Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Salam Untuk Bang D


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Biasakan menjawab pertanyaanku dong Rin. Bukan malah bertanya balik begini. Lagipula tidak ada pentingnya juga membahas urusan nama ini. Masa depan kita lebih penting untuk dibicarakan."


Yusuf kecewa dengan reaksi Karin yang terkesan mengalihkan pembicaraan.


"Kemarikan kertas itu dan fokuslah pada pertanyaanku." Yusuf akhirnya menarik buku dan pulpen yang dimainkan Karin.


Karin pun tak bisa menolak atau melarang. Dibiarkannya saja Yusuf mengambilnya.


"Sekarang jawab pertanyaanku tadi." pinta Yusuf sekali lagi sembari menatap mata Karin lekat lekat.


Karin menarik napas dan berusaha meraup oksigen sebanyak banyaknya agar tak hanya paru paru tidak terasa sesak dan otaknya juga bisa berpikir jernih karena sudah cukup mendapat kesegaran.


"Aku belum siap Yusuf."


"Lalu kapan kamu siapnya? Atau kamu masih selalu anggap aku ini hanya main main menggodamu? Nggak Rin,,, aku serius. Saat ini,,, sebelum sebelumnya,,, dan tiap kali aku mengatakan aku mencintaimu,,, aku selalu serius." tegas Yusuf.


"Yusuf,, Terlepas dari kamu serius atau tidak saat ini,,, Aku juga serius bilang ke kamu kalau aku masih tetap berada di titik di mana aku merasa tidak sebaiknya aku menerima pinangan atau sejenisnya dari pria lain karena statusku adalah istri orang."


"Istri orang?? Suamimu mana?? Sudah hampir setahun kamu ditelantarkan begini. Tidak akan ada yang menyalahkanmu jika kamu mengambil langkah kedepan. Lebih dari 3 bulan jika suami tidak memberi nafkah, bahkan agama kita pun memperbolehkan istri menggugat cerai." Yusuf coba buka pikiran Karin.


"Aku tau itu. Tapi dalam hal masalah rumah tanggaku ini, bukan suamiku yang sengaja menelantarkanku. Itu ulah,,,,"


Ucapan Karin dipotong segera oleh Yusuf.


"Meskipun ulah mertuamu tapi sebagai suami yang baik ia akan berusaha mencarimu. Ia akan melawan semua kehendak ibunya dan mengorbankan segalanya demi bisa menemuimu kalau dia benar benar suami yang baik. Apalagi dia tau kamu ada Delvara. Anaknya yang butuh sosok ayah. Semua akan dilakukannya kalau dia memang tidak menginginkan kalian pergi dari hidupnya. Kalau memang dia,,,"


"Cukup Yusuf. Kamu memang orang yang selama ini menanggung hidup kami. Tapi bukan berarti kamu bisa berkomentar terlalu jauh begini apalagi tentang suamiku. Setidaknya hormati dan hargai sedikit perasaanku." mata Karin mulai berkaca kaca.


Dengan segera diambil alihnya kembali Delvara dari dekapan Yusuf seperti seorang ibu yang tak percaya anaknya digendong orang. Karin yang menahan tangis pun menciumi Delvara berkali kali hingga bayi itu merasa risih dan akhirnya menangis.


Yusuf tertegun dibuatnya. Ia baru menyadari bahwa ia sudah keterlaluan kali ini. Ia menyakiti perasaan Karin. Dan ini adalah salah besar menurutnya.

__ADS_1


"Rin,, Maafin aku. Aku gak bermaksud begitu. Aku hanya sayang sama kamu. Aku prihatin dengan keadaanmu. Aku hanya ingin,,,,"


"Sebaiknya kamu pulang dulu Yusuf. Maaf,,,aku ingin sendiri dulu." pinta Karin sopan tanpa memberikan Yusuf kesempatan menyelesaikan ucapannya.


"Baiklah,,, Aku mengerti. Aku pamit dulu kalau begitu. Oh ya,,, untuk urusan pesanan bang D,,, kalau kamu belum bisa ambil dulu aku akan batalkan dulu." ucap Yusuf.


"Tidak perlu. Aku bisa menerima pesanannya." jawab Karin berusaha profesional kalau sudah urusan pekerjaan.


