Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 97


__ADS_3

Dannis mengusap wajahnya kasar.


"Papa lihat, bocah itu menyukai istriku, ahhh aku tidak percaya ini", Dannis kesal luar biasa dengan sikap adik bungsunya.


Mama El hanya bisa terdiam duduk di sofa menetralisir perasaannya saat mendengar perkataan Baim tadi.


"Dari mana kau tahu bahwa Baim mengetahui tentang istrimu?", tanya papa Kemal.


"Nara, aku sudah bertemu dengannya".


"Dannis? kalian sudah bertemu? mana menantuku?", tanya mama El yang telah berdiri lagi.


"Papa ingat tuan Harun?".


Kemal mengangguk, namun belum mengerti maksud Dannis.


"Beliau adalah pamannya istriku, dia mengambil Nara dariku..... maksudku dia tidak merestui kami, dia berniat melanjutkan perceraian", jawab Dannis pelan dan menundukkan wajahnya kecewa.


"Apa sekarang Nara bersamanya?".


Dannis mengangguk lagi.


"Baiklah setidaknya papa lega kalian telah bertemu, kalian sudah dewasa papa rasa kau bisa menyelesaikan masalah mu sendiri, papa akan menyikapi ini dengan pertimbangan Dannis, kau tahu kita sudah lama kenal dan bekerja sama dalam bisnis, papa harap ini tidak mempengaruhi pada hubungan perusahaan kita".


Dannis menatap papanya dengan penuh arti.


"Papa masih memikirkan kerjasama? ayolah dia istriku, aku tidak peduli apa yang terjadi dengan kerjasama itu yang pasti aku tidak akan melepaskan Nara, tidak akan pernah".


"Lalu bagaimana jika tuan Harun menyudahi semua kontrak hanya karena Nara istrimu? papa tidak ingin mengorbankan apapun untuk itu".


"Kemal?", mama El menatap suaminya tajam.


"Papa, oh aku tidak percaya ini.... papa lebih mementingkan menyelamatkan kerjasama daripada masalahku? aku tidak akan menggadaikan istriku dengan apapun, aku tidak peduli tuan Harun membatalkan kontrak sekalipun, aku tetap akan mengambil Nara kembali!", bentak Dannis.


"Lepaskan saja dia, bukankah benar kau memang mempermainkannya saja diawal? kau mudah sekali berubah? bukankah kau hanya cinta pada satu wanita?".


"Papa ayolah, aku menyesalinya aku tidak akan melepaskan Nara, itu tidak akan terjadi", Dannis kehilangan kata-kata.


"Terserah padamu, papa hanya tidak ingin masalah mu mempengaruhi perusahaan ku", jawab Kemal enteng, lalu pria ini menggandeng tangan istrinya meninggalkan Dannis.


Dannis terduduk menutup wajahnya meredamkan seluruh emosi.


Di sisi lain, mama El yang diam saja sejak tadi itu pun menegur suaminya.


"Kemal? apa maksudmu? kau tega pada putramu sendiri? ayo bantu dia, bicaralah pada temanmu itu".


"Tidak, biarkan Dannis mengurusnya sendiri, itu pelajaran untuk putramu yang telah menyakiti menantuku".


"Lalu jika Dannis memaksa merebut Nara kembali apa memang berpengaruh pada kerjasama mu selama ini dengan tuan Harun?".


"Itu tidak akan terjadi, aku mengenalnya dengan baik, kami tidak akan mencampuri bisnis dengan urusan pribadi", jawab papa Kemal enteng.


Mama El bernapas lega, setidaknya masalah Dannis tidak akan memperngaruhi banyak hal yang akan merugikan dua pihak.


"Kasihan Dannis, jangan seperti ini Kemal... aku yakin kau bisa bicara baik-baik pada tuan Harun dalam hal ini, kita bisa meminta Nara dengan cara baik bukan?".

__ADS_1


"Itu sedang ku pikirkan, meski tidak melibatkan bisnis dengan urusan pribadi namun untuk urusan ini pun tidaklah mudah, masalah restu tentu berbeda terlebih kesalahan memang berada pada Dannis".


"Kemal ayolah, kasihan putraku.... pertama gagal sebelum menikah, sekarang aku tidak bisa membayangkan jika Dannis gagal dalam pernikahan, dia mencintai Nara, aku takut mereka benar-benar berpisah".


"Jika itu lebih baik kenapa tidak".


"Apa Dannis menjadi gila itu yang kau sebut lebih baik begitu?".


"Itu resikonya, biar Dannis mengurusnya sendiri", jawab papa Kemal santai.


"Jika dia tidak ingin gila ya jangan berpisah, usahanya menentukan hasilnya nanti, Dannis telah dewasa jangan melulu membantunya dalam hal apapun", kembali Kemal berkata enteng.


"Pelajaran berharga untuk putra kita, tidak semua hal yang dia anggap biasa saja bisa diselesaikan dengan mudah, terlebih ini pernikahan bukan candaan, jika Dannis bisa bermain dengan itu tentu hasilnya pun akan bermain-main pula bukan?".


Mama El menatap suaminya dengan kesal.


******


Nara keluar dari mobil mewah yang membawanya, terdapat pula dua orang yang mendampinginya sebagai pengawal.


Nara mengentakkan kakinya ke tanah, menatap mereka dengan kesal.


"Ayolah paman-paman, aku tidak akan lari apa kalian juga akan mengikutiku ke toilet sekalipun?".


"Maaf nona, itu perintah tuan Harun".


"Aku hanya ingin beli minum, tunggulah di sini, aku tidak akan hilang, kalian ini berlebihan", jawab Nara kesal.


