendengar kabar duka tentang Dion.


Yusuf memang memeluknya karena ingin menyalurkan rasa sedihnya juga untuk Karin dan Karin sendiri berusaha menghindari pelukannya karena Karin antara masih belum bisa lupa begitu saja dengan apa yang diperbuat oleh Yusuf dulu dan merasa tidak pantas dirinya menerima pelukan dari pria non muhrim.


"Kamu itu siapa sih?? Kamu tuh yang gak sopan!! Main pukul orang saja. Ini tuh sahabatku dan aku berduka untuk suaminya. Apa salah aku memeluknya??" tanya Yusuf masih tidak terima.

__ADS_1


"Tentu saja salah dan tidak pantas!! Seenaknya saja memeluk calon istriku!!!"


Mata Karin dan Yusuf membulat sempurna mendengarnya. Entah sadar atau tidak, Valdy menyebut Karin sebagai calon istrinya.


"Apa??? Calon istri??? Rin,, Ini maksudnya apa?? Benar apa yang dia bilang??" Yusuf sadar untuk bertanya.


Karin jadi gugup dan belum bisa menguasai keadaan. Ditambah beberapa orang mulai tertarik untuk melihat ke arah mereka bertiga menjadikan Karin makin tak enak hati pada para tetangga. Ia tak mau jadi bahan gosip para tetangga. Ia tak mau para tetangga berpikiran bahwa sebagai janda yang baru ditinggal suaminya meninggal, ia sudah jadi bahan keributan dua lelaki.


"Kalian berdua,,, Masuk!!! Jangan buat onar di sini." titah Karin kemudian dengan tegas.


Niat hati tak mau menerima kedatangannya malah sekarang yang ada dia harus memasukkan dua lelaki itu ke dalam rumahnya.


Baik Yusuf dan Valdy menurut. Mereka berebut masuk melewati pintu pagar yang hanya dibuka sedikit tadinya oleh Karin saat mendengar ada Yusuf datang. Mereka saling menyikut hingga menimbulkan bunyi saat pagar tergeser karena ulah mereka. Karin menoleh ke belakang dan tepuk jidat melihat ulah mereka.


"Kalian ini bisa dewasa sedikit tidak??!! Ngapain sih saling sikut begitu?? Bisa dibuka lebih lebar kan???"


Pertanyaan itu membuat kedua lelaki itu merasa bodoh. Kenapa juga mereka jadi kekanak kanakan begitu. Terutama Valdy yang lebih tuaan, paling merasa bodoh dengan sikapnya barusan. Dia itu bukan pria begajulan yang selalu tertata, tapi kenapa hari ini dia bertingkah bodoh begitu?


Cinta,,, Jatuh cinta nih gara garanya 😀😀😀


Valdy makin merasa bodoh lagi saat mendengar teriakan sopir taksi.


"Woy tuan. Bayar dulu nih argonya naik terus!!!"


"Shiittt,,, bisa bisanya aku jadi kacau begini." gumamnya dalam hati sambil berjalan cepat menghampiri sopir itu.


Menyerahkan beberapa lembar uang yang ia sendiri tak tau jumlahnya yang jelas itu lebih dari cukup bahkan sangat kelebihan.


"Tuan kebanyakan ini." teriak si sopir tapi sudah tak dihiraukan oleh Valdy yang sudah melangkah cepat masuk menyusul Yusuf dan Karin.

__ADS_1


"Jangan sampai cecunguk itu selangkah lebih cepat dariku. Enak saja!!" batinnya kesal pada Yusuf.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2