Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Jendela Kaca


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Bertahan ma,, Bertahan,,, Dion mohon. Dion belum sanggup kehilangan mama. Bertahan ma,,, Dion masih ingin berbagi kebahagiaan bersama mama. Anak istri Dion sudah kembali,,, Dion juga sudah sembuh ma. Dion ingin mama buka mata,,, Lihat dan rasakan kebahagiaan ini."


Dion terus menangis di balik jendela kaca yang kini ditutup tirainya sembari melihat tim medis yang tengah menangani mama Herna. Pagi ini kondisi beliau menurun dan kini tengah mendapat tindakan khusus. Karenanya tirainya ditutup.


"Yang sabar om papa. Berdoa untuk mama dan berserah diri kepadaNYA. Bagaimana pun,,, DIAlah sang maha penentu dan tidak pernah salah. Apa pun yang terjadi nantinya, entah baik entah buruk,,, semua selalu ada hikmahnya." Karin mengusap usap lengan suami yang kini terasa lemah.


"Om papa takut sayang." lirih Dion masih terus menempelkan dahinya di jendela kaca itu.


"Karin paham. Tapi bukankah sebaiknya kita duduk dan berdoa bersama untuk mama? Atau kita bisa ke mushola sebentar. Kita sholat berjamaah. Bersama sama memohon kepadaNYA agar memberikan kekuatan pada mama." bujuk Karin sembari terus mengusap lembut punggung dan lengan Dion.


Dion mengangguk lalu mengusap airmatanya. Hidungnya yang lembab terlalu banyak menangis sesekali mengeluarkan suara seperti sedang pilek.


Karin mengulurkan beberapa lembar tissue untuknya. Dion menerimanya untuk mengelap mata dan hidungnya. Wajah sendu itu terlihat memerah menahan beban kesedihan yang teramat dalam.


"Tapi kita berdoanya di sini saja ya sayang. Om papa gak ingin jauh dari mama dulu. Om papa gak ingin kejadiannya seperti mendiang papa." ucap Dion sedih mengenang dulu ia tak berada di sisi papa Hengki saat beliau menghembuskan nafas terakhir.


Dan kini saat yang terbaring antara hidup dan mati di sana adalah mama Herna, Tentu saja Dion sangat takut kejadian serupa terulang kembali.


"Iya om papa. Kalau begitu kita duduk di sana saja ya." Karin menunjuk sebuah bangku yang menghadap ke jendela kaca itu.


Sekali lagi Dion mengangguk menuruti kata sang istri. Karin membimbingnya berjalan menuju ke sana. Tubuh lemah Dion hanya mengikuti saja. Ia bukan lemah seperti saat lumpuh namun segala rasa takut kehilangan mama Herna membuat seluruh tubuhnya serasa tak bertenaga.


"Nah sudah sampai. Kita duduk. Baca Bismillah lalu berdoa dalam hati untuk kesembuhan mama ya om papa."


"Iya sayang."


Keduanya lantas sama sama menundukkan kepala dengan khidmat. Mengutarakan segala beban di hati kepada Yang Maha Kuasa. Merendah serendah rendahnya. Berharap keajaiban datang. Memohon pertolongan karena DIAlah sebaik baik penolong.

__ADS_1


"Aamiin." hampir serempak mereka mengakhiri doa masing masing.


Dion menatap wajah cantik nan teduh yang begitu dicintainya dan dirinduinya itu. Begitu ayu. Begitu sempurna. Setidaknya Dion boleh berbangga hati karena ia dipilih sebagai imam dari bidadari tak bersayap itu. Lalu ketakutan yang sama mengintip di balik celah hati Dion.


"Sayang,,,Maukah kita berdoa bersama lagi?" tanyanya kemudian.


"Untuk??" tanya Karin heran.


"Untuk keluarga kecil kita. Om papa takut sekali kehilangan kalian. Cukup sekali saja om papa merasakannya. Om papa tidak sanggup lagi jika harus berpisah dengan kalian. Bahkan jika boleh seorang hamba memohon,,, om papa ingin memohon agar kelak om papa yang pergi terlebih dahulu. Om papa tidak bisa merasakan kepedihan lagi jika kalian yang pergi lagi."


"Huuussstt,,," Telunjuk Karin menempel di bibir Dion membuat Dion berhenti bicara.


"Om papa hanya sedang kalut. Lebih baik kita berdoa agar diberikan yang terbaik saja untuk keluarga kita. Setelah badai besar yang menimpa keluarga kecil kita,,, Semoga ke depannya hanya ada hamparan rumput hijau dan wangi bunga bermekaran. Semoga jika ada hujan nantinya,,,Maka hujan itu hanya memberikan kesegaran untuk taman cinta kita." ucap Karin sangat lembut.


