
Abrar turun dari ranjang, setelah dari kamar mandi segera ia menyusul istrinya di dapur.
Alea baru saja berbalik badan dari pantry dengan membawa dua gelas jus jeruk di tangannya ingin menuju meja makan, namun suaminya lebih dulu datang dan menghalangi jalan perempuan yang masih memakai dress tidurnya.
"Sayang kau sudah bangun" ucap Alea hendak melanjutkan langkah.
Abrar tidak menjawab tetapi langsung meraih wajah istrinya dan mengecup bibir istrinya dengan mesra.
"Sayang kau tidak lihat aku sedang bawa ini, nanti tumpah....ayo minggirlah" tunjuk Alea pada jus yang berada di kedua tangan dengan ekor matanya.
Abrar masih saja mengecup bibir itu lagi dan lagi tanpa menghiraukan ocehan istrinya, Abrar mengecup bibir dan seluruh wajah Alea dengan gemas kemudian ia tersenyum.
"Baiklah.... kau bisa lewat" jawab Abrar melepaskan Alea.
Alea tersenyum sambil geleng kepala, kemudian melanjutkan niat akan ke meja makan, lalu ia berbalik menatap suaminya sejenak.
"Sayang bisakah kau membantuku bawa itu?" tunjuk Alea dengan matanya pada dua piring sarapan mie goreng yang sudah selesai di samping kompor.
Abrar mengangguk dan segera menuruti perintah istrinya, kemudian mereka sarapan berdua di meja makan seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Makanlah pelan-pelan" ucap Abrar pada Alea yang masih saja suka makan dengan tergesa-gesa, Abrar mengusap kepala istrinya pelan.
"Aku mencintaimu bang Abrar" bisik Alea kemudian mendaratkan sebuah ciuman di pipi suaminya.
"Bagimana luka mu? sudah lebih baik?"
"Sudah.....tidak perlu khawatir pada luka kecil ini, bagaimana jika kita berkunjung ke rumah mama Bella hari ini? aku merindukannya" jawab Alea.
"Apa kau tidak ingin mengurungku di dalam kamar seperti biasanya?" goda Abrar.
"Ha ha ha kau benar juga, jika begitu kita bisa kesana sore saja" jawab Alea santai membuat Abrar terkekeh, lelaki ini mengelap bibir istrinya dari sisa mie yang menempel.
"Aku mencintaimu Alea....tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah" ucap Abrar serius.
Alea tersenyum.
"Kau pikir aku power rangers bisa berubah?"
"Mana ku tahu? bisa saja kau seorang rangers tanpa sepengetahuanku" jawab Abrar tak kalah bercanda.
"Kau benar, asal kau tahu aku ini rangers pink dan Dannis rangers biru, ha ha ha" Alea terkikik geli.
"Dan perlu kau tahu aku ini rangers merah pemimpin kalian" jawab Abrar terkekeh.
"Astaga.....baiklah aku rasa alpha tidak akan mengganggu kita hari ini" ucap Alea yang kemudian duduk di pangkuan suaminya dengan mesra.
"Kau menggodaku?" tanya Abrar karena Alea sengaja menduduki kejantanannya, perempuan itu mengalungkan kedua tangannya di leher Abrar mendekatkan wajah mereka menyatukan hidung mancung keduanya lalu mengecup bibir Abrar lembut dan semakin dalam.
Abrar menerima semua perlakuan istrinya, memang Alea sangat pandai menciptakan suasana rumah terus menjadi hangat hingga Abrar tidak akan bosan jika harus mengurung diri lagi weekend ini, pria itu segera menggendong istrinya kembali ke kamar, Alea melingkarkan kedua kakinya di pinggang Abrar sambil terus berciuman.
******
Alea dan Abrar mengunjungi mama Bella, mereka tidak berniat menginap disana.
Bella memeluk menantunya dengan sayang, perempuan paruh baya ini mengusap luka di kening perempuan yang sudah ia anggap anak sendiri ini.
"Sayang.....kau terluka?"
"Iya....ini semua karena putra mama, bang Abrar mendorongku hingga terjatuh" manja Alea pada mertuanya.
Hingga mama Bella mengernyitkan dahi dan menatap Abrar tajam.
__ADS_1
"Bang Abrar apa yang kau lakukan pada istrimu?" bentak mama Bella.