"Kamu masih mau tau kenapa namanya bang D?" tanya Yusuf lagi.


Karin menggeleng perlahan.


"Tidak perlu. Lagipula tadi aku hanya asal bertanya." jawab Karin.


Yusuf mengangguk mengiyakan. Suasana terasa kikuk saat itu.


"Itu saja sih yang lebih penting,,, carikan yang bisa bantu di dapur juga." ucap Karin kemudian memecah suasana kikuk itu.


"Oh ya. Hampir aku lupa. Kalau ibu ibu kamu mau?" tanya Yusuf.


"Baiklah. Aku permisi kalau begitu. Maaf untuk perkataanku yang tidak berkenan tadi. Sungguh aku menyesal. Assalamualaikum." pamit Yusuf.


"Waalaikumsalam." sahut Karin pendek.


Yusuf merasa makin menyesal karenanya. Kalau waktu bisa diulang mungkin ia tidak akan pernah mengatakan semua itu tadi karena tidak ada untungnya. Yang ada ia jadi kehilangan keceriaan wanita idaman hatinya itu.


Yusuf melangkah keluar dari apartemen Karin dengan gontai. Ia sudah hampir sampai di depan pintu lift saat suara Karin terdengar memanggilnya.


"Yusuf,,,"


"Ya,,," Yusuf langsung menoleh dengan mata yang berbinar. Senang sekali rasanya mendengar bidadari cantik itu menyebut namanya dengan nada yang sudah tidak seperti sebelumnya.


"Terima kasih. Dan salam untuk bang D. Katakan padanya,,,Semua akan baik baik saja." Ucap Karin.


Yusuf mengangguk dan tersenyum meski ternyata Karin hanya menitip salam untuk bang D nya.

__ADS_1


"Yusuf,,," panggil Karin lagi.


"Ya,," Yusuf pun menoleh lagi.


"Pappa Catering" teriak Karin.


"Maksudnya?" Yusuf tak mengerti.


"Akhirnya aku menemukan nama yang cocok untuk Cateringku." Karin tersenyum sangat manis dan entah kenapa itu membuat Yusuf juga tak bisa menahan senyumnya.


Yusuf begitu bahagia karena Karin memilih nama itu. Menyampaikannya juga dengan senyum manis. Tentu karena Karin mulai bisa membuka hatinya dan membiasakan dirinya untuk menganggap Yusuf sebagai papanya Delvara.


Setidaknya begitu yang dipikirkan Yusuf. Lamunan Yusuf buyar oleh suara dering telpon ponselnya. Melihat nama penelponnya membuat Yusuf mengerutkan dahinya.


"Rumah yayasan?? Ada apa ya?" gumamnya.


"Ada apa Yusuf?" tanya Karin yang rupanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.


"Entahlah. Aku jawab dulu." jawab Yusuf langsung menjawab telpon itu dengan kata halo.


"Nak Yusuf ini mama. Maaf mengganggu. Tapi ini Dion demam tinggi nak. Mama bingung harus bagaimana. Dia terus meracau dan memanggil manggil nama anak istrinya." mama Herna di seberang bicara dengan nada panik.


"Oh iya ma. Yusuf segera kesana kalau begitu. Mama jangan panik. Mama tunggu disana. Yusuf gak jauh kok." Yusuf langsung menutup telponnya dan menghampiri Karin.


"Ada apa??" tanya Karin yang melihat raut wajah panik Yusuf.


"Aku mau ke rumah yayasan. Bang D sakit. Sepertinya demam. Dia meracau terus dan memanggil nama anak istrinya. Apa kamu mau ikut?"


Belum Karin menjawab, Delvara yang sebelumnya sempat diletakkan Karin di kotak sejenis ranjang bayi tiba tiba menangis di dalam kamar.


"Maaf,,, aku tidak bisa ikut. Del sepertinya rewel. Salam saja untuk bang D, semoga cepat sembuh." tolak Karin langsung menutup pintu dan berlari mencari Delvara.


Yusuf yang ditinggalkan begitu saja tidak mempermasalahkan sikap Karin dan juga langsung berlari menuju lift yang terbuka. Ia juga ingin segera sampai di rumah yayasan.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2