Perempuan ini baru saja akan ke kampus, ia merasa haus dan ingin membeli minum di sebuah mini market di tepi jalan.


Baru juga satu tegukan setelah keluar mini market menuju mobilnya kembali, namun ia merasa tubuhnya di tarik oleh seseorang.


Dannis menyandarkannya bersembunyi di balik mobil agar tidak terlihat pengawal Nara.


"Sayang, aku merindukanmu", Dannis memeluk Nara erat.


Bukannya membalas, Nara malah meronta.


"Dannis lepaskan aku!".


Dannis menoleh pada istrinya dengan heran.


"Sayang?"


"Berhenti memanggilku sayang, aku tidak akan tertipu rayuanmu lagi", jawab Nara terus meronta.


"Nara? apa maksudmu? aku merindukanmu kau tidak merindukanku?".


"Tidak, minggirlah aku akan ke kampus", jawab Nara ketus.


Dannis merasa heran.


"Sayang lihat aku, kenapa kau seperti ini?", Dannis memegang wajah istrinya.


"Kau tidak sayang padaku Dannis, kau hanya ingin bermain saja bukan? maaf aku tidak ada waktu untuk itu".

__ADS_1


"Kau sungguh menggemaskan sayang", Dannis sudah tidak bisa menahannya, pria itu meraih wajah dan mengecup bibir istrinya dengan lama.


Membuat Nara membesarkan matanya, ia memukul pundak Dannis minta dilepas.


"Dannis, ini tempat umum... apa kau sudah gila?", bentak Nara ketika ciuman mereka terlepas.


"Kau tahu aku gila kenapa bertanya lagi", jawab Dannis seraya membuka mobil, memaksa Nara masuk.


"Dannis, kenapa kau memaksa ku, kau tidak lihat pengawalku?".


"Aku tidak takut pada mereka", jawab Dannis enteng, seraya memasang sabuk pengamannya dan segera menancapkan gas dari sana.


Nara membuka kaca, ia berteriak pada dua orang lelaki yang sejak tadi menunggunya keluar dari mini market.


Dannis menarik tangan istrinya lalu mengemudi dengan kencang, sehingga suara Nara tidak akan terdengar oleh siapapun, pria itu telah berhasil melarikan Nara dari sana bahkan secepat kilat.


Nara menatap Dannis dengan tajam, ia menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Kau selalu saja memaksa".


"Sayang, ayolah lihat aku, aku merindukanmu... enak saja pria tua itu merebutmu dariku".


"Pria tua apa, dia pamanku Dannis", bentak Nara kesal.


"Kenapa kau tidak menghubungiku, kau bilang kau hafal nomor ponselku?".


"Tidak mau, aku tidak akan tertipu lagi kali ini", jawab Nara ketus.


Dannis menghentikan mobilnya mendadak karena perkataan Nara.


"Sayang apa maksudmu?", tanya Dannis serius.


"Mungkin pamanku benar, kau tidak serius mencintaiku.... kau menyakitiku berkali-kali, mungkin cintamu hanya pelampiasan saja, mungkin juga cinta mu hanya sesaat saja", jawab Nara berkaca-kaca.


"Nara, aku mohon kenapa kau bicara seperti ini? aku serius padamu, aku mencintaimu sungguh", Dannis meraih tangan istrinya menggenggamnya erat.


"Jika benar kau mencintaiku kenapa kau tidak menemui paman dan bibiku memintaku dengan cara yang baik, kenapa kau malah menculikku seperti ini".


Dannis terdiam.


"Kau tidak bisa menjawabnya? huh kau membuktikan bahwa kau memang tidak serius padaku", jawab Nara kesal, perempuan ini membuka pintu mobil dan meninggalkan Dannis seorang diri.


Dannis melihat itu segera menyusul keluar mobil mengejar Nara yang telah berjalan cepat.


"Sayang, sayang tunggu dulu", Dannis dengan cepat menarik tangan Nara agar tidak lebih menjauh.


"Lihat mataku, apa aku terlihat seperti pria yang mempermainkanmu? aku serius Nara, aku mencintaimu... kita tidak akan berpisah oke", Dannis memegang wajah istrinya bicara dengan serius.


"Soal pamanmu, aku tidak peduli dia merestuiku atau tidak, aku tidak akan melepaskan mu Nara, tidak akan... kau istriku, hanya milikku".


"Huh.... kau egois Dannis, pamanku benar kau masih sama, dia seperti ayah bagiku Dannis, jika kau tidak menghargainya aku pun akan menyerah pada pernikahan ini, dia tahu yang terbaik untukku".


"Nara, aku mohon... kenapa kau berubah? oke baiklah aku akan mencari cara agar pamanmu memaafkan ku tapi jangan meninggalkan ku seperti ini, aku tidak sanggup".


"Bukankah kau juga pernah meninggalkan ku? Reno membantuku, paman Harun yang merangkulku disaat kau bahkan secara sadar meninggalkan ku, sekarang kau bilang cinta, bagaimana aku bisa percaya, kau selalu berubah-ubah, nanti pun kau akan tetap sama, bisa saja sekarang cinta besok-besok kau melepaskanku juga".

__ADS_1


"Sayang, tidak jangan katakan itu aku mohon, ya Tuhan... aku bisa gila", ucap Dannis mengusap wajahnya kasar.


"Kita pernah berpisah di persimpangan desa ku, kita hanya perlu melakukannya sekali lagi di persimpangan ini", ucap Nara meninggalkan Dannis mematung di sana.


__ADS_2