"Sayang....apa kau mengadu?" tatap Abrar heran pada istrinya.
"Iya biar saja kau dimarahi...." jawab Alea enteng, ia masih dalam pelukan mama mertuanya.
"Abrar apa yang telah kau lakukan ha? kau menyakiti menantuku, bagaimana bisa ini terjadi sayang?" tatap Bella pada menantunya lagi.
"Tidak mama, itu hanya salah paham...aku tidak sengaja melakukannya, semua itu terjadi ketika Alea meleraiku memukul Arkan di rumah Melati kemarin" jawab Abrar pelab.
Alea tertawa.
"Tidak...ini hanya luka kecil ma, aku hanya bercanda, suamiku tidak menyakitiku sama sekali" ucap Alea pada mertuanya lagi.
Namun mama Bella memukul lengan putranya dengan geram.
"Awas kau jika mengulanginya bang Abrar, mama sendiri yang akan mengembalikan Alea pada orangtuanya biar kau tahu rasa, apapun alasannya kau tidak boleh sampai menyakiti fisik menantuku" ucap mama Bella serius.
Alea ternganga melihat reaksi mertuanya, padahal ia hanya bermaksud bercanda saja tadi.
"Ma....sudahlah, ini bukan apa-apa aku hanya bercanda, bang Abrar sama sekali tidak menyakitiku"
"Maafkan putra mama sayang, jika Kemal tahu ini suamimu pasti akan dibunuh Alea...bagaimana bisa putrinya terluka seperti ini" jawab mama Bella masih kesal, membuat Alea geleng kepala sendiri sambil melirik suaminya yang diam menunduk.
"Ma....ayo lupakan, aku ingin makan aku lapar...." rengek Alea mengalihkan pembicaraan.
Mama Bella tersenyum dan mengecup kening menantunya sebelum mengiyakan ajakan Alea yang ingin makan masakan mama Bella.
****
"Kemana yang lain kenapa sepi?" tanya Alea bingung, karena tidak ada yang lain selain mama Bella yang menyembut mereka.
Alea terus mengunyah sambil menganggukkan kepala, suaminya hanya diam saja sejak tadi membuat Alea merasa bersalah, ketika mama Bella ke dapur segara Alea mengecup bibir suaminya yang tampak murung.
"Sayang maafkan aku, aku telah bercanda berlebihan. Aku tidak bermaksud mengadu" ucap Alea sendu.
"Tidak sayang, mama benar aku sudah menyakitimu"
"Hei berhenti membahas luka yang tidak seberapa ini oke....kau membuatku merasa bersalah, maafkan aku sayang sungguh aku hanya bercanda tapi aku salah perhitungan ternyata mama menganggap ini serius"
Abrar menatap istrinya dalam.
"Jangan menatapku seperti itu" kesal Alea.
Alea langsung saja duduk di pangkuan suaminya, ia membelai rahang Abrar dengan sayang dan mengecup bibir tipis itu lagi, Alea bahkan tidak menyadari mereka ada dimana sekarang, Alea tidak ingin suaminya berlarut dalam rasa bersalah hanya karena bercandanya tadi.
Abrar tersenyum, pria itu mengakui bahwa istrinya memang pandai mencairkan suasana hatinya, mereka berciuman lama tangan Abrar melingkari tubuh mungil sang istri seraya mengusap punggung Alea dengannpelan.
"Astaga....sayang itu seharusnya dilakukan di kamar bukan di meja makan" tiba-tiba suara mama Bella menghentikan aktivitas mereka.
Alea hanya menyengir kuda menatap mertuanya yang berjalan ke arah meja makan dengan jus di tangannya, Abrar hanya bisa mengusap lehernya dengan canggung.
"Apa kau mencintai putra mama yang nakal ini Alea?" tanya mama Bella seraya mendudukkan tubuhnya kembali di meja makan.
"Jangan ragukan itu ma, aku sangat mencintai suamiku ini" kembali Alea memberi ciuman di pipi Abrar ketika ia sudah kembali duduk di kursinya.
"Aku juga mencintaimu sayang" jawab Abrar mengusap kepala istrinya sambil tersenyum.
Bella tersenyum melihat keduanya, demi apa inilah kebahagiaan terbesarnya sebagai orangtua yang menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya, inilah yang ia harapkan dari rumah tangga putra-putranya.