"Aamiin." Dion merasakan kelembutan itu merasuk hingga ke relung jiwanya.


Detik selanjutnya Dion pun kembali menundukkan wajah dengan dua tangan tengadah, sekali lagi memohon kebaikan Rabbnya. Memohon agar kebersamaan mereka ini kekal dunia akhirat.


"Mana Del sayang?" tanya Dion begitu mereka selesai berdoa.


Dion mengangguk mengerti tanpa protes apa apa.


"Bagaimana perasaan om papa sekarang? Apa sudah jauh lebih baik dan tenang?" Karin menggenggam jemari Dion.


"Iya sayang. Terima kasih. Kamu memang selalu berhasil menenangkanku. Entah apa jadinya kalau saat ini pun kamu tidak ada di samping om papa."


Karin tersenyum dan pasrah saja saat Dion meraih wajahnya lalu mengecupnya lembut di dahi dan kepalanya.


Tirai jendela kaca dibuka dan di sana tampak mama Herna masih terbaring lemah namun bisa dilihat dari tempat Dion berdiri bahwa mata mama Herna sudah terbuka.


"Mama sudah sadar!!!" serunya langsung berdiri dan lari mendekati pintu dimana saat itu dokter juga membukanya.

__ADS_1


"Kami akan memindahkan nyonya ke ruang rawat inap. Nyonya sudah melewati masa kritisnya." dokter menyampaikan berita yang begitu menghangatkan telinga.


"Alhamdulillah. Iya dok. Pindahkan saja ke ruangan terbaik." titah Dion kemudian.


"Baik tuan."


"Ma,,, Alhamdulillah mama sudah sadar. Tuhan mengabulkan permintaan kami." ucap Karin.


Mama Herna yang masih lemah hanya bisa tersenyum lemah dan mengedipkan mata pertanda mengiyakan.


Proses pemindahan mama Herna ke ruangan inap segera dilaksanakan. Baik Dion dan Karin terus mendampingi beliau sembari terus bergandeng tangan seolah tak ingin sedetik pun terpisah lagi.


Setibanya di ruang inap yang sudah dipilih Dion, Karin menghubungi Levi agar tidak lagi mencari mereka di ruangan intensif tadi.


"Mama sudah sadar. Jadi sudah dipindahkan. Kalau kalian sudah selesai vicall,, apa bisa bawa Del kesini? Siapa tau dengan adanya Del disini bisa membawa semangat baru untuk mama." kata Dion pada Levi.


"Alhamdulillah. Baik om. Akan segera Levi antar kesana. Levi juga ingin segera menemui oma Herna." Levi tak kalah antusias menyambut kabar gembira ini.


Setidaknya sebelum ia kembali ke Indonesia, ia sudah bisa melihat mama Herna membaik.


"Sayang,,, Karena mama bisa selamat, mungkin om papa tidak akan menggugat Yusuf untuk kekerasan yang dilakukannya kemarin. Bagaimana menurutmu?" tanya Dion pada Karin.


"Memaafkan itu memang menjadi satu hal yang diajarkan dalam agama kita om papa. Yang penting harus ikhlas dan tulus. Karin selalu mendukung apa pun keputusan om papa selagi itu mengarah ke kebaikan."


"Om papa bertanya padamu karena tidak ingin kamu merasa tersinggung atau perasaan lainnya. Bagaimana pun dia sahabatmu."


"Sahabat yang berkhianat tidak pantas disebut sahabat lagi. Karin memang memaafkannya tapi Karin tidak bersedia menjadi sahabatnya lagi. Selain itu,,, terlepas dari dia masih atau sudah bukan sahabat Karin lagi,,, kalau dia bersalah maka dia pantas mendapat hukuman. Menuai apa yang ditanam sendiri adalah hal wajar." ucap Karin.


Dion mengangguk mengiyakan. Bagaimana pun ia juga ingat kebaikan Yusuf sebelumnya. Untuk urusan pribadi bolehlah tawar menawar prinsip. Tapi urusan kerjaan adalah "big no" untuk tawar menawar.


"Dia akan tetap mendapat hukuman setimpal karena sudah curang. Begitu juga Hana. Pengacara om papa akan mulai om papa suruh urus semuanya." kata Dion.

__ADS_1


"Iya om papa. Dan kita sebaiknya fokus mengurus mama." Karin tersenyum sembari menggenggam jemari mama Herna yang juga balas senyum.


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2