Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 40


__ADS_3

Alea memilih menikmati angin malam yang terasa sejuk menusuk wajahnya di bangku taman mini rumah mertuanya, ia duduk seorang diri, ingatannya terbang mengingat malam dimana ia berlaku konyol memeluk Abrar secara tiba-tiba yang tengah berdua dengan Yura ketika itu tepat di tempat ia berada sekarang.


Berawal dari kebohongan itulah sekarang ia mendapat kebahagiaan yang tiada henti akan ia syukuri, menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan Alea lakukan secara berulang, sungguh ia menikmati anugerah udara yang kaya akan oksigen sehingga mampu mengembangkan paru-paru nya sampai saat ini.


Sungguh Alea merindukan saudara kembarnya Dannis, mereka tidak pernah berpisah sejak kecil namun pilihan Dannis untuk memilih kuliah dan tinggal di negara asal kakeknya sejak mereka tamat sekolah, sudah empat tahun lebih pria sulung Kemal dan Eliana itu menimbah ilmu disana, ia sudah menyelesaikan pendidikan S1 nya namun ia lebih memilih tidak menunda melanjutkan S2 nya di negara yang sama sambil membantu usaha kakeknya sekaligus belajar bisnis sebelum pulang ke tanah air. Dannis hanya pulang ke tanah air satu tahun sekali pada moment hari raya saja.


Berbeda dengan Alea yang tidak bisa jauh dari orangtuanya hingga ia hanya memilih kuliah di dalam negeri saja terlebih ia tidak bisa mandiri seperti Dannis, sekarang Alea bersyukur setelah menikah ia terus belajar mandiri dan tidak tergantung dari pelayanan dan fasilitas orangtuanya lagi, menurut Alea itu adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya dimana ia berhasil keluar dari zona nyaman selama tinggal dengan orangtuanya dulu yang serba dilayani, namun sekarang Alea sudah pandai melayani suaminya dengan baik.


"Alea"


Suara itu membuyarkan lamunannya, Alea menghembus napas kasar ia sungguh malas berhadapan dengan iparnya Arkan.


"Ada apa? mau bilang aku harus tetap diam bukan? aku sudah diam selama ini bang Arkan, semua terserah padamu, aku kesal melihat raut tidak berdosa mu di depan orang tua dan kakakmu" Alea langsung saja mencerca lelaki itu.


"Alea tenanglah....selagi mereka tidak curiga kita akan tetap aman" jawab Arkan.


"Kita? kau saja yang merasa aman, aku terus dihantui rasa takut bang Arkan, bagaimana jika suamiku tahu aku menyembunyikan ini darinya, bukan hanya padamu dia akan kecewa padaku juga...." kesal Alea sambil berpaling muka ke arah yang lain.


"Aku akui ini memang rumit, tapi aku tidak bisa memilih diantara keduanya, mereka mengandung anakku Alea mengertilah...."


"Lantas jika tidak bisa meninggalkan salah satunya, bagaimana jika bang Arkan mengaku sekarang dan aku akan berdoa agar mama dan bang Abrar memaafkanmu dan Vina menerima poligami ini, hiduplah berdampingan dengan dua istri yang kau cintai itu tanpa harus aku ikut merasa bersalah dalam hal ini" kembali Alea menatap Arkan tanpa takut.


"Itu tidak mudah Alea, aku takut mengakuinya...." jawab Arkan menunduk.


"Huh...kau menyebalkan, oke baiklah terserah padamu anggap saja aku tidak tahu apa-apa...jadi jangan libatkan aku pada salah satu istrimu"


"Alea...."


"Aku ingin masuk" jawab Alea kesal sambil berjalan meninggalkan Arkan sendiri disana.


Namun langkahnya terhenti ketika mendapati suaminya tidak jauh dari taman.


"Sayang..." sapa Alea gugup, ia tidak tahu sejak kapan Abrar berdiri dari sana.


"Kenapa tegang? apa yang kau bicarakan dengan Arkan, aku lihat kalian sering berdiskusi berdua akhir-akhir ini" tanya Abrar heran.

__ADS_1


"Tidak ada masalah sayang, hanya percakapan antar ipar saja, sudah ayo masuk....aku ingin istirahat" ajak Alea memeluk suaminya.


Abrar tersenyum "Kau tidak ingin pulang?"


"Tidak kita tidur disini saja, aku merindukan kamarmu....ayolah aku butuh belaianmu sekarang agar stress ku hari ini hilang" ajak Alea manja dengan tatapan menggoda.


Abrar lagi-lagi tidak bisa menolak keinginan istrinya, mereka berlalu untuk istirahat dikamar Abrar.


*****


Alea tidak bisa tidur, hanya sibuk memandangi wajah suaminya saja yang telah terlelap dengan mimpi, Alea tersenyum menatap Abrar tangannya tergerak menyusuri garis wajah suaminya, membelai jambang tipis di rahang Abrar, sungguh Alea bahagia bisa cepat menyadari bahwa ia mencintai lelaki ini.