"Oh....kalian membuat mama iri"
__ADS_1
*****
Vina dan Arkan kembali dengan banyak barang belanjaan sepertinya pria itu baru saja membelanjakan keperluan dan keinginan istri pertamanya.
Alea dan Abrar melihatnya, Alea hanya menatap heran dengan banyaknya papper bag di tangan Arkan, Vina berlalu ke kamarnya tanpa menyapa Alea dan iparnya Abrar.
Arkan terlihat canggung, ia meletakkan seluruh belanjaannya ke kamar lalu ia memilih bergabung dengan Alea.
"Alea...." sapa Arkan.
"Apa? aku heran kenapa bang Arkan masih hidup sekarang, aku kira kau mati dibunuh suamiku kemarin" ucap Alea sambil bercanda.
"Tidak mati tapi hampir mati" jawab Arkan.
Abrar hanya geleng kepala, ia memilih untuk pergi dari sana, pria itu masih enggan bicara dengan adiknya.
"Aku juga berharapnya begitu, tapi sayang sepertinya nyawamu lebih dari satu" jawab Alea kembali.
"Alea....maafkan aku, kau terluka"
"Iya kau harus bertanggung jawab sekarang" jawab Alea yang langsung memukul lengan Arkan dengan geram, akhirnya mereka kejar-kejaran seperti biasa bahkan sejak mereka kecil selalu saja bertengkar.
"Hentikan kalian selalu saja seperti ini" suara mama Bella menghentikan aksi mereka itu, mama Bella hanya bisa geleng kepala.
"Bang Arkan....ayo mama ingin bicara denganmu dan juga bang Abrar di taman belakang" ajak mama Bella serius.
Arkan menelan ludah kasar.
"Selamat eksekusi hari kedua pria menyebalkan" ucap Alea kesal.
****
Alea merasa bosan, ia melihat Vina ke dapur ia pun mengikuti iparnya itu untuk sekedar bertegur sapa.
"Vina....bagaimana kandunganmu? apa kau masih mual?" tanya Alea ketika sudah di dapur.
Vina yang sedang memotong buah, seraya menggertakkan giginya geram, lalu menatap Alea tajam.
"Apa? jangan pura-pura perhatian padaku, aku tahu kau kesini ingin menertawakanku bukan?"
Alea mengernyit heran dengan tanggapan Vina.
"Vina apa maksudmu?"
"Huh....kau ingin bilang aku wanita menyedihkan yang diduakan suamiku bukan? asal kau tahu Alea aku ini wanita kuat, ujian ini bukan apa-apa bagiku....jadi kau jangan berpura-pura baik dihadapanku"
Alea tercengang, ia sama sekali tidak menyangka jawaban dari iparnya seperti ini.
"Vina apa yang kau bicarakan? aku datang untuk menyapamu dan menanyakan kandunganmu itu saja, aku sama sekali tidak berniat membahas masalah kalian dalam hal ini, lagipula itu bukan urusanku" jawab Alea heran.
"Ha....kau jangan senang hati dulu Alea, apa kau lupa suamimu bersaudara dengan suamiku, itu artinya kedua pria itu mempunyai ayah yang sama, bukankah buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya? sekarang suamiku, tidak tahu besok-besoknya suamimu juga bisa melakukan hal yang sama bukan?" ucap Vina tanpa takut.
"Astaga...Vina, aku tidak menyangka kau bisa bicara seperti ini" Alea geleng kepala menahan emosi.
"Aku hanya berpendapat Alea, aku saja yang sedang hamil bisa diduakan, apalagi dirimu yang bahkan hingga sekarang belum juga bisa mengandung, pria itu semuanya sama Alea sama-sama brengsek, aku takut bang Abrar menginginkan anak dan karena kau belum juga hamil bisa saja ia menghamili wanita lain bukan? pria kita bersaudara Alea mereka sama saja...jangan lupakan itu" ucap Vina enteng sambil kembali mengupas buah di tangannya.
Alea sudah tidak bisa menahan laju airmatanya, bagaimana bisa Vina dengan mudahnya bicara seperti itu.
"Hentikan Vina....aku tidak percaya kau bisa mengatakan ini padaku, kau benar-benar sudah keterlaluan"
Jawab Alea menghapus airmatanya sambil berlalu dari sana.
__ADS_1