
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Tanpa terasa Setahun pun sudah berlalu sejak Dion dan Karin dipersatukan kembali,,, suka dan duka turut menghiasi kebersamaan mereka selama ini.
"Mama baik baik saja??" tanya Karin pagi itu dengan wajah cemasnya.
Bagaimana tidak cemas, pagi ini mama Herna terlihat begitu pucat dan tidak bergairah seperti hari hari biasanya. Mama Herna lebih lemas dan tampak menahan sakit. Karin yang diam diam memperhatikan mengetahuinya.
"Mama cuma pusing sedikit Rina. Gak apa apa kok. Gak usah cemas. Mungkin mama hanya kecapekan saja. Atau kurang tidur." jawab mama Herna berusaha meyakinkan menantu kesayangannya itu.
Menantu kesayangan yang tengah menyambut kelahiran anak keduanya itu tidak boleh stres. Hatinya harus selalu bahagia. Itu adalah pesan dari dokter kandungan yang merawatnya.
Mengingat selama masa kehamilannya sudah pernah tiga kali mengalami gangguan kehamilan yang mengharuskannya bed rest, pertama karena ulah Dion yang terlampau menggebu gebu menyatukan diri, lalu kedua pernah juga Karin mengalami pendarahan dikarenakan Delvara terjatuh di tangga.
Dan yang terakhir kemarin karena mendengar ayahnya yakni pak Adi masuk rumah sakit karena terkena demam berdarah. Karenanya mama Herna tak mau ambil resiko lagi di hari hari menjelang lahirnya sang bayi. Sebisa mungkin berita kurang baik harus disembunyikan atau ditahan agar Karin tidak banyak pikiran.
Setelah mendapat lampu hijau dulu, Karin dan Dion memang terus proses anak kedua. Mengingat usia Dion yang sudah mulai mendekati angka 6,,tentu saja pasangan itu tidak mau buang waktu lagi.
Untungnya, usia Karin yang masih terbilang produktif untuk hamil membuat semua jadi mudah. Tidak perlu menunggu lama untuk dapat dua garis biru. Hanya perlu mengalami datang bulan tiga kali saja kemudian Karin pun tidak menerima tamu bulanannya lagi.
Alangkah bahagianya mereka saat itu. Tahun pertama setelah berpisah sekian lama langsung dapat bonus calon bayi. Dion yang sebenarnya dalam hati merasa pesimis dengan usia yang makin tidak bisa diajak untuk muda lagi,,,, merasa paling senang dengan hasil test pack Karin saat itu.
Karin?? Jangan ditanya,,, ia juga tentu sangat bahagia mengingat ia akan kembali merasakan kehidupan buah cintanya dengan Dion dalam rahimnya. Kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan itu tidak akan disia siakannya.
Apalagi mama Herna,,,
Saking bahagianya bahkan beliau memilih menyembunyikan sakit sakit yang setahun belakangan ini sering muncul mengganggunya. Meski tau penyakitnya ini bukan penyakit tua melainkan yang cukup serius,, tapi mama Herna memilih menyembunyikannya baik baik dari sang putra maupun menantu.
Lalu apa mereka juga tidak bisa melihat kondisi mama Herna yang sebenarnya?
Jawabannya adalah tidak karena kehadiran Delvara membuat sakit itu bisa ditahan dengan baik oleh mama Herna selama ini. Beliau yang bahagia bermain bersama cucu bisa melupakan sakitnya.
__ADS_1
Tapi tidak hari ini,,,
"Kurang tidur karena Del suka bangun tengah malam ya ma?" tanya Karin merasa bersalah.
"Nggak gitu juga Rina."
"Kalau mama capek biar Del tidur sama mbak Mela saja ma."
"Eh gak usah. Del bangun juga cuma minta susu saja kok. Habis itu tidur lagi. Gak pernah rewel anak itu." mama Herna tak mau cucunya dipisah tidurnya dengan beliau.
Selama ini memang Del selalu memilih tidur dengan mama Herna. Selain karena memang mama Herna juga yang membiasakannya begitu biar mama papanya bisa fokus buat adik untuk Delvara.