Kemudian untuk mencari cara agar mengantuk Alea bermain dengan ponselnya, namun tidak lama keningnya berkerut ada panggilan tak tak terjawab dari iparnya Arkan, lalu ada sebuah pesan masuk.


Alea kesal, bagaimana bisa lelaki itu mengganggu istirahatnya malam ini, ia melirik Abrar yang masih lelap dan tidak ada tanda-tanda akan bangun. Alea memutuskan untuk keluar kamar menemui Arkan yang sejak tadi menunggunya.


Alea menemui Arkan di dapur, sungguh ia merasa kesal dengan iparnya tersebut.


"Kenapa kau mengganggu tidurku bang Arkan?" langsung saja Alea berkata tanpa basa basi.


Alea menatap kesal lelaki itu.


"Kenapa bertanya padaku?"


"Kau calon dokter Alea, tentu kau tahu....aku bingung bagaimana bisa kesana malam-malam seperti ini"


"Huh....sekarang kau merasakan bukan bagaimana susahnya punya istri dua secara diam-diam, lantas kau mau aku bagaimana sekarang?"


"Aku mohon bisakah kita kesana sekarang?"


"Apa? kau gila bang Arkan kita akan dibunuh jika mama dan suamiku tahu, baiklah bagaimana sekarang kondisinya?"


Arkan tidak menjawab, ia segera menghubungi Melati kembali dan memberikannya pada Alea, membuat Alea menghembus kasar dan terpaksa menerima ponsel tersebut dan bicara dengan Melati.


Arkan tampak.panik, ia berjalan kesana kemari sambil menunggu Alea selesai bicara dengan istri keduanya itu.

__ADS_1


"Huh.....aku rasa istri keduamu itu hanya mengalami kram perut biasa, jika dibawa berbaring dan istirahat akan hilang dengan sendirinya" jawab Alea sambil mengembalikan ponsel Arkan.


"Benarkah? itu tidak berbahaya kan Alea?"


"Tidak....tenanglah, tapi jika kau mau puas sekarang kau kesana dan bawa dia ke klinik untuk periksa, maaf bang Arkan aku tidak bisa pergi malam-malam seperti ini tanpa sepengetahuan suamiku"


"Aku bingung Alea, kita berada di posisi yang sama sekarang, bagaimana bisa aku kesana sekarang bagaimana Vina mencariku tengah malam begini"


"Itu kau tahu jawabannya, berdoa saja agar Melati tidak ada masalah sampai besok, ini sudah menjadi risiko mu bang Arkan, kau pikir memiliki istri dua itu mudah? lebih lagi kau melakukannya dengan diam-diam seperti ini, sungguh kasihan anak orang kau abaikan karena tidak bisa mengayomi keduanya secara bersamaan, ini baru contoh kecilnya bang Arkan, kau tidak berkutik bukan? aku hanya berdoa supaya Melati tidak terjadi masalah pada kehamilannya"


"Alea jangan membuatku takut"


"Semua tindakan akan ada konsekuensinya bang Arkan, aku heran kenapa tidak kau sewa satu pelayan yang menemani Melati jika kau pulang ke sini? kasihan dia sakit seorang diri"


"Melati tidak mau, aku sudah membujuknya dia tidak suka dilayani, dia lebih suka mengerjakan segala sesuatu sendirian" ucap Arkan pelan.


"Dia sedang hamil muda, tidak boleh terlalu beraktivitas berat apalagi mengurus rumah meski tidak besar tetap saja itu melelahkan, sekarang dia sakit sendiri bukan, kenapa kau dan istri-istrimu sama-sama menyebalkan, huh....aku akan kembali ke kamar" kesal Alea lalu meninggalkan Arkan sendiri disana.


"Alea..." panggil Arkan.


"Apa lagi? huh jika bukan karena kau sudah seperti saudaraku sendiri sudah ku lapor kau ke polisi" cebik Alea menatap Arkan tajam.


"Kenapa kau ingin melapor ku ke polisi? aku bukan kriminal Alea"


"Iya kau seorang kriminal yang akan membunuhku....karena kau sudah mengganggu ketenangan hidupku" pekik Alea bertambah kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai.


"Aaaah aku kesal" cubit Alea pada lengan iparnya itu dengan geram.


"Alea....Alea hentikan, pelankan suaramu kau bisa membangunkan semua orang kita akan habis malam ini" Arkan terus mengelak hingga mereka seperti kejar-kejaran di dapur.


"Biar saja....semua ini salahmu bang Arkan, biar semua orang tahu kelakuanmu yang menyebalkan ini"


Arkan terus mengelak, namun Alea belum juga melepaskannya begitu saja.


"Kalau perlu pecahkan gelas biar ramai"

__ADS_1


"Kau menyebalkan bang Arkan" kesal Alea mengusap dan mengacak-acak kepala Arkan sambil menggertakkan giginya geram kemudian setelah merasa puas ia berlalu meninggalkan lelaki itu.


__ADS_2