"Oma ayo mainan lagi." yang diomongin muncul dengan sejumlah robot kesayangannya.
"Del jangan ganggu oma dulu ya. Oma lagi capek."ucap Karin lembut.
"Oma kenapa cih? Ayo dong main cama Del lagi,,," sang cucu tak mau dengar alasan apa pun dan mulai menarik narik tangan mama Herna.
Mama Herna hanya bisa meringis menahan sakit yang makin terasa sangat menyiksa. Sebisa mungkin beliau tak menunjukkannya tapi hari itu beliau tidak bisa tahan.
"Omaaa,,,,"
"Mamaaaaa,,,"
Karin dan Delvara sama sama terkejutnya. Teriakan keduanya sampai membangunkan Dion yang hari itu tidak ngantor. Selama awal kehamilan kedua Karin ini hingga sudah memasuki bulan bulan terakhir malah dirinya yang selalu mabuk karena ngidam.
Dion segera berlari keluar kamar melihat apa yang terjadi dan betapa terkejutnya dia mendapati mama Herna sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri dan Karin di ujung sana memegangi perut bawahnya sambil meringis menahan sakit.
"Apa yang terjadi???" tanya Dion bingung dan makin bingung harus menolong yang mana dulu.
"Om papaaaa,,, Sakiiittt,,," rintih Karin saat Dion malah mematung.
Dion tersentak sadar. Segera ia bantu Karin berjalan menuju ke mobilnya untuk segera berangkat ke Rumah sakit. Tidak lupa ia juga menyuruh Darwin segera membantu mama Herna. Darwin memang selalu cepat tanggap dan bisa diandalkan. Mendengar teriakan Karin dan Delvara tadi dirinya langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sabar sayang,,, Tahan ya. Jalan ya,,, kuat yaa,,,"
Dion ingin membopongnya saja tapi melihat perut yang sudah sangat besar ukurannya mirip balon hampir meletus itu, Dion malah ngeri dan takut menyakiti istri dan calon anak mereka.
Dengan satu tangannya Karin memegangi perut bawahnya dan berjalan tertatih dengan Dion memapahnya. Karin bisa merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bagian pangkal pahanya.
"Om papa,,,sepertinya Karin akan segera melahirkan. Ketuban Karin sudah pecah." ucapnya lirih.
"Astaga. Bagaimana ini?" Dion makin panik.
"Di bawa ke rumah sakit terdekat saja tuan." Mela menyarankan.
"Tapi kan dokternya lain Mel." sanggah Dion.
"Daripada ke rumah sakit yang biasanya dan lama di jalan tuan. Kan sebaiknya cari yang mana yang bisa lebih cepat menolong dulu."
"Tapi,,,"
"Sakittt om papa. Jangan berdebat terus. Bawa Karin ke klinik saja sekarang. Keburu habis nanti ketuban Karin." jerit Karin melerai kedua orang yang berbeda pendapat itu.
"Iii,,,iyaaa sayang. Kita berangkat. Mela jaga Del di rumah. Jangan jauh jauh dari ponselmu." titah Dion.
"Baik tuan. Hati hati." jawab Mela cepat.
Rumah Dion yang letaknya lumayan jauh dari rumah sakit tempat dokter kandungan Karin praktek memang tidak memungkinkan untuknya membawa Karin kesana.
Darwin dengan cepat melajukan mobilnya membawa dua pasien gawat darurat itu. Dengan Dion yang makin panik karena mama Herna sempat kejang kejang lalu sempat tidak bernapas. Kemudian bernapas lagi tapi seperti putus putus.
"Buruan Wiiinn,,," teriak Dion.
"Aaaarrrgghhh,,, sakiiittt,," rintihan Karin juga membuat Darwin makin diburu waktu.
Untungnya sopir handal mampu membawa mobil itu tiba di tujuan dengan selamat. Tim medis menyambut dan segera membawa kedua pasien itu ke dua arah berbeda. Yang satunya ke UGD dan yang satunya ke bagian ibu dan anak.
__ADS_1
Dion jadi bingung harus ikut yang mana. Dua duanya adalah wanita yang begitu penting dan berharga baginya.
...❤️❤️❤️❤️...